Jangan Mengejarku, Cantik!

Jangan Mengejarku, Cantik!
Tak Direstui (3)


__ADS_3

Elisa pulang ke kampungnya, sudah setahun ini dia meninggalkan tanah kelahirannya itu. Ia mendatangi kediaman orang tuanya. Begitu sampai ia memeluk Lusi.


"Apa kabar, Bu?"


"Baik, El. Rista tak ikut kamu?"


"Tidak, Bu. Dia bekerja jadi tak ikut," jawabnya.


"Ada apa kamu ke sini?"


"Aku rindu Ibu dan sekalian ingin mengundang Ibu ke acara pernikahan Rista," ujarnya.


"Menikah? Dengan siapa?"


"Darren, Bu."


"Jadi, kalian masih berhubungan dengan mereka," Lusi tampak tak suka.


"Bu, mereka saling mencintai. Tak seharusnya kita menghalanginya," ujar Elisa.


"Kamu tidak ingat apa yang keluarga anak itu lakukan kepada kita?"


"Bu, semua itu kesalahan ayah. Sudahlah, cukup sampai di sini saja permusuhan Ibu dengan Keluarga Clarissa," mohon Elisa.


"Kamu memaksa Rista menikah dengannya karena mereka keluarga kaya dan terpandang?" tudingnya.


Elisa menggelengkan kepalanya, "Aku tidak pernah berpikiran seperti itu, Bu!"


"El, Ibu tahu kamu menginginkan jadi orang kaya sehingga menjerat Sammy untuk jadi suamimu tapi kenyataannya dia di buang oleh keluarganya," ujar Lusi.


Elisa menahan sabar, "Bu, aku mencintai Mas Sammy bukan dia dari keluarga kaya raya tapi ku memang tulus menyayanginya, buktinya pernikahan kami bertahan sampai ia meninggal."


Lusi menarik sudut bibirnya.


"Bu, aku ke sini bukan mencari keributan. Ku hanya mengundang Ibu mau datang," ujar Elisa "Pernikahan akan dilaksanakan dua bulan lagi, jadi hari dan tanggalnya ku akan menghubungi Ibu kembali," lanjutnya. Elisa pun meninggalkan kediaman orang tuanya.


-


-


Kafe Melodi


Varrel terus melihat jam di ponselnya yang menunjukkan pukul 6 sore, sudah sejam dirinya menunggu seseorang.


Perasaannya tak karuan hingga seorang wanita muncul di hadapannya hatinya sedikit tenang karena yang ditunggu telah tiba.


"Jalanan sangat macet hari ini, maaf membuatmu lama menunggu," Sella menyeruput jus jeruk yang ada dihadapannya tanpa bertanya terlebih dahulu pada pria di depannya.


Varrel menampilkan senyum kaku.


"Kau ingin berbicara apa?" tanyanya.


"Tidak ada," Varrel menjawab dengan cepat.


"Astaga, kau ini sudah membuatku terburu-buru ke sini tapi tidak jadi berbicara. Merepotkan saja!" omelnya.


"Tadi, aku ingin bicara denganmu tapi ku lelah menunggu akhirnya lupa," ujar Varrel berbohong.


"Coba di ingat-ingat lagi, kau ingin bicara apa?"


"Tak ada, silahkan makan hidangannya," titahnya.


"Oh, dengan senang hati ku akan menghabiskannya," Sella mulai menyantap pesanan yang disajikan.


Varrel hanya melihat wanita dihadapannya makan dengan begitu lahap.


"Sampaikan ucapan terima kasihku pada Tante Tania karena sudah memasakkan makanan selezat itu," ujar Sella.


"Nanti aku akan sampaikan," Varrel tersenyum.


"Kau tidak makan?"


"Tidak."


"Makanan sebanyak ini cuma aku sendiri yang makan. Makin senang perutku," Sella tersenyum nyengir.


"Ya , tidak apa-apa jika itu bisa membuat perutmu bahagia," ujar Varrel.


"Terpaksa besok aku harus diet, kalau tidak perut ini akan penuh lemak," ucap Sella.


"Kau yakin mau diet?"


"Yakinlah, memangnya kau mau punya kekasih yang gendut?"

__ADS_1


"Tak masalah," jawabnya.


"Semoga saja ucapanmu itu bisa di pegang," ujar Sella. Ia menyodorkan kentang goreng ke mulut Varrel namun pria itu enggan membukanya.


"Aku tidak mau, Sella!" tolaknya.


"Aku tidak mau gendut sendiri, kau harus juga!" Sella tetap memaksa.


Varrel tetap menggelengkan kepalanya.


"Ayo dimakan, aku takut pakaianku kekecilan karena berat badanku bertambah," ujar Sella.


Varrel akhirnya membuka mulutnya.


Sella tersenyum, ia memasukkan kentang goreng ke mulut pria itu lagi lalu menyuapkan sop daging.


"Sella, cukup!" pintanya memohon.


Sella pun menghentikan aktivitasnya memaksa Varrel makan dan ia kembali duduk.


"Jika kau gendut, aku akan membelikan pakaian baru untukmu," janjinya.


"Memangnya kau siapa? Membelikan aku pakaian, kita bukan suami istri," ujar Sella.


"Memangnya kalau bukan suami istri tak boleh membelikan pakaian kepada orang lain?"


"Boleh saja," jawabnya. "Bagaimana kalau tiap minggu berat tubuhku bertambah apa kau mau selalu membelinya?" lanjutnya bertanya.


Varrel terdiam.


"Tidak mau, kan?"


"Kalau begitu, bagaimana kita menjadi seorang suami istri?"


Sella yang sedang mengunyah hampir tersedak mendengar pertanyaan Varrel. Ia lalu meraih air putih dan meminumnya.


"Bagaimana, Sella?" tanya Varrel lagi.


"Jangan bercanda," jawabnya.


"Aku serius, Sella."


Wanita itu malah tertawa kecil.


Sella hanya terdiam.


Varrel seketika tergelak.


Sella mengerucutkan bibirnya melihat Varrel malah tertawa kencang padahal dalam hatinya sudah menganggap ucapan pria itu serius.


Varrel melihat jam di ponselnya, "Apa kau sudah selesai makannya?"


"Sudah."


"Tidak bawa mobil, kan?"


"Tidak."


"Aku akan mengantarmu pulang," ujarnya.


Sella bergegas minum dan mengelap bibirnya dengan tisu. Ia beranjak berdiri menyusul Varrel ada di depannya.


Di perjalanan pulang, Sella hanya diam matanya menatap jendela mobil.


Varrel melirik wanita yang ada disampingnya yang tiba-tiba berubah. Awalnya sangat ceria, tapi ketika ia mengungkapkan kata 'aku serius' seketika senyumannya memudar.


Sesampainya di rumahnya, Sella sudah memegang handle pintu ia lalu menatap Varrel. "Terima kasih traktirannya!"


"Ya, sama-sama. Sampaikan salamku kepada kedua orang tuamu," ujarnya.


"Ya," jawab Sella tersenyum tipis. Ia lalu membuka pintu namun sebuah tangan menarik handle dan menutupnya kembali membuat dirinya terkejut secepatnya mengarahkan matanya kepada Varrel. "Kenapa?" tanyanya bingung.


Varrel menarik tengkuk Sella lalu mengecup bibirnya membuat wanita itu mendelik.


Sella mendorong tubuh Varrel dengan kuat, ia menatap tajam pria itu lalu bergegas turun.


Varrel ikutan turun juga. "Sella!" panggilnya.


Sella tak menggubrisnya dan tetap melangkah.


Varrel menarik lengan tangan wanita itu, "Maaf!"


Sella menurunkan tangannya Varrel lalu mengangguk pelan ia kemudian lanjut melangkah.

__ADS_1


Varrel kembali ke mobil, ia memukul stir mobil. "Kenapa aku bisa sebodoh tadi?" meraup wajahnya dengan kasar.


-


Sella melemparkan tasnya di ranjang ia lalu bercermin menatap wajahnya. Tangannya menyentuh bibirnya yang beberapa saat lalu di kecup. "Kenapa kau tidak mengatakan suka padaku?" tanyanya lirih.


Sella tersenyum girang, ketika mengingat momen tadi. "Astaga, kenapa aku jadi memikirkan dia?" ia mengacak rambutnya dengan kasar.


...----------------...


Keesokan paginya, Varrel sengaja mendatangi Arta Fashion karena tadi ia sudah ke rumah Sella namun wanita itu telah berangkat kerja. Varrel menunggunya di parkiran sebelumnya ia mengirimkan pesan.


Sella memasang wajah ketus menghampiri pria yang menunggunya di parkiran. "Ada apa?" tanyanya ketika bertemu.


"Aku mau minta maaf," jawab Varrel merasa bersalah.


"Ya, aku maafkan." Sella membuang wajahnya.


"Kalau begitu aku pamit, maaf mengganggumu," ujar Varrel.


"Ya," Sella membalikkan tubuhnya ia kembali melangkah ke arah gedung. "Ayo panggil aku, ku mohon panggil aku sekarang!" teriaknya dalam hati.


"Sella!" panggil Varrel, ia berjalan mendekati wanita itu.


Sella mengulum senyum senang lalu membalikkan badannya sengaja memasang cuek. "Ya!"


"Kemarin ikat rambutmu terjatuh di mobilku!" Varrel menyerahkan benda yang berwarna merah muda itu.


Sella meraih ikat rambut miliknya lalu memaksakan senyumnya. Tanpa mengucapkan kata-kata ia kembali melangkah.


Varrel menatap punggung wanita itu dari kejauhan, ia lalu balik berjalan ke mobilnya.


"Ya ampun, Sella. Kau berharap apa 'sih dari Varrel?" Sella merutuki dirinya.


-


-


Varrel kembali ke bengkelnya, Natasha sudah berada di tempat usahanya itu.


Natasha melambaikan tangannya ketika Varrel turun dari mobilnya.


"Apa mobilmu rusak?" tanya Varrel.


"Ya," jawabnya.


"Kenapa kau sendiri yang membawanya?"


"Tadi di antar sopir cuma sedang ada urusan jadi dia akan kembali ke sini," tukasnya.


"Begitu, ya. Apa kau ingin minum?"


"Air mineral saja."


"Baiklah, aku akan mengambilnya," Varrel membuka lemari pendingin dan mengambil sebotol air berukuran sedang lalu menyerahkannya kepada wanita itu.


Natasha meraih botol air lalu berkata, "Terima kasih!"


Varrel tersenyum ia duduk di meja kerjanya, kebetulan Natasha di ruangannya juga.


"Bagaimana?"


"Apanya?"


"Hubunganmu dengan Sella, apa dia telah menerimamu?"


Varrel menggelengkan kepalanya, "Aku belum mengatakannya."


"Kenapa?"


"Aku juga bingung tapi sudah berani menciumnya," jawab Varrel.


"Kau sudah gila? Belum mengatakannya tapi sudah berbuat begitu," Natasha menggelengkan kepalanya tak percaya.


"Dia jadi marah padaku," ujarnya.


"Ya, iyalah aku juga akan marah jika ada yang berani berbuat begitu tanpa permisi," ucap Natasha. "Apa kau sudah minta maaf?" tanyanya.


"Sudah tapi masih terlihat marah."


"Sepertinya kau harus bekerja keras untuk mendapatkan hatinya," Natasha tersenyum meledek.


"Ya," ucapnya lemas.

__ADS_1


__ADS_2