Jangan Mengejarku, Cantik!

Jangan Mengejarku, Cantik!
S2-bagian 7


__ADS_3

Tanpa terasa air mata Raiza kembali menetes. Ia menatap jendela dengan sesekali menyeka buliran kristal tersebut.


Andra menghidupkan mesin mobil dan perlahan meninggalkan kafe. Ia hanya bisa melihat gadis itu dari kaca spion.


Andra menghentikan mobilnya ke sebuah kedai es krim.


"Kenapa kita berhenti di sini?"


"Saya ingin membeli es krim, Nona."


Raiza pun tak bertanya lagi.


Tak lama kemudian, Andra kembali ke mobil. Pria itu membalikkan tubuhnya lalu menyodorkan es krim yang dibelinya kepada Raiza.


Gadis itu tampak kebingungan.


"Katanya, ini bisa menjadi obat bagi hati yang sedang bersedih. Siapa tahu bisa membantu," ujarnya.


Raiza menerima es krim pemberian sang pengawal, "Terima kasih!"


"Sama-sama, semoga Nona tidak bersedih lagi," Andra tersenyum hangat.


Raiza hanya mampu tersenyum tipis, ia mulai menikmati es krim.


Andra kembali menyalakan mesin mobil dan melihat dari kaca spion kalau Raiza tampak senang menikmati es krim pemberiannya.


...----------------...


Beberapa hari kemudian.....


Raiza ikut juga dalam kegiatan amal tersebut termasuk Andrean sebagai brand ambassador Arta Fashion.


Keduanya kembali bertemu di tempat itu.


Andrean gencar memberikan perhatian kepada Raiza, keduanya tampak saling melemparkan senyuman.


Darren yang melihat kedekatan keduanya menjadi was-was, ia mendekati Raisa. "Kak, lihatlah Raiza sepertinya sangat akrab dengan model itu!"


"Mereka hanya berteman saja tidak lebih," jelas Raisa.


"Semoga saja, tapi ku lihat Andrean menaruh hati pada Raiza," tebak Darren.


"Itu perasaan kamu saja, nanti Kakak akan mengingatinya lagi," ujar Raisa.


"Ya, Kak. Jangan sampai Papa salah paham dan menyalahkan aku karena telah memakai model pria."


"Kamu tenang saja, kakak akan menjelaskan ini pada Papa," ujarnya.


"Baiklah, Kak."


Andra yang ikut membantu acara amal tersebut hanya mampu melihat dari kejauhan keakraban Raiza dan Andrean.


Ditengah acara, Andrean diserbu beberapa penggemarnya membuat Raiza yang berada di sebelahnya mengalami insiden kecil.


Gadis itu terdorong membentur dinding oleh beberapa penggemar wanita yang begitu antusias.


Beberapa petugas keamanan memberikan perlindungan kepada Andrean sementara Raiza menjauh.


Andra lantas mendekati Raiza yang kaget didorong secara kasar dengan beberapa orang penggemar sang artis. "Nona, tidak apa-apa?"


Raiza hanya menggeleng pelan sembari memegang lengan.


"Kita ke sana saja, Nona!" Andra mengarahkan ke tempat yang tidak terlalu ramai orang.


Raiza pun menuruti kata-kata sopirnya.


Andra mengambil air mineral lalu dengan cepat ia menghampiri Raiza yang sedang duduk, "Minumlah, Nona!"


"Terima kasih!" Raiza meraih botol air mineral.


"Apa Nona butuh sesuatu lagi?" tanya Andra.


"Tidak, terima kasih."


Andrean mengirimkan pesan kepada Raiza tak bisa melanjutkan bakti sosial karena penggemar sudah banyak yang datang ke tempat itu.


Raiza pun memakluminya.


Sore harinya, Raiza pun pulang bersama Raisa.


Setelah mengantar keduanya pulang, Andra kembali ke rumahnya.


Sebuah mobil berhenti tepat di pekarangan rumahnya, Andra tahu jika itu mobil Bella, mantan kekasihnya.


Andra pun keluar dari mobil.


Bella tampak mengobrol dengan ibunya.


"Andra, kamu sudah pulang. Temani Bella mengobrol, dia menunggumu sejam yang lalu," ujar Lina.


"Aku tidak memintanya menungguku, Bu. Usir saja dia!" Andra berjalan ke kamarnya.


Tampak raut wajah Bella begitu kecewa.


"Ibu akan bicara padanya, tunggu di sini!" ujar Lina.


"Aku pulang saja, Bu. Lain waktu lagi, ku ke sini," Bella tersenyum.


"Ya sudah, kalau begitu. Maafkan kelakuan Andra, ya!"


"Tidak apa, Bu!" Bella kembali tersenyum.


Setelah Bella pergi, Lina menghampiri putranya yang hendak ke kamar mandi.


"Ada apa, Bu?" Ketika Andra membukakan pintu untuk ibunya.


"Kenapa sikapmu begitu kepada Bella?"


"Bu, aku dan Bella tidak memiliki hubungan apa-apa lagi. Kami sudah berakhir," jawabnya.


"Kenapa?"


"Bella telah mengkhianati aku!"


"Apa kamu tidak memberikan kesempatan kepadanya lagi?"


"Dia sudah merusak kepercayaan aku!"


"Kamu tidak memberi kesempatannya lagi, bukan karena sudah memiliki penggantin, kan?"


"Bukan, Bu."


"Lalu perasaan kamu dengan Raiza, bagaimana?"


Andra terdiam tak bisa menjawab.


"Ibu tahu kamu menyukai gadis kaya raya itu," tebak Lina.


"Bu, aku mau mandi nanti saja kita bicara lagi," Andra sengaja berkata begitu karena tak ingin ibunya banyak bertanya.


"Jangan mengharapkan sesuatu yang tak bisa kamu gapai, Raiza itu hanya mimpi untukmu tidak mungkin menjadi kenyataan," ujar Lina.


Andra memang sadar dirinya hanya sopir dan pengawal buat Raiza, ia tak pantas memiliki hati dari gadis cantik itu.


"Nak, sadarlah. Ibu tak mau kamu kehilangan pekerjaan karena mencintainya," mohon Lina.


"Ya, aku tahu. Ku tak mungkin melakukan hal yang dapat merugikan pekerjaan, jadi Ibu tenanglah!" Andra berbicara seperti itu agar Lina tidak begitu khawatir.


Setelah mendengarkan penjelasan dari putranya, Lina pun berlalu.


...----------------...


Axel sengaja datang ke sekolah Raiza untuk menjelaskan kesalahpahaman diantara mereka beberapa hari yang lalu.


Niken dan Tere memberikan kesempatan keduanya untuk berbicara.


Andra yang melihat kedua gadis itu berjalan tanpa Raiza, buru-buru menghampirinya. "Di mana, Nona Raiza?"


"Dia lagi mengobrol dengan Axel," jawab Tere.


"Di mana?"


"Di sana!" Tere menunjukkan ke arah mobil merah yang terparkir.


Andra bergegas menghampiri keduanya.


"Raiza, aku minta maaf tidak memberitahu kamu tentang kepulangan ku," ujar Axel.

__ADS_1


"Ya, ku paham. Aku saja yang terlalu banyak berharap padamu," Raiza tersenyum tipis.


"Za, aku sebenarnya menyukaimu," ujar Axel.


Mendengar pernyataan itu, Andra yang hampir mendekat menghentikan langkahnya.


"Jika kamu menyukai aku, kenapa tak memberikan kabar selama empat tahun ini? Kenapa tidak membalas perasaan aku? Kenapa jalan dengan wanita lain?" cecar Raiza.


Andra memundurkan langkahnya, menjauh dari keduanya. Entah, kenapa hatinya terasa perih mendengar percakapan keduanya.


"Sintya cinta pertamaku, aku sudah berjanji padanya. Sebelum ku menyukaimu, dia telah hadir. Sintya, gadis yang baik dan pintar. Aku tidak bisa menyia-nyiakannya," ujar Axel.


"Jadi, menurutmu aku tidak baik dan tak pintar?"


"Kamu terlalu sempurna, Za."


"Alasan kamu saja," Raiza hendak pergi namun lengannya di pegang Axel.


Andra datang dan cepat menurunkan tangan pria itu dari lengan Raiza. "Menjauhlah darinya!" ia memberikan peringatan kepada Axel.


"Kau siapa?" tanyanya.


"Aku pengawal pribadinya," jawab Andra dengan tatapan tajam.


Raiza hendak bicara.


"Nona, saya hanya menjalankan perintah Nyonya Raisa untuk menjaga anda dan menjauh dari pria seperti dia!" Andra berbicara sebelum Raiza angkat suara.


Axel pun pergi.


Begitu juga dengan Raiza yang berjalan cepat ke mobilnya.


-


Di perjalanan pulang, Raiza hanya diam saja.


"Apa Nona ingin es krim lagi?"


"Tidak."


"Permen?"


"Tidak!"


Andra pun tak bertanya lagi.


Mobil pun tiba di rumah, sebelum keluar Raiza berkata, "Jangan beri tahu Mama, kalau aku bertemu dengannya!"


"Baik, Nona."


...----------------...


Seminggu kemudian....


Raiza datang menghadiri acara jamuan makan malam bersama karyawan Arta Fashion.


Acara dilaksanakan karena penjualan produk kembali mengalami kenaikan.


Pesaing perusahaan Arta Fashion juga hadir yaitu Karisma Fashion.


Devan dan istrinya juga hadir termasuk Hilman dan keluarganya.


Raiza yang baru tahu jika Andra adalah cucu dari sekretaris Opa Devan hanya bisa tersenyum tipis.


Raiza menarik tangan sopirnya itu, "Kenapa kau tidak mengatakan jika dirimu adalah cucu dari Opa Hilman?"


"Buat apa, Nona?"


"Ya, tidak apa-apa juga," jawabnya nyengir.


Andra hanya tersenyum melihat ekspresi Raiza yang sangat menggemaskan baginya.


"Kau tidak mau makan?" tanyanya.


"Saya masih kenyang, Nona."


"Temani aku makan!" ajaknya.


"Nona, saya segan makan berdua di tempat seramai ini," jelas Andra.


"Jangan hiraukan mereka," ujar Raiza.


"Raiza, apa kabar?" sapa Andrean yang tiba-tiba muncul.


"Hai, aku baik dan sehat. Kamu baru datang?" balik bertanya.


"Ya, bisakah kamu menemani aku makan?" pinta Andrean.


"Boleh," jawab Raiza.


Keduanya pun pergi mengambil makanan, sementara Andra hanya terdiam menatap Raiza yang memilih bersama dengan Andrean.


Sejam di acara tersebut, Raiza baru sadar jika ia telah membiarkan Andra sendirian. Ia pun bergegas mencarinya.


Raiza bertanya dengan para sopir petinggi perusahaan di luar gedung. "Apa kalian melihat Andra?"


"Dia sudah pulang, Nona." Jawab salah satu di antara mereka.


"Pulang?"


"Ya, katanya ibunya sakit," jawab yang lainnya.


"Apa benar?"


"Terima kasih informasinya," ucap Raiza.


"Sama-sama, Nona."


Raiza kembali menghampiri keluarganya, "Pantas saja Opa Hilman dan Oma Dita buru-buru pulang," gumamnya.


Raiza lantas meminta izin kepada Eza untuk pergi menjenguk ibunya Andra dan pria itu mengizinkan putrinya.


Eza juga memberi tahu di mana ibunya Andra di rawat. "Sampaikan salam kami kepadanya, katakan maaf tidak bisa menjenguknya," ujarnya.


"Baik, Pa. Nanti aku akan sampaikan," Raiza pun pergi seorang diri menggunakan taksi online. Eza sudah menawarkan putrinya agar di antar tapi menolaknya.


Raiza singgah di sebuah toko buah untuk ia berikan kepada ibunya Andra.


Hampir 30 menit, akhirnya ia tiba di rumah sakit.


Raiza menghubungi Andra dan menanyakan di mana kamar inap ibunya.


"Nona, ke sini? Dengan siapa?" cecar Andra ketika gadis itu meneleponnya.


"Aku sendirian, kamu pulang tanpa meminta izin dariku. Cepat katakan di mana kamarnya?" desaknya.


"Saya akan menemui Nona, tunggulah di sana!" Andra menutup teleponnya.


Tak lama pria itu pun datang menghampiri Raiza yang tersenyum.


"Kau tidak perlu menjemputku di bawah, katakan saja nomor kamarnya!"


"Sebagai permintaan maaf saya kepada Nona, karena tidak minta izin," ujar Andra.


Keduanya pun berjalan ke ruang rawat inap.


Sesampainya di sana tampak Hilman dan istrinya sedang menunggu putri mereka yang terbaring lemah dengan selang infus.


Wanita paruh baya itu hanya tersenyum tipis ketika melihat Raiza datang.


"Terima kasih sudah datang menjenguk putri kami, Nona Muda!" ujar Hilman.


"Sama-sama, Opa." Raiza tersenyum, ia meletakkan keranjang buah di atas nakas.


Mereka pun saling mengobrol bersama.


Sejam kemudian, Raiza berpamitan pulang kepada keluarga Andra.


"Nona, pulang dengan siapa?" tanya Hilman.


"Saya naik taksi saja, Opa."


"Biar saya antar pulang, Nona!" sahut Andra.


"Ibu dengan siapa, An?" tanya Lina. Ia tak begitu menyukai Raiza, karena Nona Muda itu baginya adalah seorang gadis manja.


"Biar Ibu yang jaga kamu!" sahut Dita.

__ADS_1


"Iya, kami masih di sini. Biar Andra mengantarkan Nona Raiza pulang," sambung Hilman.


"Saya bisa pulang sendiri, Opa," tolak Raiza.


"Tidak, Nona Muda. Anda tanggung jawab saya juga walaupun saya tidak bekerja di Arta Fashion lagi," ujar Hilman.


"Mari saya antar pulang, Nona." Ajak Andra.


"Kalau begitu saya pamit pulang, Opa, Oma, Bibi," ujarnya.


"Ya, Nona," Hilman tersenyum begitu juga dengan istrinya.


Andra dan Raiza pun keluar dari ruangan rawat inap. Keduanya berjalan menuju parkiran rumah sakit.


Baru saja membuka pintu untuk Raiza, seorang wanita menghampiri keduanya. "Jadi dia alasanmu tidak menerima aku kembali?"


Raiza mengernyitkan keningnya, ia lalu menoleh menatap Andra.


"Bella, kenapa di sini?"


"Aku ingin menjenguk ibu kamu, tapi ternyata bertemu dengan dia," jawab Bella menatap sinis Raiza.


Tak mau ambil pusing, Raiza memilih masuk mobil dan menutup pintunya.


Andra pun melakukan hal yang sama.


Bella yang melihatnya mendengus kesal.


Mobil meninggalkan rumah sakit.


"Bukankah dia wanita yang pernah aku lihat bersamamu di kafe?"


"Ya, Nona."


"Dia masih sangat akrab dengan ibumu," ujar Raiza.


"Ya, Nona."


"Tapi, kenapa dia menuduhku seperti tadi?"


"Mungkin karena kita sering bersama," jawabnya.


"Begitu, ya."


"Maaf, jika membuat Nona tidak nyaman tadi," ujar Andra.


"Tidak masalah, jangan terlalu dipikirkan," Raiza tersenyum.


...----------------...


Andrean masih mengirimkan hadiah buat Raiza, pria itu tak lelah menarik hati sang calon pujaan hatinya.


"Kiriman dari siapa?" tanya Tere penasaran.


"Andrean," jawabnya.


"Sepertinya itu model sangat menyukaimu," ujar Niken.


Raiza hanya tersenyum membalas ucapan sahabatnya.


Andra membukakan pintu buat majikannya dan kedua temannya. Kemudian menyalakan mesin mobil dan berlalu.


Raiza membuka hadiah dari Andrean lalu ia berikan kepada Niken. "Buat kau!"


Niken masih memandangi bros pakaian, "Kau yakin memberikan ini kepadaku?"


"Iya, aku tak suka memakainya. Ku sering melihat kau pakai ini di pakaianmu," jelas Raiza.


"Tapi ini pemberian Andrean, harga Bros ini sangat mahal," ujar Niken.


"Iya, aku tahu. Hadiah ini sudah diberikan kepadaku dan menjadi milikku. Jadi, aku berhak memberikannya lagi kepada orang lain," tuturnya.


"Bukankah itu seperti kita tidak menghargai pemberian orang lain?" tanya Tere.


"Iya, Za. Bagaimana jika Andrean bertanya?" Niken sambung bertanya.


"Aku katakan saja sejujurnya."


"Itu akan sangat menyakitkan untuknya," ujar Niken.


"Itu salah satu cara agar dia menjauhiku, karena aku tak bisa mempunyai hubungan spesial dengan seorang artis," ungkap Raiza.


Niken dan Tere mengangguk paham.


"Tapi, aku tidak bisa menerimanya," ujar Niken.


"Lebih kau simpan saja," saran Tere.


"Baiklah, tapi jika barang itu tak terpakai aku akan memberikannya kepada orang lain," ujarnya.


"Lain kali kau bilang saja, tidak perlu dia mengirimkan hadiah lagi kepadamu," usul Niken.


"Nanti aku akan memberitahunya," Raiza memasukkan bros pakaian itu ke dalam kotak kecil.


Mobil berhenti di sebuah minimarket karena Raiza ingin membeli minuman. Andra sudah menawarkan diri untuk membelikannya namun gadis itu menolaknya.


Andra pun ikut keluar dari mobil mengikuti Raiza.


"Kau ingin minum apa?"


"Air mineral saja, Nona."


"Sepertinya itu menjadi minuman favoritmu," sindirnya.


"Karena saya memang tidak terlalu suka dengan minuman perasa, Nona," jelas Andra.


"Begitu, ya. Aku jadi tahu makanan dan minuman apa saja yang kau sukai," ujarnya tersenyum.


Andra yang mendengarnya pun bahagia.


Raiza pun mengantri di depan kasir, seorang gadis datang dan hendak melayangkan tamparan.


Beruntung Andra dengan cepat menangkap tangan itu dan mendorongnya. "Apa yang anda akan lakukan?" bertanya dengan nada dingin.


Raiza terkejut melihat serangan mendadak tersebut, termasuk beberapa pengunjung minimarket.


"Katakan pada kekasihmu itu untuk tidak mengganggu kekasihku!" gadis itu berkata tegas.


"Anda siapa?" tanya Raiza.


"Aku kekasih Axel."


Seketika Raiza lemas mendengar nama itu, namun ia berusaha tegar, "Aku tidak mengenalnya, kau salah orang!" ia menyerahkan belanjaannya kepada Andra lalu berjalan ke mobil.


Sintya ingin mengejar Raiza, namun langkahnya dihalangi Andra.


"Anda akan berurusan dengan saya, jika berani menyentuhnya!" Menatap tajam.


Sintya mendengus kesal, ia lalu pergi meninggalkan minimarket.


Setelah membayar belanjaannya, Andra kembali ke mobil dan menyerahkannya kepada Niken.


Raiza tampak diam.


"Dia kenapa?" Tanya Tere pada Andra.


"Saya tidak bisa, tanyakan saja pada Nona Raiza," jawab Andra.


Tere berdecak kesal mendengar jawaban sopir pribadi temannya.


Mobil meninggalkan minimarket, Raiza masih diam.


Setelah mengantarkan kedua temannya pulang, Raisa meminta Andra mendatangi kediaman Axel.


"Nona, yakin kita ke sana?"


"Ya."


Mobil pun mengarah ke kediaman Axel, begitu sampai seorang pelayan menyambut Raiza.


"Apa saya bisa bertemu dengan Tuan Axel?"


"Anda siapa?"


"Raiza.


"Baiklah, saya akan memanggilnya," pelayan tersebut pun berlalu.

__ADS_1


Tak lama pria yang dicari Raiza keluar dan tampak terkejut dengan kehadiran dirinya.


"Raiza!"


__ADS_2