
Beberapa karyawan sedang sibuk mempersiapkan perlengkapan dan peralatan untuk syuting iklan di luar gedung. Rista sebagai desainer juga ikut namun tidak dengan Darren.
Natasha menghampiri kekasihnya yang sedang memastikan perlengkapan dan kebutuhan buat iklan tak ada yang ketinggalan. "Sayang!" sapanya tersenyum.
Yuno membalas dengan senyuman juga.
"Sepertinya sangat sibuk?"
"Ya, tunggulah di mobil," jawab Yuno.
"Baiklah," Natasha berjalan ke arah mobil.
Tak cukup lama menunggu, Yuno sudah berada di dalam mobil di bagian kemudi. "Tak ada yang ketinggalan, kan?"
"Tidak, sayang."
Mobil pun meninggalkan gedung Arta Fashion.
"Apa kamu sudah berbicara pada ibumu?" tanya Natasha.
"Sudah."
"Lalu, bagaimana? Apa mereka setuju dengan hubungan kita?" Natasha begitu antusias.
"Ya, mereka setuju," jawab Yuno berbohong.
Natasha tersenyum, "Aku senang mendengarnya!"
Yuno menatap wajah kekasihnya yang sangat begitu bahagia. "Andai kamu tahu sebenarnya, apa dirimu masih mau melanjutkan hubungan ini atau tidak!"
Tak sampai 1 jam, mobil yang dikendarai Yuno tiba di lokasi syuting. Keduanya turun menghampiri lainnya yang lebih dahulu tiba.
Rista sibuk mempersiapkan pakaian yang akan dikenakan sang model.
Persiapan dilakukan selama 2 jam dan syuting pun mulai dilaksanakan.
Yuno duduk di sebelah sutradara, ia mengamati kekasihnya yang sedang berakting. Namun, seketika senyumnya memudar kala mengingat ucapan Natasha beberapa hari yang lalu. Ya, kisah cintanya baru saja di mulai tapi ujian datang lebih awal.
Tak sampai 3 jam, syuting berlangsung dengan lancar dan tanpa hambatan. Natasha bergegas menghampiri kekasihnya. "Sayang, aku lapar!" dengan mimik wajah manja ia meminta pada Yuno.
"Kita makan bersama tim saja, ya. Katering juga sudah datang."
"Baiklah, tak masalah," ujarnya.
Natasha dan Yuno menikmati makan bersama para karyawan dan tim artis sambil bercanda.
Sementara itu, Rista mendapatkan perlakuan istimewa dari para karyawan karena mereka tahu kalau wanita itu adalah kekasih Presdir Arta Fashion.
"Nona, maukah ku ambilkan minuman?" tanya salah satu karyawan wanita yang satu ruang kerja dengan Rista.
"Jangan memanggilku, Nona. Aku tidak suka!"
"Hei, kau sekarang sudah jadi kekasih Presdir. Kami tak mau Tuan Darren memarahi kami karena tak memperlakukan dirimu dengan baik," ujarnya.
"Tapi, kalian jadi jaga jarak denganku," ungkap Rista.
"Pekerjaan kami adalah taruhannya," ucapnya.
"Kalian tenang saja, Presdir takkan seperti itu. Jadi, tetap aman jika berteman denganku," ujar Rista.
__ADS_1
"Baiklah, kalau begitu."
-
Pukul 3 sore, rombongan pulang. Natasha satu mobil dengan kekasihnya. Wanita itu sangat lelah hingga ia tertidur.
Yuno mengantarkan Natasha langsung ke rumah orang tuanya. Dia mencoba memberanikan diri menyapa dan bersilaturahmi dengan mereka.
Natasha terbangun ketika kekasihnya itu membangunkannya.
"Ayo turun, aku ingin bertemu dengan orang tuamu," ujar Yuno.
"Kamu yakin?" Natasha tampak ragu
"Ya," Yuno membuka pintu mobil lalu turun begitu juga dengan wanita itu.
Keduanya berjalan memasuki rumah, Daniel yang baru saja pulang dari kantor tersenyum ke arah mereka Pria paruh baya berperawakan tinggi berwajah Eropa mendekati Yuno dan Natasha.
"Kamu yang bernama Yuno?" tanya Daniel tanpa basa-basi.
"Ya, Paman." Yuno sedikit menundukkan kepalanya.
"Ayo masuk, kita mengobrol sebentar sambil minum teh!" ajaknya.
Yuno menoleh ke arah kekasihnya, Natasha menganggukan kepalanya seakan menjawab agar pria itu menerima ajakan papanya.
Yuno mengikuti langkah Daniel, keduanya duduk di teras rumah dengan halaman yang sangat luas. Pelayan menyajikan 2 cangkir teh untuk kedua pria itu.
Sedangkan Natasha membersihkan diri sebelum kembali bergabung dengan papa dan Yuno.
"Apa benar kamu putra dari Yuna dan Vino?" tanya Daniel.
"Ya, Paman."
"Paman menyetujui hubungan kami?" Yuno begitu semangat.
Daniel mengangguk pelan.
"Terima kasih, Paman," jawab Yuno senang. "Tapi, bagaimana dengan Bibi Nikita dan Oma Martha?" lanjutnya bertanya.
"Paman akan berusaha menyakinkan dirinya, jika kamu pantas bersama Natasha," jawab Daniel.
Yuno tersenyum senang mendengarnya.
Kini Natasha bergabung dengan kedua pria sambil menikmati teh bersama.
Ditengah senda gurau, Nikita dan Martha baru pulang belanja.
"Mama!" ucap Natasha lirih.
Kedua orang pria itu pun menoleh.
"Wah, ada tamu," Nikita tersenyum. "Sudah berani main ke sini, bagus kalau begitu Bibi akan bicara saja kepadamu," lanjutnya.
"Ma," Daniel memanggil istrinya.
"Jangan pernah dekati putriku!" Nikita menekankan kata-katanya.
"Ma, tolong jangan berkata begitu!" mohon Natasha.
__ADS_1
"Tasha, dia itu tak pantas untukmu. Keluarga besar Artama begitu juga dengan teman-teman mereka adalah musuh kita," jelas Oma Martha.
"Dia adalah tamuku, jangan mengganggunya," ujar Daniel.
"Sayang, tapi dia sudah berani jatuh cinta pada putri kita," jelas Nikita.
"Aku setuju dengan hubungan putri kita dengannya," ucap Daniel tegas.
"Bibi, apa tidak boleh kami saling menyukai?" tanya Yuno kepada Nikita.
"Tidak!" jawabnya lantang.
"Ma, kalian yang punya masalah kenapa libatkan kami?" tanya Natasha matanya tampak berkaca-kaca.
"Mama tidak ingin berhubungan dengan mereka lagi, jadi kamu harus menjauhinya," jawab Nikita.
"Ma, tolong jangan minta aku buat jauhi Yuno," pintanya.
"Jauhi dia atau Mama yang akan membuat dirinya menjauh!" ancam Nikita kemudian berlalu.
"Oma juga tak setuju dengan hubungan kalian," wanita tua itu pun menyusul putrinya.
"Pa, bagaimana ini?" Natasha tampak kebingungan.
"Yuno, lebih baik kamu pulang dulu. Maafkan istri dan mertua saya," ucap Daniel.
"Iya, Paman. Saya paham," Yuno mencoba mengerti.
Daniel pun masuk menyusul istrinya.
Natasha menatap pria dengan mata mulai basah, ia lalu memeluknya. "Jangan tinggalkan aku!" mohonnya.
Yuno mendorong lembut tubuh kekasihnya, "Aku janji tidak akan meninggalkanmu. Sekarang masuklah!"
"Maafkan Mama!" Natasha menghapus sudut matanya.
Yuno menganggukan kemudian ia pergi meninggalkan kediaman orang tua Natasha.
Sementara itu Daniel mencoba menasehati istrinya di kamar. "Sayang, putri kita mencintai pria itu. Biarkan mereka bahagia!"
"Tidak, Pa. Natasha boleh menikah dengan pria lain kecuali tidak ada hubungannya dengan keluarga besar Clarissa!" Nikita berkata tegas.
"Natasha hanya cinta pada Yuno, bukan dengan yang lain. Apa kamu tidak pernah memikirkan perasaan putrimu?"
"Aku punya cara sendiri untuk membahagiakannya," jawab Nikita.
"Natasha bukan anak kecil lagi yang bisa kamu atur. Dia sudah menuruti kemauan kalian untuk menjadi seorang bintang. Sekarang kalian ingin merusak kebahagiaannya," Daniel berkata dengan nada tinggi.
"Buktinya dia sekarang bahagia menjadi seseorang yang terkenal," ujar Nikita.
"Apa kamu sudah bertanya padanya? Apa dia bahagia menjadi artis?"
"Kenapa Papa jadi menyalahkan Mama?" protes Nikita.
"Karena keegoisan dirimu membuat putri kita tak bisa memiliki kebebasan untuk jatuh cinta pada siapa."
"Mama tetap tidak setuju, jika Natasha bersama pria itu!" Nikita tetap bersikeras.
"Kamu sangat egois!" Daniel pun keluar dari kamar.
__ADS_1
Nikita menjatuhkan tubuhnya di ranjang, ia memijit pelipisnya. "Kenapa harus berhubungan lagi dengan mereka?" gumamnya. Ia lantas meraih ponselnya menghubungi seseorang setelah terhubung, "Ada pekerjaan untukmu!" lalu menutup teleponnya.