Jangan Mengejarku, Cantik!

Jangan Mengejarku, Cantik!
Menjadi Pesaing


__ADS_3

Beberapa minggu kemudian....


Malam ini Darren dan Rista kembali di pertemukan di sebuah acara penghargaan. Mereka bertemu bukan di pelaminan seperti direncanakan 2 bulan yang lalu tetapi sebagai pesaing.


Darren dan Rista resmi menjadi musuh setelah keduanya membatalkan pernikahan.


Rista duduk bersama dengan Tania, tak jauh beberapa langkah ada Darren dan Yuno.


Darren hanya mencuri pandang melihat dari kejauhan sosok wanita yang sebenarnya sangat ia rindukan.


Pembawa acara akhirnya mengumumkan pemenang perusahaan fashion terfavorit jatuh kepada Arta Fashion.


Darren berdiri lalu melangkah ke atas pentas menerima piala yang diberikan panitia acara. Dengan menggunakan sarung tangan ia meraihnya. Tak lupa, ia juga menyampaikan beberapa kata. "Terima kasih buat para karyawan yang sudah bekerja keras untuk memajukan Arta Fashion, penghargaannya ini buat kalian!" ia tersenyum kepada seluruh tamu undangan.


Rista membuang wajahnya saat Darren sekilas menatap dirinya.


Darren pun turun dan kembali duduk.


Akhirnya acara pun berakhir, para tamu undangan mengucapkan selamat kepada perusahaan-perusahaan yang mendapatkan penghargaan.


Rista sebagai perwakilan Karisma Fashion menghampiri Darren. "Selamat!" ia tersenyum dan mengulurkan tangannya.


Darren hanya memandangi tangan mantan kekasihnya. Ia hendak pergi namun suara Rista memanggil menghentikan langkahnya.


"Aku bisa merebut apa yang sekarang kau dapatkan," ujarnya.


"Aku tunggu kesuksesan dari seorang pengkhianat seperti dirimu," Darren tersenyum sinis.


"Baiklah, aku akan buktikan," Rista menarik ujung bibirnya.


Darren lalu berjalan meninggalkan Rista.


-


Diparkiran Rista berbincang dengan seorang pria. Darren kebetulan berada di tempat yang sama menatap dari kejauhan tampak Rista sangat akrab bercerita lalu keduanya pergi menaiki mobil yang sama berdua.


"Mungkin itu kekasih Rista yang baru," celetuk Yuno yang sedari tadi memperhatikan sahabatnya menatap seorang wanita.


"Aku sudah tidak tertarik membahasnya," ujar Darren lalu masuk ke dalam mobil.


"Rista, wanita yang cantik, pintar dan bisa bergaul dengan siapa saja. Aku dengar dia sekarang menjabat sebagai wakil direktur Karisma Fashion," tutur Yuno sembari menyetir.


Darren hanya diam dan tak merespon.


"Dan pria bersamanya itu Frans, dia putra ketiga pemilik Mall Cahaya. Salah satu toko kita berada di pusat perbelanjaan itu," jelas Yuno lagi.


Penjelasan Yuno kali ini berhasil membuat Darren menoleh.


"Mereka sepertinya sangat cocok, aku tak sabar menunggu undangan dari mereka," ujar Yuno melirik sahabatnya sembari mengulum senyum.


"Apa kau yakin akan diundangnya?"


"Yakinlah, aku dan Natasha berteman dengannya. Kami pernah beberapa kali mengobrol sambil menikmati kopi," jawab Yuno.


"Kenapa kau tidak memberi tahu aku?"


"Untuk apa?" tanya Yuno.


Darren tak bisa menjawab.


-


Sesampainya di rumah, Darren bergegas ke kamarnya. Devan dan Clarissa mengerutkan keningnya melihat tingkah putranya tampak dingin. Seharusnya ia bahagia Arta Fashion menerima penghargaan.


"Dia kenapa, Yuno?" tanya Clarissa di ruang tamu.

__ADS_1


"Mungkin dia tadi bertemu dengan Rista, Bi."


"Rista juga hadir di sana, Bibi sangat rindu padanya," ujar Clarissa.


"Jadi, hanya mereka bertemu dia begitu?" tanya Devan.


"Tadi, Rista juga sempat menghampirinya dan memberikan selamat tapi Darren tak menghiraukannya," tukasnya.


"Lalu, menjadi masalahnya apa?" tanya Clarissa.


"Mungkin karena Darren melihat Rista sedang berbicara dengan seorang pria," tebaknya.


"Benarkah? Wah, syukurlah akhirnya Rista menemukan pengganti putraku," sahut Clarissa tersenyum.


Devan dan Yuno saling pandang lalu mengernyitkan keningnya.


"Kenapa wajah kalian seperti itu?" tanya Clarissa.


"Putramu sedang bersedih, kenapa malah bahagia melihat anak orang lain?" Devan balik bertanya.


"Itu semua salah Darren, siapa suruh melepaskan bidadari. Aku akan tetap mendukung Rista meskipun bukan dengan putra kita," jawab Clarissa penuh semangat.


Yuno memaksakan tersenyum mendengar jawaban aneh dari Clarissa tak lain adalah ibu kandung Darren.


...----------------...


Clarissa menikmati sarapan dengan wajah sumringah. Ya, hari ini ia akan bertemu dengan Rista. Semua berkat Yuno sebagai perantara keduanya.


"Kau jadi bertemu dengannya?" tanya Devan pada istrinya.


"Iya, sayang."


"Apa aku boleh ikut?"


"Tidak boleh, ini urusan wanita."


"Mereka juga akan ikut," Clarissa tersenyum.


"Memangnya Mama mau ke mana?" tanya Darren.


"Bertemu dengan Rista," jawab Clarissa.


Jawaban itu membuat Darren menghentikan gerakan sendok dan garpu.


"Mama sudah lama tidak bertemu dengannya. Mama harap juga semoga dia sudah menemukan pengganti dirimu," ujar Clarissa santai.


Darren menghela nafasnya dan kembali melanjutkan sarapannya.


-


Kafe Melodi


Pukul 10 pagi, Clarissa dan Rista bertemu tak lama Raisa dan putrinya datang.


"Maaf, menganggu waktu kerjamu," Clarissa memeluk tubuh mantan calon menantunya.


"Kebetulan tidak terlalu sibuk, Tante." Rista melambaikan tangannya kepada balita perempuan berusia 1 tahun yang duduk di pangkuan Clarissa.


"Bagaimana kabarmu, Rista?" tanya Raisa.


"Aku baik dan sehat. Bagaimana dengan Kakak dan Tante?" Rista balik bertanya.


"Kami baik, Rista. Kecuali adikku," jawab Raisa asal.


Rista hanya tersenyum tipis mendengar jawaban mantan calon kakak iparnya.

__ADS_1


-


-


Darren pulang dari kantor, Raiza berlari kecil ke arahnya. Ia pun meraih tubuh mungil itu dan menggendongnya.


Darren melangkah masuk, Raisa dan Clarissa sedang mengobrol sesekali tertawa sementara Devan dan Eza berada di kolam ikan memberi makan hewan peliharaannya itu.


"Hai, adikku!" Raisa melambaikan tangannya kepada Darren.


"Hai, Kak!" Darren membalas sapaan itu, ia lalu pergi ke kamarnya.


Raisa dan Clarissa tertawa melihat ekspresi wajah Darren yang sedang bimbang.


Makan malam Darren baru keluar dari kamar, ia berkumpul dengan keluarga besarnya.


"Tadi, kami bertemu dengan Rista," Raisa membuka percakapan.


"Sayang, jangan menyebut nama itu di depan adikmu. Kau senang sekali mengganggunya," Eza mengingatkan istrinya.


"Aku dan Mama memang bertemu dengannya, sayang. Rista semakin cantik dan modis. Apalagi dia sekarang menjadi wakil direktur," ujar Raisa.


Devan hanya memandangi wajah putranya yang sedikit menunduk sambil menikmati makanan.


"Mama dengar juga kalau Raisa akan dijodohkan oleh Oma Sophia," sambung Clarissa.


"Kalian mau tahu, siapa pria yang akan dijodohkan dengan Rista?" Raisa mengedarkan pandangannya ke sekitar orang-orang yang berada di meja makan.


"Siapa?" tanya Eza.


"Putra ketiga pemilik Mall Cahaya," jawab Raisa.


Darren yang sedang mengunyah tersedak mendengarnya, ia meraih gelas dan meminum isinya.


Seluruh mata keluarganya menghadap kepadanya.


"Kamu tidak apa-apa, kan?" tanya Clarissa pada putranya.


"Tidak, Ma." Darren mengambil tisu lalu mengelap bibirnya. "Aku ke kamar duluan," ia beranjak berdiri berpamitan kepada keluarganya.


Raiza yang berada di gendongan baby sitter menggerakkan tubuhnya ia mengarahkan tangannya ke arah Darren dan akhirnya pria itu mengambil alih gendongan keponakannya.


Darren bermain dengan Raiza di ruangan santai keluarga, balita mungil itu berjalan dan mengeluarkan seluruh isi mainan yang tersimpan dalam kotak penyimpanan.


Mata Darren tertuju pada Raiza, tapi pikirannya teringat dengan perkataan Yuno, Kak Raisa dan Mama Clarissa.


Bayangan Rista duduk berdampingan di pelaminan dengan pria yang ia lihat di parkiran menari-nari di otaknya.


Darren memijit pelipisnya, "Tidak mungkin mereka akan menikah."


"Apa yang harus aku lakukan? Kenapa sulit sekali melupakannya?" Darren bertanya dalam hati sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.


Suara tangisan Raiza membuyarkan lamunannya, Darren berlari mendekati keponakannya yang jatuh dari sofa.


"Kamu tidak apa-apa, kan?" Darren menggendong tubuh balita itu dan berusaha mendiamkannya.


Kedua orang tuanya, Raisa dan Eza berlari ke arah suara.


"Raiza kenapa, Darren?" tanya Raisa khawatir.


"Dia tadi jatuh," jawabnya.


"Kenapa bisa jatuh? Kamu tidak mengawasinya?" omel Devan.


"Maaf, Pa."

__ADS_1


Clarissa mengambil Raiza dari gendongan putranya. "Pasti kamu melamun, makanya tidak tahu kalau Raiza memanjat sofa!" omelnya.


"Ya, Ma." Darren mengaku salah.


__ADS_2