
Sella memberikan alasan Rista melarangnya kepada Raisa dan wanita itu memakluminya.
"Mungkin aku juga akan melakukan hal yang sama," ujar Raisa.
"Rista sangat mencintai Tuan Darren, tapi karena kesalahpahaman membuat mereka harus berpisah," jelas Sella.
Raisa menarik nafas lalu menghembuskan secara perlahan.
"Nona, Rista tidak tahu menahu tentang masa lalu kakeknya. Dia tulus mencintai Tuan Darren, tak ada maksud lain mendekatinya," ungkap Sella.
"Saya percaya dengan ucapanmu, makanya Darren ingin menebus kesalahannya," ujar Raisa.
"Tapi, saya mohon maaf. Tak dapat memberitahu karena sudah berjanji padanya. Tapi, Nona yakinlah Rista baik-baik saja. Saat ini dia belum memiliki kekasih," ucap Sella.
Raisa tersenyum lalu mengangguk pelan mengiyakan ucapan wanita yang ada dihadapannya itu.
-
Raisa mengantarkan Sella kembali ke tempat kerjaannya, ia lalu berjalan ke ruangan kerja adiknya.
Sesampainya di sana Darren menyambutnya dengan antusias.
"Bagaimana, Kak? Apa dia memberi tahu di mana Rista berada?" cecar Darren.
Raisa menggelengkan kepalanya.
Senyuman Darren seketika memudar.
"Dia baik-baik saja dan belum memiliki kekasih, jadi kesempatan dirimu untuk mendapatkannya kembali masih terbuka lebar," tutur Raisa.
__ADS_1
"Bagaimana aku bisa mendapatkan kesempatan itu sedangkan dirinya saja ku tak tahu di mana," ujar Darren.
"Kamu harus sabar, perlahan Rista akan membuka hatinya kembali. Kamu harus mencari tahu dan selalu bertanya kepada Sella, pasti suatu saat wanita itu akan luluh dan kasihan padamu lalu memberi tahu keberadaan Rista," saran Raisa.
"Ya, Kak."
"Kalau begitu, kakak mau pamit pulang. Semoga kekasihmu itu segera ditemukan," Raisa tersenyum.
Darren tersenyum tipis.
Raisa pun pergi meninggalkan perusahaan keluarganya.
Tak lama setelah Raisa pergi, Darren memanggil Yuno ke ruangannya.
Pria itu pun bergegas menemui Presdir. "Ada perlu apa?"
"Aku ingin meminta bantuanmu," jawabnya.
"Ikuti gerak-gerik Sella!" perintahnya.
"Apa!" Yuno tidak percaya. "Aku tidak mau, untuk apa mengikutinya. Ku seperti penguntit saja, bagaimana jika Natasha tahu? Pasti dia akan marah padaku, aku tak mau mengikuti perintahmu ini!" tolaknya.
"Hanya itu cara kita mengetahui di mana Rista berada," ujar Darren.
"Aku tetap tidak mau, belum tentu Sella dan Rista bertemu. Mereka bisa hanya berkomunikasi melalui telepon atau media sosial," jelas Yuno.
"Kalau begitu temani aku dalam pengintaian ini," pinta Darren.
"Aku tidak mau, Darren!"
__ADS_1
"Aku akan memberikan bonus sepuluh persen dari gajimu!" Darren memberikan iming-iming.
Yuno tampak sejenak berpikir lalu berkata, "Baiklah!"
Darren tersenyum puas.
-
-
Sepulang kerja, Darren dan Yuno mengikuti Sella ke rumahnya. Mereka tidak menggunakan mobil melainkan menaiki taksi. Dari jauh keduanya mengamati kegiatan wanita itu sehari-hari.
Yuno dan Darren turun dari taksi menatap dari kejauhan kediaman Sella.
Yuno akhirnya pun bertanya pada warga di sekitaran tempat tinggal sembari menunjuk foto Rista. "Maaf, apa anda pernah melihat wanita ini di sekitar sini?"
"Beberapa bulan lalu, wanita ini sering ke sini tapi dia selalu ke sana!" menunjuk kediaman Sella.
"Kira-kira dalam sebulan terakhir , apa pernah nampak dia berkunjung ke tempat ini?" tanya Yuno lagi.
"Sepertinya dalam dua bulan ini, saya tidak pernah melihat dia di sini."
"Begitu, ya. Kalau begitu, terima kasih." Yuno tersenyum lalu menghampiri Darren.
"Apa dapat informasi tentangnya?"
"Kata pemilik warung itu, dua bulan ini Rista tak pernah kemari," jawabnya.
Darren memijit keningnya, "Di mana lagi aku harus mencarinya?" gumamnya.
__ADS_1
"Satu-satunya orang yang mengetahui keberadaan Rista cuma Sella," ujar Yuno.
"Ya, aku tahu tapi dia tak mau buka suara," tutur Darren.