Jangan Mengejarku, Cantik!

Jangan Mengejarku, Cantik!
S2-bagian 5


__ADS_3

Seminggu kemudian....


Tere dan Niken sudah berada di kafe depan Arta Fashion. Kedua gadis itu berdandan sangat cantik, tentunya ingin mendapatkan perhatian dari sang idola.


Raiza tiba di Arta Fashion sepuluh menit kemudian. Ia turun setelah Andra membukakan pintu untuknya.


Tampak juga Andrean dan timnya juga baru tiba, ia melihat Raiza turun seperti seorang putri yang dibukakan pintunya. Beberapa karyawan yang lewat juga menyapanya dengan sedikit menundukkan kepalanya. "Siapa dia sebenarnya?"


Raiza menghubungi sahabatnya jika dirinya sudah tiba di Arta Fashion.


Penuh semangat kedua gadis itu bergegas menemui Raiza yang berdiri di depan pintu masuk.


Darren tiba dengan mobilnya berwarna hitam, ia terkejut ketika melihat Raiza berdiri di pintu masuk gedung. "Sedang apa kamu di sini?"


"Hai, Paman!" Raiza tersenyum santai. "Aku ke sini ingin melihat pemotretan," lanjutnya menjawab.


"Siapa yang mengizinkanmu melihat pemotretan?" tanyanya heran.


"Tuan, saya yang mengizinkannya," sahut Yuno.


"Astaga, Yuno. Bagaimana jika Papaku tahu Raiza kemari?" Darren tampak kesal.


"Paman, jangan marahi Paman Yuno. Aku yang bersalah memaksanya memberikan jadwal pemotretan Andrean," Raiza menjelaskannya.


Niken dan Tere pun kini sudah berada di dekat Raiza.


Kedua gadis itu tampak terpesona dengan ketampanan dengan dua pria dewasa yang ada dihadapan mereka.


Niken dan Tere tersenyum kepada Yuno dan Darren.


"Mereka siapa?" tanya Darren kepada keponakannya itu.


"Mereka temanku, Paman."


"Kami janji tidak akan membuat rusuh dan takkan membiarkan Raiza jatuh hati pada Andrean, Paman," ujar Niken menyakinkan Darren.


"Baiklah, Paman akan beri waktu kalian setengah jam," Darren melihat arlojinya.


"Terima kasih, Paman!" ketiga gadis berucap dengan serentak.


-


-


Ketiganya kini meringsek masuk ke studio, Tere dan Niken berada paling depan sementara Raiza memilih duduk dan sibuk dengan ponselnya.


Andrean kini mulai bergaya di depan kamera.


Tere dan Niken melambaikan tangannya, sesekali mereka memotret dan tentunya seizin dari sang artis.


Selesai bergaya menggunakan satu jenis pakaian, Andrean menghampiri Tere dan Niken. Ketiganya berfoto bersama.


"Teman kalian yang itu tidak ikut berfoto dengan kita!" tawar Andrean.


"Za, ayo foto!" ajak Tere sedikit bersuara kuat.


"Tidak!" ucap Raiza.


"Dia tidak mau," ujar Tere.


"Ya sudah, tidak apa-apa," Andrean tersenyum tipis.


Bayu datang menghampiri ketiganya, "Sudah cukup, ya. Andrean akan berganti pakaian!"


"Baiklah, terima kasih!" ucap Niken.


"Sampai jumpa lagi!" Tere tampak antusias.


Andrean memaksakan tersenyum.


Tere dan Niken menghampiri sahabatnya.


"Apa kalian sudah puas bertemu dengannya?" tanya Raiza.


"Sudah, Za. Terima kasih, ya," jawab Tere.


"Kalau begitu, ayo kita pulang!" Raiza berdiri dan melangkah keluar.


Sementara itu, Andrean berganti pakaian. "Apa wajahku tidak terlalu tampan?" tanyanya pada Bayu.


"Sangat tampan, sehingga banyak wanita tergila-gila padamu!" jawabannya.


"Tapi, kenapa gadis itu menolak berfoto denganku?" tanya Andrean lagi.


"Mungkin dia tidak menyukaimu," jawab Bayu.


"Gadis itu sungguh berbeda, kenapa aku jadi ingin berkenalan dengannya," ujar Andrean.


"Apa kau jatuh cinta padanya?" tanya Bayu.


"Entahlah, tapi gadis itu sama sekali tidak tertarik padaku. Kebanyakan dari mereka berteriak dan mengejarku tapi dia hanya bersikap cuek, ketus dan biasa saja," jelas Andrean.


"Aku rasa perusahaan ini adalah milik keluarga besarnya, mari kita tanya pada karyawan di sini!" ujarnya.


Bayu melihat sekelilingnya lalu menghentikan salah satu desainer. "Nona, maaf mengganggu. Apa saya boleh tanya sesuatu?"


"Tanya apa, Tuan?"


"Gadis yang duduk bersebelahan dengan tim rias tadi siapa, ya?" tanya Bayu.


"Oh, dia Nona Raiza. Keponakan Presdir, cucu dari pemilik perusahaan ini," jelasnya.


"Oh, begitu. Pantas saja dia bisa masuk ke studio ini," ujar Bayu.


"Ya, begitulah."


"Kalau begitu, terima kasih!"


"Sama-sama," desainer itu pun berlalu.


Bayu mendekati Andrean yang tidak terlalu jauh darinya. "Namanya Raiza, dia cucu pemilik perusahaan ini," ia memberikan keterangan.


"Berarti pria tua yang bersamanya waktu itu adalah Devan Artama?"


"Ya, berarti dia gadis kaya raya," jawab Bayu.


"Pantas saja, dia bersikap seperti itu. Aku harus bisa mendapatkan hatinya," Andrean berkata dalam hatinya.


...----------------...


Andrean sengaja datang ke sekolah Raiza untuk menemui gadis itu. Ia memakai masker dan topi sebagai penyamarannya.


Andrean berjalan sambil melihat ke kanan dan kiri mencari keberadaan Raiza. Walaupun beberapa mata menatap heran dirinya.


Akhirnya ia bisa bertemu dengan gadis itu, dengan cepat Andrean mendekatinya. "Nona Raiza, tunggu!"


Raiza menoleh, "Anda memanggil saya?"


"Ya."


"Ada perlu apa?"


"Mari kita berkenalan!" Andrean mengulurkan tangannya.


"Anda siapa?" Raiza tak mau menyambut uluran tangan pria yang ada dihadapannya.


"Andrean Wijaya."


Raiza menautkan kedua alisnya.


"Aku sengaja memakai ini, agar tidak di serbu para gadis di sini!" ujarnya.


Raiza melanjutkan langkah kakinya, Andrean juga menyusulnya.


"Kita belum berkenalan," ujar Andrean lagi.


"Anda sudah mengenal nama saya, untuk apa lagi kita berkenalan," Raisa berkata tanpa menatap.


"Ya, saya tahu. Tapi, bisakah kita berteman?"


"Mengapa anda tiba-tiba ingin berteman dengan saya?"


"Ya, karena kamu gadis yang berbeda," jawab Andrean.


Raiza menghentikan langkahnya dan berhadapan lagi dengan Andrean, ia menarik sudut bibirnya. "Baiklah, kita berteman!"


Andrean tersenyum di balik maskernya, "Terima kasih. Bagaimana kalau aku antar kamu pulang?"


"Tidak perlu, aku sudah ada yang jemput," Raiza lanjut melangkah ke arah parkiran.


Andra membukakan pintu mobil saat Raiza mendekat.

__ADS_1


Andrean hanya melihat gadis itu dari kejauhan.


"Nona, tidak bersama dengan kedua temannya?" tanya Andra, menghidupkan mesin mobil dan bergerak meninggalkan gedung sekolah tinggi tersebut.


"Hari ini mereka tidak datang," jawabnya.


"Kenapa?"


"Ada urusan keluarga," jawab Raiza lagi.


"Saya pikir mereka sakit," ujar Andra.


"Kau ingin menjenguknya, kalau di antara mereka sakit?" tanya Raiza.


"Tidak, Nona. Tapi, saya siap menemani anda ke rumah sakit untuk menjenguk mereka!"


"Pastinya, kau akan menemani ku ke sana. Tiap hari kita selalu bersama," Raiza berkata dengan nada ketus.


"Nona, hari ini ulang tahun putra bungsu Tuan Darren dan Nyonya Rista. Apa anda tidak memberikan selamat atau kado buat Tuan Muda Darrell," Andra mengingatkannya.


"Kenapa aku bisa lupa lagi?" Raiza menepuk jidatnya. "Kenapa dirimu selalu ingat?" lanjut bertanya.


"Karena saya diharuskan untuk mengenal seluruh keluarga Artama," jawabnya.


"Diharuskan mengenal? Kau tidak ingin merencanakan sesuatu yang buruk kepada kami, kan?" selidik Raiza menatap spion tengah yang ada di dalam mobil.


Andra tertawa kecil mendengar pertanyaan Raiza. "Saya tidak pernah berpikiran untuk berbuat hal buruk kepada keluarga Artama apalagi pada anda!" ujarnya.


"Ya, mana kau tahu. Ingin mengincar salah satu di antara kami," celetuk Raiza.


"Jikapun ada, hanya Nona yang menjadi incaran saya," dalam hati Andra.


"Antar aku ke toko mainan," titahnya.


"Baik, Nona." Mobil pun meluncur ke toko mainan anak-anak.


Sesampainya di sana Andra diminta turun untuk menemani Raiza memilih mainan.


Mereka menyusuri lorong toko mencari mainan yang kira-kira disukai Darrel.


"Menurutmu mainan mobil-mobilan atau robot?" tanya Raiza.


"Terserah, Nona."


"Aku minta pendapatmu, bukan memberikan jawaban terserah," protesnya.


"Maaf, Nona."


Keduanya kembali berkeliling toko, mata Raiza tertuju pada mainan mobil-mobilan yang berada di rak atas. Ia pun ingin meraihnya namun tangannya tak sampai hingga Andra berinisiatif mengambilkannya.


"Katakan jika Nona butuh bantuan!" Andra memegang kotak mainan itu.


"Terima kasih," ucapnya ketus.


"Apa Nona ingin membeli ini?" tanya Andra.


"Ya," jawab Raiza. Ia pun melangkah ke kasir.


Akhirnya Raiza memilih mainan mobil-mobilan. Setelah dibungkus kertas kado, mereka pun berangkat ke rumah Darrel.


Ditengah perjalanan, Raiza meminta Andra untuk berhenti di sebuah restoran.


"Ayo turun!" ajak Raiza.


"Baik, Nona!" Andra pun keluar dari mobil.


"Aku sangat lapar, aku mau makan. Temani aku, ya!" pinta Raiza.


Andra hanya mengangguk.


Keduanya masuk ke restoran dan duduk saling berhadapan.


"Kau ingin pesan apa?" tanya Raiza.


"Air mineral saja, Nona."


"Kau tidak memesan makanan?"


"Tidak, Nona."


"Kalau begitu pesanan makanan saya yang tadi jadi dua," Raiza berkata kepada pelayan yang sedang mencatat.


"Nona...." Andra ingin bicara lagi.


"Aku tidak mau makan hanya sendiri, jadi kau harus juga ikut makan," potong Raiza.


Lima belas menit menunggu akhirnya pesanan keduanya datang.


Raiza mulai menyantap makanannya.


Andra masih ragu-ragu untuk memakannya.


"Apa kau tidak suka dengan makanannya?" tanya Raiza.


"Suka, Nona."


"Tapi, kenapa hanya di lihat saja?" tanya Raiza.


Tanpa menjawab, Andra mulai menyantap makanannya.


"Sudah sebulan ini kita selalu bersama, tapi aku tidak pernah tahu tentang dirimu," ujar Raiza.


"Kehidupan saya tidak terlalu penting, Nona."


"Benarkah? Aku jadi penasaran denganmu," ungkapnya.


"Apa yang membuat anda penasaran dengan saya?"


"Wajahmu dingin dan sangat jarang berbicara," jawabnya.


"Benarkah?" Andra tersenyum.


"Senyummu juga manis!" Raiza menggoda.


Andra memudarkan senyumannya.


"Oh, ya. Bagaimana hubunganmu dengan wanita itu?"


"Kami sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi, Nona."


"Apa dia mantan kekasihmu?" tanya Raiza.


"Ya, Nona."


"Kenapa berpisah?" Raiza penasaran.


"Tidak cocok lagi, Nona."


"Memangnya seperti apa calon kekasih yang kau mau?"


"Saya sedang tidak mencari kekasih lagi, Nona."


"Lalu, mencari calon istri?" tebak Raiza.


"Ya, Nona."


"Berapa usiamu?"


"Usia saya 25 tahun, Nona."


"Usia segitu memang sudah pantas menikah, aku doakan semoga kau mendapatkan wanita sesuai impianmu," harap Raiza.


"Terima kasih, Nona."


"Ya, cepat habiskan makanannya!" Raiza kembali melanjutkan makannya sembari tersenyum kepada pengawal pribadinya.


Selesai dari restoran keduanya menuju ke rumah Darren.


Begitu sampai bocah laki-laki itu berlari-lari menghampiri Raiza karena membawa kado berukuran besar.


"Ini buat kamu!" Raiza memberikan kado.


"Terima kasih, Kak!"


"Kak Andra mana kado buat aku?" tanya Darrell.


"Kakak hanya punya permen, kamu mau?" Andra mengeluarkan dua tangkai permen dari saku celananya.


"Aku mau, Kak!" Darrell dengan semangat menyambar 2 permen itu.


Rista yang tahu kedatangan keponakannya, menghampirinya.

__ADS_1


Keduanya saling berpelukan.


"Ayo masuk kita makan siang bersama!" ajak Rista.


"Aku tadi sudah makan, Bibi."


"Kenapa tidak di sini saja makannya?" tanya Rista.


"Tadi, aku sangat lapar makanya singgah di restoran," jelas Raiza.


"Oh, begitu ya sudahlah," Rista tersenyum. "Sayang, apa kamu sudah mengucapkan terima kasih?" tanyanya pada Darrell.


"Belum, Ma," jawabnya. Darrell lalu menatap dua orang dewasa yang ada dihadapannya, "Terima kasih, Kak Za dan Kak Andra!"


"Ya, sama-sama," keduanya menjawabnya serentak. Membuat Rista mengulum senyum.


"Kalau begitu kami pamit, Bibi!" ucap Raiza.


"Ya, terima kasih sudah memberikan kado buat Darrell," Rista tersenyum.


Andra dan Raiza pun pergi meninggalkan kediaman Darren.


Di dalam mobil, perjalanan ke rumah. "Kapan kau membelikan permen buat Darrel?" tanya Raiza.


"Sebelum menjemput Nona," jawabnya.


"Kenapa hanya cuma beli dua?"


"Ya, karena menurut saya dua cukup untuk Tuan Muda," jawabnya.


"Kenapa aku tidak dibelikan?"


"Nona, mau juga?"


"Ya, maulah."


"Besok saya akan belikan untuk, Nona!" janjinya.


"Baiklah, aku tunggu besok!"


Andra mengulum senyum mendengar permintaan Raiza.


...----------------...


Keesokan paginya, Raiza turun dari mobil dan hendak ke ruang kelasnya. Seorang pria mendekatinya dan memberikan kado.


"Apa ini?" tanya Raiza heran.


"Ini dari Tuan Andrean, Nona."


"Oh, begitu. Terima kasih!" Raiza tersenyum.


Pria yang sebagai kurir itu pun berlalu.


"Apa boleh saya periksa isi kadonya, Nona?" tanya Andra.


"Silahkan!" Raiza menyerahkannya.


Andra mengambilnya dan Raiza memilih pergi.


Andra masuk ke dalam mobil dan membuka isi kado dari Andrean. Ternyata sebuah jam alarm bergambar animasi.


Andra menarik sudut bibirnya, "Ternyata dia menyukai Raiza."


-


Sepulangnya, Tere dan Niken ikut bersama Raiza. Ketiganya di mobil yang sama.


"Nona, Tuan Andrean memberikan jam alarm dan ini ada juga kartu namanya," Andra menyerahkan benda tersebut dan kartu.


"Ya," Raiza menerimanya.


"Kau di beri Andrean kado?" tanya Tere.


"Ya, tadi pagi," jawabnya.


"Kenapa tidak bilang pada kami?" protes Niken.


"Buat apa?" balik bertanya.


"Biar kami jadikan postingan di media sosial," jawab Niken.


"Astaga, kalian ini. Selalu saja haus like dan komen," ujarnya.


"Tidak masalah, kan. Kalau pengikut aku di sosial media banyak karena berita ini," tutur Niken.


"Ya, benar. Foto kami dengannya di Arta Fashion saja yang memberi tanda jempol hampir seribu. Siapa saja kami bisa menjadi artis di media sosial itu? Banyak iklan dan menghasilkan uang," ungkap Tere.


"Kalau kalian terkenal, siapa yang akan menjadi temanku?" tanya Raiza.


"Kami tetap berteman denganmu," jawab Niken.


"Tapi, aku tak mau kalian terkenal. Kalau kita mau ke kafe selalu di kejar-kejar wartawan dan penggemar. Obrolan kita jadi terganggu," ujar Raiza.


"Benar juga sih," sahut Tere.


"Tapi, kau jangan menjalin hubungan dengan Andrean!" mohon Niken.


"Ya, aku janji tidak akan menjalin hubungan apa-apa dengannya. Ku tak mau Opa dan kalian memarahiku," ucap Raiza.


"Kalau begitu, aku tak mau jadi terkenal agar kita bisa puas mengobrol," Niken memeluk Raiza begitu juga Tere.


Setelah mengantar Niken dan Tere ke rumah masing-masing, mobil mengarah ke kediaman keluarga Raiza.


"Apa kau lupa dengan janjimu?"


"Saya tidak lupa, Nona." Andra menghentikan mobilnya untuk memberikan permen buat Raiza dan wanita dengan senang hati meraihnya.


"Terima kasih!" Raiza membuka bungkus permen dengan wajah sumringah dan memakannya.


Andra tersenyum melihat wajah Raiza begitu senang dari kaca spion tengah.


"Besok beli lagi, ya!" pintanya.


"Dengan senang hati, Nona."


-


Mobil berhenti di sebuah minimarket, Andra turun untuk membeli air mineral dan dua batang cokelat.


Raiza juga turun ketika ia melihat seseorang yang ia kenal.


Andra dengan cepat melangkah menghampiri Raiza. "Kenapa Nona keluar dari mobil?"


"Tunggu sebentar di sini," pinta Raiza tanpa menatap lawan bicaranya.


Raiza mengikuti seseorang menyeberang.


Andra tetap mengikuti di belakangnya.


Sebuah mobil melaju sangat kencang mengarah kepada Raiza yang tatapannya tertuju pada seorang pria yang berada di seberang.


Dengan cepat Andra menarik tangan Raiza, "Awas, Nona!" ia memeluknya.


Saat di tarik tangannya, Raiza baru tersadar kalau dia hampir saja tertabrak.


Andra melepaskan pelukannya. "Nona!" panggilnya.


Raiza lantas mendongakkan kepalanya melihat Andra di hadapannya.


"Apa anda baik-baik saja?" tampak Andra begitu khawatir.


Raiza mengangguk cepat.


"Nona, mau ke mana?" tanya Andra.


"Aku seperti melihat dia," jawabnya.


"Dia siapa?"


"Axel."


"Siapa dia?"


"Dia sudah di negara ini," ujar Raiza.


"Nona, ayo kita ke mobil!" ajak Andra.


Raiza mengangguk dan mengikuti ajakan sopirnya.


Di dalam mobil, Andra menyodorkan air mineral yang sudah ia buka tutup botolnya. "Minumlah, Nona!"

__ADS_1


__ADS_2