
Rista kini berada di ruangan kerja kekasihnya. Ia menampilkan senyumnya yang indah dihadapan pria itu. Pasca kejadian dua hari yang lalu di mall tidak membuat hubungan keduanya renggang.
"Ada apa kamu memanggilku?" tanya Rista semangat.
"Silahkan duduk!" Darren bersikap formal membuat wanita itu mengerutkan keningnya.
Rista menarik kursi lalu duduk berhadapan dengan kekasihnya yang dihalangi meja kerja.
Darren menyodorkan secarik kertas dalam amplop kepada kekasihnya.
"Apa ini?" tanya Rista.
"Anda dipecat!" Darren berkata dengan nada terpaksa.
"Apa?" Rista terbata. "Apa salahku?" tanyanya.
"Perusahaan ini sudah tidak membutuhkan anda lagi!"
"Kamu tidak sedang bercanda, kan?" Rista menatap pria itu.
"Saya tidak bercanda Nona Rista," jawabnya.
"Kenapa bisa jadi begini?" Rista bertanya dengan bibir bergetar.
"Mulai sekarang kemasin barang-barang anda, gaji akan segera ditransfer," jelas Darren.
"Aku tidak mengerti dengan semua ini, Darren jangan bercanda," ujarnya.
"Saya tidak bercanda Nona Rista, silahkan tinggalkan gedung ini!" Darren berkata tanpa menatap wanita itu.
Rista berdiri dan berjalan mendekati kekasihnya yang memunggunginya. "Kamu memecat aku, apa karena masa lalu kakekku?"
"Menyingkirlah dariku!" Darren berkata dengan tegas.
Rista yang mendengarnya berjengit kaget. Sejenak terdiam lalu ia bergegas meninggalkan ruang kerja. Rista berusaha menyeka air matanya yang mulai menetes. Ia berjalan cepat menuju ruangannya dan membereskan barang-barang miliknya. Teman-teman yang satu ruang dengannya mendekatinya.
"Kamu mau ke mana?" tanya salah satu di antaranya.
Rista berusaha tersenyum, "Aku harus kembali ke kampung."
"Rista, karirmu sedang naik. Kamu ingin meninggalkannya," ujar yang lainnya.
"Ada sesuatu hal harus ku selesaikan di sana dan membutuhkan waktu yang cukup lama," jelasnya berbohong.
Rista pun mempercepat mengumpulkan barang-barang kerja miliknya dan berpamitan singkat dengan beberapa temannya kemudian ia pergi.
Sella yang di bagian resepsionis, berlari menghampiri sahabatnya yang berjalan terburu-buru ke arah pintu masuk gedung. "Rista, kamu mau ke mana dengan membawa barang-barang ini?"
"Aku tidak bekerja di sini lagi," jawabnya dengan wajah sedih.
"Kenapa?"
"Sore sepulang kerja, kita bertemu dan menjelaskan semuanya," Rista pun dengan cepat meninggalkan gedung.
Rista berjalan ke luar gedung membuat para karyawan yang berpapasan dengannya merasa bingung dan menerka-nerka yang terjadi. Sejenak berhenti ia lalu menoleh ke belakang melihat bangunan tinggi dan mewah itu sebentar, kemudian melanjutkan langkahnya kakinya.
Sementara itu setelah kekasihnya meninggalkan ruangannya, Darren menjatuhkan tubuhnya dia meraup wajahnya secara kasar. Air matanya tak terasa menetes, "Maafkan aku!"
*
Beberapa jam yang lalu ketika selesai makan malam....
"Kamu harus mengakhiri hubunganmu dengan Rista!" ujar Devan.
"Memangnya kenapa, Pa?"
"Neneknya sangat membenci kita termasuk kamu," jawab Devan.
"Pa, itu hanya salah paham saja," tuturnya.
"Tidak, ini bukan salah paham. Kakek dari Rista itu yang telah membuat calon istriku yang kini jadi ibu kandungmu pingsan. Kami melaporkannya kepada pihak berwajib dan menahannya lalu sekarang istrinya datang untuk membalaskan dendamnya melalui cucunya," ungkap Devan.
Clarissa yang disebelah suaminya hanya diam, ia ingin berkata tapi pria itu melarangnya.
__ADS_1
"Pa, tapi aku yakin Rista tidak mungkin memiliki niat yang buruk kepada kita," ujarnya.
"Ada atau tidaknya, Papa tak mau kamu melanjutkan hubungan dengannya," pinta Devan.
"Pa, aku sangat mencintai Rista!"
"Tapi, Papa tidak mau kamu menjalin hubungan yang keluarganya memiliki hati kotor dan penuh dendam. Harusnya kita yang tersakiti bukan mereka."
"Cobalah untuk memaafkannya, Pa." Mohon Darren.
"Tidak, neneknya tidak merestui hubungan kalian. Bagaimana bisa kamu menjalin hubungan seperti itu? Bisa saja kekasihmu itu lebih memilih keluarganya dari pada kamu dan menyakitimu."
"Pa, aku percaya Rista tidak seperti itu!"
"Baiklah, jika kamu memilih kekasihmu. Tinggalkan perusahaan dan rumah ini lalu pergilah bersamanya!" Devan berkata tegas.
"Kenapa Darren yang pergi, Van?" tanya Clarissa.
"Aku tidak mau punya anak yang tidak menurut sepertinya!" jawab Devan menatap putranya.
"Van...."
"Sekarang kamu pilih orang tuamu atau gadis itu!" Devan memberi pilihan.
*
-
-
Rista pulang dengan menumpang taksi, begitu sampai ia berjalan cepat ke kamarnya dan menjatuhkan tubuhnya di ranjang menumpahkan air matanya yang tak tertahan.
Elisa yang melihat putrinya membawa begitu banyak perlengkapan kantor menyusulnya ke kamar namun pintu terkunci, ia mengetuk dan memanggil namanya.
"Bu, aku tidak ingin diganggu hari ini!" ucapnya dengan suara kuat dari kamarnya.
"Baiklah, Nak!" ujar Elisa kemudian ia melanjutkan pekerjaannya.
-
Sudah 3 jam Rista berada di kamarnya. Namun tak kunjung keluar. Makan siang sampai ia lewatkan, hal itu membuat ibunya semakin penasaran yang terjadi dengan dirinya.
"Rista, apa Ibu boleh masuk?" Elisa mengetuk pintu pelan.
Rista pun membukanya tampak wajahnya sembab dengan mata memerah.
"Kamu kenapa?" Elisa tampak khawatir.
Rista lantas memeluk tubuh ibunya dan menangis lagi.
"Apa yang terjadi?" tanya Elisa.
"Aku dipecat, Bu!" jawabnya dengan isak.
"Kenapa dipecat?"
"Aku tidak tahu alasan pastinya," jawabnya. "Ku yakin ini karena kelakuan Nenek kepada Tante Clarissa hingga membuat Darren marah padaku!" ujarnya terisak.
Elisa mencoba menahan air matanya agar tak jatuh.
"Bu, kita harus pindah dari sini. Aku tak kuat jika terus di kota ini," ujarnya.
"Iya, kita akan pindah. Mungkin ini jalan terbaik untukmu, kamu memang tak berjodoh dengannya," ucap Elisa. "Kita tidak akan kembali ke kampung tapi ke kota lain lagi," lanjutnya.
Rista mengangguk pelan.
Elisa menghapus air mata putrinya dengan jemarinya.
Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya, Rista membukanya namun ia menyipitkan matanya sembari menyeka buliran kristal bening di pipinya.
"Kenapa?" tanya Elisa.
"Darren mentransfer sejumlah uang kepadaku dan cukup banyak," jawab Rista.
__ADS_1
"Uang apa?"
"Tadi katanya ia akan mengirimkan uang kepadaku, tapi ini nominalnya sangat besar, Bu."
"Berapa?"
"Gajiku selama dua tahun," jawab Rista.
"Sebesar itu pesangonmu? Kamu baru beberapa bulan bekerja di sana, apa itu sebagai permintaan maafnya kepadamu?"
"Entahlah, Bu. Aku akan mengembalikan uangnya. Ku tak mau merasa terutang kepadanya," jelas Rista.
"Ya, Nak. Itu lebih baik," Elisa menyetujui ucapan putrinya.
"Nanti sore aku akan bertemu dengan Sella, Bu."
Elisa mengangguk mengiyakan.
-
-
Sepulangnya kerja, Sella menemui sahabatnya di sebuah kafe tak jauh dari tempat tinggal wanita itu.
Rista sudah duduk menunggunya dengan wajah sedih.
Sella memeluk sahabatnya itu sesampainya dirinya di kafe. "Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Aku tidak tahu alasan dia memecatku," jawab Rista.
"Kenapa kau tidak bertanya padanya?"
"Aku sudah bertanya padanya, dia mengatakan kalau perusahaan tidak membutuhkan lagi. Padahal aku melakukan pekerjaan dengan profesional dan penjualan juga meningkat," ungkapnya.
"Apa dia tahu kalau nenekmu menyerang ibunya di mall?" Sella berusaha menerka.
"Dia sudah tahu, Aku rasa dia juga tahu masa lalu nenekku."
"Masa lalu nenekmu? Apa hubungannya?"
"Kata Ibuku, kakekku pernah melakukan pemukulan kepada Tante Clarissa di lokasi syuting dan membuatnya dilarikan ke rumah sakit setelah itu Presdir melaporkannya kepada pihak berwajib dan menahannya," tutur Rista. Ibunya sudah menjelaskan semuanya yang terjadi. "Karena kakek di tahan, nenek menjadi sering menangis dan membuat bayi yang dikandungnya meninggal sebelum dilahirkan. Nenek selalu beralasan kalau kakek menerima pekerjaan itu karena untuk membiayai kebutuhan hidup mereka dan biaya sekolah menengah pertama ibuku," lanjutnya.
"Aku tidak menyangka kalau kakekmu punya masalah dengan keluarga Artama," ujarnya. "Kakekmu pasti melakukannya karena di suruh seseorang," lanjutnya menebak.
"Ya, dia memang di suruh seorang artis. Kau mau tahu siapa orangnya?"
Sella mengangguk.
"Ibunya Natasha Daniel."
"Apa?" Sella tampak terkejut. "Tapi, kenapa keluarga Artama membolehkan Natasha menjadi brand ambassadornya sedangkan kamu tidak?" tanyanya.
"Aku juga tidak tahu, mungkin karena nenekku sudah berani menampar Nyonya Clarissa."
"Bisa jadi," ujarnya. "Lalu apa yang akan kau lakukan? Mencari pekerjaan di sini atau bagaimana?" cecarnya.
"Aku akan kembali ke kampung, ku akan melupakan semuanya," jawab Rista. "Ku mohon padamu, tolong kembalikan mobil itu kepada Darren dan ini juga!" Ia menyodorkan kotak berukuran sedang di balut pita plastik.
"Baiklah, aku akan membantumu mengembalikannya," ujar Sella.
"Terima kasih, Sel."
"Aku nanti akan meminta tolong kepada Tuan Yuno mengembalikan semua ini," ucap Sella lagi.
"Dan ini surat-surat kendaraan," Rista menyodorkan kertas-kertas tanda kepemilikan mobil.
Sella pun menerimanya, "Aku masih berharap kamu tetap di sini!" dengan wajah sedihnya.
"Aku akan memberikan kabar kepadamu tapi jangan pernah memberi tahu siapapun," mohon Rista.
"Ya."
Keduanya pun saling berpelukan dan menangis, Rista lantas bergegas pergi meninggalkan kafe.
__ADS_1