Jangan Mengejarku, Cantik!

Jangan Mengejarku, Cantik!
S2-bagian 3


__ADS_3

Gedung Arta Fashion


Darren dan beberapa jajaran direksi perusahaan sedang mengadakan rapat bersama. Mereka akan mencari dan menentukan model yang menjadi brand ambassador Arta Fashion.


"Bagaimana kalau tahun ini kita menggunakan model seorang pria?" usul karyawan wanita yang usianya 25-an.


"Model pria sepertinya pernah dilakukan ketika Nona Raisa Artama menjabat sebagai wakil CEO, Tuan." Ungkap seorang pria yang usianya sebaya dengan kakak iparnya Darren, suami dari Raisa.


"Ya, model itu sekarang menjadi kakak iparku. Setelah itu kita tak pernah memakai jasa model seorang pria sebagai brand ambassador kecuali sebagai pendukung model utama," tuturnya.


"Iya, Tuan. Bagaimana dengan usulan saya?" tanya karyawan wanita itu lagi.


"Kira-kira siapa model pria yang pantas menjadi brand ambassador kita?" tanya Darren.


"Saya mempunyai beberapa nama model yang akan menjadi calon brand ambassador kita," jawabnya.


"Silahkan sebutkan namanya!" perintah Darren.


"Baik, Tuan!" wanita itu pun menjelaskan satu persatu prestasi dari model tersebut.


Hampir 30 menit, Darren mendengar dan menanyakan semuanya tentang para calon model.


"Bagaimana, Tuan? Siapa yang akan kita pilih?" tanya wanita itu lagi.


"Saya akan pikirkan lagi, rapat selesai!" Darren mengakhiri pertemuan.


Darren berjalan ke ruangannya di sampingnya ada sekretarisnya.


"Kenapa kau tidak memberikan keputusan?" tanya Yuno.


"Kalau untuk model pria aku sedikit kesulitan," jawabnya.


"Apa karena mereka tampan dan masih muda?"


Darren menyipitkan matanya.


"Iya, aku sadar kalau kita sudah tua," ujar Yuno tersenyum. Ia membukakan pintu ruang kerja Presdir.


"Aku memiliki dua orang putri yang sudah remaja, ku takut mereka suka dengan model pria itu. Belum lagi, Kak Raisa mempunyai Raiza. Kau tahu 'kan, bagaimana Papaku melarang kami berhubungan dengan seorang artis," jelas Darren di ruangannya.


"Ya, aku tahu bagaimana Paman Devan sangat selektif mencari pasangan buat kalian," ujar Yuno.


-


-


Malam harinya Darren dan istrinya sengaja datang ke rumah Raisa untuk menanyakan pendapat kepada kakak kandungnya itu.


Selesai makan malam bersama keempatnya berkumpul di ruang tamu. Darren membawa putra bungsunya yang kini berusia 8 tahun.


"Apa yang kalian ingin bicarakan?" Eza membuka percakapan.


"Kami ingin menanyakan pendapat kalian tentang brand ambassador Arta Fashion," jawab Darren.


Eza dan istrinya saling pandang.


"Kami ingin membuat gebrakan baru kalau tahun ini berencana akan memakai model pria," ujar Darren.


"Apa kamu sudah memberi tahu hal ini kepada Papa?" tanya Raisa.


Darren menggeleng.


"Cucu Papa kebanyakan perempuan, apalagi putri kami Raiza sudah beranjak dewasa. Pasti ini akan menjadi ketakutan buat Opa, jika sewaktu-waktu Raiza jatuh hati pada seorang model pria," ujar Raisa.


"Aku juga memikirkan hal itu, Kak," ucap Darren.


"Masalah Raiza jatuh hati kepada siapa saja itu tak masalah bagiku. Terpenting adalah putri kami bahagia dan dia sepaham dengan kita," tutur Eza.


"Bagi kami begitu juga, tapi Papa tidak bisa ditentang," ujar Darren.


"Brand ambassador seorang pria itu cukup membuat Arta Fashion lebih berwarna. Sekarang banyak iklan pencerah wajah memakai jasa model pria apalagi kita yang menjual pakaian, tas, sandal dan sepatu," sahut Rista.


"Aku berencana begitu," timpal Darren.


"Apa aku boleh bergabung dengan kalian?" Raiza menyapa keempatnya.


"Ya, Za. Sini gabung dengan kami!" Darren menggerakkan telapak tangannya memanggilnya.


Raiza duduk di sebelah Eza.


"Coba tanya Raiza, mana tahu dia bisa memberikan usulan," Rista mengarahkan pandangannya kepada keponakan suaminya.


"Usulan apa ini, Bibi?" tanya Raiza.


"Begini, Za. Arta Fashion ingin mencari model pria, apakah kamu setuju?" jelas Rista.

__ADS_1


"Kenapa tanya aku? Ku tidak mengerti tentang hal itu," ujar Raiza.


"Menurut kamu, model pria saat ini yang sedang naik daun siapa?" Raisa bertanya pada putrinya.


Raiza tampak berpikir lalu ia menyebutkan sebuah nama, "Andrean Wijaya."


Keempat orang dewasa tersebut menoleh ke arah Raiza.


"Usulan nama itu juga di sebut salah satu karyawan saat rapat," ujar Darren.


"Tapi, kenapa kamu menyebutkan nama itu? Padahal kamu hanya suka drama luar saja," cecar Raisa.


"Kebetulan saja aku pernah bertemu dengannya beberapa kali," jelas Raiza.


"Kamu pernah bertemu dengannya berkali-kali, tapi tidak memiliki hubungan spesial, kan?" tanya Eza.


"Tidaklah, Pa. Aku hanya tahu ketika Tere dan Niken menyebutkan namanya," jawab Raiza.


"Apa aslinya dia sangat tampan?" Rista tampak antusias.


Darren berdehem mendengar pertanyaan istrinya.


Rista tersenyum nyengir, "Aku ingin tahu saja. Mana tahu dia cocok dengan Arta Fashion.


"Iya, Nak. Orangnya seperti apa?" tanya Raisa.


Raiza mengingat saat dirinya di ruangan itu berdua bersama dengan Andrean. "Dia tinggi, putih, mancung dan sangat tampan!"


"Hah!" Keempatnya kaget sampai menutup mulut.


"Kenapa terkejut?" Raiza menatap heran orang tuanya dan paman serta bibinya.


"Kamu tidak menyukainya, kan?" tanya Raisa.


"Ya, tidaklah. Tere dan Niken mengatakan pria itu begitu, aku hanya menyampaikan apa yang mereka katakan," jawab Raiza santai.


Keempatnya menghela nafas lega.


"Mama dan Papa takut kalau aku menyukai seorang artis?" tanya Raiza.


"Ya, Nak." Jawab Raisa.


"Aku ingat dengan kata-kata Opa, Ma."


"Syukurlah," ucap Darren lega.


"Ya, benar. Apalagi kedua putriku tidak mungkin ke Arta Fashion, mereka sepulang sekolah lebih memilih membaca buku dan berolahraga," ujar Darren.


"Jadi, siapa yang akan menjadi modelnya?" tanya Rista.


"Andrean Wijaya," jawab Darren.


Mendengar jawaban pamannya membuat Raiza mendelikkan matanya tak percaya. "Kenapa harus dia?"


"Sepertinya dia cocok, ku dengar dari beberapa teman artis kalau Andrean sosok profesional dan sangat ramah," jelas Eza.


"Ya, kata karyawan dia salah satu artis pria yang mendapatkan penghargaan dari luar negeri," jelas Darren.


"Sudah, tunggu apalagi kita harus mendapatkan dia sebelum di kontrak perusahaan saingan," sahut Rista.


"Ya, sebelum Karisma Fashion mengambilnya," celetuk Darren.


"Kenapa harus bawa-bawa perusahaan Oma?" protes Rista.


"Walaupun kita bersaudara tapi tetap menjadi saingan," jawab Darren.


"Mereka sudah menggunakan aktor luar negeri untuk produknya, kamu tenang saja," ujar Rista.


"Oh, ya. Wah, hebat pasti aktor luar itu sangat tampan sekali," celetuk Raiza.


"Za!" Eza mengingatkan putrinya.


"Papa tenang saja, aku tidak akan jatuh hati padanya," ujar Raiza.


"Papa pegang ucapan kamu itu, ya!" ujar Eza.


Raiza menunjukkan 1 jempol tangannya, tanda mengiyakan.


...----------------...


Beberapa hari kemudian...


Darren memanggil Yuno ke ruangannya untuk menanyakan tentang calon model brand ambassador terbaru.


"Apa kau sudah menghubungi manajemennya?"

__ADS_1


"Sudah, siang ini mereka akan kemari."


"Baguslah, kalau mereka setuju segera buat surat kontraknya," titah Darren.


"Baik," Yuno pun pamit keluar ruangan.


-


-


Siang harinya Andrean datang ke Arta Fashion bersama manajer dan asistennya. Ketiganya bertemu dengan Yuno.


Setelah menjelaskan isi kontrak dan pihak Andrean menyetujuinya akhirnya keduanya sepakat bekerja sama.


Selesai menandatangani kontrak, Andrean dan timnya pulang. Baru menuruni eskalator, pria itu melihat Raiza berjalan berdampingan dengan seorang pria lanjut usia keduanya saling berpegangan tangan.


"Ndre, sepertinya itu gadis yang ada bersamamu waktu itu!" ujar manajer.


Andrean ikut menatap dari kejauhan, "Iya!"


"Tapi siapa pria tua yang ada disampingnya?"


"Aku tidak tahu," jawab Andrean berjalan ke parkiran.


"Apa dia gadis yang hobinya menggoda lelaki tua untuk mengejar hartanya?"


"Aku tidak tahu, jika kau penasaran lebih baik tanyakan saja," jawab Andrean kesal, ia masuk ke mobilnya.


"Tapi, wajah mereka seperti mirip," ujar manajer yang bernama Bayu.


"Sudah cukup dengan pertanyaanmu itu!" Andrean mengakhiri percakapannya.


Sementara itu, Darren bergegas turun menemui papanya.


"Hai, Paman!" sapa Raiza.


Darren mengernyitkan keningnya, "Kenapa kamu di sini?" tanyanya berbisik.


"Opa ingin ke sini, jadi ku datang untuk menemaninya," jawab Raiza tanpa salah.


Darren mengarahkan pandangannya kepada Devan. "Ada perlu apa ke sini, Pa?"


"Kita bicara di ruangan," jawabnya. "Raiza, ikut Opa juga," ajaknya kepada cucunya.


Raiza pun ikut ke ruangan kerja pamannya.


Andra menunggu di parkiran bersama sopir pribadi Devan.


Selain mereka bertiga ada juga Yuno di dalam ruangan itu.


"Ada hal apa yang ingin Papa sampaikan?" tanya Darren.


"Apa benar kamu memakai model pria?" tanya Devan.


"Dari mana Papa tahu?" batinnya bertanya.


Darren dan Yuno mengarahkan tatapannya kepada Raiza.


"Darren, kenapa pertanyaan Papa tak di jawab?" tanya Devan lagi.


"Iya, Pa. Kami ingin Arta Fashion memiliki wajah baru dengan menggunakan brand ambassador seorang pria," jawab Darren.


"Bukankah Papa sudah mengingatkan kepadamu untuk tidak memakai jasa model pria?" omelnya.


"Iya, Pa. Tapi, percayalah cucu Papa takkan jatuh hati padanya," jawab Darren.


Raiza yang di sebut namanya hanya tersenyum nyengir.


"Benar, Raiza? Kamu tidak akan menyukai model Arta Fashion, kan?" tanya Devan melihat ke arah cucunya.


"Iya, Opa. Aku janji," jawabnya.


"Baiklah, jika kamu sudah berjanji. Tapi, kamu tahu akibatnya 'kan apabila melanggarnya," ujar Devan.


"Iya, Opa." Raiza tersenyum santai.


Devan berdiri di bantu Raiza. "Ayo kita pulang!" ajaknya.


"Iya, Opa."


Darren mengantarkan papa dan keponakannya di depan pintu gedung perusahaan.


Setelah Devan pergi, Darren dan Yuno akhirnya bisa bernafas lega.


"Syukurlah Paman Devan tidak marah," ujar Yuno.

__ADS_1


"Ya, ini pasti Raiza yang bicara. Kalau tidak mana mungkin Papa bisa tahu kalau kita menggunakan model pria," tudingnya.


"Tentunya, kalau tidak mana mungkin Paman datang bersama dia," ucap Yuno.


__ADS_2