
Pagi ini Devan memanggil Andrean dan Andra ke rumah pribadinya. Pria lanjut usia itu marah kepada keduanya.
Devan tahu bahwa cucu kesayangannya itu menjadi model dari berita yang beredar di media online.
"Kenapa kamu menjadikan Raisa model, Darren?"
"Aku minta maaf, Pa. Kami terpaksa memakainya sebagai model pengganti. Tapi, Papa tak perlu khawatir Raiza tidak akan jatuh hati padanya," jawab Andrean.
"Kamu bilang Papa tak perlu khawatir, apa kamu tidak baca berita kalau Raiza pergi bersama dengan pria itu!" tampak geram.
"Untuk hal itu Darren tidak tahu, Pa," berusaha membela diri.
"Itu semua karena kamu, kalau tidak mana mungkin mereka akan dekat seperti itu," kesalnya.
"Sekali lagi minta maaf, Pa. Aku akan menasehati Raiza untuk menjaga jarak," janji Darren.
Tatapan Devan lanjut kepada Andra. "Kenapa kamu membiarkan Raiza pergi bersama model itu seorang diri?"
"Saya mengikutinya dari belakang, Tuan."
"Harusnya kamu melarangnya pergi?" omelnya.
"Nona tidak mau dilarang, Tuan.
"Terus ke mana saja kamu saat cucuku di sentuh orang-orang yang ada di sana!" sentaknya.
"Maafkan saya, Tuan."
"Ini peringatan pertama untukmu, kamu tahu akibatnya jika ada cucuku terluka atau merasa tidak nyaman," ancamnya.
Andra hanya menunduk tanda paham.
-
Setelah dari kediaman Devan, Andra bergegas ke sekolah. Raiza dan kedua sahabatnya telah menunggunya di parkiran.
"Dari mana saja?" Raiza mengomel.
"Maaf, Nona. Saya tadi ke rumah Tuan Besar," jawabnya sedikit menunduk.
"Ada apa dia ke rumah Opa?" Raiza bertanya dalam hati.
"Kita jadi ke lokasi syuting Andrean?" tanya Niken.
"Ya, jadi," Raiza dengan cepat menjawab.
"Untuk apa Nona ke sana?" tanya Andra.
"Kami ingin melihat dia syuting drama," jawabnya.
Andra tersenyum tipis lalu mengangguk pelan.
"Cepat antar kami ke sana!" perintahnya.
"Baik, Nona." Andra membukakan pintu setelah itu ia berlari ke arah pintu pengemudi dan mengendarai kendaraannya.
Sesampainya di lokasi syuting yang hanya berjarak 10 kilometer dari sekolah Raiza, ketiganya keluar dari mobil dengan penuh semangat.
Setelah cukup menjauh, Niken bertanya dengan suara pelan, "Kenapa kau sangat kasar sekali pada Andra?"
"Itu pantas ia dapatkan karena ulah kekasihnya yang selalu mencari masalah," jawabnya.
"Kekasih?" tanya Niken.
"Iya, wanita yang ku ceritakan itu. Kita juga pernah bertemu dengannya di kafe," jelas Raiza.
"Oh, jadi itu yang membuatmu sangat ketus kepadanya," Niken pun paham.
-
Andrean yang tahu Raiza datang, menyambutnya dengan antusias. "Hai, kenapa tidak memberitahu aku jika kalian mau ke sini?"
"Aku ingin memberikan kejutan untukmu!" Raiza tersenyum.
"Aku senang kamu datang ke sini, tunggu setengah jam lagi. Kita bisa mengobrol dengan santai," ujarnya.
"Baiklah," Raiza kembali tersenyum.
Niken dan Tere tampak begitu senang apalagi melihat teman-temannya Andrean yang sangat tampan.
__ADS_1
Tepat 30 menit kemudian, Andrean selesai syuting. Pria itu mengobrol dengan Raiza dan kedua temannya.
Sementara itu Andra menunggu di parkiran lokasi syuting drama sembari mengunyah roti, tangan kirinya mengenggam botol air mineral.
Para wartawan mulai menyerbu sosok artis yang baru saja selesai syuting siapa lagi kalau bukan Andrean.
Raiza dan kedua temannya bergegas menjauh, takut di cecar berbagai pertanyaan dari para awak media.
Jika wajah dirinya terpampang di media, bisa-bisa dirinya dimarahi Opa Devan.
Melihat Raiza mendekatinya, Andra bergegas berdiri. Ia menutup botol minumannya dan membungkus kembali sisa roti yang belum sempat ia habiskan.
Raiza menyaksikan pemandangan yang baru pertama kali dilihatnya Andra memakan roti hanya untuk mengganjal perutnya yang seharusnya memang waktunya makan siang.
"Apa Nona akan pulang sekarang?" tanyanya.
"Ya."
Andra hendak membuka pintu.
"Biar aku saja yang membukakannya," Niken menawarkan dirinya.
"Terima kasih, Nona Niken," ucap Andra.
"Sama-sama," Niken tersenyum.
Setelah mengantarkan kedua temannya, Raiza bertanya kepada Andra. "Kenapa Opa memanggilmu ke rumahnya?"
"Tidak ada apa-apa, Nona."
"Tak mungkin Opa memanggilmu kalau tidak ada alasan," tudingnya.
Andra memilih diam dan tak membalas ucapan Raiza.
Sesampainya di rumah, Raiza dicecar berbagai pertanyaan dari mamanya. "Dari mana saja kamu, Nak?"
"Aku dari rumah Niken, Ma."
"Jangan berbohong, Andra mengatakan jika kamu pergi ke lokasi syuting Andrean!"
"Memangnya itu orang tidak bisa berkata bohong," gerutunya.
"Raiza, Mama sudah memperingatkan kepadamu jangan mendekatinya."
"Ya, awalnya teman lama-lama jadi suka."
"Mama tenang saja, aku tidak akan seperti itu," Raiza tersenyum tanpa menunjukkan giginya, ia pun pergi ke kamarnya.
Eza yang mendengar istrinya mengomel menghampirinya. "Apa yang dilakukan Raiza, sayang?"
"Dia semakin dekat dengan pria itu, ini salah kita membiarkannya menjadi model pengganti."
"Kita akan sama-sama menasehatinya," Eza menenangkan istrinya.
...----------------...
Keesokan paginya, Andra kembali mendapatkan marahan dari Raiza yang sangat kesal karena dirinya telah berkata jujur tentang kegiatan kemarin siang.
"Sekali lagi kau mengatakan yang sebenarnya kepada kedua orang tuaku, aku tidak akan segan membuatmu melepaskan pekerjaan ini!" ancamnya.
"Saya hanya menjalankan apa yang menjadi tanggung jawab saya, Nona."
"Tapi kau tak perlu berkata jujur," sentaknya.
"Maafkan saya, Nona."
Mobil melesat ke sekolah.
-
Sepulangnya, Raiza dan kedua temannya pergi ke kafe.
Ditengah obrolan dan waktu santai ketiganya, mereka dikejutkan dengan suara teriakan dari arah luar.
Seluruh pengunjung kafe dan orang-orang sekitar berlarian ke asal suara.
Seorang ibu muda menangis kala melihat putra kecilnya hampir saja tertabrak mobil.
Andra memeluk bocah berusia 3 tahun di seberang jalan. "Kamu sudah aman, Nak!" lirihnya.
__ADS_1
Andra lalu berjalan menghampiri ibu sang bocah.
"Terima kasih, Tuan," wanita muda itu memeluk putranya sembari menyeka air matanya.
"Saya harap lebih berhati-hati menjaga anak anda, karena seusianya masih perlu penjagaan ketat," nasehatnya.
"Ya, Tuan. Sekali lagi terima kasih."
Raiza dan kedua temannya menatap dari kejauhan.
"Lihatlah, pengawalmu itu sudah tampan, melindungi lagi. Aku jadi terpesona dengannya," puji Niken.
"Iya, Za. Apa kau tidak memiliki perasaan kepadanya? Andra sepertinya pria yang sangat penyayang," sahut Tere memuji.
"Kalian bicara apa?" Raiza tampak kesal.
"Izinkan kami merebut hatinya, Za." Pinta Tere.
"Kalian mau diserang kekasihnya yang aneh itu?" mengingatkan kedua temannya.
Keduanya menggelengkan kepalanya.
"Lebih baik kalian fokus belajar, jika sudah selesai dan lulus kalian bolehlah kalau ingin menikah tapi jangan lupa undang aku," ujar Raiza.
"Kau tentu ku undang, tenang saja," sahut Niken.
"Kita akan menjadi sahabat sampai akhir," sambung Tere.
"Kalian tuh sangat manis sekali," Raiza menunjukkan wajah imutnya.
Ketiganya tertawa bersama.
-
Dua jam berada di kafe, ketiganya berjalan ke arah mobil. Beberapa orang wartawan mendekatinya, dengan sigap Andra menghalanginya.
Raiza dan keduanya temannya bergegas memasuki mobil.
"Tuan, kami ingin mewawancarai gadis itu. Apa benar dia adalah kekasih dari Andrean Wijaya?" tanya salah satu wartawan wanita.
"Saya tidak tahu tentang hubungan mereka. Jika kalian ingin bertanya hal itu, silahkan tanyakan Andrean saja," jawab Andra, ia bergegas memasuki mobil dan meninggalkan kafe.
"Wartawan tadi bertanya apa?" tanya Raiza.
"Mereka bertanya tentang hubungan Nona dengan artis Andrean," jawabnya.
"Lalu kau jawab apa?"
"Saya tidak tahu mengenai hubungan anda," jawabnya lagi.
"Bagus, karena aku memang tidak memiliki hubungan apa-apa dengannya," ujar Raiza.
"Saya senang mendengarnya, Nona," ceplosnya.
Ketiganya mengernyitkan keningnya.
"Kau tadi bicara apa?"
"Tidak apa-apa, Nona. Saya senang saja kalau memang Nona tak memiliki hubungan dengannya, kalau itu terjadi Tuan Besar akan menginterogasi saya tanpa henti," jelasnya.
Raiza tertawa kecil mendengar penjelasan pengawalnya.
Niken dan Tere hanya mengulum senyum.
"Apa kau sebegitu takutnya pada Opa?" tanya Raiza.
"Saya tidak ingin mempertaruhkan pekerjaan ini, Nona."
"Apa kau sangat mencintai pekerjaan ini?" Niken kali ini bertanya.
"Ya, Nona."
"Mencintai pekerjaan atau seseorang yang kau jaga?" celetuk Tere.
Niken dan Raiza menoleh ke arah Tere yang tersenyum nyengir.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" Raiza merapatkan giginya.
"Pekerjaan ini, Nona," Andra menjawab pertanyaan Niken. "Karena saya tidak ingin dipindahkan ke luar negeri dan jauh dari ibu," lanjutnya.
__ADS_1
"Oh, begitu," Niken dan Tere mengangguk paham.
"Luar negeri?" Raiza bertanya dalam hatinya.