Jangan Mengejarku, Cantik!

Jangan Mengejarku, Cantik!
Mencari Rista


__ADS_3

Sebulan berlalu.....


Yuno memberikan laporan penjualan kepada Darren di ruangan kerja Presdir.


"Kenapa menurun?"


"Distributor meminta hasil rancangan Ayumi Charista juga di kirim karena pelanggan suka dengan hasil desainnya," jawab Yuno.


"Kita punya desainer lainnya yang tak kalah hebatnya dengan dia. Kenapa harus memilih yang tidak ada?"


"Aku tidak tahu, tapi para pelanggan kita terutama para penggemar Natasha ingin hasil rancangan Rista terbaru," jawabnya. "Jika begini terus penjualan akan semakin menurun dan pemotongan jam kerja karyawan akan dilakukan," jelasnya lagi.


Darren memijit pelipisnya. "Di mana aku harus mencarinya?"


"Aku tidak tahu," jawab Yuno santai.


"Kau boleh keluar!" titahnya dengan nada pelan.


"Baiklah," Yuno pun meninggalkan ruangan.


Darren memutar-mutar kursinya untuk mencari ide agar perusahaan yang dirintis kakeknya tetap berjalan dan bertahan.


"Apa aku harus menyusulnya ke kampung? Yuno pernah bilang kalau dia pulang ke sana," gumamnya.


"Ya, harus ke sana untuk membawa dia kembali. Aku juga sangat merindukannya," lirihnya.


-


-


-


Makan malam Darren mengutarakan keinginannya untuk bertemu dengan Rista di kampung wanita itu.


"Kamu yakin mau pergi ke sana?" tanya Devan.


"Ya, Pa. Ini semua demi perusahaan," jawab Darren.


"Jika kamu bertemu dengannya, belum tentu Rista mau kembali lagi ke Arta Fashion," ujar Devan.


"Jika kamu mencintainya turunkan egomu, Nak!" saran Clarissa. "Jangan seperti Papamu, mengejar Mama dengan alasan perusahaan mulai goyang padahal dirinya tak bisa jauh dari Mama," lanjutnya menyindir.


"Kenapa jadi bahas masa lalu, Rissa?" protes Devan.


"Mama tuh sebal dengan kamu dan Papa, mencintai seseorang tapi tak mau mempertahankannya. Sudah pergi pada kebingungan mencarinya," omel Clarissa.


"Darren tak ingin berpisah dari Mama, makanya mengambil keputusan seperti itu," ujar putra bungsunya itu.


"Tapi kamu tidak perlu memecatnya, bisa mencari tahu dahulu bukan gegabah seperti ini. Kamu jadi menyalahkan Mama karena membuat hubunganmu dengannya berakhir," Clarissa terus mengomel.


"Darren tidak menyalahkan Mama tapi....."


"Kamu ingin menyalahkan Papa!" sahut Devan.


"Bukan, Pa."


"Kalau kamu ingin mengejarnya, kejarlah. Sebelum dia diambil orang lain," celetuk Clarissa.


"Ma, jangan berkata seperti itu. Rista tak boleh dimiliki orang lain," ujar Darren dengan nada berharap.


"Dia juga berhak bahagia, kamu jangan egois!" omel Clarissa lagi.


"Iya, Ma. Tapi, aku di izinkan pergi ke sana, kan?" tanyanya pada kedua orang tuanya.


"Ya," jawab Devan dengan cepat. "Papa hanya memberi cuti dua hari saja," lanjutnya.


"Baiklah, tidak masalah. Terima kasih, Pa." Darren tersenyum senang.


......................


Keesokan paginya, Darren berangkat ke kampung Rista. Ia pergi bersama sopir karena Clarissa tidak mengizinkannya mengendarai mobil sendiri.


Hampir 2 jam mereka melakukan perjalanan, jika menggunakan kereta api membutuhkan waktu 1 jam.


Darren berusaha mengingat kata-kata Rista tentang kediaman orang tuanya di kampung. Sembari bertanya-tanya kepada warga sekitar akhirnya ia menemukan rumah tersebut.


Darren turun menggunakan jaket denim, memakai topi, kacamata hitam dan penutup mulut tak lupa ia menyemprotkan kedua tangannya dengan cairan antiseptik.


Ia pun mengetuk pintu rumah orang tua Rista. Seorang wanita muda menggendong balita membukanya dan tampak wajahnya terkejut.

__ADS_1


"Cari siapa, Tuan?" tanyanya.


"Maaf mengganggu, saya ingin bertanya apa benar ini kediaman Ayumi Charista?"


"Ayumi Charista? Setahu saya ini rumah Bu Elisa dan putrinya bernama Rista."


"Ya, saya mencari mereka," ucap Darren dengan cepat.


"Mereka tidak tinggal di sini lagi, kami menyewa kepada Bu Elisa beberapa bulan yang lalu," jelasnya.


"Jadi, mereka tidak ada kembali ke sini?"


"Tidak ada, Tuan."


"Jika anda membayar uang sewa rumah dengan siapa?"


"Dengan Bu Elisa, membayarnya lewat transfer."


"Apa anda tahu di mana mereka tinggal?"


"Setahu saya, mereka tinggal di Kota A mengikuti putrinya yang bekerja di perusahaan fashion," jelasnya.


"Oh, begitu. Terima kasih informasinya, saya pamit!" Darren sedikit menundukkan kepalanya.


"Ya, Tuan."


Darren berjalan ke mobilnya, ia melepaskan topi dan maskernya. Pencarian Rista hari ini tak berhasil.


Sopir menoleh ke arah belakang kemudi lalu bertanya, "Kita mau ke mana lagi, Tuan?"


"Kembali ke rumah saja!"


"Baik, Tuan." Mobil pun meninggalkan kampung halaman Rista.


Sore harinya, Darren tiba di kediamannya. Clarissa yang sedang bermain dengan cucunya menghampiri putranya.


"Apa kamu sudah menemukan Rista?"


Darren menggelengkan kepalanya pelan, tampak wajah gundahnya.


"Jadi dia ke mana?"


"Aku juga tidak tahu, Ma."


"Rumah orang tuanya kini disewakan orang lain, mereka hanya tahu jika Rista dan ibunya di kota ini," Darren menjatuhkan tubuhnya di kursi.


"Kamu sudah coba bertanya dengan teman atau sahabatnya?"


"Sella sahabat Rista, dia juga karyawan di Arta Fashion tidak mau memberi tahu keberadaannya," jawab Darren.


"Mungkin Rista masih sakit hati kepadamu," tebaknya.


"Entahlah, Ma. Aku benar-benar bingung sekarang."


Raisa yang baru saja datang melihat mimik wajah adiknya sangat sendu. "Kamu kenapa?"


"Rista belum ditemukan," Clarissa menjawabnya.


Raisa tergelak mendengar jawaban dari mamanya.


Darren hanya tersenyum simpul, ia tidak terlalu menggubris tawa meledek kakaknya.


"Adikmu lagi bersedih, malah tertawa," omel Clarissa.


"Ma, baru ini aku melihat wajah adikku yang tampan dan rupawan, sedih, gundah, gulana," ujar Raisa tersenyum.


"Raisa, jangan seperti itu!" Clarissa mengingatkan putrinya tidak terus menerus meledek adiknya.


"Jadi, kamu kesulitan mencarinya?" tanya Raisa.


Darren mengangguk pelan.


"Mungkin dia sudah mendapatkan penggantimu!" ucap Raisa asal.


"Raisa, jangan terus menggoda adikmu!" Clarissa mengingatkannya lagi.


"Iya, Ma. Aku tidak akan menggodanya lagi," ujar Raisa.


"Sekarang kamu bantu Darren mencari Rista, perusahaan membutuhkannya. Para pelanggan ingin hasil rancangannya," pintanya.

__ADS_1


"Aku harus bantu apa, Ma?" tanya Raisa.


"Cari ide agar bisa menemukan dia," jawab Clarissa.


"Apa dia punya teman dekat atau sahabat di kota ini? Biasanya mereka saling memberi kabar," ujar Raisa.


"Ada, Kak."


"Siapa?" Raisa menatap adiknya.


"Karyawan Arta Fashion, dia bekerja di bagian resepsionis. Namanya Sella," jelas Darren.


"Baiklah, aku akan membantumu," Raisa tersenyum.


"Terima kasih, Kak!" Darren begitu semangat.


......................


Sebelum jam makan siang, Raisa sengaja datang ke Arta Fashion. Ia pun berjalan menghampiri sahabatnya Rista.


Raisa tersenyum ke arah wanita itu, "Apa kamu bernama Sella?"


"Ya, Nona. Ada yang bisa saya bantu?"


"Apa kita bisa mengobrol berdua?"


"Tapi belum waktunya istirahat, Nona."


"Aku akan meminta izin pada Darren untuk mengizinkanmu istirahat di awal," Raisa lalu menelepon adiknya tak sampai semenit ia menutup ponselnya. "Aku sudah menghubunginya, sekarang kita bisa pergi," lanjutnya tersenyum.


"Baiklah, Nona." Sella berpamitan pada rekan kerjanya lalu ia pergi menaiki mobil Raisa menuju kafe terdekat.


Sesampainya di tempat tujuan, Raisa meminta Sella memesan makanan dan minuman. Setelah itu mereka mulai mengobrol.


"Apa kamu temannya Ayumi Charista?"


"Ya, Nona."


"Sudah berapa lama kalian berteman?"


"Sejak sekolah menengah pertama, Nona."


"Cukup lama juga kalian berteman," puji Raisa.


"Ya, Nona."


"Apa kalian melanjutkan sekolah tinggi yang sama?" tanya Raisa.


"Tidak, Nona. Kami sempat berpisah karena dia di kampung dan saya di kota ini," ungkap Sella.


"Oh, begitu."


Obrolan keduanya terjeda, karena pelayan menghidangkan pesanan di meja. Raisa mengucapkan terima kasih sembari tersenyum kepada wanita yang menyajikan makanannya.


"Silahkan dimakan!"


"Ya, Nona," Sella tersenyum kaku.


"Bagaimana rasanya?"


"Enak, Nona."


"Aku belum pernah makan di sini, tapi menurut teman yang merekomendasikannya mengatakan hidangan di kafe ini cukup enak," ujar Raisa.


"Ini sangat enak, Nona!" puji Sella.


Raisa pun mulai mencicipi hidangan yang ia pesan. "Oh, ya. Bagaimana kabar Rista?"


"Dia baik, Nona."


"Sekarang dia tinggal di mana?" Raisa begitu penasaran.


Sella yang mendengar pertanyaan menjebak, tak buru-buru menjawabnya.


"Sella, kenapa diam?" Raisa bertanya lagi.


"Rista sedang berada di suatu tempat, Nona."


"Ya, di mana?"

__ADS_1


"Maaf Nona, saya tidak bisa memberitahunya," jawab Sella.


"Kenapa?"


__ADS_2