
Delapan belas tahun kemudian...
Seorang gadis muda menikmati makan siang bersama dengan kedua sahabatnya di sebuah restoran. Segerombolan muda-mudi saling berebutan mengerumuni seorang pria muda di taksir usianya sekitar 24 tahun.
Ya, Andrean Wijaya adalah seorang model dan juga pemain drama yang sedang naik daun. Wajar saja jika ia diserbu penggemar yang rata-rata wanita.
Raiza yang duduk tak jauh dari kursi sang model hanya melihat dari kejauhan. "Dia siapa?" celetuknya.
"Kau tidak kenal dia siapa, Za?" Niken balik bertanya.
Raiza menggelengkan kepalanya.
"Astaga, Za. Dia itu pria tampan yang sedang terkenal," jawab Niken.
"Aku tidak terlalu peduli dengan wajahnya," pungkasnya.
"Ya, kami paham kau tidak akan tertarik dengan para pria tampan karena hidupmu sudah di kelilingi pria seperti itu," celetuk Tere.
"Lebih baik kita pulang saja, mereka sudah membuat makan siangku terganggu," Raiza meraih gelas berisi air putih lalu meminumnya setelah itu mengambil tisu dan membersihkan mulutnya.
"Za, makanan aku belum habis," ujar Niken.
"Jika kalian ingin melanjutkan, silahkan. Aku duluan," Raiza meninggalkan kedua temannya, ia berjalan ke mobilnya.
Raiza menyusuri jalanan ke rumahnya, sesampainya kedua orang tuanya kedatangan seorang tamu pria muda juga.
"Dia itu putri kami," tunjuk Raisa kepada Raiza.
"Za, sini!" panggil Eza.
"Ada apa, Ma, Pa?" Raiza mendekati kedua orang tuanya.
"Perkenalkan ini pengawal pribadimu!" ujar Eza.
"Apa? Pengawal? Untuk apa, Pa? Aku tidak butuh!" deretan pertanyaan ia lontarkan kepada papanya.
"Ini permintaan Opa agar kamu tetap ada yang mengawasi," jelas Eza.
"Ma, Pa, aku bukan anak kecil lagi yang harus ke mana-mana diawasi," protes Raiza.
"Nak, Opa melakukannya karena dia menyayangi kamu," ujar Eza.
"Aku menolaknya!" Raiza memilih meninggalkan ketiganya.
"Maafkan putri kami," Eza menatap calon pengawal putrinya.
"Tidak apa-apa, Tuan." Pria itu tetap tersenyum.
"Tapi, kamu tetap besok mulai bekerja. Raiza belum terbiasa saja, kelamaan dia juga pasti mengerti kekhawatiran kami sebagai orang tuanya," tutur Raisa.
"Iya, Nyonya. Saya paham apa yang anda rasakan, kalau begitu saya pamit!"
"Ya," ucap Raisa dan suaminya serentak.
Raisa menghampiri putrinya yang berada di kamar. "Sayang, kamu sudah makan?"
"Sudah, Ma."
"Namanya Andra, dia pemuda yang baik dan pemberani. Jadi, Opa memilihnya untuk menjadi pengawal kamu," ujar Raisa.
"Ma, aku bukan anak kecil yang terus diikuti. Aku bisa jaga diri sendiri!"
"Opa masih menganggap kamu itu cucunya yang imut," ujar Raisa.
"Aku akan bicara pada Opa," ungkapnya.
"Apa kamu berani melawan keputusan Opa?" tanya Raisa.
Raiza menggelengkan kepalanya.
"Nah, makanya turuti keinginan Opa kamu. Adik dan sepupu kamu juga akan mendapatkan hal yang sama. Mereka hanya masih kecil saja jadi tak perlu di temani, karena sepulang sekolah mereka akan kembali ke rumah. Tidak seperti kamu yang bisa menyetir, sepulang sekolah pergi ke mana-mana," jelas Raisa.
"Ya, Ma."
"Begitu dong, Mama jadi senang. Putri Mama ini paling cantik," puji Raisa.
"Ya iyalah, Ma. Putri Mama cuma aku saja, adikku laki-laki," ucapnya dengan wajah cemberut.
Raisa tertawa kecil melihat ekspresi wajah putri dan ucapannya.
...----------------...
Keesokan paginya Raiza hendak berangkat ke sekolah perguruan tinggi. Pria yang kemarin datang sudah berdiri di dekat mobil.
Andra menundukkan sedikit pandangannya ketika Raiza mendekatinya. "Selamat pagi, Nona!" ia membuka pintu mobil.
Tanpa membalasnya Raiza bergegas masuk kendaraannya begitu juga Andra yang duduk di kursi pengemudi.
__ADS_1
Mobil melesat ke tempat tujuan.
Begitu sampai, Andra hendak turun dan membukakan pintu untuk Raiza.
"Tidak usah membukakan pintu untukku!" larangnya.
"Baik, Nona."
Raiza pun bergegas turun.
Andra memarkirkan mobilnya, ia kemudian turun. Tugasnya adalah mengawasi tuan putri keluarga Artama dan tak boleh lengah sedikit pun.
Raiza menghampiri teman-temannya dan mulai mengikuti kelas.
-
Sepulangnya Raiza melihat mobil yang mengantarnya tadi pagi berada di parkiran. Ia mengernyitkan keningnya, "Apa dia tak pulang?"
"Za, kenapa melamun?" tanya Tere.
"Tidak ada," jawab Raiza dengan cepat.
Baru hendak melangkah Andra sudah berada di depan Raiza. "Apa Nona akan pulang?"
"Dia siapa, Za?" bisik Niken.
"Sopir!" Raiza berjalan melewati Andra.
Niken dan Tere mengikuti langkah Raiza.
Andra melangkah lebih cepat, ia membuka pintu mobil buat atasannya.
Raiza masuk begitu juga dengan Tere dan Niken.
Mobil pun meninggalkan gedung sekolah.
"Kenapa kau tidak bilang kalau mempunyai sopir?" tanya Niken.
"Dia baru bekerja hari ini," jawab Raiza.
"Dia sangat tampan," puji Tere.
Niken ikut mengiyakan.
"Apa di pikiran kalian itu hanya para pria tampan?" gerutunya.
"Jadi, menurutmu aku itu tidak normal?" Raiza tampak tak suka.
"Ya, karena kami tidak mendengar kau berbicara tentang seorang pria kecuali keluargamu saja," jawab Niken.
Raiza menarik sudut bibirnya. "Opa, sangat selektif mencari pria yang akan menjadi pasangan aku kelak. Jadi, aku tak mau membicarakan tentang mereka."
"Apa sebegitu kejamnya Opa Devan?" tanya Niken.
"Dia tidak kejam, cuma kita harus mengikuti semua keputusannya termasuk sopir," jelas Raiza.
"Begitu, ya. Tapi pilihan Opa kau boleh juga," ujar Niken senyum-senyum.
"Apa kami boleh bersaing untuk mendapatkannya?" tanya Tere.
"Silahkan," jawab Raiza santai.
Seperti biasa ketiga gadis itu akan mengobrol di kafe. Andra ikut turun namun ia hanya menunggu di teras kafe.
"Kau tidak mengajak sopirmu bergabung dengan kita," usul Tere.
"Kau ingin dia tahu apa yang kita bicarakan?" tanya Raiza.
"Ya, tidak juga. Tapi, kami ingin tahu saja tentangnya," jawab Niken.
"Tapi, aku tak mau dia bergabung dengan kita. Jika kalian ingin berbicara dengannya. Silahkan!"
"Benarkah?" tanya Tere semangat.
"Ya," jawab Raiza.
"Ayo kita hampiri dia!" ajak Niken begitu antusias.
"Ayo!" Tere beranjak berdiri.
Kedua gadis itu pun berjalan mendekati Andra yang duduk di luar.
Andra melihat Tere dan Niken duduk dihadapannya mengerutkan keningnya.
Sementara itu Raiza hanya menoleh sebentar ke belakang menatap sahabatnya dan sopirnya lalu kembali di posisi semula kemudian bermain ponsel.
"Nona-nona, kenapa di sini?" tanya Andra.
__ADS_1
"Kami ingin mengobrol dengan kamu," jawab Tere.
"Saya tidak bisa, Nona." Andra memundurkan kursinya lalu berdiri.
"Kami sudah meminta izin pada Raiza, kembalilah duduk," ucap Tere.
"Saya tetap tidak bisa, Nona. Ini masih jam kerja, saya tak mau Tuan Eza dan Tuan Devan marah," ujarnya menundukkan pandangannya.
Tere dan Niken saling pandang kemudian menghela nafas bersamaan. Keduanya pun berdiri dan kembali menghampiri sahabatnya.
"Kenapa cepat sekali mengobrolnya?" tanya Raiza.
"Belum saja mengobrol, dia sudah menolaknya," jawab Niken.
Raiza tertawa kecil.
"Tapi kami tidak akan menyerah untuk mengetahui siapa dia," ujar Niken begitu semangat.
"Ya, terserah kalian saja. Sekarang aku harus pulang, kalian mau bersamaku atau naik taksi?"
"Bersamamu saja," jawab Tere.
"Baiklah aku akan mengantarkan kalian terlebih dahulu," ujar Raiza.
Ketiganya pun melangkah ke parkiran.
"Aku boleh duduk di depan?" izin Tere pada Raiza.
"Maaf, Nona. Lebih baik anda di belakang saja," sahut Andra.
"Kenapa begitu?" tanya Tere.
"Kedua Nona ini adalah teman Nona Raiza, saya segan duduk bersebelahan," jawab Andra.
"Ya, sudahlah!" Tere tampak kesal.
Niken dan Raiza hanya mengulum senyum melihat Tere di tolak secara halus.
-
Mobil meninggalkan kafe menuju kediaman Tere dan Niken setelah mengantar kedua sahabat Raiza, mereka melanjutkan perjalanan ke rumah.
"Nona, apa anda tidak ingin membelikan sesuatu buat Oma Clarissa?"
"Oma?" Raiza mengernyitkan keningnya.
"Oma Clarissa hari ini berulang tahun," jawabnya.
Raiza sejenak terdiam lalu berkata, "Astaga, kenapa aku lupa."
Andra tak lagi bicara.
"Kalau begitu singgah di toko bunga," titahnya.
"Baik, Nona." Mobil pun melesat ke toko bunga.
Raiza turun dan memilih bunga yang akan diberikan kepada Oma Clarissa.
Baru saja menunjuk salah satu bunga, keramaian terjadi di depan toko. Beberapa orang mengerumuni seorang pria dengan hoodie berwarna putih.
Raiza penasaran ia pun mendekati kerumunan, karena sangking padatnya. Ia kesenggol seorang wanita dan membuatnya terjatuh.
Pria yang menjadi bahan rebutan melihat Raiza terjatuh lantas mendekati gadis itu dan membantunya berdiri. Setelah itu melangkah dengan cepat menghindari para penggemarnya.
Raiza memperhatikan sekilas pria yang membantunya. "Bukankah itu pria yang ada di restoran kemarin?"
"Nona, bisakah anda minggir?" tanya seorang wanita yang ikut mengejar-ngejar pria tadi.
Raiza memberikan jalan buat wanita itu.
Pria yang menolong Raiza sudah berjalan jauh, ia memasuki sebuah toko kue. Namun, beberapa orang bertubuh besar menghalangi jalan masuk toko tersebut agar para wanita yang mengejar pria tersebut tak membuat kerusuhan di tempat usaha orang lain.
Raiza masih mengarah pandangannya ke arah toko.
"Nona, apa sudah selesai memilih bunganya?" tanya Andra.
"Belum, tunggu sebentar!"
"Baik, Nona."
Tak lama kemudian Raiza membawa bunga pilihannya.
"Nona, yakin memilih bunga ini?" tanya Andra saat memegang pot yang hendak diletakkan di bagasi mobil.
"Iya, memangnya kenapa?"
"Tidak apa-apa, Nona." Andra pun meletakkannya di belakang mobil.
__ADS_1