
Begitu sampai rumah Rista menghela nafas lega. Ia meletakkan barang belanjaannya di atas meja.
"Kamu sudah pulang belanja," ucap Elisa keluar dari kamar.
Rista tersentak kaget mendengar suara ibunya.
"Kamu kenapa? Seperti orang ketakutan," ujar Elisa.
"Bu, aku bertemu dengan Darren."
"Di mana?"
"Di jalan dekat minimarket."
"Apa kalian saling bicara?"
Rista menggelengkan kepalanya. "Tadi siang dia juga datang ke restoran dengan seorang wanita cantik. Tapi Darren tidak mengetahui ku karena aku menggunakan masker," tuturnya.
"Kenapa kamu menghindarinya?"
"Aku belum siap bertemu dengannya, Bu."
"Ibu tidak akan ikut campur dengan masalah hatimu, Ibu hanya berharap kamu bisa menemukan pria yang sangat mencintaimu dengan tulus," ujar Elisa.
"Ya, Bu. Tapi, aku benar-benar belum siap menemuinya."
"Jangan dipaksakan, jika kamu belum siap."
"Ya, Bu."
Sementara itu di hotel, Darren menatap pemandangan kota dari kaca jendela kamar. "Kenapa kamu menghindariku?"
Suara ponsel berdering, Darren menjawab panggilan dari Clarissa. "Halo, Ma!"
"Sayang, kamu kapan kembali?"
"Kemungkinan dua hari lagi aku kembali, Ma."
"Kenapa lama sekali?"
"Aku menemukan Rista di kota ini, Ma."
"Benarkah? Semoga kamu bisa membawanya ke sini lagi," harap Clarissa.
"Semoga saja, Ma. Tadi Rista berlari menghindariku, mungkin karena ia masih sakit hati padaku," tebaknya.
"Setelah bertemu dengannya, minta maaflah," nasehat Clarissa.
"Iya, Ma."
"Jaga diri di sana, Mama merindukanmu!"
"Aku juga, Ma. Selamat malam," ucap Darren.
"Selamat malam, Nak." Clarissa menutup teleponnya.
...----------------...
Darren pagi-pagi sekali mengajak sopir pribadinya untuk berkeliling jalan tempat dirinya bertemu dengan Rista.
"Tuan, yakin kita hanya berjalan kaki saja?"
"Ya."
"Tuan, lokasi itu sangat jauh dari hotel."
"Tidak masalah," ujar Darren.
Keduanya berjalan santai menikmati udara pagi, Darren berharap bisa menemuinya.
Hampir sejam mereka berjalan kaki, Darren sengaja melewati gang sempit yang dilalui Rista malam itu.
Keberuntungan menghampirinya kali ini, Darren akhirnya menemukan kediaman Rista dari warga sekitar jalan yang dilalui wanita itu semalam.
Darren mengetuk pintu rumah yang berhimpitan dengan rumah penduduk lainnya.
Mendengar suara ketukan, Rista membuka pintu matanya serasa ingin melompat ketika melihat sosok yang berdiri dihadapannya.
Darren dengan mata berkaca-kaca, lantas memeluk wanita yang ada dihadapannya itu. "Aku merindukanmu!"
Rista hanya terdiam.
Sopir yang menemani Darren tersenyum bahagia melihat atasannya itu bertemu dengan wanitanya.
"Darren.." ucap Rista terbata.
"Jangan pergi lagi, aku minta maaf!" lirihnya.
"Rista, siapa yang datang?" Elisa menghampiri putrinya. Wanita paruh baya itu tersenyum melihat pemandangan di depannya.
"Apa kau ingin terus begini?" bisiknya.
__ADS_1
Darren melepaskan pelukannya, menghapus air matanya yang hampir menetes. Ia sedikit menundukkan kepalanya memberi hormat kepada Elisa.
"Silahkan masuk!" ajaknya kepada Darren.
"Iya, Bi."
"Maafkan saya telah membuat kalian begini!" ujar Darren sungguh-sungguh.
"Kami yang minta maaf atas perlakuan masa lalu ayah saya yang telah menyakiti Nyonya Clarissa," ucap Elisa merasa bersalah.
"Mama dan Papa telah memaafkan kesalahan orang tua anda, Bibi."
"Sekali lagi, terima kasih!" Elisa menundukkan kepalanya.
"Sama-sama, Bibi." Darren tersenyum.
"Kenapa kamu bisa sampai di kota ini?" tanya Rista.
"Aku lagi ada pertemuan bisnis dengan teman Papa," jawab Darren.
"Jadi, wanita yang kemarin itu siapa?" tanya Rista.
"Wanita yang mana?" Darren mengerutkan keningnya.
Rista mendengus kesal. "Sudah lupakan saja!" ucapnya ketus.
"Bibi ke belakang mau buat minuman untuk kalian, sopir Tuan di mana?" tanya Elisa.
"Panggil saya Darren, Bi."
"Ya, Nak Darren."
"Sopir di teras, Bi."
"Baiklah, Bibi akan buat minuman. Kalian mengobrol saja," Elisa pun pergi ke dapur.
"Rista, wanita mana yang kamu maksud?" Darren begitu penasaran.
"Lupakan saja, itu tak penting." Rista mengerucutkan bibirnya.
"Tunggu dulu, jangan bilang kalau kau salah satu dari tiga pelayan wanita yang ada di restoran menggunakan masker," ujar Darren.
Rista tersenyum nyengir.
"Astaga, jadi kau bekerja di sana. Kenapa aku tidak menyadarinya?" Darren merasa kecolongan.
"Maafkan aku!" Rista berkata lirih.
Rista mengangguk pelan.
Darren memperhatikan wajah Rista dengan seksama, perlahan mendekatinya.
"Rista!" panggil Elisa.
Darren mendengar nama Rista di panggil segera membuang wajah ke sembarang arah.
Rista tersenyum malu melihat Darren salah tingkah. Ia pun bergegas ke dapur. Tak lama ia membawa 2 cangkir minuman untuk Darren dan sopirnya. "Ini buat kamu dan satu lagi untuk sopirmu!"
Darren tersenyum tipis.
Rista menyajikan secangkir teh buat sopir Darren. "Terima kasih, Nona!" ucap pria itu.
Rista tersenyum, ia lalu kembali ke ruang tamu menghampiri Darren.
Pria itu hanya menatap cangkir minuman di atas meja.
"Kenapa? Kamu takut kalau ada kuman?" tanya Rista.
Darren menggelengkan kepalanya.
"Biar aku membantumu minum," Rista meraih gagang cangkir lalu mengarahkannya ke mulut Darren.
"Ini masih panas," ucapnya.
"Kamu tiup saja!" saran Rista.
"Aku tidak mau meniupnya," tolaknya.
"Baiklah kalau begitu, tunggu dingin saja!" Rista meletakkan cangkir teh di atas meja.
Darren meraih tangan Rista, "Kamu kembali ke Arta Fashion, ya!"
"Aku tidak bisa!"
"Kenapa? Apa kamu betah tinggal di sini?"
"Bukan."
"Lalu, aku malu jika harus kembali lagi," ujarnya tertunduk.
"Aku yang berhak memilih dan memecat karyawan. Jadi, kau harus kembali ke sana!"
__ADS_1
"Masalah gaji, bagaimana?"
"Kau mau minta gaji berapa?"
"Aku juga bingung mau gaji berapa," ujarnya.
"Jangan pikirkan gaji, sekarang kau harus kembali ke sana. Mama ingin mengajak makan berdua!"
"Jadi, Mama kamu ingin mengajak makan bersamaku?" Rista tampak terbata karena tak percaya seorang artis terkenal dan kaya seperti Clarissa mengajak makan dirinya berdua.
"Iya," jawab Darren. "Jangan banyak bertanya, kemasin barang-barang. Kita akan kembali ke Kota A hari ini juga," ajaknya.
"Apa!"
"Iya, aku tidak ingin kau berubah pikiran. Mama juga sudah menyuruhku pulang," ujar Darren.
"Ya, baiklah. Aku akan berkemas dan meminta izin resign di restoran." Rista pun ke kamar dan memberi tahu ibunya akan kembali ke Kota A.
Darren memerintahkan kepada sopir untuk mengambil mobil di hotel untuk menjemputnya di rumah Rista karena ia tak mau berjalan lagi ke penginapan.
Dan ia juga memerintahkan sopir untuk menyewa dua mobil yang akan membawa ibunya Rista dan beberapa barang milik mereka.
-
-
Siang harinya Darren menjemput Rista di rumah sewanya karena Rista akan mengajukan permohonan pengunduran diri di restoran tempat ia mencari rejeki selama hampir 2 bulan.
Sopir membuka pintu buat Rista dan wanita itu turun bersama Darren.
Karyawan restoran yang melihat kedatangan keduanya merasa heran.
"Kenapa dia bersama pria tampan itu?" bisik salah satu pelayan wanita yang bersama-sama dengan Rista di ruangan VVIP waktu Darren dan Sisil makan bersama di telinga temannya.
"Entahlah aku juga tidak tahu, tapi dari awal ku sudah curiga. Pria itu selalu menatap ke arah Rista," jawabnya dengan berbisik.
Rista tersenyum, ia lalu bertanya, "Apa Tuan Rion ada?"
"Ada, dia di ruangannya," jawab karyawan pria.
Rista berjalan menuju ruangan kerja pemilik restoran bersama dengan Darren.
Rion terkejut melihat Rista datang bersama pria yang memesan ruangan VVIP dengan pelayanan khusus tempo hari.
"Selamat siang, Tuan!" sapa Rista tersenyum.
"Siang juga, Rista."
"Silahkan duduk!" Rion mempersilakan kedua tamunya.
Rista lebih dahulu duduk, ia lalu menarik tangan Darren untuk duduk juga.
"Ada yang bisa saya bantu, Rista?"
"Saya ingin mengundurkan diri," jawabnya.
"Kenapa?" tanya Rion.
"Karena kami akan menikah," Darren dengan cepat menjawab.
Rista menepuk keningnya dengan senyuman pasrah.
"Menikah? Kenapa kamu tidak pernah bilang memiliki kekasih?" tanya Rion tak percaya.
"Karena saya tidak ingin orang lain tahu, ini sesuatu yang sangat pribadi dan tak perlu diumbar," Rista memberikan jawaban.
Rion tersenyum tipis, harapannya memiliki Rista gagal.
"Bagaimana? Apa calon istri saya sudah bisa pulang sekarang?" tanya Darren tak sabar.
"Sudah, Tuan," jawab Rion. "Dan ini gajimu!" Rion menghitung jam kerja Rista beberapa hari lalu ia mengambil uang di laci dan di serahkannya kepada wanita itu.
"Terima kasih, Tuan." Rista mengambil uang di dalam amplop lalu memasukkannya ke dalam tas.
"Sudah selesai, kan? Ayo kita pulang sekarang!" ajak Darren yang telah beranjak dari kursinya.
"Sekali lagi, terima kasih sudah memberikan pekerjaan buat saya," ujar Rista.
"Sama-sama," Rion tersenyum.
"Kalau begitu, saya permisi!" pamitnya. Rista dan Darren meninggalkan ruangan kerja Rion.
Darren mengenggam jemari tangan Rista dan berjalan ke mobilnya. Tak lupa Rista juga berpamitan kepada teman-temannya.
"Lihatlah mereka saling berpegangan tangan!"
"Aku pikir wanita yang bersama dengannya makan kekasihnya ternyata ku salah menilai."
"Beruntung sekali Rista mendapatkan pria tampan sepertinya."
"Gagal deh aku mendekatinya!"
__ADS_1
Begitulah ocehan para karyawan restoran ketika melihat Rista pergi.