
Malam harinya menjelang tidur, hujan turun dengan sangat deras ditambah suara petir yang saling bersahutan. Raiza yang berada di kamar berusaha memejamkan matanya. Namun, ia tak dapat bisa tidur dengan nyenyak.
Hujan reda setelah 15 menit turun dan suara menggelegar di langit tidak terdengar lagi. Raiza menarik selimutnya dan kembali memejamkan matanya.
Tiba-tiba listrik di rumahnya padam, Raiza membuka matanya dan menyibak selimutnya. Ia lalu turun dari ranjang dan melihat lampu rumah tetangga menyala.
Raiza mengambil ponselnya dan menghidupkan senternya. Ia berteriak memanggil pekerja yang ada di rumahnya namun tak ada satupun yang datang.
Hal itu membuatnya menjadi takut, ia pun akhirnya memanggil nama Andra. Tak sampai lama, pria itu muncul.
"Ada apa, Nona?"
"Di mana mereka?" Raiza balik bertanya.
"Mereka siapa, Nona?"
Raiza menghembuskan nafas kasar. "Pelayan rumah ini, memangnya siapa lagi?" ketusnya.
"Dari tadi saya tidak melihat mereka, Nona."
"Apa? Jadi mereka tak di rumah, lalu ke mana?"
"Saya juga tidak tahu, Nona. Selesai kita makan malam, mereka tak menampakkan diri," jelas Andra.
"Jadi, kita cuma berdua?" tanyanya.
"Ya, Nona."
Raiza berdecak kesal.
"Nona, kenapa rumah tetangga listriknya tidak padam?"
"Aku juga sebenarnya ingin bertanya, biasanya tak pernah begini," ujar Raiza.
"Saya akan memeriksanya, apa ada yang rusak atau sengaja dimatikan," Andra membalikkan badannya.
"Aku ikut!" Raiza menyusul pria itu dari belakang.
Andra mulai mencari panel box listrik dan melihatnya, benar dugaannya kalau memang ada yang sengaja memadamkan listrik.
Raiza yang berdiri di belakang, akhirnya bisa bernafas lega.
"Nona, sekarang bisa kembali tidur," Andra membalikkan tubuhnya menghadap Raiza, dengan cepat ia memalingkan wajahnya.
Raiza baru tersadar kalau dirinya menggunakan pakaian tidur sangat tipis. Dengan langkah cepat, ia pun melesat ke kamarnya.
"Astaga, kenapa aku keluar kamar dengan pakaian ini? Sungguh memalukan!"
Raiza menaiki ranjang dan menarik selimutnya, ia mencoba memejamkan matanya lagi-lagi dirinya tak dapat tidur dengan nyaman.
Raiza kembali keluar kamar, namun kali ini ia mengganti pakaiannya dengan menggunakan kaos oblong pendek dan celana ponggol dibawah lutut.
Ia mencari Andra yang kebetulan masih menonton televisi. Pria itu lantas berdiri ketika melihat Raiza. "Ada yang bisa saya bantu, Nona?"
"Apa mereka sudah kembali?"
"Mereka tidak ke mana-mana, Nona. Sekarang mereka ada di kamarnya," jawab Andra.
"Jadi, mereka tadi ke mana?"
"Mereka tertidur, jadi tak tahu kalau listrik padam dan Nona memanggil," jelas Andra lagi.
"Oh, ya sudah. Kalau mereka masih di sini, aku pikir mereka juga akan ikutan mengambil libur mendadak," celetuk Raiza.
"Nona, mau ke mana?" Andra melihat pakaian yang digunakan Raiza sudah berganti.
"Aku tidak bisa tidur," jawabnya.
"Apa Nona ingin menonton televisi?"
"Ya," Raiza lantas duduk menghadap televisi.
Andra mengambil ponselnya dan hendak berjalan ke kamarnya.
"Mau ke mana?" tanya Raiza membuat pria itu menghentikan langkah kakinya.
"Saya mau tidur, Nona."
"Temani aku di sini!" titahnya.
"Baik, Nona." Andra kembali duduk bersebelahan dengan Raiza.
"Aku lapar, bisakah kau memasakkan makanan buatku?" pintanya.
"Nona, mau saya buatkan apa?" tawar Andra.
"Mie goreng."
"Baiklah, Nona. Saya akan buatkan untuk anda," Andra pergi ke dapur.
Tak sampai 15 menit, Andra muncul membawa sepiring mie goreng.
Raiza meraih piring tersebut. "Kau tidak makan?"
"Masih kenyang, Nona." Andra kembali duduk.
Raiza mulai mengaduk-aduk mie perlahan lalu ia mengarahkan garpu berisi mie ke mulut Andra. "Buka!" perintahnya.
"Nona, ini buat anda bukan untuk saya," tolak Andra.
"Iya, aku tahu. Tapi, ku tak bisa makan kalau dirimu tidak makan juga. Jadi, cepat buka mulutnya!" perintahnya.
__ADS_1
Andra membuka mulutnya, lalu menerima suapan dari Raiza.
Setelah menyuapkannya ke mulut Andra, gadis itu mulai menyantapnya. Mereka saling bergantian sampai mie tak bersisa lagi di piring.
"Masakan yang kau buat ternyata enak juga," pujinya. Ia meraih gelas berisi air putih dan meminumnya.
"Terima kasih, Nona."
Andra meletakkan piring kotor ke dapur lalu mencucinya. Selesai membersihkan peralatan dapur yang kotor bekas memasak mie, ia kembali ke ruang televisi.
Raiza sudah tertidur di sofa, Andra mengambil selimut dari kamar tamu dan menyelimutkannya ke tubuh.
Andra pun tertidur di sofa dengan posisi duduk.
Pukul 2 pagi, Raiza terbangun ia melihat selimut yang digunakannya. Ia lantas bergegas duduk, tampak Andra tertidur juga.
Raiza mendekati pria itu, sejenak memandang wajah tampan yang sedang tertidur pulas. Raiza menarik sudut bibirnya, perlahan tangannya bergerak menyentuh pipi Andra. "Hei, bangun!" dengan suara pelan.
Andra mengerjapkan matanya, ia lantas berdiri karena posisi dirinya dan Raiza terlalu dekat. "Maaf, Nona. Saya ketiduran!"
"Kenapa kau tidak membangunkan aku?"
"Saya tidak berani, Nona." Masih dengan pandangan tertunduk.
Raiza lalu berdiri, "Kembalilah tidur, aku akan ke kamar!" ia pun berjalan ke sana.
Setelah Raiza masuk ke kamarnya, Andra pun kembali tidur di kamar tamu.
...----------------...
Bangun pagi, sarapan telah tersedia di atas meja. Raiza melakukan panggilan video telepon dengan kedua orang tuanya.
"Selamat pagi, sayang!" sapa Raisa dari kejauhan.
"Pagi, Ma, Pa!" sahutnya.
"Bagaimana semalam? Tidak ada sesuatu yang terjadi, kan?" tanya Raisa.
"Tidak, Ma," jawabnya.
"Apa kamu betah tinggal bersama Andra semalam?" tanya Eza.
"Papa, kenapa bertanya seperti itu?" mulai kesal.
"Papa hanya ingin tahu saja, sayang. Kemungkinan kami akan pulang lusa. Jadi, nanti malam kamu masih akan di temani Andra," ujar Eza.
"Kenapa lama sekali, sih?" protesnya.
"Kami masih betah di sini," jawab Eza.
"Kalian sungguh tega, membiarkan anak gadisnya seorang diri di sini," mengerucutkan bibirnya.
"Sayang, di sana ada Andra. Kamu tidak sendirian dan ada pelayan juga," ujar Raisa.
"Mama lupa memberitahumu, Nak."
"Beruntung semalam ketika listrik padam ada Andra."
"Berarti kami sudah tepat menyuruh Andra menjagamu," ujar Eza.
"Ya, Papa benar," ucapnya dengan malas.
"Sayang, kami tutup dulu teleponnya, ya. Mama dan Papa mau sarapan, sampai jumpa!" Raisa melambaikan tangannya begitu juga dengan Eza.
"Ya, Ma. Cepat pulang, aku merindukan kalian!" membalas lambaian tangan kedua orang tuanya.
"Mama dan Papa juga merindukanmu," Raisa pun menutup teleponnya.
Raiza menghela nafasnya, ia lalu menghubungi ponsel pria itu dan mengajak sarapan bersama.
Tak lama kemudian, Andra datang dan kini duduk dihadapannya.
"Mama dan Papa lusa baru pulang, jadi nanti malam kau masih menemaniku!"
"Saya tahu, Nona. Tadi Tuan Eza juga sudah menghubungi," ujarnya.
Raiza memiringkan bibirnya, "Aku selalu kalah cepat mendapatkan info!"
Andra hanya mengulum senyum.
Selesai sarapan seperti biasa pria itu akan mengantar Raiza ke sekolah.
-
-
"Kita makan siang diluar saja, ya!" ajak Raisa ketika Andra menjemputnya.
"Terserah, Nona."
"Kenapa terserah aku?" omelnya.
"Saya hanya mengikuti perintah Nona saja."
"Jika ku suruh melompat, kau juga akan melakukannya?"
"Ya, Nona."
"Astaga, kau sungguh aneh!" Raiza geleng-geleng kepala.
Mobil melesat ke restoran langganan keluarga Raiza.
__ADS_1
Sesampainya di sana, keduanya memesan makanan. Tak ada obrolan sama sekali, sangat hening hingga akhir makan siang.
"Setelah ini kita mau ke mana, Nona?"
"Aku juga bingung di rumah sangat sepi, bagaimana kalau kita berenang?" ajak Raiza.
"Saya tidak mau, Nona."
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa, Nona."
"Jika kau tidak ingin berenang, biar aku saja," ujarnya.
"Kolam renang selain rumah Nyonya Raisa dan Tuan Besar tak bagus untuk Nona," ungkap Andra.
"Memangnya kenapa?"
"Karena selain itu, banyak pria yang akan melihat bentuk tubuh Nona yang basah," jelas Andra.
Raiza yang mendengarnya tertawa pelan, "Kau seperti kekasih yang sedang cemburu!"
Andra baru sadar dengan ucapannya.
"Kan, aku berenang bersama denganmu."
"Tapi, saya tidak mau!" tolaknya dengan lembut.
"Baiklah, kalau begitu kita berenang di tempat Opa saja." Raiza memberikan usulan.
"Kalau ke sana saya setuju, Nona."
"Ya sudah, ayo kita ke sana!"
Perjalanan dari restoran ke kediaman Devan membutuhkan waktu setengah jam. Sesampainya di sana sebelum keluar mobil, Raiza berkata, "Kau juga harus ikut berenang menemaniku!"
"Tapi, Nona...."
"Jika terjadi apa-apa denganku, siapa yang akan menolongku?"
"Baiklah, Nona."
-
Raiza kini sudah bersiap akan berenang, ia melihat Andra masih dengan pakaian yang sama. "Kau mau berenang dengan pakaian ini?"
"Saya hanya melihat saja, Nona."
"Tidak bisa, kau harus berenang juga. Cepat ganti pakaianmu!" Raiza mendorong tubuh Andra ke ruangan ganti khusus berenang.
Raiza lebih dahulu berjalan ke kolam dan menceburkan dirinya.
Andra muncul dengan lekuk tubuh yang atletis, Raiza yang melihatnya tampak terpesona. Ia pun berteriak memanggil pria itu untuk mandi bersama di dalam kolam.
Andra tetap tidak mau.
"Sampai kapan kau berdiri di situ?" teriaknya.
"Saya tidak bisa, Nona."
Raiza naik lalu berjalan mendekati Andra, ia menarik tangan pria itu dan sekuat tenaga mendorongnya ke kolam. Ia lalu tertawa melihat pengawalnya itu tercebur, Raiza pun ikutan masuk.
"Coba ada Tere dan Niken pasti lebih seru, aku tak perlu mengajakmu berenang," ujarnya.
Andra hanya diam.
"Kenapa kau melarangku berenang selain di rumah, padahal di danau kemarin kau tidak melarangnya?" tanya Raiza.
"Karena Nona di Danau Pelangi menggunakan celana panjang dan kaos pendek bukan pakaian seperti ini," jawabnya.
"Jadi, kau tak suka aku berpakaian seperti ini dipandang pria lain?"
Andra mengangguk.
"Apa kau menyukaiku?" Raiza menatap lekat mata pria yang ada dihadapannya itu.
Andra menggeleng.
"Bukankah aku cantik? Kamu tidak tertarik?" godanya.
"Nona memang cantik, tapi saya tidak pantas buat anda," jawab Andra.
"Benarkah?" Raiza mendekati membuat pria itu mundur.
"Nona.."
"Masa sih' kau tidak tertarik denganku? Padahal banyak pria yang ingin mendekatiku, bukankah kau yang sengaja menjauhi mereka dariku?" sindirnya. Raiza semakin mendekati Andra hingga pria itu membentur dinding kolam.
"Bukan saya yang menjauhi mereka dari anda?"
"Lalu kau ingin menuduh Opa melakukannya," Raiza mengalungkan tangannya di leher pria itu.
Jantung Andra berdetak sangat kencang, apalagi melihat Raiza dengan pakaian sedikit menampakkan lekuk tubuhnya. Ia menelan salivanya dan memalingkan wajahnya.
Raiza menyentuh wajah Andra dengan jemarinya.
Dengan cepat Andra mendorong tubuh Raiza.
Gadis itu terkejut.
"Maaf, Nona."
__ADS_1
Raiza menyentak air secara kasar, ia lalu pergi menjauh dari pria itu.
Andra mengerutkan keningnya melihat sikap Raiza yang sedikit aneh.