Jangan Mengejarku, Cantik!

Jangan Mengejarku, Cantik!
Yuno Lamaran


__ADS_3

Dua hari setelah makan siang bersama kekasihnya, Yuno datang bersama kedua orang tuanya dan beberapa anggota dari keluarga besarnya untuk melamar Natasha di kediaman keluarga sang wanita.


Nikita tampak ketus menerima kehadiran calon menantunya itu. Sedangkan Martha akhirnya bisa menerima keputusan menantu dan cucunya, bahwa kebahagiaan Natasha adalah yang utama.


Yuna duduk saling berhadapan dengan Nikita tanpa senyuman.


Perwakilan keluarga menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan mereka, dengan senang hati Daniel menerima niatan baik tersebut.


Natasha yang dari tadi duduk diapit kedua orang tuanya tersenyum bahagia. Dihadapannya kekasihnya yang beberapa minggu lagi akan menjadi suaminya.


Tanpa berlama-lama akhirnya keputusan diambil jika Yuno dan Natasha akan menikah 2 bulan lagi sesuai keinginan kedua calon pengantin.


Selesai acara, Nikita bergegas ke kamarnya. Ia malas mengantar calon besannya itu ke halaman parkir.


Hanya Daniel dan Martha yang mengantarkan kedua orang tua Yuno ke mobil.


"Semoga acara pernikahan anak kita berjalan lancar sampai harinya tiba," harap Vino.


"Semoga semuanya baik-baik saja," Daniel tersenyum.


"Kalau begitu kami izin pulang," pamit Vino melemparkan senyuman kepada Daniel dan Martha sementara Yuna hanya tersenyum tipis.


"Hati-hati," balas Daniel.


Yuna dan Vino masuk ke mobil dan meninggalkan kediaman orang tua Natasha.


Sementara itu, Natasha masih mengobrol di taman kecil yang berada di belakang halaman rumahnya. "Aku senang akhirnya hari ini tiba," ucapnya.


"Ya, semoga tak ada rintangan yang menghalangi pernikahan kita," harap Yuno.


"Semoga saja," Natasha tersenyum sembari memandangi cincin yang disematkan Yuna di jemari manisnya.


"Kalau begitu aku pamit pulang," Yuno beranjak berdiri.


Natasha mengangguk mengiyakan.


-


-


Setelah dari rumah Natasha, ia pergi ke kediaman Darren. Ya, pria itu ingin menyampaikan kabar bahagianya kepada sahabat sekaligus atasannya itu.


Sesampainya di sana dan setelah bertanya pada Clarissa di mana keberadaan Darren ia bergegas menemuinya.


Begitu melihat Darren yang sedang berada di perpustakaan ia lantas memeluk pria itu dengan tertawa.


Darren dengan cepat mendorong tubuh sahabatnya itu. "Kau belum mencuci tangan sudah berani menyentuhku!" sentaknya.


Yuno tersenyum nyengir. "Aku lupa mencucinya!" ia lantas turun untuk membersihkan bagian tangannya dengan sabun.


Yuno kembali ke ruangan perpustakaan.


"Ada apa kau kemari?" tanya Darren.


"Aku lagi bahagia," jawabnya.


"Kau menang undian, tapi tunggu dulu. Kenapa kau berpakaian sangat rapi seperti selesai menghadiri acara," ujar Darren melihat penampilan sahabatnya.


"Aku memang lagi menghadiri acara," jelasnya.


"Acara apa?"


"Lamaran."


"Siapa yang lamaran?" Darren penasaran.


"Aku!"


"Kenapa kau tidak mengundangku?" protes Darren.


"Acara berlangsung tertutup dan mendadak," jawab Yuno.


Darren menghela nafas, ia duduk bersandar di kursi. "Aku kalah lagi denganmu, kau sekarang sudah lamaran," ujarnya.


"Bukankah kau sebentar lagi akan melamarnya?"


"Ya, tapi Papa belum pulang," jawab Darren.


"Memangnya kemana Paman Devan?"


"Papa dan Kak Eza sedang menemani Opa Ardian berobat," jawabnya.


"Cepat atau lambat, pasti hari lamaran juga akan terjadi," ujar Yuno.


"Tapi, aku tidak sabar menunggu hari itu," ungkapnya.


"Semoga acaramu nanti lancar," doa Yuno.


"Terima kasih," Darren tersenyum.


-


-


Sella mendatangi apartemen sahabatnya, baru hari ini dia menyempatkan waktunya berkunjung. Begitu masuk ia terpana dengan ruangan yang cukup mewah. "Wah, Presdir memang benar-benar menyukaimu. Dia tak main-main untuk memberikan tempat seindah ini," pujinya.


"Tak usah berlebihan," ujar Rista. Ia menyajikan segelas jus jeruk kepada temannya itu.


"Apa kita jadi jalan-jalan hari ini?" tanya Sella sembari menyeruput jusnya.


"Ya, aku akan bersiap-siap. Dan ini kunci mobilnya," Rista menyodorkannya.


"Mobilnya kembali lagi padamu?"


"Ya, padahal aku sudah menolaknya tapi dia memaksaku," jelas Rista.

__ADS_1


"Presdir tahu ini memang dia berikan untukmu," ujar Sella.


"Kalau begitu, tunggu sebentar!" Rista ke kamarnya.


Elisa muncul dari arah dapur.


"Bibi!" Sella mendekati wanita paruh baya itu dan memeluknya. "Apa kabar?" tanyanya.


"Bibi, baik-baik saja. Kamu bagaimana kabarnya?" balik bertanya.


"Aku baik, Bi."


-


Tak lama menunggu, Rista sudah bersiap untuk menikmati jalan-jalan sore. "Ayo berangkat!"


"Bibi, kami pergi dulu!" pamit Sella.


"Iya, kalian hati-hati, ya!" ujar Elisa.


"Ibu yakin tak ingin ikut kami?" tanya Rista.


"Tidak, Nak. Kalian saja," jawabnya.


"Baiklah, Bu." Rista pun pergi.


Sella yang mengendarai mobil ke Mall Cahaya. "Akhirnya aku punya teman lagi di kota ini," ungkapnya.


"Aku juga merindukan waktu seperti ini," sahut Rista.


"Sekarang kau sudah bersama Presdir, waktu untukku telah berkurang," ucapnya sendu.


"Aku yakin suatu saat nanti kau akan menemukan pria yang baik," ujar Rista.


"Semoga saja!"


-


Tak sampai 30 menit mereka tiba di Mall Cahaya, keduanya turun menjelajahi gedung yang menjual aneka barang dan makanan sekaligus tempat hiburan bagi orang-orang yang jenuh dengan rutinitas sehari-hari.


"Sella, aku ingin makan es krim. Bisakah kau mengantri untuk membelinya?"


"Bisa, aku akan membelinya. Kau tunggu di sinilah!"


"Baiklah," Rista duduk sembari menunggu Sella mengantri.


Sella berdiri diurutan kelima, ia akan memesan 2 cup es krim. Hampir 10 menit mengantri akhirnya gilirannya tiba.


"Berapa semuanya?" tanya Sella pada kasir toko dan karyawan itu menyebutkan harganya.


Sella membuka tasnya tapi tidak menemukan dompetnya, ia mulai cemas mencarinya. Sella melihat ke arah Rista namun wanita itu tak ada di tempat duduknya.


"Nona, apa kau masih lama?" tanya pria yang ada di belakangnya.


"Biar saya yang bayar," pria yang ada dibelakang Sella menyodorkan sebuah kartu debit kepada kasir.


Sella hanya diam, pesanannya di bayar. Ia pun keluar dari barisan sembari menunggu pria yang membayar es krimnya.


Pria itu berjalan melewati Sella.


"Terima kasih," ucapnya mengikuti langkah kaki Varrel.


"Lain kali bawa dompet, apa kelakuanmu seperti ini? Agar orang lain membayarkan pesananmu!" ia menatap Sella yang sedang memegang 2 cup es krim.


"Hei, aku lupa meletakkannya di mana. Kau jangan menuduhku sembarangan. Aku akan mengganti uangmu nanti," omel Sella.


"Tidak perlu, aku hanya mengingatkanmu saja!" Varrel pun berlalu.


Sella tetap mengikuti langkah Varrel. "Tunggu!"


"Apa lagi?" Pria itu membalikkan badannya.


"Berika kartu namamu!" pintanya.


"Untuk apa?" tanya Varrel.


"Ya, aku hanya ingin mengembalikan uangmu saja!"


Varrel tak menghiraukan ucapan Sella, ia pun melanjutkan melangkah.


Sella hendak mengejar Varrel namun suara Rista memanggil membuatnya berhenti dan menoleh ke arah temannya.


Sella mendengus kesal melihat Rista, ia mendekati sahabatnya itu. "Kau dari mana saja?" omelnya.


"Aku dari toilet."


"Apa kau tahu? Aku tadi butuh bantuanmu," ujarnya.


"Memangnya kau butuh bantuan apa?"


"Dompetku ketinggalan," jawabnya.


"Jadi, es krimnya siapa yang bayar?"


"Varrel."


"Varrel Atmadja?"


"Ya, temannya Nona Natasha."


"Huh, syukurlah kalau dia yang membayarnya."


"Hei, karena aku tidak membawa dompet. Dia selalu menghinaku," gerutunya.


"Ya, sudah kau tinggal kembalikan uangnya. Kebiasaan dirimu memang suka lupa di mana meletakkan dompet, ponsel dan kunci," omel Rista.

__ADS_1


Sella hanya tersenyum nyengir.


"Mana es krim ku!" pinta Rista.


Sella menyerahkan 1 cup es krim strawberry kepada sahabatnya itu.


Keduanya menikmati es krim sembari mengobrol dan melihat orang-orang berlalu lalang.


Rista melihat jam di ponselnya menunjukkan pukul 7 malam. "Ayo kita pulang!" ajaknya.


"Kenapa cepat sekali?"


"Ibu sendirian di rumah, aku tidak tega meninggalkannya di apartemen. Jika kami masih di rumah lama, ibu takkan kesepian karena dia ada kegiatan menanam bunga kadang mengobrol dengan tetangga," jelas Rista.


"Ya, baiklah," Sella beranjak berdiri.


Keduanya berjalan beriringan sesekali tertawa.


Tanpa sengaja Rista menabrak seorang wanita paruh baya hingga membuat ponselnya terjatuh. "Maaf, Tante!" ia mengambil benda tersebut dan menyerahkannya.


Wanita itu sejenak menatap Rista. "Apa kamu tidak bisa hati-hati?" omelnya.


"Saya tidak sengaja, Tante!" Rista menundukkan kepalanya.


"Beruntung ponselku tidak rusak!" celetuknya.


"Ma!" seorang pria muda menghampirinya.


"Tuan Varrel!" ucap Rista dan Sella bersamaan.


"Kalian?" Varrel menatap keduanya.


"Kamu mengenal dia, Nak?" tanya wanita itu.


"Mereka temanku," jawab Varrel.


Sella mengerutkan keningnya.


Rista menampilkan senyumnya.


"Dia sudah membuat ponsel Mama jatuh!" menunjuk Rista.


"Tidak rusak, kan?" tanya Varrel.


"Tidak, Nak."


"Syukurlah!" ucap Varrel.


"Tuan, maaf. Saya tidak sengaja!" Rista menundukkan sedikit kepalanya.


"Tidak apa-apa," Varrel tersenyum.


Wanita itu menatap serius wajah Rista, ia seperti mengingat seseorang.


"Ma, ayo kita pulang!" ajak Varrel.


"Oh, ya. Mari!" wanita itu mengikuti langkah putranya sesekali ia menoleh melihat Rista.


"Ayo Rista, kita pulang!" Sella menarik tangan sahabatnya.


-


Di dalam mobil, wanita paruh baya itu bertanya, "Apa kamu mengenal keluarganya?"


"Tidak, Ma. Aku cuma tahu jika dia bekerja di Arta Fashion sebagai desainer," jawab Varrel.


"Arta Fashion?" tanyanya lirih.


"Iya, Ma. Natasha sebagai brand ambassadornya," jelas Varrel.


"Perusahaan itu salah satu saingan kita," ujarnya.


"Bukan kita tapi Oma, karena perusahaan aku hanya bengkel mobil kecil," ucap Varrel mengingatkan mamanya.


"Tapi, suatu saat kamu pasti akan menjadi CEO di perusahaan Oma, Varrel."


"Ma, aku tidak menyukai bidang fashion. Bukankah masih ada cucu Oma lainnya yang berhak memimpin perusahaan?"


"Iya, tapi siapa?"


"Anak Paman Sammy."


"Kita sudah tidak pernah tahu keberadaan Paman Sammy dan istrinya. Wajah anaknya saja Mama pun tak tahu," ujarnya.


"Apa kalian tidak berniat mencarinya?"


"Oma tidak mau mencarinya, padahal Mama sangat merindukan Paman Sammy. Bagi Mama dia adalah seorang kakak yang hebat," jelasnya sembari menghapus air matanya yang menetes.


"Bagaimana kalau kita mencarinya?" usul Varrel.


"Tapi, di mana kita akan mencarinya?"


"Kita coba mencari di kampung tempat istrinya, mana tahu mereka masih berada di sana."


"Benar juga," wanita itu menerima usulan putranya. "Kapan kita akan mencarinya?" lanjutnya bertanya.


"Bagaimana besok, Ma?"


"Baiklah, kita akan ke sana."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Jangan lupa tinggalkan jejak 🌹


SELAMAT MEMBACA ♥️

__ADS_1


__ADS_2