Jangan Mengejarku, Cantik!

Jangan Mengejarku, Cantik!
S2-bagian 16


__ADS_3

Andra seperti biasa akan datang menjemput Raiza ke sekolah. Namun, hari ini gadis itu sedang sakit. Andra mendengarnya sangat khawatir apalagi kemarin Raiza tampak sehat.


"Apa sakitnya ada hubungannya dengan perjodohan?" batinnya bertanya.


Eza yang sedang selesai sarapan mengajak Andra mengobrol, keduanya duduk di teras samping rumah.


"Andra, ada yang ingin saya tanyakan padamu," ujar Eza.


"Tanya apa, Tuan?"


"Apa kamu tahu siapa saja pria yang sedang dekat dengan putriku?"


"Hanya artis Andrean Wijaya saja, Tuan."


"Selain itu?"


"Nona pernah sangat bersedih ketika berjumpa dengan Axel," jawabnya.


"Axel?"


"Ya, Tuan."


"Axel dan Raiza teman semasa kecil, saya tidak pernah tahu apa yang membuat mereka semakin jauh padahal ke mana-mana selalu berdua," tuturnya.


Andra hanya mengangguk pelan lalu tersenyum tipis.


"Saya mau tanya, apa kamu menyukai putri kami?"


Andra yang mendengar pertanyaan itu cukup terkejut, "Saya tidak berani jatuh cinta pada putri anda."


"Kenapa?"


"Saya tak pantas buatnya, Nona Raiza hanya mencintai Andrean, Tuan!"


"Tapi, keputusan Papa tak bisa diganggu. Dia selalu menganggap Raiza seperti anak kecil yang selalu diawasi," ujar Eza.


"Tuan Besar sangat menyayangi Nona Muda, jadi ia ingin yang terbaik untuknya."


"Ya, kami juga sudah mengenal calon suami buat Raiza. Saya dan istri setuju saja jika mereka menikah," ujar Eza.


"Saya berharap Nona Raiza bisa menerima keputusan ini. Saya juga yakin pilihan anda dan Tuan Besar terbaik untuk Nona Muda."


Eza tersenyum tipis.


-


Selesai mengobrol berdua, Eza menyuruh Andra untuk menemani Raiza. Awalnya, pria itu menolaknya karena segan untuk masuk ke kamar.


Andra membawa segelas jus jeruk tak lupa ia mengetuk pintu. "Permisi, Nona!"


"Masuklah!"


Andra tersenyum lalu meletakkan jus di atas nakas.


"Kenapa kau yang mengantarnya?" tanyanya dengan suara serak.


"Tuan Eza yang memintanya."


"Kalau begitu, terima kasih," ucapnya dengan senyuman tipis.


"Apa Nona masih bersedih tentang perjodohan itu?"


Raiza hanya diam.


"Nona, tak baik bersedih seperti ini."


"Kenapa mereka mengatur hidupku? Mulai dari sekolah hingga calon suami, aku bukan anak kecil lagi. Aku mau bebas seperti para gadis lainnya, mereka mengirim kau untuk menjadi pengawalku. Kemanapun aku pergi selalu ada kau!" Raiza meluapkan isi hatinya di depan Andra.


"Mereka sangat menyayangi, Nona," pria itu berkata dengan lembut.


"Mereka tidak sayang padaku!" Raiza berkata dengan lantang.


"Nona, tolong kecilkan suaranya," pinta Andra dengan lembut.


"Kenapa? Kau tidak suka? Lebih baik pergi dari sini!"


"Bukan begitu, Nona."


"Lalu, apa?" tanyanya.


"Saya hanya ingin Nona Raiza bahagia."


"Bahagia? Mereka tidak menginginkan aku bahagia, sejak kau ada di sini!" menekankan kata-katanya.


"Apa Nona ingin saya pergi?" tanya Andra.


"Ya."


"Baiklah, mulai hari ini saya akan mengundurkan diri," ujar Andra sedikit menunduk.


"Ya, memang seharusnya kau pergi dari sini. Biar Opa tak perlu tahu aku dekat dengan siapa!"


"Baiklah, Nona. Saya minta maaf telah membuat Nona Raiza merasa dirugikan, permisi!" Andra pun berlalu.


-


Raisa dan Eza terkejut ketika mendengar Andra berkata mengundurkan diri.


"Apa kamu tidak memikirkan ulang ucapanmu?" tanya Raisa.

__ADS_1


"Tidak, Nyonya. Saya sudah pasti."


"Andra, mungkin Raiza lagi marah dan kecewa atas sikap kami dan Opa Devan. Tapi, yakinlah ini tak ada kaitannya dengan kamu," jelas Eza.


"Apa yang dikatakan Nona Muda benar, Tuan. Saya tidak bisa menyalahkannya."


"Nanti biar saya saja yang menjelaskannya kepadanya," ujar Raisa.


"Tidak usah, Nyonya. Mungkin dengan saya pergi bisa membuat Nona Raiza sedikit lebih bebas tanpa diawasi," jelasnya lagi.


Raisa dan suaminya hanya bisa menghela nafas pasrah.


"Kalau begitu, saya permisi," Andra pun pergi meninggalkan kediaman orang tua Raiza.


...----------------...


Pagi ini Raiza pergi ke sekolah tanpa didampingi oleh Andra. Hal itu membuat Niken dan Tere bertanya ke mana pria itu.


"Andra sudah aku pecat!" Raiza berkata dengan menekankan kata-katanya.


"Kenapa dipecat?" tanya Tere.


"Ya, karena menurut aku, dia hanya sebagai pengganggu saja. Tak ada gunanya jika berada di dekatku!"


"Kalau begitu, Andra kerja bersamaku saja," usul Tere.


"Itu sama saja, aku bertemu dengannya. Lagian dia juga sudah bekerja di Arta Fashion," ujar Raiza.


"Sepertinya setelah lulus, aku akan mendaftar di sana," celetuk Niken.


"Aku akan menyuruh Paman Darren menolak lamaran kerjamu!"


"Za, memangnya kenapa kami dekat dengan Andra? Apa kau cemburu?" pancing Tere.


"Iya, Za. Andra itu pria yang baik, sopan, sepertinya juga setia. Apa kau tidak tertarik dengannya?" sambung Niken.


"Kalian ini bicara apa? Aku jadi dijodohkan karena dia juga," Raiza mulai tersulut emosi.


"Memangnya dia melakukan kesalahan apa sampai sebegitunya membencinya?" Niken tampak penasaran.


"Ya, karena dia mata-matanya Opa. Apa yang ku lakukan, dekat dengan siapa, pergi ke mana, pasti kedua orang tuaku, Opa Devan dan Oma Clarissa tahu. Semua informasi tentunya dari dia," tudingnya.


"Kau jangan sampai salah menuduh, bagaimana kalau bukan Andra yang memberi tahu?" tanya Niken.


"Aku yakin dia, karena Andra adalah pengawalku!"


"Semoga saja tuduhanmu itu tidak benar," harap Tere.


"Terserah kalian," Raiza meninggalkan kedua temannya yang masih belum bergerak dari meja kantin.


Niken dan Tere saling pandang.


-


-


Lina berada di tengah dengan digandeng tangannya oleh Andra dan Bella.


Raiza menarik sudut bibirnya melihat pemandangan itu. Ia pun mengakhiri waktu santainya di kafe, ia meraih tasnya dan mengalungkannya di bahu kanannya lalu bergegas menuju parkiran.


Baru saja memegang handle pintu, bahunya di tepuk seseorang. Raiza membalikkan badannya dan menatap malas wanita yang ada dihadapannya itu. "Ada apa?" tanyanya ketus.


"Kau sengaja mengikuti kami, kan?" tuding Bella.


"Buat apa aku mengikuti kalian?" balik bertanya.


"Siapa lagi kalau bukan untuk menarik perhatian kekasihku," Bella berbicara dengan percaya diri.


"Apa aku tidak salah?" Raiza menatap sinis. "Kekasihmu itu sudah ku pecat, jadi jika kau ingin mengambilnya silahkan saja. Dia bukan seleraku!" lanjutnya dengan senyuman sinis.


Bella mengeraskan rahangnya, ia lalu menjambak rambut Raiza secara kasar.


Raiza yang mendapatkan serangan merasa terkejut lalu menjerit.


Andra yang melihatnya berlari mendekati lalu memisahkan keduanya. "Sudah cukup!" sentaknya.


Bella tak mau kalah, malah mendorong tubuh Raiza dengan kuat hingga membuat gadis itu terjatuh di tengah jalan.


Raiza bangkit dan tak mau mengalah, ia lantas membalasnya dengan menjambak rambut lawannya.


Bella dari awal sudah sangat membenci Raiza hendak mendorongnya namun malah Andra yang terdorong.


Dari arah kanan jalan, sebuah mobil melaju dengan cukup kencang membuat pria itu tersenggol lalu tercampak. Orang-orang di sekitar kejadian menjerit histeris.


Bella berteriak, "Andra!"


Raiza terdiam menatap Andra tergeletak, tubuhnya gemetar, air matanya berkaca-kaca.


Lina yang mendengar suara teriakan berlari mendekati tempat kejadian. "Andra!" teriaknya histeris.


"Dia yang sudah mendorongnya, Bu!" Bella menunjuk Raiza.


Gadis itu hanya terdiam.


Lina berdiri lalu mendorong tubuh Raiza yang masih terdiam. "Kamu ingin putraku mati!" sentaknya.


Beberapa orang memisahkan Raiza dan Lina.


Sebagian lagi membawanya ke klinik tempat Lina tadi sempat periksa.

__ADS_1


Bella tersenyum puas kala melihat Raiza dituduh sebagai pelaku utama yang membuat Andra terluka.


Raiza ingin melihat keadaan Andra namun ia malah di usir Lina.


"Bibi, bukan aku yang membuat Andra celaka!" Raiza membela diri.


"Aku tidak percaya, bukankah kamu membenci putraku? Pergilah sana!" Lina mendorong tubuh Raiza agar keluar.


Gadis itu pun terpaksa keluar dari klinik, ia bergegas ke mobilnya dan berlalu.


Sepanjang perjalanan pulang, ia terus menangis. Begitu sampai rumah Raiza memeluk Eza membuat pria itu tampak khawatir.


"Kamu kenapa, Za?"


"Andra kecelakaan, Pa." Raiza kembali menangis.


"Kecelakaan bagaimana?" tanya Eza penasaran.


Raiza pun menjelaskan yang sebenarnya apa yang terjadi kepada papanya.


"Papa, akan bicara pada ibunya Andra," ujar Eza.


Raiza mengangguk mengiyakan.


-


Raiza dan kedua orang tuanya pergi ke rumah Andra, setelah menghubungi Hilman.


Sesampainya di sana, Lina malah kembali memarahi Raiza.


"Lina!" hardik Hilman.


Wanita itu terdiam.


"Mereka tamuku, Ayah yang mengizinkannya ke sini!"


Lina masih terdiam.


"Di mana Andra, Paman?" tanya Eza.


"Dia di kamarnya, ada Bibi Dita di sana," jawab Hilman.


"Baiklah, Paman." Eza, istrinya dan putrinya ke kamar Andra.


Pria itu hendak bangun ketika melihat Raiza dan kedua orang tuanya datang.


"Berbaring saja!" pinta Eza.


Melihat anggukan Oma Dita, Andra pun kembali merebahkan dirinya.


"Maaf atas perlakuan putri kami," ujar Eza.


Raiza mengerutkan keningnya, "Kenapa harus Papa yang minta maaf?"


"Nona tidak bersalah, Tuan. Hanya saya saja yang kurang hati-hati," Andra tak ingin memperpanjang masalah.


"Tapi, ada yang mengatakan kalau putri kami yang telah mendorongmu dan membuat dirimu tertabrak dengan mobil itu," ungkap Raisa.


"Siapa yang mengatakan itu, Nyonya?" tanya Andra.


"Jelaskan Raiza?" pinta Raisa.


"Ma..." Raiza menatap mamanya, ia tak mau memperkeruh keadaan.


"Baiklah, semua sudah jelas!" ujar Eza. "Andra mengatakan kalau Raiza bukan pelakunya," lanjutnya lagi.


Lina dan Hilman juga berdiri di dekat pintu kamar.


"Lina, cepat minta maaf pada Nona Raiza!" titah Dita yang sudah mengetahui saat mereka tiba di klinik tempat Andra di rawat.


"Maafkan Bibi, Nona Raiza!" Lina tertunduk bersalah.


Raiza tersenyum tipis lalu mengangguk pelan.


"Kalau begitu, kami pamit," ucap Eza berdiri dari kursinya. "Semoga lekas sembuh dan kembalilah lagi bekerja dengan kami," mohonnya.


"Tapi, Tuan...."


"Saya dan istri yang berhak, bukan putri kami. Jadi, jangan hiraukan ucapannya kemarin," potongnya.


Andra mengangguk pelan.


Eza, istri dan anaknya pun pergi meninggalkan kediaman orang tua Andra.


Sementara itu Andra duduk di sisi ranjang, "Apa yang Ibu katakan pada Nona Raiza?"


"Bella yang mengatakan pada Ibu kalau dia mendorongmu dan membuatmu tertabrak," jelas Lina.


"Bu, berhenti menyalahkan Nona Raiza. Bella yang mendorongku, apa perlu kita melihat rekaman pengawas sekitar sana!" tantangnya.


"Maafkan Ibu, Nak. Sebenarnya orang-orang yang berada di tempat itu juga mengatakan kalau Bella yang mendorongmu!"


"Apa? Jadi kau menuduh Raiza padahal orang-orang di sana sudah menjelaskannya," Hilman tampak marah.


"Iya, Yah. Aku melakukannya agar Nona Muda tak mendekati putra kita dan menjauhinya," ungkap Lina.


"Astaga Lina, bagaimana kalau keluarga Artama menuntut kamu?" Dita ikutan kesal.


"Maafkan aku, Bu!" Lina mengaku salah.

__ADS_1


"Ayah tak mau lagi kamu bersikap seperti tadi kepada Nona Raiza," nasehat Hilman.


"Iya, Yah."


__ADS_2