Jangan Mengejarku, Cantik!

Jangan Mengejarku, Cantik!
Natasha Dijodohkan


__ADS_3

Lusi menjambak rambut wanita yang lebih muda darinya. Beberapa orang yang berada di dekatnya berusaha memisahkan keduanya.


"Bu, cukup!" sentak Elisa.


Petugas keamanan mall menghampiri mereka dan memisahkan Lusi yang marah-marah.


"Hei, nenek tua! Apa kau tidak tahu malu?" hardik Nikita.


"Hei, gara-gara kau suamiku ditahan dan aku harus kehilangan bayiku!" jawab Lusi dengan nada tinggi.


"Tolong, jangan buat keributan di sini!" bentak salah satu penjaga keamanan. "Jika ingin membuat keributan silahkan di luar atau kami akan melaporkan kalian kepada pihak berwajib!" lanjutnya.


"Ayo Nikita, kita pergi dari sini!" Martha mengajak putrinya dan ketiga pelayannya ikut menyusulnya.


Tubuh Lusi di dekap Elisa dengan erat. "Ibu malu dilihatin orang," ucapnya pelan.


"Wanita itu yang sudah membuat ayahmu di penjara!" ujar Lusi dengan nada emosi.


"Bu, tenanglah. Ayo kita pulang!" ajak Elisa dengan lembut.


Keduanya pun pulang, sesampainya di rumah Lusi duduk dan masih menahan amarahnya. Elisa mengambilkan air putih lalu ia sodorkan kepada ibunya.


Lusi meminumnya, "Ibu sudah menahan marah ini berpuluh tahun yang lalu!"


"Bu, ayah juga bersalah karena mau bekerja sama dengan wanita itu melakukan kejahatan," jelas Elisa.


"Ayahmu melakukan itu demi kamu juga!" sentak Lusi.


"Bu, aku tidak minta ayah berbuat kejahatan untuk memenuhi kebutuhan ku," ujar Elisa.


"Wanita itu sungguh licik, dia membiarkan ayahmu di penjara selama dua tahun tapi melupakan janjinya untuk membiayai kehidupan kita. Ibu tak bisa mempertahankan adikmu karena dia," ungkap Lusi dengan emosi.


"Bu, sudah cukup. Semua telah berlalu, adikku juga tak mungkin kembali begitu juga dengan ayah," ucap Elisa.


"Mereka semua yang telah mengambil kebahagiaan aku!" Lusi masih belum bisa memaafkan. Ia lantas berdiri kemudian berlalu ke kamarnya.


Elisa menghela nafas pasrah.


-


Sementara itu, Nikita dan ibunya berada di dalam mobil.


"Kenapa kita harus bertemu dengan wanita itu lagi, Ma?" Nafas Nikita masih ngos-ngosan.


"Mama juga tidak tahu, padahal kejadian itu sudah lama. Kamu telah menjalankan hukuman seperti suaminya, tapi kenapa dia masih menyimpan dendam pada kita," tutur Martha.


"Dia menyebut bayiku meninggal karena kita, aku benar-benar tidak mengerti dengan ucapannya," ujar Nikita.


"Mama pun juga bingung, semoga saja kita tidak bertemu dengan dia lagi," harap Martha.


"Ya, semoga saja."


"Oh ya, apa kamu sudah memberikan pelajaran kepada bocah itu?"


"Sudah, Ma."


"Bagaimana kalau dia tidak menyerah?"


"Aku akan tetap memisahkan mereka!"


"Bagaimana kalau kita jodohkan saja Natasha?" usul Martha.

__ADS_1


"Dijodohkan? Dengan siapa?"


"Mama punya kenalan, putranya seorang pengusaha."


"Aku setuju dengan usul Mama," ujar Nikita tersenyum.


-


-


Rista pulang diantar oleh Darren sampai di depan pintu. Lusi kebetulan keluar untuk menyiram tanaman. Wanita tua itu tak tersenyum ketika keduanya menyapanya.


"Lebih baik kamu pulang sekarang!" bisik Rista di telinga kekasihnya.


"Baiklah kalau begitu aku pamit!" Darren kemudian berlalu.


"Sepertinya kalian sangat akrab," sindir Lusi.


"Kebetulan rumah kami searah," jawab Rista berbohong.


"Oh, begitu!" ucap Lusi ketus.


Rista bergegas ke dalam rumah, ia pun meraih gelas yang ada di meja makan dan menuangkan air kemudian ia meminumnya.


"Kamu sudah pulang!" Elisa muncul di dapur dan melihat putrinya di meja makan.


"Nenek kenapa, Bu?" tanya Rista.


"Nanti Ibu ceritakan," jawabnya.


"Ibu sudah dua kali berjanji kepadaku untuk menjelaskan semuanya, tapi satu pun belum ada yang dijelaskan!"


"Belum waktunya, Nak. Tunggu nenek pulang ke kampung, ibu akan ceritakan semuanya," ujar Elisa.


...----------------...


Sarapan pagi seperti biasa dilakukan keluarga besar Daniel. Namun, Natasha lebih banyak diam.


"Apa nanti malam kamu ada jadwal kosong?" tanya Nikita pada putrinya.


"Ada, Ma," jawabnya.


"Mama ingin mengajak kamu makan malam," ujar Nikita.


Daniel segera menoleh ke arah istrinya.


"Maaf kalau dadakan seperti ini, sebenarnya teman Mama ingin bertemu dengan kamu," tuturnya.


"Tasha akan menemani Mama dan Papa makan malam bersama," ujar Natasha.


"Mama senang mendengarnya," Nikita tersenyum.


-


Malam harinya Nikita beserta keluarganya tiba di restoran yang telah dijanjikan. Keempatnya telah disambut sepasang suami istri dan seorang pria muda.


"Selamat malam!" sapa wanita paruh baya sebaya dengan mamanya Natasha.


"Malam juga, Angel!" Nikita membalasnya tersenyum.


Mereka saling berjabat tangan begitu juga dengan Natasha dengan pria muda itu.

__ADS_1


"Ini putri kamu!" Angel menatap Natasha yang tersenyum padanya.


"Ya, dia cantik, kan?" Nikita melirik putrinya.


"Lebih cantik daripada di televisi," puji Angel.


"Terima kasih, Tante!" Natasha tersenyum tipis.


Hidangan pun telah disediakan, mereka menikmati makan malam bersama.


"Bagaimana dengan pembicaraan kita semalam di telepon?" tanya Martha.


"Saya menyerahkannya kepada putra kami," jawab Angel. "Nak, apa kamu mau dijodohkan dengan Natasha?" tanyanya pada putranya.


Wanita yang disebut namanya menghentikan suapannya, lalu menatap Nikita.


"Aku mau dijodohkan dengan Natasha, Ma." Jawab pria yang bernama Abram.


"Maaf, saya menolaknya!" Natasha memotong pembicaraan.


"Tasha!" Nikita merapatkan giginya menyipitkan matanya karena tak suka putrinya menolak perjodohan.


"Saya sudah memiliki kekasih dan saya sangat mencintainya," ujar Natasha.


"Tasha, Abram pantas untuk kamu!" ucap Nikita.


"Tante, maaf saya tidak bisa menikah dengan wanita yang di dalam hatinya ada pria lain," ujar Abram.


"Tante Martha, Nikita, kita tak bisa memaksakannya. Natasha punya pilihannya sendiri. Jadi menurut kami sebagai orang tua Abram membatalkan perjodohan ini," ucap suami Angel.


Nikita dan Martha sangat kecewa menerima keputusan ini.


-


Begitu sampai rumah, Nikita berjalan cepat menuju kamarnya. Daniel mendekati putrinya menepuk pelan bahunya.


"Pa, kenapa Mama ingin sekali memisahkan kami?" tanyanya lirih.


"Mama sangat keras kepala, kamu harus sabar. Papa akan selalu berada di dekatmu dan membantumu untuk mendapatkan restu darinya," ujar Daniel.


"Terima kasih, Pa."


"Ucapan yang kamu katakan itu sangat memalukan, Tasha!" ucap Martha.


"Ma, Natasha berhak memilih bahagia dengan siapa pun," sahut Daniel.


"Kamu menolak keluarga mereka, itu sudah mencoreng nama baik Oma!" hardik Martha.


"Aku minta maaf, Oma!" Natasha berucap lirih.


"Abram itu lebih baik daripada kekasihmu yang hanya sekretaris Presdir. Apa kamu tidak pikirkan masa depanmu?" Martha begitu membanggakan keluarga pria yang akan dijodohkan kepada Natasha.


"Ma, sudah larut malam. Sudahi perdebatan kita hari ini!" sahut Daniel.


"Ajarkan putrimu untuk menghormati orang lain!" Martha berkata lantang.


"Oma juga tidak menghormati Yuno. Tapi, menyuruhku menghormati orang lain," celetuk Natasha.


"Jangan sebut nama anak itu di rumah ini!" sergahnya.


"Tasha, lebih baik kamu ke kamar dan beristirahatlah. Pekerjaanmu telah menunggumu. Perdebatan ini takkan selesai sampai besok pagi," Daniel pun berlalu.

__ADS_1


Natasha pun meninggalkan Oma Martha dengan wajah murung.


Di kamar dia menangis terisak, "Oma dan Mama sama saja. Tidak pernah memikirkan perasaan aku!" ucapnya lirih.


__ADS_2