Jangan Mengejarku, Cantik!

Jangan Mengejarku, Cantik!
Lusi Membuat Kekacauan


__ADS_3

Rista penasaran rahasia apa yang disembunyikan ibunya darinya. Sudah lebih sebulan neneknya tidak juga pulang. Akhirnya ia memberanikan bertanya kepada wanita yang telah melahirkan Elisa.


"Nenek kapan pulang?"


"Kamu sudah bosan Nenek di sini," jawabnya ketus.


"Bukan begitu, apa Nenek tidak rindu dengan kampung halaman? Entah lihat ternak milik Kakek yang sudah lama tak dikunjungi," ujar Rista.


"Nenek sudah menyuruh orang lain untuk mengurusnya," jelas Lusi.


"Aku sebenarnya ingin kembali ke kampung tapi pekerjaan di sini sangat padat," Rista memberikan alasan.


"Mintalah cuti, kita akan pulang kampung bersama," ajak Lusi.


"Hem, bagaimana kalau Nenek saja yang lebih dahulu pulang?" usul Rista.


"Nenek akan tetap di sini bersama kalian," jawab Lusi.


Rista memijit pelipisnya, ia sedang berpikir keras untuk mencari cara bagaimana bisa mengusir neneknya itu tanpa menyakiti perasaannya.


"Nenek sebenarnya ingin pulang tapi kami kemarin berjumpa dengan orang yang telah...."


"Rista!" Elisa memanggil putrinya.


"Ya, Bu!" Rista pun berjalan menghampiri ibunya.


"Rista, bisakah kamu tolong ibu membelikan gula di warung depan?"


"Baiklah, Bu. Aku akan membelinya," Rista pun pergi.


"El, memangnya kamu lagi buat apa?" Lusi menghampiri putrinya.


"Ini, Bu. Aku lagi praktek buat kue untuk menu baru yang ku titipkan di warung," jawab Elisa.


"Oh, begitu. Apa kamu sudah masak untuk makan siang kita?" tanyanya.


"Biar Rista saja yang memasaknya, Bu."


"Ya sudah, kalau begitu Ibu mau ke kamar dulu," Lusi pun berlalu.

__ADS_1


Elisa akhirnya bisa bernafas lega. "Syukurlah, Ibu belum memberitahunya pada Rista.


-


Sore harinya, Rista mengajak nenek dan ibunya berjalan-jalan ke mall bersama dengan sahabatnya juga menumpang mobil pemberian Darren.


Elisa tampak waspada ia takut ibunya bertemu dengan orang-orang dari masa lalu kedua orang tuanya.


Keempatnya menikmati makanan di restoran siap saji yang berada di dalam mall. Selesai makan mereka kembali berkeliling, melihat-lihat sepatu dan sandal yang diproduksi oleh Arta Fashion di sebuah gerai toko.


"Cantik, ya!" puji Elisa melihat sepasang sandal.


"Ibu mau?" tawar Rista.


"Tidak, Nak. Ini terlalu mahal," jawabnya.


"Tidak masalah, yang penting Ibu senang," ujar Rista.


"Lain waktu saja, Nak!" ucap Elisa tersenyum.


Tanpa ketiganya sadari mereka kehilangan Lusi.


Sella dan Elisa mengedarkan pandangannya sekelilingnya.


Mereka pun mulai sibuk mencari Lusi.


"Itu Nenek!" Sella mengarahkan jari telunjuknya kepada wanita tua yang berjalan ke arah kerumunan.


Ketiganya bergegas menghampiri Lusi.


"Ibu!" panggil Elisa namun tak didengar.


Lusi menghampiri kerumunan dan menerobosnya. Dengan cepat tangannya melayangkan tamparan ke wajah wanita paruh baya yang masih terlihat cantik.


Wanita itu terkejut dan memegang pipinya.


Seketika seluruh mata tertuju pada Lusi dan berteriak memarahinya. Seorang pengawal memegang tubuh wanita itu.


"Apa anda sudah gila?" sentak Raisa dengan nada tinggi karena ia tak suka mamanya di tampar.

__ADS_1


Clarissa masih syok dan memegang pipinya.


"Nona, maafkan Ibu saya!" ucap Elisa sebelum Raisa tambah murka.


Rista berhenti sejenak, "Tante Clarissa!"


Raisa menatap Rista dan keluarganya.


"Kakak, maafkan Nenek saya!" ujar Rista tampak merasa bersalah.


"Mereka jahat!" Lusi menunjuk wajah Clarissa.


"Nenek, mereka tidak jahat. Sekarang kita pulang!" ajak Rista.


Elisa dan Sella menarik tubuh Lusi menjauh dari Clarissa.


"Maafkan saya!" Rista menundukkan kepalanya.


"Temui saya di rumah dan jelaskan semuanya!" ucapnya pada Rista. "Ayo Raisa kita pulang!" ajaknya pada putrinya.


Para pengawal pun membantu perjalanan keluarga Artama menuju parkiran mobil.


Hati Rista benar-benar bingung, neneknya sudah membuatnya malu di hadapan keluarga kekasihnya. Ia pun berjalan cepat menghampiri keluarganya yang menunggunya di mobil.


Wajah Rista tampak kesal dan kecewa. Ia pun menutup pintu mobil dengan kasar. "Kenapa Nenek berani menampar artis Clarissa Ayumi?" tanyanya marah.


"Nenek tak suka dengannya!" jawab Lusi.


"Asal Nenek tahu dia itu....!" Rista tak melanjutkan ucapannya.


"Bu, sudah cukup hari ini membuat kekacauan. Besok aku akan mengantarmu pulang ke kampung," ujar Elisa.


"Dia itu jahat!" tuduhnya.


"Mereka tidak jahat, Nek!" Emosi Rista semakin tinggi.


"Rista, tenanglah!" Sella mengusap bahu sahabatnya.


"Sella, sekarang kita pulang!" Rista menjatuhkan kepalanya di sandaran kursi penumpang sembari memijit keningnya.

__ADS_1


"Ya," Sella pun mengendarai mobilnya ke luar parkiran mall.


__ADS_2