
Yuno tersenyum menatap wanita yang ada dihadapannya itu.
"Kenapa dari tadi senyum saja? Apa ada yang aneh di wajahku?" Natasha menyuapkan mie goreng ke dalam mulut.
"Tidak. Aku bisa bernafas lega dan tidur dengan tenang," jawabnya.
"Memangnya apa yang terjadi?"
"Rista sudah kembali."
"Benarkah?" tanya Natasha tak percaya.
Yuno mengangguk.
"Wah, aku senang mendengarnya. Produk yang ku bintangi akan laris manis lagi," ujar Natasha.
"Itu tentunya," Yuno tersenyum.
"Itu artinya Presdir tidak sedih lagi."
"Ya, Darren hari ini lebih semangat. Apa lagi dia akan segera melamar Rista," ucap Yuno.
Natasha menarik senyum simpulnya, "Baguslah!"
Yuno melihat wajah kekasihnya tiba-tiba sendu. Ia meraih jemari Natasha. "Aku akan berusaha untuk mendapatkan restu Mama kamu!"
Natasha mengangguk pelan. "Entah sampai kapan kita begini terus?" tanyanya lirih.
"Kamu yang sabar, kita sama-sama menyakinkan kedua Mama kita agar tidak berlarut-larut menyimpan dendam," jawab Yuno.
"Ya, kamu benar."
"Jangan bersedih lagi, aku jadi merasa bersalah." Yuno menyentuh pipi kekasihnya.
Natasha memegang tangan Yuno yang menyentuh pipinya sembari tersenyum tipis.
"Selesaikan makannya, aku akan mengantarmu ke lokasi syuting," ujar Yuno.
-
Yuno tiba di lokasi syuting drama kekasihnya. Sebelum wanita itu turun, ia mengatakan sesuatu, "Kalau bisa jangan ada adegan mesra, ya!"
Natasha tertawa tipis, "Kamu cemburu?"
Yuno mengangguk mengiyakan.
"Aku lagi syuting bermain drama tentunya pasti ada adegan mesra. Tapi yakinlah, cinta dan hatiku hanya untukmu!" Natasha tersenyum.
"Tapi, kenapa aku tidak suka kamu beradegan mesra dengan pria lain," ungkapnya.
"Aku harus profesional karena ini pekerjaanku," ujar Natasha.
"Ku mau kamu berjanji padaku, jika kita telah mendapatkan restu dan melamarmu. Aku mohon berhenti bermain drama," pintanya.
"Ya, aku janji!" Natasha tersenyum mengiyakan.
"Sepulang dari kantor, aku akan menjemputmu," ujarnya.
"Ya." Natasha bergegas turun dan mobil kekasihnya meninggalkan lokasi.
-
-
Sore harinya...
"Darren hari ini aku tidak bisa mengantarmu pulang, tidak masalah, kan?"
"Ya, aku akan pulang bersama Rista," jawab Darren. "Kau mau ke mana?" tanyanya.
"Aku ingin menemani Natasha syuting," jawab Yuno.
"Apa kau cemburu melihat dia bersama aktor itu?"
"Ya, begitu."
"Ya sudah pergilah," ucap Darren.
Yuno bergegas ke parkiran mobil lalu melesat ke lokasi syuting kekasihnya.
Sesampainya di sana Yuno berdiri tak jauh dari sutradara. Ia bersedekap tangan menatap Natasha dari kejauhan beradu akting dengan aktor yang sedang naik daun. Yuno membuang wajahnya ketika kekasihnya beradegan pelukan. Rasanya ingin memukul rahang pria itu namun semuanya hanya sekedar pura-pura tapi terasa menyakitkan.
Tepat pukul 6 sore, syuting selesai. Natasha menghampiri kekasihnya dan melemparkan senyuman. "Tidak lama menunggu, kan?"
"Tidak," jawabnya. "Apa kamu sudah selesai syutingnya?" tanyanya.
"Pengambilan scene untuk aku sudah selesai, besok pagi pukul 6 harus tiba di sini lagi."
"Besok pagi aku akan mengantarmu," tawar Yuno membukakan pintu untuk kekasihnya.
Di dalam mobil, "Tidak usah mengantarku. Bukankah kamu harus bekerja? Jangan sampai kelelahan karena bolak-balik antar jemputku, biar aku bersama Kak Dian saja!" jelas Natasha.
"Baiklah, besok siang kita ketemu di tempat yang sama," ujar Yuno.
"Baiklah," Natasha menampilkan senyumnya.
-
-
Yuno turun membukakan pintu Natasha dan wanita itu tersenyum namun senyum keduanya memudar melihat ada 2 mobil mewah terparkir di halaman rumah keluarga Daniel.
"Sepertinya ada tamu," ujar Yuno.
__ADS_1
"Ya, sepertinya. Tapi, siapa?" tanyanya pelan.
"Mungkin saudaramu," jawab Yuno.
"Tidak mungkin, karena aku mengenal kendaraan milik mereka," ujar Natasha.
Nikita keluar rumah karena mendengar suara mobil. Ia berjalan menghampiri putrinya sembari tersenyum. "Kamu sudah pulang, cepat mandi dan temui calon suamimu," ia melirik pria di samping Natasha.
"Ma, sudah berapa kali ku bilang. Tidak mau dijodohkan, aku menyukai Yuno," Natasha berkata tegas.
"Kamu, jangan berkata begitu. Bukankah kamu bilang mau dijodohkan?" tanya Nikita sembari tersenyum sinis pada Yuno.
"Ma, aku tidak pernah bilang apa-apa mengenai perjodohan," jawab Natasha.
"Kamu tidak ingin menyinggung perasaan Yuno, makanya menolak perjodohan ini. Tapi, dia sudah menunggumu. Ayo masuk!" ajak Nikita.
"Ma, cukup!" hardiknya. "Aku tidak ingin ribut dengan Mama," lanjutnya berucap.
"Tasha, Bibi, saya pamit pulang!" Yuno meminta izin.
"Tidak, Yuno. Kamu tetap di sini, kalau perlu aku akan pergi bersamamu!" Natasha menahan langkah kekasihnya.
"Tasha, kenapa kamu jadi melawan seperti ini?" Nikita terlihat kesal. "Sekarang, ayo masuk!" ia menarik tangan putrinya.
"Ma, aku tidak mau dijodohkan." Natasha terus memberontak.
Mendengar keributan Daniel, Martha dan tamu Nikita keluar rumah dan melihat apa yang terjadi.
"Bibi!" Yuno menghentikan langkah kaki kedua wanita itu.
"Jangan ikut campur urusan keluarga kami!" Nikita berkata tegas.
"Jika dia adalah pria yang baik dan pantas untuk Natasha, aku siap melepaskannya," ujar Yuno.
Natasha menggelengkan kepalanya dengan mata mulai berkaca-kaca, ia tak menyangka Yuno akan berkata seperti itu.
"Dia pantas untuk putriku, jadi kamu memang harus melepaskannya!" ucap Nikita.
"Ma, aku mencintai Yuno!" Natasha mulai menangis.
"Nanti kamu juga akan mencintai calon suamimu," ujar Nikita.
"Bibi!" seorang pria muda berjalan menghampiri ketiganya.
Nikita melepaskan genggaman tangannya.
"Aku tidak bisa melanjutkan perjodohan ini," ujar pria muda itu.
"Kenapa?" Nikita terbata.
"Pria ini sangat mencintai putri anda," ia melirik Yuno.
"Aku tidak menyetujui hubungan mereka," ujar Nikita.
Yuno dan Natasha tersenyum senang.
"Bibi tak mau perjodohan ini batal," harap Nikita.
"Aku tidak bisa bahagia di atas penderitaan pria lain," ujarnya.
"Tapi, Bibi ingin kamu menikah dengan Natasha."
"Maaf, Bi!" Pria itu memanggil keluarganya untuk pulang dan mereka akhirnya pergi setelah berpamitan kepada keluarga Daniel.
"Lihatlah, karena kamu!" menunjuk ke arah Yuno. "Calon suami Natasha pergi dan membatalkan perjodohan ini," ucapnya.
"Ma, jangan menyalahkan diri Yuno!" Natasha tak suka.
"Mama tidak akan pernah merestui hubungan kalian sampai kapanpun!" Nikita berkata tegas.
"Ma, sudah cukup. Jangan berdebat lagi!" Daniel melerai keduanya.
"Tanpa restu Mama pun aku akan tetap memilih Yuno," ucap Natasha tegas.
Nikita mendengus kesal, ia pun berlalu. Disusul Martha sekilas menatap sinis kekasih cucunya.
Yuno memegang jemari kekasihnya.
Sementara itu Daniel mengusap bahu putrinya, "Papa merestui kalian!"
Natasha dan Yuno tersenyum.
"Suruh datang orang tuamu untuk melamar putriku!" perintah Daniel pada kekasih Natasha.
"Baik, Paman!" Yuno tersenyum penuh semangat.
"Tempat dan waktunya akan Paman beri tahu," ujarnya.
"Siap, Paman!"
Daniel tersenyum tipis lalu ia pergi ke dalam rumah.
Natasha menatap kekasihnya sembari tersenyum.
"Sudah sana masuk dan istirahat, aku akan memberi tahu kedua orang tuaku mengenai kabar ini," ujar Yuno.
"Semoga setelah ini, tidak ada halangan untuk kita," harap Natasha.
Yuno tersenyum tipis mengangguk mengiyakan.
-
-
__ADS_1
Sesampainya di rumah, kedua orang tuanya sudah selesai makan malam.
Yuna lantas bertanya, "Dari mana saja? Kenapa baru pulang?"
"Tadi Yuno mengantarkan Tasha pulang, Ma."
Yuna menampilkan senyum sinis, "Gadis itu lagi!"
"Dia sebentar lagi akan menjadi menantu Mama," ujar Yuno.
"Siapa yang mengizinkanmu menikah dengannya?" tanya Yuna.
"Ma, kami sudah mendapatkan restu dari Papanya Tasha," jawab Yuno.
"Papa juga merestui kalian," sahut Vino.
"Kenapa kamu jadi ikutan merestui?" protes Yuna pada suaminya.
"Biarkan mereka bahagia dan menentukan jalan hidupnya, sayang." Vino merangkul istrinya.
"Apa tidak ada gadis lain yang harus kamu nikahi, Yuno?" tanya Yuna.
"Aku hanya mencintai dia, Ma."
"Cinta, cinta dan cinta lagi," gerutu Yuna.
"Sayang, jangan egois. Jika mereka saling mencintai, kenapa kita melarangnya?" Vino mengarahkan wajah istrinya menghadapnya.
"Andai dia bukan putri Nikita, aku pasti sudah mengizinkannya," jawab Yuna pelan.
"Lupakan masa lalu dan tatap masa depan, biarkan mereka bahagia," ujar Vino tersenyum. "Anggap saja dia bukan putri dari Nikita tapi dari Daniel," lanjutnya.
Yuna menghela nafas pasrah.
"Jangan cemberut lagi, ayo senyum!" pinta Vino.
Yuna pun memaksakan tersenyum.
"Mama setuju kami menikah?" tanya Yuno.
Yuna mengangguk.
Yuno lantas meraih tubuh wanita yang telah melahirkannya. "Terima kasih, Ma. Aku akan segera melamarnya!"
"Papa tidak di peluk?" Vino menyindir putranya.
Yuno pun memeluk papanya. "Terima kasih!"
"Ya," Vino menepuk pelan pundak putranya.
"Sudah sana mandi!" celetuk Yuna.
"Ya, Ma." Yuno dengan semangat berjalan ke kamarnya.
...----------------...
Keesokan harinya, di jam makan siang Yuno menunggu kekasihnya tak sabar untuk menyampaikan kabar gembira.
Tak lama wanita yang ditunggunya datang. Yuno tersenyum bahagia menyambutnya.
"Hai, kenapa senyum-senyum saja?"
"Duduklah!" titahnya.
Natasha pun duduk, ia menyeruput jus jeruk yang telah tersedia.
"Kapan Papa kamu punya waktu?"
"Tidak tahu, memangnya kenapa?"
"Kedua orang tuaku akan datang melamarmu," jawab Yuno tersenyum.
"Benarkah?" senyum merekah terpancar dari bibir Natasha.
"Ya, mamaku merestui kita. Aku harus cepat melamarmu dan menikahimu agar tak ada pria lain yang mencoba merebut dirimu."
Natasha tertawa mendengarnya. "Aku tidak akan menerima pria lain kecuali kamu!"
"Ya, aku percaya."
"Aku akan memberi tahu pada Papa tentang rencanamu," ujarnya.
-
Sementara itu di lain tempat, Rista menikmati makan siang bersama Clarissa dan Darren. Kali ini Devan tak ikut karena sedang berada di luar negeri bersama Eza.
"Bibi, senang akhirnya bisa makan siang dan mengobrol dengan kamu," Clarissa berkata dengan lembut.
"Saya yang bahagia bisa makan bersama dengan Bibi," Rista tersenyum manis.
"Bibi minta maaf karena telah membuat ibu dan kamu harus pergi dari kota ini. Jujur Bibi kecewa ketika Darren memecatmu," ujar Clarissa.
"Saya yang minta maaf, Bibi. Karena kesalahan orang tua dari ibu saya telah menyakiti Bibi," Rista tersenyum tipis.
"Kamu tidak bersalah dalam hal ini, Bibi percaya kamu wanita yang baik dan pantas buat Darren. Kami akan segera melamarmu, kapan kami bisa bertemu dengan ibu dan keluarga besarmu?" tanya Clarissa. Darren terlalu lambat untuk urusan begini," liriknya menyindir putranya.
"Mama!" Darren menatap Clarissa.
Rista hanya tersenyum.
"Bagaimana minggu depan?" tawar Clarissa. "Lusa, suamiku akan pulang," lanjutnya.
"Saya akan bicarakan ini kepada ibu, Bi."
__ADS_1
"Baiklah, Bibi akan menunggunya," Clarissa tersenyum.