
Hari ini Sella bekerja di Arta Fashion sebagai resepsionis. Lamarannya sudah ia serahkan beberapa minggu yang lalu dan baru diterima kemarin.
Dengan semangat ia berangkat ke kantor bersama Rista yang lebih dahulu bekerja di perusahaan fashion terbesar di negeri ini.
"Aku ke ruangan ku, kau pergilah temui kepala bagian karyawan," ujar Rista.
"Baiklah."
-
Sejam kemudian Sella sudah berada di area kerjanya. Darren dan Yuno baru saja melewati dirinya. "Ya ampun, tampan sekali!" gumamnya.
"Ini alasan aku bertahan kerja di sini!" bisik temannya.
"Alasan aku bekerja di sini karena melihat ketampanan sekretaris Presdir," ujarnya.
"Sepertinya sulit untuk mendekati mereka!"
"Ya, kau benar."
Suara deheman membuat kedua karyawan menoleh.
"Kalian menggosip saja!"
"Maaf, Nona!" ucap teman satu kerjaan Sella.
"Jangan sampai kalian ditegur Presdir!" ujar kepala karyawan.
"Baik, Nona."
...----------------...
Natasha tiba lebih dahulu bersama Varrel di Arta Fashion. Ya, sahabatnya itu yang menemaninya selama proses pemotretan.
Dari kejauhan Sella menyipitkan matanya melihat kedatangan pria yang berada di sebelah model terkenal. "Kenapa dia bersama Natasha?" dalam hati bertanya.
Varrel yang berjalan berdampingan dengan Natasha menoleh sekilas wanita yang berada di meja resepsionis.
Dengan cepat Sella membalikkan badannya, ia tak mau pria itu tahu kalau dia bekerja di Arta Fashion.
"Ada apa, Rel?" tanya Natasha
"Tidak ada, Na," jawabnya.
Keduanya pun melanjutkan langkahnya ke ruang studio kebetulan mereka berpapasan dengan Yuno yang baru saja keluar dari lift.
Sejenak Natasha dan Yuno saling pandang, namun tak ada sapaan hanya Varrel yang memberikan senyuman dan dibalas pria itu.
Natasha tetap bersikap cuek, ia memilih membuang wajahnya saat pria itu menoleh ke belakang.
Sementara itu Rista sedang sibuk menyiapkan pakaian yang akan digunakan sang model. Natasha menggunakan rancangannya dan desainer lainnya. Ia juga menunggu wanita cantik itu berias.
"Rista, bolehkah aku minta tolong?" pinta Natasha.
"Tolong apa, Nona?"
"Teman ku menunggu di sana, bisakah kau memberikannya minuman padanya?"
"Bisa, Nona. Baiklah, saya akan memberikannya."
"Terima kasih, Rista."
"Sama-sama, Nona."
Rista pun menghampiri Varrel dan menyodorkan sebotol minuman air mineral lalu dibalas pria itu dengan ucapan terima kasih.
"Apa anda ingin minum kopi atau jus?" tawar Rista.
"Tidak, ini saja." Varrel tersenyum.
"Baiklah," Rista pun membalasnya juga dengan senyuman. Ia lalu duduk di sebelah pria itu.
"Apa kau sudah lama bekerja di sini?" tanya Varrel.
__ADS_1
"Baru berjalan tiga bulan," jawabnya.
"Hasil rancanganmu sangat bagus, kakakku sangat menyukainya," ungkap Varrel.
"Benarkah? Wah, penghargaan buatku jika desain disukai kakakmu," ucap Rista tersenyum senang.
"Apalagi ketika Natasha yang memakainya sangat cantik sekali," pujinya sambil menatap wanita yang sedang bersiap di depan kamera.
"Apa anda kekasihnya?" tanya Rista.
Varrel menggelengkan kepalanya.
"Anda terlihat sangat cocok dengan Natasha," ujar Rista.
"Menurut kau!" Varrel membuka tutup botol lalu meminumnya. "Tapi kenyataannya tidak, dia menyukai pria lain," lanjutnya.
"Benarkah? Siapa dia?" Rista penasaran.
"Kau seperti wartawan saja," Varrel tertawa kecil.
"Saya mengidolakan Natasha, jadi ingin tahu saja siapa pria yang disukainya itu," ujarnya.
"Ini rahasia," Varrel tersenyum.
Rista mendengus kesal membuat pria itu tertawa.
"Kau sangat lucu, jika wajahmu begitu!" candanya.
"Jangan menghinaku, Tuan!" Rista memanyunkan bibirnya.
"Maaf, sebenarnya kau sangat cantik!" pujinya.
Darren dan sekretarisnya hadir di studio, matanya melihat Rista sedang mengobrol dan sangat akrab dengan seorang pria. Wajahnya mendadak kesal, "Dia siapa?"
Yuno mengikuti arah pandangan atasannya itu. "Dia temannya Natasha, Tuan."
"Dari mana kau tahu?" bertanya lagi.
"Kami tidak sengaja pernah bertemu," jawab Yuno.
"Saya tidak tahu, Tuan." Jawab Yuno lagi.
Presdir berjalan mendekati Rista, melihat kehadirannya wanita itu lantas bergegas berdiri. "Aku memberikan gajimu, bukan untuk bersantai."
"Maaf, Tuan." Rista menundukkan pandangannya.
"Segera ke ruangan ku!" perintah Darren kemudian berlalu.
Rista mengikuti langkah Presdir. "Tapi, Tuan. Saya sedang mengurus keperluan Nona Natasha," jelasnya.
"Aku akan menyuruh karyawan lainnya untuk mengurusnya," ucap Darren tanpa menoleh dan terus berjalan.
Rista akhirnya pasrah dan mengikuti kemauan atasannya itu.
"Duduk!" perintahnya.
Rista pun duduk setelah mengikuti prosedur sebelum masuk ke ruangan Presdir.
"Kau tahu kesalahanmu?"
"Tidak, Tuan."
"Kau tidak tahu?" tanya Darren lagi.
Rista menggelengkan kepalanya.
"Aku cemburu, Rista!" Darren berkata tanpa sadar.
"Tuan, bicara apa?"
"Tidak ada," jawab Darren dengan cepat.
"Ya, ampun. Saya senang sekali jika anda cemburu," Rista tersipu malu.
__ADS_1
"Jangan mimpi!"
"Jujur saja pun tidak masalah," Rista mengedipkan mata genit.
"Sudah sana, kembali lanjutkan pekerjaanmu!" Darren tampak salah tingkah.
"Tuan, tidak jadi menyuruh saya?"
"Tidak, pergilah!"
"Baiklah," Rista berdiri lalu melambaikan tangan dengan senyuman menggoda.
"Kau sangat tidak menarik dengan senyum begitu," ujarnya.
"Tapi, pria lain senang melihat saya tersenyum begini," Rista sengaja berkata begitu untuk memancing Darren.
"Kau tidak boleh tersenyum seperti itu lagi!" larangnya.
"Kenapa tidak boleh, Tuan?"
"Sudah sana pergi ke studio, sekarang juga!"
"Baiklah, Tuan." Rista pun meninggalkan ruang Presdir.
-
Dengan wajah berseri Rista berjalan menuju studio, ia menyapa setiap karyawan yang berpapasan.
"Sepertinya lagi bahagia," ujar Yuno.
"Sangat, sangat, sangat bahagia!" Rista sengaja mengulang-ulang ucapannya.
"Apa yang membuatmu bahagia?" Yuno penasaran.
Rista menoleh kanan kirinya lalu berkata pelan, "Presdir cemburu denganku!"
Yuno menatap Rista tidak percaya.
"Tuan, tidak yakin?"
Yuno menggelengkan kepalanya.
"Presdir cemburu karena saya bicara dengan temannya Nona Natasha," jelasnya.
"Apa sekarang dia semudah itu jatuh cinta pada gadis ini?" Yuno bertanya dalam hati sambil menatap heran.
"Saya pergi ke ruang ganti dulu 'ya, Tuan!" Rista pun berlalu.
-
Natasha selesai melakukan pemotretan, Varrel membantu membawakan barang-barang miliknya. Keduanya berjalan ke parkiran.
Varrel melihat Sella ia lantas meminta izin kepada Natasha dan temannya itu menunggu di parkiran. "Kau kerja di sini?"
Sella mendongakkan kepalanya menatap Varrel yang sudah berdiri di dekat meja kerjanya. Sella memaksakan tersenyum.
"Kita ternyata jumpa lagi di sini," ujar Varrel.
Sella tak bicara hanya tersenyum saja.
"Apa motormu sudah bisa digunakan?" tanyanya.
Sella akhirnya menjawab, "Terima kasih sudah membantu. Aku janji akan menggantinya!"
Yuno datang menghampiri meja resepsionis, "Sella!" panggilnya. Namun matanya menoleh ke arah Varrel.
"Ya, Tuan." Sella berdiri dengan sikap sempurna.
"Presdir akan makan siang setelah dia tak kembali ke kantor, jika ada yang mencarinya katakan untuk datang besok lagi," ujar Yuno.
"Siap, Tuan!" Ucap Sella dan sekretaris pribadi Darren itu pergi.
"Masalah ganti rugi, tak perlu dipikirkan. Aku ikhlas membantumu," Varrel kemudian berlalu.
__ADS_1
Sella mengerucutkan bibirnya. "Aku akan mengganti uangmu, tenang saja!" gumamnya.