
Darren sudah menyiapkan apartemen untuk ditempati Rista sementara tak jauh dari Arta Fashion. Setelah mengantarkan wanita itu, ia kembali ke rumahnya.
Clarissa begitu senang melihat kepulangan putra bungsunya itu. "Bagaimana, Nak?"
"Dia sudah kembali, Ma."
"Syukurlah," ucap Clarissa lega. "Kenapa wajahmu pucat?" lanjutnya bertanya.
"Aku hanya kelelahan saja, Ma."
"Kamu mengendarai mobil sendirian?" tanyanya lagi.
Darren mengangguk pelan.
"Kenapa kamu menyupir sendiri?"
"Aku ingin saja, Ma."
"Ya sudah, kamu mandi setelah itu istirahat jangan pergi ke mana-mana lagi. Mama akan buat sup untukmu!"
"Ya, Ma." Darren pun pergi ke kamarnya.
...----------------...
Rista mendatangi kediaman orang tua Darren, ia mendapatkan kabar jika pria itu sedang sakit dan tak mau di rawat di rumah sakit.
Rista membawa buah-buahan kesukaan Darren seperti jeruk dan melon. Dengan wajah sumringah ia melangkahkan kakinya di rumah tua namun tetap megah dan mewah.
Namun, langkah kakinya berhenti saat matanya melihat wanita yang menemani Darren makan siang di restoran di Kota E sedang mengobrol dengan Clarissa, calon ibu mertuanya. Seketika hati Rista menciut, ia merasa tidak percaya diri jika harus dibandingkan dengan wanita itu.
"Rista!" Clarissa beranjak berdiri dari sofa lalu menghampirinya.
"Bibi!" Rista tampak terbata.
"Darren sedang menunggumu, dia ada di kamarnya!" Clarissa tersenyum.
"Apa saya boleh masuk ke kamarnya?" tanya Rista hati-hati.
"Tentunya boleh, tapi pintu kamar harus tetap di buka, ya!" Clarissa tersenyum.
Rista menampilkan senyum tipis. "Baiklah, Bi!"
"Sudah sana, dari tadi dia menunggumu!" ujar Clarissa.
"Ya, Bi." Rista melangkahkan kaki ke kamar Darren.
Clarissa kembali duduk menemani Sisil.
"Siapa dia, Bibi?"
"Calon istrinya Darren," jawab Clarissa bangga.
"Jadi dia wanita yang selalu di puji Darren," dalam hati Sisil.
"Dia salah satu desainer di Arta Fashion," ujar Clarissa.
"Begitu, ya." Sisil menampilkan senyum tipis. "Orang tuanya bekerja di mana, Bi?" lanjutnya bertanya.
"Bibi kurang tahu," jawab Clarissa.
"Paman dan Bibi menerima calon istri Darren yang tidak jelas asal usulnya. Bagaimana bisa?"
"Kami tidak pernah melihat siapa orang tuanya, bagi Bibi kebahagiaan Darren dan Raisa itu nomor satu. Jika mereka merasa nyaman dan saling mencintai, itu tak jadi masalah," jawab Clarissa.
"Pasti mereka bangga memiliki mertua seperti Bibi Rissa," ujar Sisil.
"Jangan berlebihan seperti itu, Bibi hanya ingin menjadi mertua yang baik untuk para menantu," Clarissa tersenyum menjelaskan.
"Seandainya aku bisa menjadi menantu Bibi Rissa pasti sangat bahagia," ujar Sisil menunduk sedih.
" Sisil, Bibi yakin kamu akan menemukan pria dan mertua yang baik. Percayalah," ucap Clarissa.
"Semoga saja, Bi." Sisil tersenyum lalu memeluk wanita yang ada dihadapannya. "Pantas saja dulu Papa begitu tergila-gila padanya, Bibi Clarissa memiliki hati yang lembut dan baik hati," dalam hatinya.
__ADS_1
Sementara itu, Rista duduk di sisi ranjang kini sedang mengupas buah jeruk lalu ia masukkan ke dalam mulut Darren yang menyandarkan tubuhnya di headboard.
"Kenapa wajahmu murung begitu?"
"Tidak ada apa-apa," jawab Rista.
"Kau pasti cemburu melihat kehadiran Sisil bersama Mamaku, kan?" Darren mencoba menebak.
"Ya."
"Dia kebetulan berada di kota ini, jadi singgah kemari," jelas Darren.
"Oh," ucapnya singkat.
"Kau cemberut begitu sangat lucu!" Darren tersenyum.
"Jangan mengejekku!" Rista memanyunkan bibirnya.
Darren terkekeh melihat ekspresi Rista cemburu.
"Apa kau sudah makan vitamin?"
Darren menggeleng pelan.
"Kenapa?"
"Vitamin ku sudah ada di depan mata," jawab Darren.
Rista tersipu malu.
"Kapan kau akan kembali ke perusahaan?"
"Aku tidak mau lagi bekerja di sana."
"Kenapa?"
"Aku mau membuka perusahaan sendiri," Rista tersenyum.
"Kau ingin menjadi pesaing Arta Fashion?" Darren menatap serius.
"Hei, kenapa tertawa?"
Rista mencubit pipi Darren, "Aku sudah jatuh cinta dengan Arta Fashion apalagi dengan kamu. Tidak mungkin aku berpaling, tapi jika kau menginginkan aku pergi, ku akan melakukannya."
"Kau tidak boleh pergi lagi, tetap di sini. Kita akan menua bersama," Darren menatap wajah Rista.
"Uuh, aku jadi terharu mendengarnya," Rista menunjukkan wajah gemasnya.
Darren tertawa kecil. "Aku mencintaimu!"
"Aku juga!" Rista tersenyum hangat.
Keduanya saling menatap dan mendekat.
"Darren, Sisil mau pamit pulang!" ucap Clarissa membuat keduanya terkejut lalu mengarahkan pandangannya kepada wanita yang berdiri di depan pintu.
Rista segera beranjak berdiri, sedikit menjauh dari Darren.
"Aku mau pamit pulang, cepat sembuh!" Sisil menampilkan senyum terpaksa.
"Terima kasih, Sil." Darren membalas dengan senyuman.
"Mama mau mengantarkan Sisil ke mobil," ujar Clarissa. "Silahkan kembali mengobrol!" lanjutnya.
Rista hanya tersenyum kaku.
Darren tertawa melihat wajah kekasihnya.
"Hampir saja ketahuan!" Rista memegang dadanya dan kembali duduk di dekat Darren.
"Kenapa panik?"
Rista memukul lengan Darren. "Bagaimana jika Bibi Clarissa tahu kalau kau menciumku? Mau di bawa ke mana wajahku ini?" ia tadi tampak panik.
__ADS_1
"Kan, kita tidak jadi berciuman. Jadi, hilangkan wajah panikmu itu!" sindir Darren.
Rista mendengus kesal.
"Aku akan segera melamarmu!" Darren memegang jemari kekasihnya.
Rista mengangguk sembari tersenyum.
...----------------...
Tepat 2 hari setelah kepulangannya, Rista kembali bekerja di Arta Fashion. Darren berjalan beriringan dengan kekasihnya itu memasuki gedung.
Sella yang tak tahu jika sahabatnya kembali merasa terkejut sekaligus bahagia. Dia berlari menghampiri wanita itu dan memeluknya, "Aku sangat merindukanmu!"
"Aku juga!" Rista tertawa bahagia.
"Kenapa kau tidak memberitahuku kalau kembali?" Sella melonggarkan pelukannya.
"Aku sengaja ingin memberikanmu kejutan," jawab Rista.
"Hari ini kau memang sudah memberikan aku kejutan," ujar Sella.
"Sampai kapan kalian berdua begini?" tanya Darren ketus.
Sella memundurkan langkahnya, "Maaf Presdir!" ia menunduk.
"Kembali bekerja, nanti saja lagi jika mau mengobrol!" Darren melangkah lebih dahulu.
"Nanti siang kita lanjutkan lagi," Rista melambaikan tangannya lalu menyusul langkah kekasihnya.
-
Rista memasuki ruangan kerjanya lalu menyapa teman-temannya. "Hai, semua. Kita jumpa lagi!"
"Rista!" teriak mereka serentak, berlari kecil menghampirinya.
"Apa kabar?" tanya salah satu di antara keempat teman satu ruangan kerja.
"Aku baik-baik saja," jawab Rista.
"Ke mana saja selama ini?" tanya yang lainnya.
"Aku sedang ada urusan yang tidak bisa di tinggalkan," Rista memberikan alasan berbohong.
"Begitu, ya. Kau tahu selama dirimu pergi, Presdir selalu marah-marah. Wajahnya ketus dan sangat dingin. Apa lagi penjualan menurun, beruntung tak ada pengurangan jam karyawan," jelas yang lain.
"Syukurlah kalau dibatalkan pengurangan jam kerja," ujar Rista.
Kelima karyawan masih mengobrol tanpa disadari Darren berada di belakangnya, suara deheman membuat kelimanya menoleh dan kembali ke meja kerjanya.
"Kenapa masih berdiri?" Darren melihat Rista tak pergi ke mejanya.
"Aku mau duduk di mana? Mejanya tak ada."
Darren memang melihat tak ada meja tersisa karena sudah dipindahkan. "Kau bekerja di ruanganku saja!"
"Aku tidak mau!" tolaknya.
"Kenapa? Bukankah itu lebih baik dan sangat menyenangkan?"
"Aku tidak bisa berkonsentrasi dengan baik jika berdekatan denganmu!"
"Apa aku akan menggangu pekerjaanmu?"
"Ya."
"Hei, kau sengaja aku letakkan di ruanganku agar bisa mengawasimu," ujar Rista.
"Seperti anak kecil saja, selalu di awasi. Sudah cepat berikan meja kerja untukku. Aku sudah tak sabar untuk mendesain lagi!"
"Baiklah, aku akan menyuruh Yuno," ujar Darren.
"Terima kasih, sekarang Presdir kembali ke ruangannya. Kami karyawan anda ingin bekerja," Rista membalikkan tubuh Darren dan mendorongnya pelan. "Selamat bekerja!" ucapnya melambaikan tangan saat pria itu menoleh.
__ADS_1
Darren tersenyum, ia lalu kembali ke ruangannya.
"Oh, senangnya melihat wajah Presdir selalu tersenyum," celetuk rekan kerja Rista membuat yang lainnya tersenyum.