Jangan Mengejarku, Cantik!

Jangan Mengejarku, Cantik!
Kedatangan Neneknya Rista


__ADS_3

Rista menggeliat di ranjang saat matahari mengenai wajahnya. Ia melihat ke arah dinding lalu menarik selimutnya dan menutupi sebagian tubuhnya dan memejamkan matanya kembali.


Suara teriakan memanggil namanya cukup nyaring dari arah luar kamarnya. Ia tersentak kaget, lalu bergegas turun dari ranjang.


Rista membuka pintu kamar tidurnya, telah berdiri seorang wanita tua dengan usia 65 tahun dengan mimik wajah menakutkan.


"Sudah jam berapa ini? Kenapa baru bangun?" omelnya.


"Nenek, kenapa di sini?" Rista tampak heran.


"Memang kenapa kalau di sini? Kamu tidak senang nenek datang," jawabnya.


"Tidak, Nek. Aku malah senang," Rista memeluk wanita itu.


Lusi mendorong tubuh cucunya, "Kamu sangat bau. Pergilah mandi!"


"Ku masih wangi, Nek. Semalam aku pakai minyak wangi hampir satu botol," ungkap Rista.


"Kamu mau mandi pakai itu?" sindir Lusi.


"Tidaklah, Nek. Aku semalam sedang makan malam bareng calon mertua," jawab Rista.


"Memangnya siapa?" Lusi penasaran.


Elisa yang mendengar obrolan dua wanita bergegas menghampiri. "Bu, mari kita sarapan. Rista, kamu pergi sana!"


"Ya, aku belum sarapan," ujar Lusi lalu mengikuti putrinya ke meja makan.


Elisa menyajikan hidangan untuk sarapan di meja.


"Apa kau tahu calon mertua Rista?" tanya Lusi.


"Tidak, Bu. Dia hanya berkhayal saja," jawab Elisa berbohong.


"Kasihan sekali dia sudah ingin mempunyai calon suami sampai harus berkhayal seperti itu," jelas Lusi.


Elisa hanya tersenyum tipis.


Rista keluar dari kamarnya dengan wajah sumringah. Ia duduk di sebelah ibunya.


"Apa pekerjaanmu membuat dirimu sangat lelah?" tanya Lusi pada cucunya.


"Tidak, Nek. Malah aku sangat senang," jawab Rista tersenyum.


"Memangnya kamu kerja di perusahaan apa?" Lusi penasaran.


"Di bidang fashion sesuai dengan ilmu yang ku pelajari," jawab Rista.


"Ya, nama perusahaannya apa?" tanya Lusi.


"Bu, Rista, ayo dimakan. Nanti nasinya dingin," sahut Elisa.


Rista dan Lusi akhirnya menikmati sarapan buatannya.


"Bagaimana aku mengatakannya pada Rista, ya?" batin Elisa.


Selesai sarapan Lusi ingin bertanya-tanya pada cucunya namun Elisa segera menyuruh putrinya itu untuk mencuci piring.


"El, putrimu sebenarnya bekerja di mana?" tanya Lusi.


"AZ Fashion, Bu." Jawabnya berbohong.


"Oh."


"Semoga Ibu tak bertanya lagi pada Rista," harapnya dalam hati.


-


-


-


Kebetulan masih libur kantor, Rista pergi jalan-jalan bersama Sella. Ya, mereka akan nongkrong di kafe menikmati kopi dan mencari ide untuk rancangannya.


"Bagaimana makan malam kau dengan keluarga Presdir?" Sella membuka percakapan.

__ADS_1


Rista tersenyum, "Mereka sangat baik!"


"Beruntungnya dirimu, mendapatkan pria seperti Tuan Darren," pujinya.


"Ini baru awal, Sel. Perjalanan masih panjang, semoga semuanya berjalan dengan baik-baik saja," harap Rista.


"Memangnya ada kendala apa?"


"Kami baru menjalin hubungan, pastinya akan cobaan yang menerpa. Cuma Ibuku pernah berkata jangan bicara jujur pada Nenek apapun itu," jawab Rista. Saat ia lagi mencuci piring, Elisa mengatakan hal begitu.


"Memangnya kenapa kalau kau berkata jujur?"


"Aku tidak tahu, ku tanya alasannya namun ibu tak pernah memberitahunya," jawab Rista.


"Aku rasa Bibi Elisa mempunyai rahasia besar," ujar Sella.


"Iya, itu membuatku penasaran," ungkap Rista.


"Bagaimana jika rahasia itu berkaitan dengan hubungan kalian?" tebak Sella.


"Tidaklah mungkin, keluarga kami tidak saling mengenal sebelumnya," jawab Rista.


"Bisa saja," celetuk Sella.


"Kau jangan membuatku takut. Keluarga Darren sangat kaya, tak mungkin kami memiliki masalah dengan mereka," jelas Rista.


"Benar juga, sih. Semoga saja rahasia itu tidak ada hubungannya dengan Presdir," harap Sella.


"Semoga saja, agar perjalanan cintaku berjalan mulus," Rista tersenyum penuh harap.


-


Elisa dan ibunya menikmati siaran televisi bersama. Tak ada obrolan, ia sengaja menghindarinya agar tidak keceplosan berbicara mengenai putrinya.


"Apa Rista sudah tahu tentang Arta Fashion?" tanya Lusi.


"Sudah, Bu."


"Baguslah, jika dia tahu. Jangan sampai keluarga kita terikat hubungan kerja atau apapun dengan perusahaan itu," ujar Lusi.


"Ya, Bu."


"Kau tidak pernah tahu, betapa menderitanya Ibu waktu itu," jawab Lusi.


Elisa terpaksa diam, ia tak mau berkata lagi. Bisa-bisa curahan hati ibunya akan panjang.


...----------------...


Gedung Arta Fashion


Rista dan Sella pergi bersama berpapasan dengan Natasha yang juga baru turun. Namun, wanita itu memilih diam dan enggan menyapa. Biasanya tak pernah begitu.


Tak lama kemudian Darren pun turun bersama Yuno. Mereka berada di belakang para wanita itu.


"Itu Natasha, apa kau tidak ingin menyapanya?" tanya Darren.


"Tidak."


"Kenapa?"


"Kau ingin aku dan dia jadi pembicaraan satu gedung?"


"Tidak juga, apa salahnya menyapanya?"


"Tidak salah, cuma ku belum siap saja," jawab Yuno.


Sella menoleh ke belakang dan melihat atasannya, "Rista, calon suamimu!" ceplosnya.


Seketika orang-orang yang berada disekitar mereka ikutan menoleh karena mendengar perkataan itu termasuk Natasha.


Rista menyipitkan matanya kepada sahabatnya itu.


Sella hanya tersenyum nyengir.


"Siapa calon suami Rista?" Natasha dalam hati sembari melihat dua orang pria dibelakangnya.

__ADS_1


Yuno melambaikan tangan kepada orang-orang yang ada di hadapannya sambil tersenyum, semuanya membalas dengan senyuman juga tapi tidak dengan Natasha yang memilih membalikkan wajahnya lalu berjalan cepat ke studio.


"Dia cemburu!" Darren berkata pelan.


Yuno tersenyum puas.


Begitu sampai studio, ia meletakkan tasnya secara kasar di atas meja membuat tim rias terkejut.


"Cepat riasnya!" perintahnya.


"Baik, Nona." Dua orang wanita yang menjadi perias mempercepat pekerjaannya.


Natasha juga mendesak fotografer untuk mengambil gambarnya.


Hampir dua jam, akhirnya pemotretan selesai. Tanpa menunggu manajer dan asistennya, Natasha bergegas melangkah keluar. Ia menggunakan lift untuk turun ke lantai bawah, hendak menekan tombol pria yang ingin dihindarinya malah ikut masuk bersamanya.


Natasha berniat keluar namun Yuno dengan cepat menekan tombol sampai ke lantai atas.


Melihat angka yang ditekan Yuno membuat mata Natasha tertuju pada pria itu. "Aku mau turun ke lantai bawah!"


Yuno tetap diam.


Natasha mendekap kedua tangannya, menatap kesal pria yang ada disampingnya itu.


"Kau sangat jelek seperti itu!" Yuno berkata tanpa menatap.


"Biarkan aku jelek, apa peduli dirimu!" ucapnya ketus.


Lift berhenti di lantai 7 yang tidak ada aktivitas sama sekali. Kecuali, penuh dengan tumpukan barang-barang.


Pintu terbuka, Yuno menarik tangan Natasha untuk keluar.


"Hei, kau mau apa? Jangan macam-macam, ya!" hardik Natasha.


Yuno tak menggubrisnya.


"Lepaskan aku!" teriaknya.


Yuno membawa Natasha ke puncak gedung.


"Mau apa kau bawa aku ke sini?" tanya Natasha yang mulai ketakutan.


Yuno menatap Natasha yang heran, bingung dan cemas.


"Hei, apa kau sudah gila? Aku bertanya padamu, kenapa membawaku ke sini?" dengan nada tinggi.


"Apa kau menyukaiku?" Yuno menatap dengan tatapan serius.


"Tidak!" Natasha membuang wajahnya.


Yuno berjalan mendekati wanita itu.


"Hei, kau mau apa?" Natasha mulai gugup.


"Katakan?"


"Katakan apa?" Natasha terlihat bingung.


"Apa kau menyukaiku?" tanya Yuno lagi.


Ponsel Natasha berdering ia bergegas membuka tasnya lalu mengangkatnya. "Halo, Kak!"


Yuno dengan cepat meraih ponsel Natasha. "Dia sedang bersama saya. Jadi, jangan terlalu mengkhawatirkannya!" ia lalu menutup teleponnya.


"Hei, kenapa kau yang menjawabnya?" protes Natasha.


"Memangnya tidak boleh?" Yuno balik bertanya.


Angin bertiup cukup kencang karena berada di atas gedung beratapkan langit, membuat helaian rambut Natasha menutupi wajahnya yang mulus.


Yuno menyentuh wajah Natasha dan menyingkirkan rambut wanita itu lalu menyelipkannya di telinga.


Sentuhan itu membuat jantung Natasha berdetak kencang.


"Kau gugup?" Yuno tersenyum.

__ADS_1


Natasha hanya diam.


"Aku mencintaimu!"


__ADS_2