
Seketika tubuh Natasha membeku, pria yang kelihatan cuek ternyata mengatakan kata-kata yang diharapkannya.
"Natasha Daniel, apa kau mendengar ku?" tanya Yuno.
Wanita itu segera tersadar, "Bukankah kau sudah memiliki kekasih?"
Yuno tertawa tipis, "Kalau aku memiliki kekasih, tidak mungkin aku mengatakan cinta padamu!"
"Siapa tahu kau adalah salah satu dari pria jahat itu?"
"Apa wajahku seperti para pemain wanita?" tanya Yuno tersenyum.
"Ya, tidak juga," jawab Natasha salah tingkah.
"Apa kau menerima cintaku?" tanya Yuno.
"Tidak," Natasha membalikkan badannya.
Yuno menarik lengan wanita itu hingga wajah keduanya saling berdekatan dan menatap, "Tak perlu menghindar."
"Aku tidak menyukaimu!"
"Apa perlu aku dengarkan ini?" Yuno membuka rekaman suara di ponselnya terdengar Natasha berbicara ketika mabuk.
Wajah Natasha mendadak merah karena malu, ia tanpa sadar berbicara sebenarnya kepada pria yang ada dihadapannya itu.
Yuno mematikan rekaman itu lalu tersenyum, "Kau masih mau mengelak?"
Natasha mendorong tubuh Yuno. "Itu tidak benar, berani sekali kau merekam suaraku tanpa izin dariku!" ia tampak terbata.
"Aku tidak merekam pembicaraanmu dengan orang lain, kita hanya berbicara berdua saat itu," ujar Yuno.
"Ya, tapi kau sudah mengambil kesempatan saat ku mabuk!" Natasha membela diri karena ia terlanjur malu.
Yuno kembali menarik pinggang Natasha lalu mengecup bibir ranum wanita itu secara tiba-tiba membuat Natasha mendelikkan matanya.
Natasha mendorong tubuh Yuno. Nafasnya masih naik turun, ia mengelap bibirnya dengan telapak tangannya.
"Seperti itu kalau mengambil kesempatan!" Yuno tersenyum puas.
"Kau telah mencuri ciuman pertamaku!" Natasha tampak kesal.
"Kita imbang!" ucapnya bangga.
"Yuno!" Natasha mengepalkan tangannya lalu memukul tubuh pria yang ada didepannya itu.
"Tasha, sakit!" Yuno malah tertawa.
"Kau harus minta maaf!"
"Iya, aku minta maaf!" Yuno akhirnya mengalah.
Natasha menghentikan pukulannya, ia lalu memasang wajah cemberut.
"Kau tidak ingin pulang?" tanyanya.
"Pulang, tapi kau sudah menahan aku di sini!"
"Biar ku antar pulang, manajermu pasti telah pergi!"
"Pasti kau sengaja mengatur semua ini, kan?" Natasha menatap tajam.
Yuno mengangguk.
"Cepat antar aku pulang!" perintahnya.
"Ayo!" Yuno meraih jemari tangan Natasha dan menggenggamnya, keduanya turun bersama dalam satu lift.
"Apa kau bisa melepas tanganku?" pinta Natasha.
"Kenapa harus di lepas?"
"Aku tidak mau orang lain tahu hubungan kita," jawab Natasha.
"Baiklah," Yuno melepaskan genggamannya.
__ADS_1
"Ku tak mau media tahu, takutnya berpengaruh dengan iklan Arta Fashion," jelas Natasha.
"Iya, aku paham dengan kekhawatiran dirimu," Yuno tersenyum.
"Terima kasih!" Natasha membalas dengan senyuman.
Keduanya keluar bersamaan seperti biasa , Yuno berjalan lebih dahulu ke parkiran begitu sampai pria itu bergegas masuk ke dalam mobil di susul Natasha.
"Apa kau ingin makan siang?" tanya Yuno.
Natasha mengangguk.
Yuno pun mengendarai mobilnya ke arah restoran terdekat.
"Tunggu!"
"Ada apa?" Yuno menoleh ke arah kekasihnya.
"Apa boleh aku pinjam topi?"
"Untuk apa?"
"Kau tahu 'kan kalau aku seorang artis," jawab Natasha.
"Ya, aku paham maksudnya," Yuno menyerahkan topi yang dikenakannya.
"Jaket?"
Yuno mengambil jaket miliknya dari bangku penumpang belakang ia serahkan pada wanita itu.
Natasha menggunakan jaket dan topi, "Sekarang kita bisa turun!"
-
-
-
Darren mengantarkan Rista pulang, ia menurunkan wanita itu hanya di depan rumahnya tanpa masuk untuk singgah.
"Titip salam untuk Ibumu, ya!" ucapnya.
"Dan katakan juga kapan aku bisa datang melamarmu," ujarnya.
"Kamu serius akan melamarku?"
Darren tertawa kecil, "Aku serius!" ia melihat seseorang keluar dari rumah kekasihnya. "Wanita tua itu siapa? Apa nenekmu?"
Rista segera menoleh dan melihatnya, "Ya, dia ibu dari ibuku!"
Darren hendak turun, Rista segera mencegahnya. "Kenapa?"
"Lain waktu saja kamu bertemu dengannya," jawabnya.
"Baiklah, kalau begitu."
"Kamu pulanglah. Hati-hati di jalan," Rista bergegas keluar.
Begitu Rista turun, Darren menghidupkan mesin mobil kemudian berlalu.
Lusi yang melihat cucunya melambaikan tangan ke arah mobil mewah mengerutkan keningnya.
Rista berjalan memasuki rumahnya, "Nenek!" sapanya lalu mencium punggung tangan wanita tua itu.
"Kamu tidak punya hubungan khusus dengan petinggi AZ Fashion, kan?" tanya Lusi.
"Hubungan khusus? AZ Fashion?" batin Rista.
"Rista, Nenek bicara padamu. Siapa yang tadi mengantarmu?" desak Lusi.
"Sayang, kamu sudah pulang!" Elisa mendekati putrinya. "Ayo masuk, lekas mandi. Ibu sudah masakan makanan kesukaanmu," ujarnya.
"Oh, baiklah. Aku senang mendengarnya, Bu!" Rista penuh semangat pergi ke kamar tidurnya.
"El, putrimu tadi di antar memakai mobil mewah. Apa dia memiliki hubungan dengan petinggi di tempatnya bekerja?" tanya Lusi penasaran.
__ADS_1
"Oh, itu temannya Rista, Bu. Kebetulan mereka satu arah," jawab Elisa berbohong.
"Temannya sudah punya mobil mewah?"
"Ya, temannya itu dapat bonus kerja lagian orangnya juga sangat hemat makanya bisa beli mobil mewah," Elisa lagi-lagi berbohong.
"Temannya itu wanita atau pria?" tanya Lusi lagi.
"Wanita, Bu." Elisa menjawabnya.
Rista pun keluar dari kamarnya dengan tubuh yang sudah segar. Ia bergabung dengan 2 orang wanita yang berbeda usia itu.
Rista mengambil lauk dan memulai menikmati makanan kesukaannya ayam goreng cabai ijo.
"Temanmu hebat masih muda sudah punya mobil mewah," puji Lusi.
Rista mengarahkan pandangannya kepada ibunya.
Elisa mengerakkan pelan dagunya.
Rista pun paham dengan bahasa wajah ibunya. "Iya, Nek!"
"Oh, ya mobil kamu mana?" tanya Lusi.
"Itu mobil kantor, Bu. Jadi, saat ini bersama Sella," sahut Elisa dengan cepat.
"Eh, ya. Itu mobil kantor, Nek." Rista mengikuti perkataan ibunya.
"Tapi, Nenek kagum dengan temanmu itu dia bisa hemat dan mampu menabung bonusnya hingga bisa membeli mobil semewah itu," tutur Lusi.
"Ya, memang dia sangat hemat. Ke kantor selalu bawa bekal, pergi dan pulang kerja sering jalan kaki padahal rumahnya lumayan jauh hampir tiga kilometer dari perusahaan," Rista berkata bohong.
"Kamu pun bisa seperti itu," ujar Lusi.
"Aku baru enam bulan bekerja, Nek."
"Mulai sekarang berhemat," nasehatnya.
"Iya, Nek. Ku akan berhemat," Rista memaksakan tersenyum.
Malam harinya, Lusi sudah tertidur sementara Elisa masih sibuk di dapur karena ia akan membuat kue yang dititipkannya di warung depan rumah kontrakan putrinya.
"Bu, aku ingin tanya sesuatu," Rista berkata dengan suara pelan agar tak membangunkan neneknya.
"Tanya apa?"
"Tentang perkataan Ibu dua hari yang lalu," jawab Rista.
"Ibu akan menjelaskannya tapi saat ini belum tepat, tunggu nenekmu pulang baru Ibu akan ceritakan kepadamu," tutur Elisa.
"Baiklah, Bu."
"Jangan sampai kamu salah bicara," Elisa mengingatkan putrinya. "Dan teman kamu Sella, jangan ke sini dulu. Nanti takutnya dia akan memberi tahu nenek sebenarnya," lanjutnya.
"Iya, Bu. Biar mobil di bawa Sella saja, ku akan memintanya menjemputku di ujung jalan," ujar Rista.
...----------------...
Malam ini, Yuno dengan berpakaian rapi bersiap makan malam dengan kekasihnya.
"Kamu mau ke mana, Nak?" tanya Yuna.
"Aku mau makan malam dengan seorang wanita," jawab Yuno.
"Siapa dia, Nak?" tanya Yuna penasaran.
"Nanti Mama juga akan tahu, ku berangkat dulu, ya!" Yuno berpamitan pada Yuna kemudian berlalu.
-
Tak sampai 15 menit ia tiba di restoran tempat janjian bertemu. Natasha datang mengendari mobilnya seorang diri.
Yuno tersenyum menyambut kekasihnya itu. "Sangat cantik!" pujinya.
Natasha tersipu malu, "Kau juga sangat tampan!"
__ADS_1
Yuno tersenyum, "Aku sudah memesan makanan untukmu, semoga kau suka dengan pilihanku!"
"Apapun yang kau pilih, ku tetap suka!" ujar Natasha bahagia.