Jangan Mengejarku, Cantik!

Jangan Mengejarku, Cantik!
S2-bagian 12


__ADS_3

Jarum jam menunjukkan pukul 9 malam, Raiza keluar dari restoran. Andra masih setia menunggu gadis itu yang sedang berkencan dengan model terkenal.


"Maafkan aku sudah membuatmu terlalu lama menunggu," Raiza berkata dengan lembut.


"Ini memang sudah menjadi tugas saya, Nona." Membukakan pintu mobil.


Andra menyalakan mesin mobil meninggalkan restoran, 10 menit perjalanan kendaraan yang ia kemudikan diberhentikan 2 orang pria tak dikenal.


Kedua pria terus mengetuk kaca jendela secara kuat.


Raiza yang duduk di kursi penumpang belakang wajahnya mendadak pucat. "Andra, aku sangat takut!"


"Nona, tenanglah." Andra membuka pintu.


Perkelahian ketiganya tak bisa dihindari, Andra yang bisa bela diri berhasil membuat kedua pria itu tak berkutik. Ia hanya mengalami luka sedikit di bagian siku tangannya karena sempat terdorong dan jatuh.


Raiza keluar dari mobil ketika melihat 2 orang pria itu pergi dengan wajah panik ia bertanya, "Kau tidak apa-apa?"


Andra tersenyum tipis lalu menjawab, "Tidak, Nona."


Raiza melihat tangan Andra, "Biar aku obati!"


Keduanya masuk ke dalam mobil, Raiza duduk di samping kursi pengemudi. Ia mengambil kotak kecil berisi obat-obatan seperti plester luka, obat oles dan alkohol.


Dengan hati-hati, Raiza mengobati luka di tangan Andra membuat pria itu menatap sangat dalam gadis yang ada dihadapannya.


"Sudah selesai!" Raiza menutup kotak obat yang selalu ada di dalam mobil.


"Terima kasih, Nona."


"Sama-sama," Raiza tersenyum begitu hangat.


...----------------...


Keesokan paginya Raiza dan kedua orang tuanya begitu juga Andra di panggil Devan di kediamannya.


"Siapa yang memberikan kamu izin pergi makan malam bersama model itu, Raiza?" Devan menatap cucunya.


"Aku yang merayu Papa dan Mama untuk memberikan izin, Opa," jawabnya hati-hati.


"Kenapa kamu melanggar janjimu itu?" Devan bertanya lagi.


"Maafkan aku, Opa." Raiza tertunduk bersalah.


"Kenapa, Raiza?" Devan bertanya sedikit dengan nada tinggi.


"Kami hanya berteman saja, Opa."


"Kamu bilang berteman? Pria itu memiliki perasaan kepadamu!" ujarnya dengan sedikit pelan. "Makan malam berdua dengan seorang teman? Kalian itu sudah berkencan!" lanjutnya.


Raiza hanya tertunduk.


"Apa kamu menyukainya?"


Raiza hanya bergeming.


"Katakan, Raiza!" sentaknya dengan nada tinggi.


"Papa..." lirih Raisa.


Tatapan tajam terarah pada Andra, "Kenapa kamu mengantarkannya ke restoran?"


"Saya sudah berjanji pada Nona Muda, Tuan." Tertunduk bersalah.


"Janji? Kamu mengkhianati kepercayaanku agar tidak menemani dia bertemu dengan pria itu, kenapa malah melanggarnya?" tanyanya dengan emosi.


"Maafkan saya, Tuan. Saya hanya ingin membantu Nona Muda mengungkapkan perasaannya," jawab Andra.


"Perasaan?" tanyanya lirih. Pandangannya kembali ke arah cucunya. "Apa kamu menyukai pria itu?" menatap tajam wajah Raiza.


Gadis itu mengangguk pelan.


Eza dan Raisa melihat anggukan putrinya menghela nafas pasrah.


"Akhiri kontrak kerja sama dengan dia!" titahnya.


"Pa, tidak semudah itu mengakhiri kontraknya. Kita harus membayar ganti rugi lagi," Raisa angkat bicara.


"Kalau begitu, Raiza akan Papa kirim ke luar negeri!" ujar Devan.


"Opa, aku tidak mau ke sana!"


"Tuan Besar, saya yang bertanggung jawab atas kesalahan yang Nona Muda lakukan. Saya siap menerima hukuman," jawab Andra tegas.

__ADS_1


"Apa alasanmu membantu dan membiarkan Raiza menemui pria itu?" tanya Devan lagi.


"Kebahagiaan Nona Muda, itu yang menjadi alasan saya," jawabnya.


Devan mengeraskan rahangnya. "Kamu, aku pecat!"


Semua mata yang berada di tempat mengarahkan pandangannya kepada Devan.


"Opa, kenapa memecatnya?" Raiza tak suka.


"Karena dia membiarkanmu menemui pria itu!"


"Opa, Raiza mohon jangan pecat Andra!" tampak air matanya mulai menetes.


"Saya siap dipecat, Tuan!" Andra memotong pembicaraan.


Raiza berharap pengawalnya itu menarik kata-katanya.


Clarissa mendekati suaminya dan memegang dada pria itu. "Sayang, cukup marah-marahnya hari ini!" berkata dengan lembut.


Devan memeluk istrinya.


Tanpa disuruh keempat orang beda usia itu meninggalkan ruangan yang hanya tinggal Devan dan istrinya.


Di luar ruangan keluarga itu, Raisa mengejar langkah Andra yang berjalan keluar rumah. "Kenapa kau menerima dipecat Opa?"


"Itu sudah menjadi konsekuensi saya karena telah melanggar peraturan dari Tuan Besar."


"Ini semua salahku, kau tidak berhak menerima hukuman dari Opa!"


"Saya sudah berjanji. Apapun akan saya lakukan demi kebahagiaan, Nona!"


"Aku akan bicara pada Opa lagi untuk tidak memecatmu!"


"Jangan, Nona!" mohonnya.


Raiza tak memperdulikan Andra, ia bergegas menghampiri Opa Devan.


"Raiza, mau ke mana?" Eza mencegah putrinya melangkah.


"Aku ingin berbicara pada Opa, Pa."


"Jangan, Nak. Ini bukan waktu yang tepat untuk berbicara pada Opa," jelas Eza.


"Jika tahu kesalahan yang kamu buat, jangan pernah mengulanginya lagi!"


"Pa, aku menyukai Andrean," ucapnya lirih.


"Kamu sudah berjanji untuk tidak jatuh hati padanya," Eza mengingatkan putrinya.


"Maafkan aku, Pa."


"Jauhi dia, jika kamu tak ingin orang-orang di sekitarmu dirugikan atas perasaanmu itu!" Eza pun berlalu.


...----------------...


Raiza datang ke kediaman Opa Devan, mungkin pagi ini waktu yang tepat untuk ia berbicara berdua.


"Pagi, Oma, Opa!" sapa Raiza.


Devan masih terlihat marah.


Raiza berjalan mendekati Devan yang sedang membaca buku di teras rumah bagian belakang menghadap taman. "Opa!"


"Ada apa?" tanyanya ketus.


"Sini duduk dekat Oma," perintah Clarissa.


Raiza mengikuti titah omanya.


"Cepat katakan keperluan kamu, apa?" tanya Devan tanpa berbasa-basi.


"Aku akan menjauhi Andrean, asal Opa tidak memecat Andra," jawabnya.


"Memang seharusnya kamu menjauh darinya!"


"Tapi, tolong jangan pecat Andra!" mohonnya.


"Opa memang memecatnya menjadi pengawal kamu dan akan mengirimkannya ke Belanda," jelas Devan.


"Aku mohon, Opa. Jangan kirim dia ke sana!" rengeknya.


"Memangnya kenapa?" tanya Clarissa. "Dia juga di sana bekerja di perusahaan kita," lanjutnya.

__ADS_1


"Dia pernah mengatakan tak bisa meninggalkan ibunya," ungkap Raiza.


"Jika kamu tak ingin orang lain menderita karena keegoisanmu. Maka, jangan berbuat ulah!" ujar Devan.


"Aku janji tidak akan mengulanginya lagi,"


"Baiklah, Andra tetap akan menjadi pengawal kamu!" Devan menutup bukunya.


"Terima kasih, Opa." Raiza tersenyum senang.


Setelah bertemu dengan Devan, gadis itu menghubungi Andra karena ia tak tahu alamat rumah pria itu.


Mereka berdua akhirnya bertemu di sebuah kafe tak jauh dari kediaman Devan.


Raiza tersenyum kala melihat pria itu datang.


"Kenapa Nona ingin bertemu dengan saya?" begitu Andra sampai di kafe.


"Aku sudah bicara kepada Opa, bahwa kau tetap menjadi pengawal sekaligus sopirku."


"Apa yang sudah Nona janjikan kepada Tuan Besar?"


"Aku akan menjauhi Andrean," jawabnya.


"Tidak, Nona."


"Aku tidak ingin kau dan Arta Fashion hancur karena keegoisanku. Opa mengancam akan memutuskan kontrak dengan Andrean dan tentunya itu akan merugikan Andrean dan perusahaan."


"Anda mengorbankan perasaan demi kami?"


"Itu salah satu jalan agar Opa tak mengirimkanmu ke luar negeri," jawabnya.


"Seharusnya Nona tidak perlu seperti ini," ujar Andra.


"Jadi, aku harus melakukan apa? Aku tak mau kau jauh dariku!"


Pernyataan itu membuat hati kecil Andra merasa senang mendengarnya.


"Aku tidak mau kau dan ibumu terpisah hanya karena perasaanku!"


"Nona, terima kasih!" lirihnya.


"Ya," Raiza tersenyum tipis, ia harus merelakan perasaannya untuk kedua kalinya buat orang lain.


......................


Sudah seminggu ini, Raiza tak pernah membalas pesan atau mengangkat telepon dari Andrean. Ya, gadis itu ingin menjauh darinya.


Hari ini keduanya bertemu setelah Raiza mengirimkan pesan.


Andrean menyempatkan waktunya di sela-sela kesibukannya sebagai seorang publik figur.


"Aku senang akhirnya kita bertemu, kenapa sangat sulit menghubungimu setelah makan malam itu?"


"Maafkan aku, Andrean."


"Ya, aku tahu mungkin kamu lagi sibuk," ujarnya.


"Aku tidak sibuk, aku sengaja ingin menjauh darimu!"


Andrean yang mendengarnya seketika hatinya hancur.


"Aku mohon, jangan pernah menghubungi atau mengirimkan hadiah lagi kepadaku!" pinta Raiza.


"Kenapa?" tanyanya lirih.


"Karena aku tidak mencintaimu," jawab Raiza sedikit menunduk, matanya mulai berkaca-kaca.


"Jadi, selama ini kamu hanya mempermainkan aku?"


"Aku minta maaf, Andrean." air matanya akhirnya jatuh.


"Raiza, aku tahu kamu pasti berbohong. Apa alasanmu yang sebenarnya?"


"Keluargaku tidak menyetujui hubungan kita," Raiza menjawabnya dengan jujur.


"Aku akan memperjuangkan hubungan kita, kamu tenanglah. Kita bisa mendapatkan restu dari mereka!" Andrean berusaha menyakinkannya.


"Tidak, Andrean. Tak ada yang perlu diperjuangkan di antara kita, menjauhlah dariku. Kamu pantas mendapatkan wanita lebih baik dariku!" Raiza berdiri dari tempat duduknya. "Sekali lagi, maafkan aku!" ia hendak pergi.


Andrean menahan tangannya, "Apa kau ingin menyerah begitu saja?"


"Aku melakukannya demi kebaikan kamu juga!" Raiza melepaskan genggaman Andrean dan berlalu.

__ADS_1


__ADS_2