
Keesokan harinya, Yuno datang ke rumah Darren ia mengantarkan mobil Rista memakai jasa sopir sedangkan dirinya membawa mobil sendiri.
Darren yang sedang bersepeda mengelilingi lingkungan rumahnya berhenti karena melihat mobil Rista terparkir di depan kediaman orang tuanya.
Darren bergegas mengayuh sepedanya mendekatinya. Namun, seorang pria muda yang keluar dari dalam mobil.
Tak lama kemudian mobil Yuno berada di belakangnya.
"Kenapa mobil Rista ada bersamamu?" tanya Darren.
Yuno menerima kunci pemberian sopir pengganti. "Terima kasih!" ucapnya tersenyum.
"Kalau begitu saya pamit pulang, Tuan!" pria muda itu pun pergi.
Darren masih menunggu jawaban dari sekretarisnya itu.
"Sampai hari ini, aku belum tahu apa alasanmu memecat Rista," ujar Yuno.
"Kau tidak perlu tahu, ini semua sudah menjadi keputusanku."
"Kau bilang sangat menyayanginya, tapi kenapa tega melakukan ini? Dia gadis tangguh dan jujur, salah satu karyawan terbaik di perusahaan. Tanpa alasan jelas kau malah membuangnya!"
"Aku tidak membuangnya, ku mengirimkan sejumlah uang yang cukup banyak kepadanya," ungkap Darren.
"Ya, aku tahu kau memiliki harta berlimpah. Tapi hari ini dia mengembalikan semuanya," ujar Yuno. "Ini kunci beserta surat-suratnya!" Pria itu meraih telapak tangan Darren dan meletakkannya di atasnya.
"Dia mengembalikannya?" Darren tampak terbata.
"Ya, aku juga sudah mengirimkan kembali uang yang kau berikan pada Rista. Coba cek rekening tabunganmu!" titah Yuno.
"Kenapa dia mengembalikannya?"
"Aku juga tidak tahu, cuma Sella tadi bertemu denganku dan meminta nomor rekeningku. Dan wanita itu menjelaskan kalau Rista tak pantas menerima gaji sebesar itu."
"Kau tidak bertemu dengan Rista?"
"Tidak, Sella hanya mengatakan kalau Rista akan kembali ke kampungnya dan meminta tolong aku mengembalikan mobilnya kepadamu!"
Darren menghela nafasnya.
"Kau tidak mengejarnya?" tanya Yuno.
Darren menggelengkan kepalanya.
"Pengecut!" Yuno menekankan kata-katanya.
Darren hanya diam dan tak membalas perkataan sahabatnya itu.
"Aku mau pulang, sampaikan salamku pada Bibi dan Paman," ujarnya. "Dan satu lagi!" Yuno membuka pintu mobilnya mengambil kotak dari Rista yang dititipkan melalui Sella. "Ini juga buatmu!" ia menyodorkannya kepada Darren.
"Apa ini?"
"Aku tidak tahu, lihat saja. Aku mau menjemput Natasha," Yuno masuk ke dalam mobil. Ia lalu melambaikan tangan kepada Darren kemudian melesat ke lokasi syuting kekasihnya.
Darren memandangi kotak dari Rista. Ia membawanya ke kamar sebelum membukanya ia menyemprotkan cairan desinfektan.
__ADS_1
Perlahan ia membukanya tampak hoodie dan sapu tangan miliknya yang tampak bersih dan wangi. Ada secarik kertas warna-warni di dalamnya berisikan tulisan, 'Aku telah menjaga baik barang-barang yang kau berikan kepadaku. Jika ingin membuangnya itu hakmu, terima kasih untuk semuanya.'
Mata Darren tampak berkaca-kaca, ia teringat dengan sapu tangan yang hendak di buangnya namun Rista mengambilnya dan hoodie saat di lokasi syuting untuk menutup paha wanita itu.
Darren terduduk di sisi ranjang dan mencium pakaiannya itu. "Kenapa sangat sakit sekali?" lirihnya.
-
-
Rista dan ibunya pun pergi dari kota di mana tempat ia pertama kali bertemu dan menjalin kasih dengan Darren.
Rista sudah memberi tahu kepada Sella ke mana tujuannya. Ya, ia ingin hidup tenang tanpa bayang-bayangan masa lalu neneknya dan dirinya. Ia akan memulai pekerjaannya dari bawah lagi.
Perjalanan yang akan dilaluinya membutuhkan waktu 4 jam, Rista menatap jalanan dari kaca jendela. Tatapannya sangat kosong, kenangan bersama Darren selalu saja terlintas di pikirannya. Dengan cepat dirinya menggelengkan kepalanya menghilangkan bayangan pria itu.
Begitu sampai, Rista dan ibunya berjalan mencari rumah yang akan mereka tempati.
"Kita akan usaha apa di sini, Bu?" tanya Rista.
"Kita akan mencari pekerjaan, setelah mendapatkan cukup modal kita membuka usaha," jawab Elisa.
"Ya, Bu."
Setelah sejam berkeliling akhirnya Rista dan ibunya menemukan rumah yang hanya memiliki satu kamar saja, harganya cukup mahal karena berada di tengah kota.
Beruntung Rista masih memiliki tabungan untuk menyewa rumah tersebut selama 1 bulan. Ya, dia sengaja hanya mengambil masa sewa segitu karena kalau tidak betah, ia dan ibunya akan pindah lagi.
"Bu, aku akan membeli makanan di depan. Jadi, tunggulah di sini!" ucapnya.
"Ya, pergilah. Ibu akan membereskan barang-barang kita ini!"
"Ada, Nona."
"Di mana?"
"Seratus meter dari sini ada pekerjaan sebagai pelayan di restoran," jelasnya.
"Benarkah, Bu?"
"Ya, Nona."
"Kalau begitu, terima kasih banyak!" Rista tersenyum senang.
"Ini pesanan anda!" Pemilik warung menyodorkan dua bungkus nasi.
"Ini uangnya, Bu." Rista tersenyum lalu ia membawa kantong plastik berisi makanan dengan wajah ceria pulang ke rumah.
Elisa masih membereskan dan merapikan pakaian miliknya dan putrinya ke dalam lemari.
"Bu, aku pulang!" teriaknya dari luar rumah.
"Wajahmu sepertinya sangat ceria beda dengan tadi saat kita di dalam bus," ujar Elisa.
"Aku sudah dapat pekerjaan, kata Ibu pemilik warung depan ada pekerjaan sebagai pelayan di restoran," jelas Rista.
__ADS_1
"Wah, bagus dong. Kapan kamu akan melamar di sana?"
"Besok pagi ku akan ke sana, doakan semoga aku di terima bekerja di sana," jawab Rista.
"Ibu selalu mendoakan yang terbaik untukmu, Nak!"
"Terima kasih, Bu. Ayo kita makan!" ajaknya. Rista penuh semangat membuka bungkus makanan itu lalu membuka tutup botol air mineral lalu ia sodorkan dihadapan ibunya.
Rista menikmati makanan yang ia beli, perlahan dirinya akan melupakan Darren.
Elisa sembari makan sekilas menatap putrinya, "Semoga kelak kamu bahagia!" tanpa terasa air matanya menetes.
Rista melihat mata ibunya berair. "Ibu menangis?"
"Tidak, Nak. Ibu hanya mengantuk, ini sudah malam juga," Elisa berkelit.
"Benar, Bu. Kita sudah melakukan perjalanan jauh ke sini, Ibu tidurlah. Aku akan melanjutkan membereskan semua ini," ujarnya.
"Tidak usah, Nak. Kamu saja yang tidur, biar Ibu yang membereskannya. Kamu besok akan melamar pekerjaan lagi."
"Ya, Bu. Tidak apa kalau aku tidur lebih dahulu?"
"Tidak, Nak. Kamu sudah sangat lelah sekali hari ini," jawabnya.
"Baiklah, Bu. Selamat malam," Rista pun menjatuhkan tubuhnya ke ranjang lalu memejamkan matanya.
...----------------...
Keesokan paginya Rista berpamitan kepada ibunya untuk melamar pekerjaan menjadi pelayan di restoran. Kebetulan tempatnya tidak jauh dari rumah yang disewanya. Dengan memberanikan diri ia bertanya kepada karyawan restoran. "Permisi, Nona. Apakah di sini membutuhkan pelayan?"
"Ya, kebetulan sekali. Kami memang membutuhkan pelayan wanita. Mari ikut saya!" Wanita muda itu mengajak Rista menemui pemilik restoran.
Pria muda ditaksir usianya sebaya dengan Darren, sejenak menatap Rista yang tersenyum begitu manis. Ia memeriksa berkas lamaran calon karyawannya. "Kamu lulusan desain fashion, kenapa melamar menjadi pelayan restoran?"
"Saya lagi membutuhkan uang, Tuan."
Pria itu tersenyum, "Saya suka dengan orang yang tidak memilih pekerjaan!"
"Selama pekerjaan benar dan tak melanggar aturan. Itu tidak jadi masalah, Tuan."
"Ya, benar. Oh ya, kamu sebelumnya tidak pernah bekerja atau bagaimana?"
"Saya sering berpindah-pindah, Tuan. Mengikuti Ibu jadi pekerjaannya tidak menetap," jawabnya berbohong. Rista tak menulis tentang pengalaman kerjanya di Arta Fashion sebagai desainer.
"Begitu, ya. Saya suka dengan semangatmu, kamu di terima di sini. Dan mulai hari ini kamu sudah mulai bekerja," ujarnya.
"Terima kasih, Tuan."
"Nama saya Rion," ujar pria itu.
"Baik, Tuan Rion."
"Ini pakaian seragammu, kamu bisa meminta bantuan kepada karyawan lainnya jika membutuhkan atau menanyakan sesuatu."
"Baik, Tuan. Sekali lagi, terima kasih."
__ADS_1
"Silahkan keluar dan selamat bekerja," Rion tersenyum.
Rista pun membalasnya dengan senyuman lalu pamit keluar ruangan kerja pria itu.