
Plaakkk.....
Tamparan keras melayang di pipi Andra.
"Opa menyuruhmu untuk menjaga Nona Raiza, kenapa seperti ini?" bentaknya.
Lina memeluk tubuh dan mengelus dengan lembut wajah putranya sembari menahan tangisnya.
"Opa, kejadiannya sangat cepat. Kalau bisa aku mengganti posisinya," memberikan alasan.
Hilman tak bisa menahan amarahnya pada cucunya.
"Ayah, kenapa selalu menyalahkan Andra? Dia juga tidak menginginkan ini terjadi," ujar Lina.
"Karena dia tak bisa menjaga Nona Muda dengan baik!" Hilman berkata lantang.
Dita mengelus pundak suaminya agar tetap tenang.
Eza, istrinya dan kedua mertuanya datang dengan nafas memburu. Mata Raisa tampak memerah dan wajahnya sembab.
"Apa yang terjadi sebenarnya, Andra?" tanya Eza.
"Saya minta maaf, Tuan. Tidak bisa mampu menjaga Nona dengan baik di hari terakhir saya bekerja," Andra bersimpuh di kaki Eza.
"Bagaimana dengan keadaan Raiza?" cecar Devan.
"Dokter masih menanganinya, Tuan Besar."
"Coba jelaskan kenapa hal ini bisa terjadi?" Eza berusaha tetap tenang.
"Saya dan Nona makan di sebuah restoran, saat hendak pulang saya berjalan terlebih dahulu. Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dan Nona Raiza tergeletak. Darah mengucur dari kepalanya," Andra menangis menjelaskannya.
Raisa semakin mengencangkan tangisannya begitu juga dengan Clarissa.
"Pihak restoran siap bertanggung jawab atas kejadian ini, Tuan." Andra melanjutkan ceritanya.
Devan terduduk di kursi samping istrinya, rasanya lemas mendengar kabar jika cucunya masuk rumah sakit.
Dokter dan tim medis lainnya keluar dari ruangan pemeriksaan. Semua anggota keluarga Raiza menatap ke arah mereka.
"Bagaimana keadaan putri saya, Dok?" Eza mendekati seorang dokter wanita yang menangani Raiza.
"Kami sudah mengobati luka di kepala dan beberapa bagian tubuh pasien. Saat ini Nona Raiza belum sadar," jelas Dokter.
Eza bernafas lega mendengar penjelasan wanita itu.
...----------------...
Keesokan harinya....
Andra mengetuk pintu dengan membawa buah-buahan dalam keranjang kecil. "Permisi, Bibi!" sapanya pada Raisa.
"Pagi juga!" wanita itu tersenyum.
Andra masuk lalu menyapa Raiza, "Pagi, Nona!"
Gadis itu membalas sapaan Andra dengan senyum.
"Bibi mau keluar sebentar, kalian mengobrol saja dulu," Raisa pun meninggalkan kamar rawat inap putrinya.
"Bagaimana keadaan Nona sekarang?" tanya Andra setelah Raisa berlalu.
"Sudah lumayan membaik," jawabnya yang masih terbaring.
"Nona, maafkan saya. Harusnya saya berada di belakang," Andra menyesal berjalan terlebih dahulu.
"Semua sudah terjadi yang penting kau tidak terluka," ujar Raiza.
"Kenapa Nona sampai mengorbankan diri hanya untuk menolong saya?"
"Aku hanya reflek saja, selama aku bisa membantu tidak masalah, kan?" jawabnya.
"Tapi, Nona sudah membuat saya khawatir," ujar Andra.
"Kau mengkhawatirkan aku?"
"Ya, Nona."
__ADS_1
"Kau khawatir karena takut dimarahin orang tuaku dan Opa atau ada perasaan lain?"
"Keduanya, Nona." Andra menjawab dengan spontan.
Raiza tertawa, "Sudah aku tebak, kau menyukaiku!"
"Nona, jangan salah sangka. Saya sudah menganggap Nona sebagai sahabat, jadi perasaan itu cuma rasa peduli kepada seorang teman," jelas Andra.
Raiza tersenyum, "Ya, terserah kau saja menganggap aku sebagai apa."
Andra pun tertawa kecil.
"Hari ini kau sudah tidak bekerja lagi denganku jadi tak perlu menemaniku atau menjagaku lagi dan satu hal lagi, jangan memanggilku aku Nona."
"Tapi, saya tetap di sini untuk mempertanggung jawabkan kesalahan yang saya lakukan," ucapnya.
"Memangnya kau melakukan apa? Lampu itu jatuh bukan karena kesalahanmu," ujar Raiza.
"Tapi, saya berada dekat dengan Nona dan seharusnya tugas saya melindungi anda!"
"Kau ingin bertanggung jawab padaku?" Raiza menatap wajah pria itu.
"Ya, Nona."
"Kalau begitu nikahi aku!"
Andra yang duduk lantas berdiri.
"Kau tidak mau, ya? Pasti kau takkan mau karena wajah dan tanganku penuh luka, kan?" tanya Raiza menyindir.
"Bukan itu alasan saya, Nona."
"Lalu apa?"
"Nona, sudah dijodohkan."
"Bagaimana kalau calon suamiku tidak menerima tubuhku yang penuh luka seperti ini?"
Andra tak bisa menjawabnya.
Percakapan keduanya berhenti kala pintu kamar terbuka. Raisa masuk bersama suaminya dan kedua orang tuanya.
"Ya," Raiza berpura-pura tersenyum.
Andra juga berpamitan pada kedua orang tua Raiza, Devan dan istrinya.
...----------------...
Keesokan paginya, Raiza telah keluar dari rumah sakit. Andra yang menjemputnya seorang diri.
"Kenapa Mama dan Papa tidak menjemputku?"
"Saya tidak tahu, mereka hanya menyuruh saya untuk menjemput, Nona." Andra mendorong kursi roda yang dinaiki Raiza.
"Bukankah kau sudah tidak bekerja lagi denganku? Kenapa masih saja muncul dihadapanku?"
"Harus berapa kali saya katakan kalau paman dan bibi yang menyuruhnya," jawab Andra.
"Kau 'kan bisa menolaknya," ujarnya.
"Saya tidak bisa, lagian juga beberapa hari lagi saya tak di sini," tutur Andra.
"Anggap saja kau menjemputku hari ini karena kasihan," ocehnya.
"Nona, anda sangat cerewet sekali!" Andra membantu Raiza masuk ke dalam mobil dengan menggendong tubuh gadis itu.
"Kalau aku cerewet, kenapa kau masih betah bekerja denganku?"
"Astaga, bisa tidak Nona tak perlu banyak bertanya hari ini, buat saya pusing saja."
"Jadi, kau tidak suka kalau aku banyak bertanya. Kalau begitu, aku akan diam saja!" Raiza memalingkan wajahnya menatap jalanan.
Andra menghela nafasnya.
Mobil melesat ke kediaman Eza Mandala.
Kabar Raiza dilarikan ke rumah sakit terdengar media apalagi gadis itu adalah putri dari mantan model sekaligus pemain drama dan sempat menjalin hubungan kasih dengan Andrean Wijaya.
__ADS_1
Beberapa wartawan berkumpul di depan rumah Eza, mereka menunggu di luar pagar.
Mobil mewah milik Raiza berwarna putih memasuki pekarangan rumah.
"Kenapa banyak sekali wartawan?"
"Berita Nona mengalami kecelakaan itu terdengar oleh mereka," jawab Andra.
"Siapa yang memberi tahu mereka?"
"Saya tidak tahu," jawabnya.
"Lalu, kenapa mereka masih menungguku? Apa Papa tidak memberikan keterangan?"
"Paman Eza sudah memberi penjelasan pada media."
"Apa yang harus aku lakukan menghadapi mereka?"
"Bukankah Nona pernah diwawancarai wartawan saat bersama Andrean? Kenapa harus bertanya kepada saya?"
"Kenapa kau jadi mengungkit masa lalu ku?"
"Maaf, Nona." Andra keluar dari mobil lalu ia berjalan ke arah pintu penumpang membukakannya untuk sang nona.
Raiza keluar dibantu Andra dengan dipapah, ia mengarahkan pandangannya menghadap wartawan yang berteriak memanggil namanya.
Raiza melemparkan senyum lalu melambaikan tangannya.
"Nona Raiza, bisakah mengobrol sebentar?"
"Bagaimana kabar anda, Nona?"
Raiza tak membalas pertanyaan wartawan.
Eza datang menghampiri para awak media dan terhalang pagar tinggi, "Kemarin saya sudah memberikan keterangan, hari ini Raiza baru saja pulang dari rumah sakit. Kalian bisa lihat sendiri kondisi dia, jadi saya ucapkan terima kasih atas perhatiannya kepada putri kami."
Eza berjalan memasuki rumahnya. Begitu juga dengan Raiza.
"Andra, terima kasih sudah membantu kami menjemput Raiza di rumah sakit," ucap Raisa.
"Sama-sama, Bibi."
"Kau tunggu di sini saja, diluar masih banyak wartawan. Nanti mereka akan mengejarmu," ujar Raisa.
"Ya, Bibi."
"Tolong, antarkan Raiza ke kamarnya," perintah Eza pada Andra.
"Saya, Paman?" menunjuk dirinya.
"Ya," jawab Eza. "Lama-lama juga kalian akan terbiasa," ceplosnya.
Kedua pemuda dan pemudi itu mengernyitkan keningnya.
"Kenapa malah diam di sini? Cepat bawa Raiza ke kamarnya!" titah Eza.
"Iya, Paman." Andra memapah Raiza.
Sesampainya di kamar, Andra merebahkan Raiza di ranjang.
"Karena kamu ada saat kejadian dan menjadi satu-satunya yang bertanggung jawab atas insiden ini. Jadi, kamu harus merawat dan mengurus kebutuhan Raiza," ujar Raisa yang tiba-tiba saja muncul.
"Saya akan bertanggung jawab, Bibi."
"Bagus!" Raisa tersenyum bangga.
"Tapi, saya tidak bisa berlama-lama merawat dan mengurus Nona Raiza, Bibi."
"Kenapa?"
"Tiga hari lagi saya akan berangkat," jawabnya.
"Kepergianmu ditunda sampai ulang tahun Raiza," ujar Raisa. "Aku sudah membicarakan ini pada Opa Devan," lanjutnya.
"Baik, Bibi. Saya terima keputusan yang anda berikan," Andra menundukkan sedikit kepalanya.
Mendengar dirinya akan dirawat Andra membuat hati Raiza begitu bahagia.
__ADS_1
"Aku berharap pergi sebelum ulang tahun Raiza agar tidak mendengar nama calon suaminya diumumkan. Aku tidak mau melihat keakraban mereka yang membuat hatiku menjadi sakit, Bibi!"