
Keesokan paginya, keempatnya pergi ke Danau Pelangi yang menjadi ikon wisata di Kota D.
Begitu sampai Tere dan Niken berlari tertawa kegirangan.
Raiza dan Andra berjalan pelan menikmati pemandangan danau sembari mengobrol.
"Kata Oma, danau ini tempat pertama kali dirinya dan Opa Devan bertemu," tutur Raiza.
"Benarkah?"
"Ya, sewaktu kecil Oma menolong Opa yang hampir tenggelam padahal Oma tidak bisa berenang beruntung ibunya Oma membantunya."
"Berarti mereka sudah saling mengenal dari kecil?"
"Ya, tapi mereka baru menyadari ketika dewasa dan saling jatuh cinta," jawabnya.
Andra tersenyum, "Aku rasa kisah cinta Nyonya dan Tuan Besar sangat begitu menarik."
"Opa sangat risih harus bertemu dengan orang banyak, makanya ketika pertama kali bertemu dia tidak menyukai Oma yang begitu agresif."
"Dan akhirnya, Tuan Besar luluh juga."
"Ya, benar!" Raiza tersenyum.
"Semoga saja Nona mendapatkan pria yang sangat mencintai anda," harap Andra.
"Kau juga!" Raiza tersenyum hangat.
"Aku mencintaimu!" Andra tersenyum dalam hati.
"Ayo kita ke sana!" Raiza menarik tangan Andra untuk bergabung dengan kedua temannya.
"Minta tolong foto kami!" pinta Niken memberikan ponselnya kepada Andra.
"Bisa, Nona!" pria itu meraihnya lalu mengarahkan kamera ponselnya kepada ketiganya.
"Sekarang giliran kau dan Raiza," ucap Niken.
Tere mendorong tubuh Andra mendekati Raiza.
"Lebih dekat!" perintah Niken.
Andra dan Raiza tampak malu-malu.
"Lebih rapat, Za!" teriak Tere.
Akhirnya keduanya merapat.
Karena tidak begitu puas, Tere mendekati keduanya. Lalu mengarahkan tangan Andra dan mengalungkannya ke bahu Raiza. "Begini lebih baik!" ia tersenyum puas.
Niken yang mengambil gambar tersenyum, lalu melihat hasilnya. "Kalian sangat cocok sekali!" pujinya.
"Sudah cukup berfotonya!" Raiza mengakhirinya.
"Bagaimana kalau kita berenang?" ajak Tere.
"Boleh juga," sahut Raiza.
Andra mengamati ketiganya dari kejauhan, matanya tetap fokus kepada gadis cantik dengan rambut sebahu.
Hampir 30 menit ketiganya berenang di pinggir danau.
"Aku sudah selesai," Raiza berjalan menaiki tangga menuju daratan.
Andra bergegas mendekati Raiza dan membawakannya handuk.
Belum sampai di ujung, kakinya terpeleset dengan cepat Andra menarik tangannya dan mendekap erat tubuh Raiza.
Gadis itu mendongakkan kepalanya, jantungnya berdebar kala Andra memeluknya.
Andra melepaskan pelukannya.
__ADS_1
Niken dan Tere yang melihat Raiza hampir jatuh bergegas menghampiri keduanya.
"Kau tidak apa-apa, Za?" tanya Tere.
"Hanya sedikit terkilir saja," jawabnya.
"Biar saya pijat, Nona." Andra lantas berjongkok.
Raiza memundurkan langkahnya, "Tidak perlu, panggil saja terapis!" titahnya.
"Baik, Nona."
-
Sesampainya di hotel, Raiza lantas di pijat seorang wanita di dalam kamarnya. Kedua temannya juga ikut menemani.
"Aku rasa, Andra menyukaimu!" tebak Niken.
"Aku juga berpikiran sama," sambung Tere.
"Itu hanya perasaan kalian saja, tak mungkin dia menyukai aku dan memang tugasnya melindungiku," ujarnya.
"Kenapa aku merasa kalau dia benar-benar menyukaimu?" tebak Tere lagi.
"Sudah, ya. Jangan membahas sesuatu yang kalian hanya bisa menerka-nerka," ujarnya.
"Bagaimana kalau memang dia menyukaimu?" tanya Niken.
"Ya, itu haknya dia."
-
-
Malam harinya, mereka menikmati waktu mengelilingi sekitaran Hotel Langit dengan berjalan kaki.
Sepanjang perjalanan berkeliling, Raiza tak pernah luput dari perhatian pengawalnya. Bukan hanya pekerjaannya yang menjadi taruhannya melainkan besarnya rasa cintanya pada sang nona.
Andra yang sedari tadi memperhatikannya membuka jaket kulit miliknya lalu ia selimutkan di bahu Raiza. "Pakailah, Nona!"
Raiza sejenak melihat wajah Andra, "Terima kasih!" lirihnya.
Andra mengukir senyum tipis sedikit menggerakkan dagunya.
Tere dan Niken sudah berjalan jauh, keduanya mempercepat langkah kakinya menghampiri dua gadis itu.
"Kalian sudah seperti sepasang kekasih saja, ke mana-mana selalu berdua," celetuk Niken ketika keduanya mendekat.
"Iya, lihatlah. Sekarang Raiza menggunakan jaket Andra, kalian sangat serasi sekali," Tere berkata dengan senyuman memuji.
"Kalian ini bicara apa? Apa mau aku tinggal di sini?" Menunjukkan wajah tak suka.
Kedua sahabat Raiza hanya tersenyum menyengir.
Mereka menikmati jajanan khas Kota D di pinggir lapangan yang menjadi tempat orang-orang berkumpul menikmati waktu di malam hari.
Dengan penuh perhatian, Andra membuka tutup botol minuman Raiza dan memastikan makanan yang dikonsumsi sang nona tidak mengandung udang.
Di tengah-tengah menikmati jajanan, rintik air dari langit jatuh. Orang-orang mulai berhamburan mencari tempat untuk meneduh.
Andra dengan cepat, melepaskan topinya dan memakaikannya di kepala Raiza.
Lagi-lagi gadis itu terkesima dengan perhatian yang diberikan pengawal pribadinya.
Setelah membayar tagihan makanan, mereka pun menaiki taksi menuju hotel karena hujan yang turun tidak terlalu deras.
Sesampainya di hotel, Tere dan Niken berjalan lebih dahulu ke kamar. Andra belum masuk kalau Raiza masih berada di luar.
"Nona, tidak masuk ke kamar?"
"Aku akan masuk, terima kasih buat hari ini," Raiza tersenyum.
__ADS_1
"Sama-sama, Nona."
"Selamat malam, mimpi yang indah!" Raiza kembali tersenyum.
"Ya, selamat malam juga, Nona!"
Raiza pun masuk ke kamarnya begitu juga dengan Andra.
Di dalam kamar, Tere dan Niken sudah mengganti pakaiannya bersiap untuk tidur.
Begitu juga dengan Raiza, ia meletakkan jaket dan topi milik Andra di sofa kamar. Ia lalu ke kamar mandi mengganti pakaiannya.
Keluar dari kamar mandi kedua temannya sudah tertidur. Raiza meraih jaket Andra dan memeluknya sembari tersenyum.
Raiza meletakkan topinya di atas nakas, ia tidur menghadap benda tersebut dan mendekap jaket milik pengawalnya.
...----------------...
Keesokan paginya, mereka menikmati sarapan yang tersedia di hotel sebelum berangkat pulang. Andra tetap berada di belakang Raiza.
Mereka duduk di meja yang sama, hanya berjarak beberapa meter dari tempat duduk Raiza dan teman-temannya tampak rombongan artis.
"Za, bukankah itu Natasha Daniel?" tanya Niken.
Raiza mengikuti arah mata sahabatnya itu. "Ya, memang dia!"
"Nona, ingin menyapanya?" tawar Andra.
"Ya, boleh juga," Raiza beranjak berdiri.
"Kau mengenalnya, Za?" tanya Tere.
"Dia istri Paman Yuno," jawabnya.
"Oh, ya?" Niken tak percaya.
"Aku ke sana, ya!" pamit Raiza.
Andra juga mengikutinya.
"Bibi Tasha!" sapanya.
Wanita berusia 40 tahun itu menoleh dan sedikit terkejut. "Raiza!" ia berdiri dan memeluknya.
"Apa kabar, Bi?" tanyanya.
"Bibi baik, kamu kenapa di kota ini?" Natasha balik bertanya.
"Aku lagi liburan, Bibi."
"Kalian hanya berdua saja liburannya?" balik bertanya lagi.
"Tidak, Bi. Aku dan kedua temanku," jawabnya.
"Bibi, sendirian di sini?"
"Tidak, ada Papa Daniel yang menemani. Bibi mau kembali lagi syuting, tidak apa-apa 'kan kalau ditinggal."
"Tidak apa, Bi. Kami pun juga akan kembali pulang," ujar Raiza.
"Ya, titip salam buat kedua orang tua kamu," Natasha tersenyum.
"Ya, Bi."
"Titip keponakan Bibi yang cantik ini, Andra!"
"Siap, Nyonya Besar!"
Natasha kembali tersenyum kemudian ia pamit pergi bersama rombongan timnya.
Raiza dan Andra kembali bergabung bersama dengan Tere dan Niken.
__ADS_1