
Darren akhirnya tahu di mana alamat rumah Rista yang baru, ia memberanikan diri untuk mendatanginya.
"Selamat sore, Tuan. Cari siapa?"
"Saya ingin bertemu dengan Ayumi Charista."
"Oh, Nona Ayumi. Kalau boleh saya tahu anda siapa?"
"Darren."
"Baiklah saya akan memanggilnya!" pelayan tersebut masuk ke dalam rumah dan memberi tahu siapa tamunya.
Tak lama pelayan wanita itu keluar dan mempersilakan Darren untuk memasuki rumah.
Darren hanya berdiri saja di ruang tamu.
Rista turun hanya menggunakan piyama tidur. "Ada apa malam-malam anda ke sini?"
Darren memperhatikan Rista dari atas sampai bawah.
"Kau hanya ingin melihatku saja?"
Darren membuang wajahnya mendengar pertanyaan menohok.
"Hei, kau jika ingin diam saja lebih baik pulang," ujar Rista.
"Aku mau minta maaf padamu!" Darren berkata dengan sangat cepat.
"Kau bicara apa tadi? Aku tidak mendengarnya!" Rista mendekati Darren.
"Aku mau minta maaf!"
Rista tertawa mendengar ucapan permintaan maaf dari seorang Presdir. "Apa aku tidak salah dengar?"
Darren mendengus kesal.
"Kau minta maaf untuk apa? Apa kau telah melakukan kesalahan?" tanya Rista.
"Jangan mempermainkan aku, Rista!" menekankan kata-katanya.
"Hei, siapa yang mau mempermainkan kau? Aku cuma bertanya, kesalahan apa yang kau buat sehingga meminta maaf padaku?"
"Aku telah menuduhmu kemarin sore," jawab Darren.
"Oh, itu. Akhirnya kau sadar juga, baiklah aku memaafkanmu," ujar Rista.
"Terima kasih!" Darren berkata lirih.
"Sekarang silahkan pulang!" pinta Rista.
Darren melihat ke arah jendela, hujan turun sangat deras.
"Tunggu apalagi, silahkan keluar dari rumahku!"
"Di luar sedang hujan," ucapnya pelan.
"Ya, aku tahu. Tapi, tidak mungkin kau tidur di sini, bukankah aku ini pengkhianat?"
Tanpa menjawab Darren pun berlalu, mobilnya menerobos jalanan yang gelap karena lampu di pinggir jalan padam. Di tambah angin kencang dan hujan lebat.
...----------------...
Keesokan paginya Rista dan Ibunya sedang menikmati sarapan bersama.
Rista membuka ponselnya, sebuah notifikasi pesan dari Yuno ia dapatkan. Pesan tersebut masuk 2 jam yang lalu.
__ADS_1
"Ada apa Yuno pagi-pagi sekali mengirimkan pesan kepada ku?" tanyanya dalam hati.
Rista membuka ponselnya dan membaca isi pesannya. Matanya mendadak berair dan ia juga menjatuhkan ponselnya di atas meja makan.
"Rista, ada apa?" Elisa mendekati putrinya dengan wajah cemas.
"Bu!" Rista menumpahkan air matanya.
"Ada apa, Nak?" Elisa memeluk Rista.
"Darren, Bu!" Rista menjawab dengan terbata.
"Kenapa dengan dia?"
"Darren kecelakaan," jawabnya dengan lemas.
"Dari mana kamu tahu?"
"Yuno yang mengabariku, Bu."
"Aku mau ke rumah sakit menemuinya, Bu." Rista mengambil ponselnya.
"Ibu ikut kamu!" Elisa ke kamar mengganti pakaiannya.
Rista mengingat percakapan semalam, kalau Darren mengatakan hujan lebat dan ia malah tetap memaksa pria itu untuk pulang.
Tangis penyesalan kembali tumpah seharusnya ia menyuruh Darren pulang setelah hujan reda.
-
Rumah Sakit Kota A
Rista di dampingi Elisa menyusuri lorong rumah sakit. Yuno yang memberi tahu di mana Darren di rawat.
Tangisnya kembali pecah saat ia memeluk Clarissa. "Maafkan aku, Tante!"
"Tenanglah, semua akan baik-baik saja!" Clarissa mengelus rambut Rista, wanita paruh baya itu tak menanyakan ucapan yang dilontarkan Rista ia hanya berusaha tetap tenang untuk menguatkannya.
Sudah 10 jam tapi Darren belum juga sadar, keluarga bergantian untuk menjenguknya.
Giliran Rista yang kini berada di ruangan rawat khusus itu. Ia duduk di kursi samping ranjang, menatap penuh iba melihat wajah Darren yang pucat dan penuh memar.
"Harusnya aku menahanmu, aku tidak ingat jika kau tak suka mengendarai mobil saat hujan lebat. Maafkan aku!" lirihnya menyentuh tangan Darren.
Rista menghapus air matanya yang terus mengalir.
Rista akhirnya tertidur di sisi ranjang Darren, ia tak mempedulikan ponselnya yang terus berdering.
Clarissa masuk ke ruang rawat putranya ia melihat Rista mengenggam tangan Darren sembari tertidur.
Clarissa mengelus dengan lembut rambut Rista membuat wanita muda itu terbangun.
"Tante, maaf!" Rista hendak berdiri namun ditahan Clarissa.
"Duduk saja, Tante nanti duduk di sana!" menunjuk ke arah sofa.
"Bagaimana bisa Darren kecelakaan, Tante?" tanya Rista pelan.
Clarissa menarik kursi dan duduk bersebelahan dengan Rista lalu menjawab, "Dari orang yang pertama kali menemukan Darren kecelakaan mengatakan mobil menabrak trotoar karena hujan sangat lebat membuat beberapa warga kesulitan mengeluarkan Darren dari dalam."
Rista lantas memeluk tubuh Clarissa dan kembali terisak. "Tante, aku minta maaf. Semua salahku, seandainya aku mengerti dan paham dengan kata-kata yang diucapkannya. Ku pasti akan menahannya."
"Semua sudah terjadi, kita sama-sama berdoa. Semoga Darren segera pulih!"
Rista melonggarkan pelukannya, "Ya, Tante!"
__ADS_1
...----------------...
Rista masih setia menjaga Darren, walau Clarissa sudah menyuruh wanita itu untuk pulang dan beristirahat namun ia tetap bersikukuh.
"Rista, Tante membawakan makanan untukmu. Kamu sarapan dulu, ya!" Clarissa membuka wadah makanan lalu menyodorkannya.
"Tante, aku belum lapar!" tolaknya.
"Kamu harus makan, kalau Darren sadar dan kamu sakit, bagaimana?"
"Mungkin Darren tidak akan peduli padaku, Tante."
"Darren tak seperti itu, mulutnya mengatakan jika kamu pengkhianat tapi hatinya ia sangat menyayangimu. Dia takut saja, jika perusahaannya yang dipimpinnya hancur apalagi Arta Fashion sudah berdiri sejak lama," ungkap Clarissa menjelaskan.
"Aku sekarang paham, Tante." Rista menyeka air matanya.
"Sekarang kamu makan," Clarissa menyuruh dengan kata-kata lembut.
Rista mengangguk mengiyakan.
Tubuh Darren mulai bergerak, Rista yang sedang sarapan mendadak menghentikan aktivitasnya begitu juga dengan Clarissa yang mengelap tubuh putranya.
"Darren.." panggil Clarissa dengan lembut.
Perlahan pria itu membuka matanya dengan cepat Rista menekan tombol memanggil perawat.
Tak lama Dokter dan perawat datang lalu kembali memeriksa Darren.
Rista dan Clarissa memperhatikannya sedikit menjauh dari brankar.
Dokter yang memeriksa tersenyum, ia lalu mengajak Darren berbicara, "Selamat pagi, Tuan!"
Darren hanya mengangguk.
"Orang-orang yang menyayangi anda sangat setia menunggu anda sadar," ucap Dokter lagi.
Clarissa dan Rista mendekat kedua wanita itu tersenyum bahagia karena pria yang mereka sayangi telah sadar.
Tampak mata Darren berkaca-kaca.
Dokter pun berpamitan setelah melakukan pemeriksaan.
Clarissa lantas memeluk putranya, tak terasa air matanya menetes.
"Jangan banyak bicara," Clarissa mengingatkan.
Darren mengangguk.
"Mama mau menelepon Papa, kamu ditemani Rista, ya!" Clarissa pun keluar ruangan menghubungi suaminya.
Rista perlahan mendekati Darren dengan mata berkaca-kaca. "Maaf!" lirihnya.
Air mata Darren menetes, ia belum bisa bicara.
Rista mengambil tisu perlahan mengelap air mata yang jatuh di pipi Darren.
"Harusnya aku menyadari lebih awal ketakutan yang kau rasakan tentang perusahaan dan hujan," ujar Rista.
"Aku terlambat mengetahuinya hingga semua terjadi. Kau sangat membenciku karena aku pergi dan berkarir di perusahaan pesaing Arta Fashion."
"Aku terpaksa melakukan itu, tuduhan dan fitnah yang kau layangkan padaku sangat menyakitkanku!" Rista berkata dengan isak.
Semakin deras air mata Darren menetes di pipi.
"Hei, jangan menangis lagi." Rista mengelap kembali.
__ADS_1
"Aku sangat takut kehilanganmu!" Rista meraih jemari Darren.
"Jujur aku masih mencintaimu!" Rista tersenyum.