
Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, Raiza melanjutkan perjalanannya ke rumah Opa Devan.
Seluruh keluarga sudah datang, termasuk sahabat Oma Clarissa. Tak ada perayaan besar hanya sekedar makan-makan saja.
Raiza dengan penuh percaya diri membawa pot bunga membuat seluruh mata mengarahkan pandangannya kepadanya.
"Raiza, kamu yang benar saja, Nak. Kenapa bawa bunga begini?" tanya Raisa mendekati putrinya.
"Ma, aku bingung memilih bunga untuk Oma," jawabnya.
"Kamu bisa bertanya pada pegawainya atau menelepon Mama terlebih dahulu," ujar Raisa.
"Aku tidak berpikiran ke sana, Ma. Opa saja suka yang unik, jadi biarkan ku memberikan ini," tutur Raiza.
Clarissa mendekati putri dan cucunya. "Kenapa baru datang, Za?"
"Aku tadi lupa jika Oma hari ini berulang tahun," jawab Raiza. "Oh ya, aku membawa sesuatu untuk Oma," ia menyodorkan pot kecil yang ditanam bunga kaktus.
Clarissa mengernyitkan keningnya, "Kenapa sikapmu sama seperti Opa?" ia teringat ketika dahulu suaminya itu pernah membelikan tanaman bunga, di mana para wanita mengharapkan sebuket bunga mawar atau Lily. Ia malah mendapatkan sesuatu yang unik, akhirnya dirawat dan tumbuh subur.
"Namanya dia juga cucuku!" sahut Devan mendekati istrinya.
"Opa!" Raiza memeluk pria lanjut usia itu.
Devan mengecup pucuk kepala cucunya.
"Oma yang berulang tahun, kenapa hanya Opa saja yang dipeluk?" protes Clarissa.
Raiza melepaskan pelukannya lalu meraih tubuh Clarissa dan mendekapnya erat. "Sehat selalu, Oma. Aku menyayangi, Oma!"
"Terima kasih, cucuku!" Clarissa mengelus rambut cucunya.
Raiza melepaskan pelukannya.
"Di mana Andra?" tanya Devan.
"Tidak tahu, Opa."
"Kenapa tidak tahu? Bukankah tadi dia bersama kamu?" cecar Devan.
"Ya, setelah mengantar aku ke sini. Ku tak tahu dia ke mana lagi," jawabnya.
"Cepat panggil dia dan ajak makan!" titah Devan.
"Baiklah, Opa." Raiza pun pergi mencari pengawal sekaligus sopirnya.
Tampak pria itu sedang duduk di bawah pohon seorang diri. Sedangkan para sopir yang lain berkumpul tak jauh dari Andra.
"Ternyata kau di sini!" omel Raiza.
Andra bergegas berdiri memasuki ponselnya ke dalam saku celana. "Ada apa, Nona?" sedikit menundukkan kepalanya.
"Kau tadi ditanya Opa, dia menyuruhmu untuk makan," tukasnya.
"Sebentar lagi saya akan makan, Nona!"
"Aku tidak mau, Opa menyuruhku memanggil dirimu lagi," ujarnya.
"Baiklah, Nona." Andra berjalan lebih dahulu melewati Raiza yang masih berdiri mematung.
"Aku yang memanggilnya, malah ditinggal," batinnya.
Andra mengambil makanan yang tersedia di meja prasmanan dan Raisa berada di belakangnya.
Tampak Darren dan Rayendra menyapa Andra.
Raiza menatap ketiga pria usia beda itu tampak akrab.
Tak mau berlama-lama, Raiza duduk bergabung bersama dengan keluarganya yang lainnya dan mengobrol.
Talitha yang di dekat di Raiza berdiri ketika melihat Andra mencari kursi. "Ndra, duduk di sini saja!" memanggilnya.
Andra mendekati Talitha, "Nyonya duduk di mana?"
"Saya duduk di mana saja bisa, kamu makanlah. Saya mau ke sana!" Talitha menunjuk ke arah suaminya dan mertuanya.
Andra pun duduk di satu meja dengan Raiza yang sama tanpa obrolan sama sekali.
...----------------...
__ADS_1
Keesokan harinya, sekolah Raiza tampak ramai. Ya, seorang bintang terkenal datang berkunjung ke tempat itu.
"Andrean datang, Za. Dia sangat tampan sekali!" puji Tere saat Raiza baru saja tiba.
"Memangnya kenapa?" tanyanya santai.
"Kau tidak ingin meminta foto atau tanda tangannya," ujar Tere.
"Tidak!"
"Kau tidak tertarik untuk melihatnya lebih dekat?"
"Tidak!"
"Astaga, kau memang temannya yang aneh!" celetuk Tere.
"Kau dan Niken saja yang pergi melihatnya," ujar Raiza.
"Ya, baiklah. Aku tidak akan menyia-nyiakan ini," ungkap Tere.
Raiza memilih masuk ke kelasnya lebih dahulu, sesampainya di sana tak ada siswa, ruangan terlihat sepi.
Raiza memilih membaca buku, beberapa menit kemudian matanya segera menoleh ketika mendengar suara pintu tertutup secara kasar.
Raiza dengan cepat berdiri dari kursinya.
"Eh, maaf Nona. Di luar sangat ramai sekali!" ujar Andrean.
Raiza hanya melihat dan diam saja.
Suara teriakan dari arah luar terus menggema, Andrean tampak mondar-mandir.
"Mereka sangat berisik sekali!" keluh Raiza. Ia kembali duduk.
"Maaf!" Andrean menghentikan langkahnya.
"Harusnya anda tak perlu ke tempat ini, buat rusuh saja!" omelnya, kembali membaca buku.
Andrean mendekati Raiza, "Anda tadi bilang apa? Saya buat rusuh, mereka itu saja yang mengejar-ngejar!"
"Kalau tidak mau dikejar-kejar, tak usah jadi terkenal!" Raiza menutup bukunya.
Raiza memasukkan bukunya ke tas lalu beranjak berdiri dan melangkah.
Andrean menarik lengan Raiza, "Mau ke mana?"
"Aku mau keluar!" ia menurunkan tangan Andrean dari lengannya lalu melangkah lagi.
"Tunggu, jangan keluar!" Andrean menghalangi jalannya, ia menghadap Raiza.
"Kenapa tidak boleh?"
"Di luar terlalu ramai," jawab Andrean
"Mereka hanya mengejarmu bukan aku," Raiza meminggirkan tubuh pria di depannya dengan tangan kirinya.
Andrean tetap berdiri tanpa bergeser, ia meletakkan kedua tangannya di bahu Raiza dan mendorongnya pelan.
Raiza melirik ke kanan dan kirinya saat pria itu menyentuh ke dua bahunya.
Pintu terbuka beberapa orang masuk.
Raiza dan Andrean menoleh ke belakang tanpa melepaskan pegangannya.
Sebagian orang yang melihatnya menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang mereka saksikan.
"Kalian sedang apa?" tanya seorang pria yang bekerja sebagai manajer sang artis.
Andrean yang sadar segera menurunkan tangannya di bahu gadis yang di hadapannya. "Tidak ada!" tampak gugup.
Raiza yang tak peduli memilih menerobos keramaian dan meninggalkan orang-orang yang kelihatan masih bingung.
Niken dan Tere yang ikut mengejar Andrean kini mengikuti langkah temannya.
"Za, tunggu!" panggil Tere.
Raiza terus berjalan.
Niken dan Tere mempercepat langkahnya dan akhirnya bisa mensejajarkan posisinya.
__ADS_1
"Kau dan dia tadi lagi apa? Kenapa dia memegang bahumu?" cecar Niken.
"Kalian hanya salah paham," jawab Raiza tanpa menatap dan terus melangkah.
Sementara itu, Andrean tampak kebingungan menjawab pertanyaan manajernya.
"Kau tidak berbuat aneh-aneh dengan gadis itu, kan?" tanya pria berusia 26 tahun itu ketika mereka sudah menjauh dari kerumunan.
"Ya, tidaklah. Aku baru saja mengenalnya," jawab Andrean.
"Tapi, kenapa kau memegang bahunya?" tanyanya lagi.
Dengan cepat Andrean masuk ke mobilnya, "Aku tadi hanya menahan dia agar tak keluar."
"Tapi, kenapa dia ada di ruangan itu?"
"Harusnya kau bertanya padaku, kenapa aku bisa di ruangan itu?" Andrean tampak kesal dengan pertanyaan manajernya.
"Benar juga, kita yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu," ujarnya.
-
Andra melihat Raiza berjalan ke arahnya bergegas menghampiri. "Apa Nona akan pulang?"
"Tidak. Aku ingin pergi ke kantin, jika kau ingin pulang tidak apa-apa," jawab Raiza.
"Saya tetap di sini menunggu, Nona."
"Terserah kau saja," ujar Raiza.
"Bagaimana kalau aku menemani kamu di sini?" Tere tersenyum genit kepada Andra.
Raiza segera menarik tangan sahabatnya itu dan berjalan ke arah kantin.
"Hei, kenapa kalian tidak membiarkan aku bersamanya?"
"Kau akan lupa untuk belajar," jawab Niken.
Ketiganya kini duduk di meja yang sama menikmati jus buah.
"Bukankah dia, gadis yang bersama Andrean di ruangan itu?" bisik salah satu siswa dengan yang lainnya.
Niken mengedarkan pandangannya, beberapa siswa menatap sinis mereka. "Mereka kenapa, sih?"
Tere dan Raiza ikut melihat sekelilingnya.
"Kenapa mereka memandang kita seperti itu?" tanya Niken dengan suara pelan.
Seorang siswa perempuan mendekati Raiza dan teman-temannya. "Apa kau kekasih Andrean?"
"Hah!" ketiganya tampak terkejut.
"Bu..bukan," jawab Raiza.
"Kenapa dia memegang bahumu?" tanyanya lagi.
"Ini hanya salah paham," jawab Raiza dengan cepat.
"Kalau benar pun tak masalah, kami bisa meminta tanda tangan Andrean padamu," ujarnya.
"Aku bukan kekasihnya, maaf!" Raiza pun beranjak pergi.
Niken dan Tere ikut menyusul juga.
"Za, apa yang dikatakan dia tadi boleh juga," ujar Niken.
"Maksudnya?" Raiza menghentikan langkahnya.
"Ya, kalau kau dan Andrean sangat cocok dan serasi. Kalian bisa menjadi sepasang kekasih," jawab Niken.
"Itu tidak mungkin," ujar Raiza.
"Kenapa? Dia sangat terkenal, tampan dan kau cantik bukankah sangat cocok," ucap Niken.
"Yang dikatakan Niken benar," sahut Raiza.
"Opa melarangku menjalin hubungan dengan seseorang dari dunia hiburan," jelas Raiza.
"Kenapa? Oma dan Papamu juga seorang artis?" tanya Niken.
__ADS_1
"Dia tak ingin kehidupan kami di ketahui masyarakat umum," jawab Raiza.