
Dua hari kemudian....
Andra kembali lagi bekerja sebelumnya ia hanya menganggur. Alasan Raiza saja yang mengatakan kalau pria itu bekerja di Arta Fashion.
Raiza yang merasa bersalah hanya terdiam, ia malu harus bertemu dengan pria itu.
"Selamat pagi, Nona!" Andra membukakan pintu mobil.
"Pagi juga," Raiza tersenyum tipis.
Mobil melesat ke tempat tujuan.
Begitu sampai kedua temannya mengulum senyum ketika melihat Raiza kembali datang bersama Andra.
"Kenapa kalian memandangku seperti itu?" tanyanya heran.
"Sudah aku bilang, kalau kalian memang cocok. Buktinya dia kembali lagi," celetuk Niken.
"Papa yang menyuruhnya kembali," jelas Raiza sembari berjalan ke arah ruang kelasnya.
"Itu artinya Paman Eza lebih percaya Andra daripada kau yang mengendarai mobil seorang diri," ujar Tere.
"Entahlah, padahal aku melakukan semua kegiatan seperti biasa walaupun tanpanya," tuturnya.
"Apa mungkin Paman Eza sebenarnya ingin menjodohkan kau dengan Andra?" tebak Tere.
"Kalian ini berbicara apa? Aku sudah dijodohkan Opa Devan tapi belum tahu siapa orangnya," jelasnya lagi.
"Oh, aku tahu mungkin Andra kembali dipanggil agar dia menjagamu tidak berpaling ke pria lain. Anggap saja pengawalmu itu sebagai penjaga jodoh orang," celetuk Niken.
"Betul juga itu!" sahut Tere.
"Benarkan?"
"Terserah kalian saja, jangan membuat aku tambah pusing!" Raiza mempercepat langkahnya.
-
-
Sepulang sekolah setelah mengantar kedua sahabatnya, Raiza meminta Andra menemaninya ke ke toko buku.
"Kau mau ikut ke toko atau tetap di sini?"
"Saya ikut ke dalam, Nona."
"Ya sudah," Raiza berjalan lebih dahulu ke dalam toko.
Keduanya berpencar, melihat-lihat buku yang tersusun rapi di rak.
Andra selain melihat buku, matanya juga tetap mengawasi Raiza. Karena gadis itu tak tampak di pandangannya bergegas mencarinya.
Andra melihat Raiza sedang jongkok membaca buku, ia berjalan mendekatinya.
Raiza mendongakkan kepalanya, kemudian berdiri.
"Nona, ingin mencari buku apa?" tanya Andra karena sudah 30 menit, gadis itu belum selesai memilih.
"Ayo kita ke kafe!" ajaknya tanpa menjawab pertanyaan pengawalnya.
Raiza membeli 1 buku mengenai bisnis. Setelah membayar keduanya pun pergi ke kafe.
Lagi-lagi Andra hanya duduk, diam, memperhatikan Raiza dan sesekali memainkan ponselnya.
Begitu juga dengan Raiza yang fokus dengan bukunya.
Hampir 1 jam berada di kafe, tak ada obrolan keduanya.
"Nona, tidak ingin pulang?"
"Apa kau sudah bosan menemani aku?" balik bertanya.
"Tidak, Nona."
"Jika ingin pulang, aku akan mengajakmu," ucap Raiza.
Andra membalas ucapan Raiza hanya tersenyum.
__ADS_1
Jarum jam menunjukkan pukul 5 sore, mereka berada di kafe tersebut hampir 4 jam. Raiza akhirnya pun mau diajak pulang.
Di dalam mobil keduanya juga tak berbicara sama sekali.
Sesampainya di rumah, Eza mengajak Andra mengobrol menikmati kopi.
Menjelang pukul 7 malam, Eza dan Raisa menyuruh pria itu untuk makan malam bersama.
Keempatnya kini duduk di meja yang sama.
Raiza memilih diam.
"Andra, seandainya Opa Devan mengirimmu ke Belanda. Apa kamu mau?" tanya Raisa.
"Mau tidak mau, saya akan menuruti perintah Tuan Besar, Nyonya."
"Jangan panggil kami nyonya dan tuan, tapi bibi dan paman," ujar Raisa.
"Saya segan, Nyonya."
"Kamu harus terbiasa," sahut Eza.
"Baik, Paman."
"Nah, begitu enak dengarnya," Raisa tersenyum.
"Bicara mengenai Belanda, memangnya kamu yakin betah kalau dipindahkan di sana?"
"Saya hanya mengikuti keputusan Tuan Besar saja, Paman."
"Kenapa kau begitu menurut pada Opa? Padahal bukan cucunya," celetuk Raiza.
"Tuan Besar sudah membantu kami, apalagi ketika ayah sakit sepuluh tahun yang lalu dan waktu itu kami membutuhkan banyak biaya," jelas Andra.
Raiza yang sedang makan, menghentikan sendoknya.
Raisa dan Eza sudah tahu hal itu.
"Jadi, kau ingin membalas budi pada Opa karena telah menolong keluargamu?" tanya Raiza lagi.
"Ya, Nona." Andra tersenyum sekedarnya.
"Maksud Papa, aku dan Andra di rumah ini bersama?"
"Ya," jawab Eza.
"Papa tidak salah?" Raiza menatap Eza.
"Kamu tidur di kamarmu dan Andra tidur di kamar tamu. Lalu masalah Bibi Lina, dia akan tidur di rumah Opa Hilman. Kamu tenang saja, pelayan tetap ada di sini menemani kalian," jelas Eza.
"Kenapa harus Andra yang menemani aku, Pa? Ada Niken dan Tere yang bisa, lagian ku sendirian juga tak masalah. Pelayan di rumah ini banyak, aku takkan takut," protes Raiza.
"Memang pelayan di sini banyak, tapi mereka takut denganmu. Mereka juga tak bisa melarangmu, Mama tak mau kamu pergi ke tempat yang aneh-aneh, apalagi jika tidak ada kami pasti kamu akan pulang larut malam," sahut Raisa.
"Ma, aku janji akan tepat waktu dan tak akan keluar malam," ujarnya.
"Mama tak bisa tenang meninggalkanmu sendirian, lebih baik bersama Andra," ucap Raisa.
"Mama tidak takut jika kami melakukan hal-hal yang terlarang?"
Mendengar pertanyaan itu Andra yang sedang minum menjadi tersedak.
Ketiganya lantas melihat Andra.
"Maaf!" tersenyum gugup.
"Kalau melakukan itu, kami akan menikahkan kalian," sahut Eza.
"Apa!" Raiza dan Andra terkejut.
"Memangnya kamu suka dengan Andra, sampai melakukan hal itu?" Raisa menatap wajah putrinya.
Raiza lantas memalingkan wajahnya karena malu.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh, Papa yakin Andra tidak akan berbuat seperti itu," ujar Eza.
...----------------...
__ADS_1
Esok paginya, Raisa dan Eza berangkat ke luar kota. Andra pun sudah tiba untuk menemani Raiza.
"Cepat sekali kau datang?" ketusnya.
"Saya di suruh Paman dan Bibi agar segera datang," jawab Andra.
"Tapi, hari ini aku belum mau keluar ke mana-mana," ujarnya.
"Kalau begitu saya menunggu di sini saja, Nona." Menunjuk kursi yang berada di teras depan.
"Terserah kau saja," Raiza pun masuk ke rumahnya.
Dua orang pelayan pria beda usia datang menghadap Raiza.
"Kenapa kalian membawa tas besar?" menatap heran.
"Kami sudah meminta izin pada Tuan Eza kalau hari ini cuti bekerja selama seminggu," jawab salah satunya.
"Kenapa Papa tidak memberitahu aku?"
"Mungkin Tuan lupa, Nona." Sahut salah satu diantaranya.
"Mungkin," ujarnya. "Ya sudah, pergilah!" lanjutnya.
"Terima kasih, Nona." Ucap keduanya.
Raiza meminta salah satu pelayan wanita yang biasanya melayaninya untuk membuat jus tapi dia harus kecewa karena wanita muda itu sedang libur.
"Kapan dia masuk kembali?" tanya Raiza pada pelayan wanita khusus buat Mama Raisa.
"Dia baru saja tadi pagi pulang ke kampungnya sebelum Nona Raisa berangkat," jawabnya.
"Kenapa semua tiba-tiba begini berangkatnya?" gerutu Raiza.
"Saya tidak tahu, Nona. Tapi, saya juga minta izin sore ini untuk pulang lebih awal karena ada acara keluarga mendadak," ucap wanita berusia 40 tahun itu, biasanya ia akan pulang jam 6 sore.
"Astaga, kenapa kalian jadi minta izin berjamaah seperti ini?" keluhnya.
"Saya juga sudah meminta izin pada Tuan dan Nyonya, Nona."
"Ya, ya, pulanglah tapi besok pagi datang ke sini, kan?"
"Iya, Nona."
Raiza akhirnya menyuruh pelayan itu membuatkan jusnya. Ia menonton televisi di ruang santai keluarga.
Baru sejam bersantai, seorang wanita yang bagian mencuci pakaian dan piring menghampirinya.
"Ada apa? Pasti Kakak ingin minta izin juga?" tebaknya.
"Nona, kenapa tahu?" wanita berusia 35 tahun itu tersenyum nyengir.
"Kakak mau ikut-ikutan yang lainnya?"
"Saya baru saja dapat telepon dari kampung, Nona. Kalau kambing ternak saya di ambil orang," jelasnya.
"Apa hubungannya dengan Kakak pulang? Apa kambing itu akan kembali lagi jika Kakak di sana?" cecarnya.
"Ya, tidak juga. Saya hanya ingin menyemangati anak-anak biar tak bersedih lagi, saya juga sudah meminta izin melalui telepon dengan Nyonya Raisa."
Raiza memijit pelipisnya. "Pergilah!" menggerakkan tangannya pelan.
Raiza menghitung dengan jemarinya kalau sudah ada 5 orang pekerja di rumahnya meminta izin pulang tinggal 3 orang lagi.
Menjelang siang hari, hidangan tersedia di meja makan. Raiza menatap makanan tersebut, "Kenapa sepi sekali?"
Raiza lalu menyuruh pelayan untuk memanggilkan Andra dan tak lama pria itu datang menghampirinya.
"Silahkan duduk!" perintahnya.
Andra menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Raiza.
"Aku hanya tidak mau makan sendirian dengan menu sebanyak ini," Raiza mengarahkan pandangannya ke meja tampak 6 piring berisi lauk pauk dan aneka sayuran berbeda.
Andra hanya diam.
"Silahkan makan!"
__ADS_1
"Ya, Nona." Andra mulai mengambil nasi dan lauk pauknya.
Keduanya menikmati hidangan dengan hening.