
Perjalanan menuju rumah, Yuno memberanikan bertanya kepada teman masa kecilnya itu. "Apa kau sudah mengungkapkan perasaan kepada Rista?"
Darren menyipitkan matanya.
"Tadi, wanita itu mengatakan kalau kau cemburu melihatnya dekat dengan temannya Natasha."
"Dasar payah, hal begitu saja dia beri tahu padamu," gerutunya.
"Apa kau memang cemburu padanya?"
"Tidak!"
"Tidak mungkin Rista berbohong padaku," ujar Yuno.
"Jadi menurutmu, aku yang berbohong," Darren menatap sekretarisnya itu.
"Bisa saja!"
"Lebih baik fokus menyetir," ujar Darren. "Apa kau tidak cemburu melihat Natasha bersama pria lain?" lanjutnya bertanya.
"Tidak," jawab Yuno berbohong.
"Benarkah?"
"Kenapa kau jadi membahasnya?" Yuno balik bertanya.
"Aku hanya ingin tahu saja," jawab Darren.
"Jika kau berkata jujur, aku juga akan berkata yang sebenarnya," ucap Yuno.
Darren tersenyum mendengar ucapan sahabatnya itu.
"Apa kau mulai menyukainya?"
"Ya."
"Sejak kapan?" tanya Yuno.
"Aku tidak tahu, cuma berada di dekatnya ku merasa nyaman," jawab Darren. "Apa kau merasakan hal yang sama?" lanjut tanya.
"Entahlah, kenapa sangat sulit sekali untuk dekat dan bicara padanya."
"Apa karena dia begitu ketus dan angkuh?"
"Mungkin."
"Aku ingin mengatakan perasaan ini padanya, apa kau punya ide?" tanya Darren.
"Aku tidak punya ide untuk hal seperti itu, kau tahu sendiri ku belum pernah memiliki kekasih," jawab Yuno.
"Jadi, kita tanya pada siapa?"
"Bagaimana kalau kita tanya saja pada Rayendra?" Yuno memberikan usulan.
"Tidak!" Tolak Darren tegas.
"Kenapa?"
"Bisa-bisa dia akan mengejekku."
"Kalau begitu pada Kak Eza saja," memberikan usulan kedua.
"Aku tidak yakin padanya."
"Kenapa?"
"Kisah cinta dia dulu saja, sangat ribet!" ungkapnya.
"Tapi, kau lihat sendiri. Bagaimana cintanya Kak Eza pada Kak Raisa," tutur Yuno.
"Baiklah nanti aku akan bertanya padanya," ucapnya. "Apa kau ingin ikut juga?" tanyanya.
"Tidak, kau saja. Nanti aku belajar darimu," jawab Yuno tersenyum.
Dibalas Darren dengan memiringkan bibirnya.
-
-
Sore ini Darren sengaja pergi mengunjungi kediaman kakaknya. Begitu sampai pandangannya mencari keberadaan suami dari Raisa.
"Selamat sore keponakan Paman!" Darren memuji bayi mungil yang berada di dekapan kakaknya.
"Ada gerangan apa kamu ke sini? Tidak biasanya," Raisa menatap curiga adiknya itu.
"Kakak, aku datang karena merindukanmu dan keponakan yang lucu ini," jawab Darren menoel pipi bayi perempuan itu.
__ADS_1
"Ya, kakak percaya."
"Kak Eza di mana?" Darren sambil mengedarkan pandangannya ke sudut ruangan tamu.
"Sebentar lagi dia ke sini. Ada apa mencarinya?"
"Urusan pria, Kak."
"Apa Kakak boleh tahu?"
"Tidak bisa, Kak."
Eza pun muncul menghampiri keduanya. "Ada adik ipar, apa kabar?" sapanya.
"Baik, Kak."
"Sayang, adikku ini ingin bicara kepadamu," Raisa menatap Darren.
"Bicara apa? Katakan saja di sini," ujar Eza.
"Kita bicara saja di luar," ajak Darren.
"Kamu sekarang main rahasia sama kakaknya," celetuk Raisa.
"Nanti aku kasih tahu isi pembicaraan kami," Eza berbisik di telinga istrinya.
Raisa pun tersenyum senang.
"Baiklah, kita bicara di luar saja," Eza mengiyakan ajakan adik iparnya itu.
Keduanya berbicara di taman kecil yang berada di depan rumah dekat pintu pagar.
"Kau ingin bicara apa?" tanya Eza.
"Bagaimana Kak Eza mengungkapkan perasaan kepada Kak Raisa?"
Eza terdiam sejenak dan berpikir lalu tertawa kecil. "Apa kau sedang jatuh cinta?"
Darren mengangguk mengiyakan.
"Siapa wanita itu?" tanya Eza.
"Karyawan Arta Fashion, Kak."
"Huh, syukurlah!"
"Kalau dia seorang artis atau model, kau harus bisa menaklukkan hati Papa," jawab Eza.
"Tapi, kan dia bukan seorang selebritis."
"Ya, dia memang bukan artis setidaknya restu Papa sudah kau kantongi. Jadi perjalanan cintamu tidak terlalu berat," ujar Eza.
"Jadi, cara mengatakannya padanya bagaimana?" Darren tak sabar.
"Kakak ingat dengan ucapan seorang remaja beberapa tahun yang lalu, ia mengatakan tidak akan jatuh cinta," Eza mengingatkan.
"Kak, jangan bahas itu. Cepat katakan bagaimana mengungkapkan perasaan kita padanya?"
"Kau tinggal bicara berdua dengannya."
"Tapi, bagaimana mengajaknya?"
"Ya, kau tinggal ajak dia makan atau ke suatu tempat. Nah, di situlah nanti kau akan bicara padanya," jelas Eza.
"Kalau dia menolaknya, bagaimana?"
"Tinggal cari wanita lain, jika kau memang mencintainya harus berusaha lebih keras untuk menaklukkan hatinya.
"Begitu, ya. Terima kasih, Kakak ipar," Darren tersenyum.
Ia lalu berpamitan kepada kakak kandungnya kemudian pulang.
"Dia bicara apa?" tanya Raisa penasaran setelah melihat mobil adiknya pergi meninggalkan rumah.
"Dia sedang jatuh cinta pada seorang wanita," jawab Eza.
"Benarkah? Akhirnya dia juga merasakan jatuh hati, aku jadi lega," ujar Raisa.
"Kenapa lega?"
"Aku takut dia jadi pria-pria yang membenci wanita."
"Tapi, dia beruntung tidak menyukai wanita dari kalangan selebritis. Bisa jadi, Papa Devan akan menentangnya."
"Memangnya wanita yang beruntung itu siapa?"
"Katanya dia seorang karyawan Arta Fashion."
__ADS_1
"Apa kau tahu siapa namanya?" Raisa semakin penasaran.
Eza menggelengkan kepalanya.
"Harusnya kau tanya siapa namanya," keluhnya.
"Aku lupa, sayang. Bagaimana kalau aku telepon dia?" Eza bersiap dengan memegang ponselnya.
"Tidak perlu, kita juga akan tahu."
-
-
Setelah dari rumah Raisa, Darren bertemu dengan Yuno di sebuah kafe.
"Bagaimana?" sekretaris Presdir itu tak sabar.
"Kata Kak Eza kita harus mengajaknya ke suatu tempat dan mengungkapkannya."
"Suatu tempat itu di mana?"
"Bisa restoran atau tempat yang romantis."
"Di mana tempat itu?" tanya Yuno lagi.
"Restoran atau taman cinta," jawab Darren.
"Apa kau sudah siap mengatakannya?" tanya Yuno.
"Aku belum berani."
"Kau harus segera mengatakannya sebelum di ambil orang lain."
"Kalau kau kapan melakukannya?" Darren balik bertanya.
"Setelah kau sudah mengatakannya, aku akan melakukannya," janji Yuno.
"Baiklah, aku akan memulainya."
"Aku akan membantumu mempersiapkannya," ucap Yuno penuh semangat.
...----------------...
Keesokan harinya, Rista mendatangi ruang Darren. Dengan tersenyum ia menyapa pria tampan itu.
"Apa kau nanti malam ada waktu?"
"Ada. Tuan, mau ke mana?" Rista balik bertanya.
"Temani aku ke restoran, ku ingin mengungkapkan perasaan kepada seorang wanita," jawab Darren.
Mendengar kata wanita seketika wajah Rista lesu.
"Apa kau ingin menemaniku ke sana?" tanya Darren.
"Bisa, Tuan." Jawabnya tidak semangat.
"Pakailah pakaian yang cantik, kalau perlu gaun rancanganmu," ujar Darren.
"Baik, Tuan. Kalau boleh saya tahu, apa dia calon istri anda?"
"Ya."
"Pasti dia wanita yang sangat cantik," ujar Rista memaksakan tersenyum.
"Ya, aku sangat mencintainya. Jadi, tolong bantu aku untuk mengatakannya," pintanya.
"Saya akan membantu anda, Tuan."
"Terima kasih, ya."
Rista menampilkan senyum tipis.
"Kalau begitu, kau boleh kembali kerja. Ingat, nanti malam dirimu harus tampil cantik. Karena ku tak ingin kecewa," ujar Darren.
"Kenapa saya harus tampil cantik, Tuan?"
"Karena wanita itu sangat cantik, jadi penampilanmu harus tetap sama. Biar kalian imbang," jawab Darren berbohong.
"Begitu, ya?" Rista mengangguk paham.
"Sekarang, kau boleh kembali ke ruanganmu," perintah Darren.
"Baik, Tuan." Rista pun berlalu.
Darren melihatnya hanya mengulum senyum.
__ADS_1