
Kali ini Rista yang mengendarai mobil, Sella memegang bunga pemberian Presdir untuk sahabatnya itu.
"Aku tidak menyangka kalau Tuan Darren yang dingin dan pembersih itu bisa jatuh cinta," ujar Sella.
"Ya, aku sangat senang. Cintaku terbalas," Rista tersenyum bangga.
"Tapi, bagaimana dengan keluarga Tuan Darren? Apa mereka setuju melihat hubungan kalian?"
"Dia berjanji akan memperkenalkannya padaku," jawab Rista.
"Semoga hubungan kalian baik-baik saja dan bahagia selalu," harap Sella.
"Terima kasih," Rista tersenyum.
Sementara itu, Yuno melajukan kendaraannya ke kediaman Artama. Di perjalanan mereka saling mengobrol.
"Aku sudah mengatakannya, kau kapan melakukannya?" tanya Darren.
"Aku akan segera mengatakannya, namun tidak untuk dalam waktu dekat ini," jawab Yuno.
"Kenapa?"
"Natasha sedikit keras kepala, belum lagi dia dekat dengan temannya itu. Apa mereka memiliki hubungan spesial atau tidak, aku juga tak tahu," jawab Yuno.
"Kau harus bergerak lebih cepat sebelum pria itu mengatakannya," Darren memberikan usulan.
"Ya, kau benar," Yuno setuju dengan usulan temannya itu.
...----------------...
Pagi ini Natasha datang ke Arta Fashion untuk melakukan pemotretan. Namun, pandangan matanya tertuju pada 2 orang berbeda jenis kelamin. Ya, Sella memberikan makanan kepada sekretaris Presdir.
"Tuan, aku bangun pagi sengaja memasakkan ini hanya untuk anda," Sella tersenyum.
"Kau tak usah repot-repot memasakkan makanan untukku," ujar Yuno.
"Ini sebagai tanda terima kasih saya, karena kemarin Tuan sudah mentraktir makan," jelas Sella.
"Oh, itu. Aku juga berterima kasih sudah menemaniku di restoran," ungkap Yuno tersenyum.
Natasha yang sejenak berhenti mendengar percakapan keduanya. Hatinya terasa sakit kalau pria yang ia sukai sedang mendekati wanita lain. Ia pun kemudian berlalu.
Dari jarak jauh Yuno melihat punggung Natasha. "Apa tadi dia mendengar percakapan kami?" batinnya bertanya.
"Tuan!" panggil Sella karena melihat Yuno matanya ke arah yang lain.
"Eh, ya. Terima kasih, kalau begitu saya permisi," pamit Yuno kemudian berlalu.
Sella pun kembali bekerja.
-
Natasha harus mengulang berbagai gayanya, karena hari ini ia mendapatkan teguran dari fotografer.
"Tasha, sekali lagi. Tolong fokus!" ucap manajernya saat sang artis lagi memperbaiki riasan wajahnya.
"Ya, Kak."
Menjelang makan siang, Natasha baru selesai melakukan pemotretan. Ia berjalan di samping manajernya.
Lagi-lagi ia harus melihat pemandangan yang membuat hatinya sakit. Yuno memegang tubuh Sella yang hampir terjatuh, keduanya saling tertawa membuat rasa cemburunya semakin besar.
Natasha bergegas melangkah cepat kakinya. Selama perjalanan ke lokasi berikutnya, ia lebih banyak diam dan memandangi jalanan dari kaca samping mobil.
__ADS_1
-
-
-
Malam harinya Natasha pergi ke klub malam, ia duduk sendiri menikmati minuman sambil melihat para pasangan saling berpelukan dan berciuman.
Ia menggunakan topi, kemeja panjang dan dipadukan dengan celana jeans. Sudah tiga gelas kecil dirinya menenggak minuman memabukkan itu.
Pandangannya mulai terasa berat begitu juga kepalanya. "Beri aku satu lagi!" pintanya pada bartender.
"Tidak bisa, Nona!"
"Kenapa?" Natasha bertanya.
"Anda sudah mabuk."
"Biarkan saja, berikan lagi untukku!"
Bartender pun memberikannya segelas lagi.
Natasha hendak menenggak minumannya, sebuah tangan menarik gelasnya secara paksa. "Hei, kau siapa? Kembalikan minumanku!" dengan suara seperti mengigau.
"Aku tidak akan memberikan minuman ini!" Meletakkan gelas di atas meja. "Biar ku antar pulang!" ajaknya.
"Aku tidak mau pulang, ku disini saja. Kau tak perlu peduli padaku, pergi sana!" usir Natasha.
Yuno meraih tangan Natasha dan ia letakkan di bahunya. Ia merangkul wanita itu yang mulai mabuk ke dalam mobil.
"Hei, kau mau bawa aku ke mana?"
Yuno tetap diam.
Yuno memakaikan sabuk pengaman. Lalu kemudian berjalan ke kursi pengemudi.
Natasha tiba-tiba menangis, membuat Yuno menghentikan laju kendaraannya.
"Natasha!" panggilnya pelan.
"Kenapa hidup ini tak adil?" ocehnya. "Aku sudah terlalu dengan semua ini," terus mengoceh.
"Natasha!" Yuno memanggil nama wanita itu.
"Kenapa suara pria itu ada di sini?" tanyanya dengan mata terpejam.
"Pria mana?" tanya Yuno.
"Pria dingin dan aneh," jawab Natasha ia kemudian tersenyum," Kenapa aku bisa menyukainya?"
"Ya, apa alasan kau menyukainya?" tanya Yuno.
Natasha mengangkat kepalanya dan menatap sayu wajah Yuno. "Kenapa wajahmu mirip seperti dia? Apa kalian kembar?"
"Tidak."
Natasha menjatuhkan kepalanya ke sandaran kursi dan memejamkan matanya. "Mungkin aku cuma mimpi!"
"Kenapa kau menyukaiku?" tanya Yuno.
"Hei, siapa yang menyukaimu?" Masih dengan mata terpejam.
"Jadi kau menyukai siapa?"
__ADS_1
Natasha tertawa mendengar pertanyaan Yuno. "Kau mau tahu?" ia kembali membuka matanya dan menatap lawannya itu.
"Ya."
"Kau jangan bilang siapa-siapa, ya. Cuma dirimu dan Varrel yang tahu tentang ini," ocehnya.
"Ya, aku janji tidak akan memberitahunya."
"Pria itu Yuno Anggara," ucapnya tanpa sadar. "Tapi, sekarang sangat membencinya. Dia menyukai wanita lain, aku kecewa padanya," Natasha kembali mengeluarkan air matanya.
"Kenapa kau tidak mengungkapkannya padanya?"
"Untuk apa? Agar dia semakin besar kepala."
"Bagaimana kalau sebenarnya dia juga menyukaimu?"
Natasha menarik sudut bibirnya, "Tidak mungkin!" ia lalu tertidur.
-
Yuno tak membawa pulang Natasha ke rumah orang tuanya. Ia tak ingin keluarga wanita itu berpikir macam-macam tentangnya. Akhirnya ia memutuskan menghubungi manajer sang artis.
Begitu sampai di apartemen, wanita itu telah menunggunya di parkiran. Yuno menggendong tubuh Natasha dan membawanya ke tempat tinggal Dian.
"Terima kasih, Tuan. Sudah membantu membawa Natasha kemari," ujar manajer.
"Ya, sama-sama. Lain kali jangan pernah biarkan dia pergi sendirian ke tempat itu," ucap Yuno. "Ingatkan dia kalau dirinya masih terikat kontrak dengan Arta Fashion," lanjutnya.
"Ya, Tuan."
"Kalau begitu, saya permisi pulang!" Yuno pun pamit.
...----------------...
Matahari sudah tinggi namun Natasha masih terlelap dalam tidurnya. Dian datang membangunkannya.
Wanita itu lantas mengerjapkan matanya dan melihat sekelilingnya. "Kenapa aku di sini?" tanyanya heran.
"Kau semalam mabuk, Tuan Yuno membawamu ke sini!" jelas Dian.
"Apa? Kenapa dia mengantarkan aku?"
"Semalam kami bertemu di restoran dia menanyakan dirimu. Lalu aku bilang kalau kau berada di klub seorang diri, setelah itu dia pergi. Ternyata dia menyusulmu ke sana," jawab Dian.
"Jadi pria itu dia? Astaga, aku sudah bicara apa saja dengannya," Natasha mengusap kasar wajahnya.
"Tasha, ini peringatan terakhir untukmu. Kontrakmu di Arta Fashion belum berakhir, jika Presdir tahu bisa-bisa kita harus mengganti kerugian yang telah kau buat!"
"Ya, aku takkan melakukan lagi. Di mana aku harus meletakkan wajahku ini? Pasti dia akan semakin menjauhiku," ujar Natasha.
"Kau menyukainya?" Dian penasaran.
Natasha menganggukkan kepalanya.
"Sepertinya harapanmu akan menjadi sia-sia, Tuan Yuno telah melihat kau mabuk seperti ini," ujar Dian.
"Aku mabuk juga karena dia, kenapa dia memilih wanita lain daripada diriku?"
"Kau marah karena dia mencintai wanita lain?"
"Ya, tapi sekarang aku harus bagaimana?" tanyanya lesu.
"Kau harus melupakannya, jika memang dia menyukaimu juga pasti Tuan Yuno akan mengejarmu," jawab Dian.
__ADS_1