Jangan Mengejarku, Cantik!

Jangan Mengejarku, Cantik!
S2-bagian 9


__ADS_3

Seperti biasa Andra akan melakukan tugasnya. Raiza muncul dengan wajah ketus.


"Mana kunci mobil!" pintanya.


"Nona, mau ke mana biar saya antar," Andra berkata dengan lembut.


"Tidak perlu, saya bisa sendiri. Saya tak ingin bertemu dengan orang-orangnya selalu salah paham," ujarnya.


"Tapi, saya tidak bisa membiarkan Nona pergi sendiri!"


"Kenapa? Sebelum kau bekerja, aku juga sering pergi sendirian!"


"Nona adalah tanggung jawab saya. Saya tidak mau disalahkan Tuan Besar karena membiarkan Nona pergi sendirian," jelas Andra.


"Aku yang akan mengatakannya pada Opa!" serunya.


"Maaf, Nona." Andra berjalan lebih dahulu dan membuka pintu penumpang belakang.


Raiza malah memilih duduk di samping pengemudi.


Andra hanya bisa menghela nafas pasrah.


-


Pagi ini Lina pergi menemui Bella, keduanya membuat janji bertemu di sebuah kafe tak jauh dari kediamannya.


"Apa kabar, Bu?" sapa Bella memeluk tubuh wanita paruh baya itu.


"Kabar Ibu baik," Lina tersenyum tipis.


Bella melepas pelukannya lalu duduk, keduanya memesan 2 cangkir teh.


Lina memasang wajah datar.


"Ada apa Ibu ingin bertemu denganku?"


"Jauhi Nona Muda!" jawabnya dingin.


"Maksud Ibu apa? Bella tak mengerti," pura-pura tidak tahu.


"Kemarin siang kamu menyerang dia di restoran, apa benar?"


"Ya, Bu. Aku ingin memberikan sedikit pelajaran saja," jawab Bella santai.


"Pelajaran? Apa kamu mau Andra pergi dari negara ini?"


Bella menggelengkan kepalanya pelan.


"Nona Muda itu akan memecat Andra jika kamu berani menyerang seperti kemarin," jelasnya.


Bella menelan salivanya, ia tak berpikir sejauh itu. Jika Andra dipecat, kemungkinan pria itu akan pergi jauh dan semakin membenci dirinya.


Obrolan keduanya terjeda ketika pelayan menyajikan minuman.


"Jadi, jangan bertindak gegabah seperti kemarin!" peringatnya.


"Ya, Bu. Aku minta maaf, ku melakukan itu karena sudah sangat kesal padanya," ujar Bella.


"Jika kamu ingin mengambil hati Andra tidak dengan begini caranya, kesalahan kamu sebelumnya sudah sangat fatal jadi jangan membuat Andra semakin menjauhimu!"


"Ya, Bu."


...----------------...


Gedung Arta Fashion


Yuno tergesa-gesa pergi ke ruangan Presdir. "Ini gawat!"


"Apa yang gawat, Yuno?"


"Model wanita pendamping Andrean tiba-tiba sakit, pemotretan akan dilakukan dua jam lagi," jelas Yuno.


"Kenapa kau baru mengabariku?"


"Manajernya baru saja meneleponku," jawab Yuno.


"Lalu siapa yang akan menggantikannya?"


"Aku tidak tahu."


"Bagaimana kalau Andrean mengambil foto sendirian saja?"

__ADS_1


"Tidak bisa, ini pakaian khusus buat pasangan. Mau tidak mau kita harus mencarinya. Lagian kita belum mengeluarkan edisi wajah wanita di produk kita tahun ini," ungkap Yuno.


"Jadi siapa yang akan menjadi pendampingnya?"


"Siapa, ya?" Yuno mencoba berpikir.


"Kau sudah tanya agensi model?"


"Tidak akan sempat, kalau pun di tunda tak mungkin. Karena tabloid fashion sudah mendesak kita!" jawab Yuno.


"Lalu siapa?"


"Bagaimana kalau Raiza?" usul Yuno.


"Kau mau kalau aku di marahi Papaku?"


"Kita tak punya pilihan lagi."


Darren mencoba berpikir.


"Bagaimana?"


"Baiklah, aku akan mencoba menghubungi Raiza."


-


Kemarin Raiza mengatakan tidak akan pergi ke mana-mana karena ia ingin beristirahat di rumah, mumpung libur sekolah.


Tetapi pagi ini gadis itu menghubunginya untuk mengantarnya ke Arta Fashion.


Andra melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi karena Raiza memintanya untuk segera datang.


"Kenapa lama sekali?" omelnya.


"Saya tadi mandi, Nona." Andra memberikan alasan.


"Ini kita sudah terlambat," Raiza kembali mengomel.


"Maaf, Nona."


Mobil pun melesat ke perusahaan fashion tersebut.


Tepat pukul 10 pagi, keduanya tiba di gedung. Raiza berjalan dengan terburu-buru begitu juga dengan Andra.


"Ini semua karena dia yang sangat lambat," Raisa menyindir.


Andra hanya bisa diam saja.


"Cepat ganti pakaianmu!" perintah Yuno.


"Baik, Paman!" Raiza bergegas bersiap-siap untuk melakukan pemotretan.


Andrean yang tahu model penggantinya adalah Raiza begitu sangat senang.


Tiga puluh menit kemudian, Raiza dan Andrean bersiap di depan kamera.


Andra yang melihat keduanya tampak begitu mesra dan sangat serasi memilih untuk menjauh.


Hampir dua jam, akhirnya pemerintah selesai dilakukan.


"Raiza, terima kasih sudah menjadi pasangan aku hari ini," Darren tersenyum senang.


"Aku melakukannya karena permintaan Paman Darren dan juga demi perusahaan ini," ujarnya.


"Ya, aku tahu. Karena tidak mungkin kamu mau menjadi seorang model."


"Tepat sekali," Raiza tersenyum.


"Bagaimana kalau kita makan siang bersama?" menawarkan diri.


"Boleh juga," jawabnya.


Darren tersenyum senang.


Keduanya berjalan bersama menuju parkiran.


"Andra, aku akan pergi makan siang bersama Andrean. Kau lebih baik pulang saja," ujar Raiza.


"Saya tidak bisa meninggalkan Nona sendiri," tolaknya.


"Aku akan pulang bersama Andrean," ujar Raiza lagi.

__ADS_1


"Saya tetap akan menemani Nona," Andrean tetap memaksa.


"Terserah kau saja!" Raiza masuk ke dalam mobil Andrean.


Begitu sampai restoran Raiza tak mengajak Andra makan siang bersama ia membiarkan pria itu menunggu di luar.


Andra tetap menunggu Raiza walau pun sudah sejam.


Tepat pukul 1 siang, Andrean dan Raisa keluar dari restoran. Andra bergegas menghampirinya.


"Aku pikir kau sudah pulang ternyata masih di sini. Lebih baik pulanglah duluan, ku akan pergi lagi bersama Andrean," ujar Raiza.


"Nona, mau ke mana?" tanya Andra.


"Kalau kau ingin tahu, ikuti saja aku. Jangan banyak bertanya," jawabnya ketus, ia lalu menghampiri Andrean yang menunggu di mobilnya.


Andra ikut menyusul kendaraan yang ditumpangi gadis itu.


Perjalanan satu jam, mereka tiba di wahana permainan yang lebih luas daripada tempat bermain di mall.


Raiza berjalan beriringan bersama Andrean memasuki tempat tersebut.


Andra tetap mengawasinya dari belakang.


Karena pengunjung sangat ramai, Andra hampir kehilangan jejak keduanya.


Andra hanya menatap dari kejauhan keduanya yang tampak gembira, dirinya teringat saat bersama Raiza di pusat perbelanjaan waktu itu.


Beberapa penggemar wanita mulai mengerumuni Andrean. Manajer dan beberapa asisten sang model bergegas menghampiri keduanya.


Andrean menggenggam erat tangan Raiza agar tidak terlepas dari dirinya.


Andra yang melihatnya dari jauh berlari mendekati, langkahnya terhenti kala menatap tangan keduanya saling berpegangan.


Andrean berusaha melindungi Raiza dari beberapa pengunjung yang berebut ingin mendekat dan berfoto.


Tak sampai 1 jam berada di sana dan karena keadaan yang tidak memungkinkan untuk berlama-lama, mereka akhirnya menyelesaikan waktu bermainnya.


Andra melangkah cepat ke arah parkiran. "Nona, apa ada yang terluka?" tanyanya.


"Tidak, Andrean menjaga dan melindungi aku," jawab Raiza.


"Biar dia pulang bersamaku!" ujar Andrean.


"Nona, nanti saya akan dimarahi Tuan Eza," ucapnya.


"Aku yang akan bicara kepada Papa," gadis itu pun berlalu menuju mobil.


Andra dengan setia mengikutinya.


Tepat pukul 4 sore, mereka tiba di kediaman Raiza.


"Terima kasih buat hari ini," Andrean merasa bahagia.


"Aku juga," Raiza membalas ucapan pria yang ada di sampingnya.


"Maaf tadi membuatmu tidak merasa tenang," ujar Andrean.


"Aku maklum karena kamu seorang publik figur," Raiza tersenyum.


"Semoga kamu mau lagi, jika aku mengajakmu ke tempat seperti itu," ucapnya.


"Dengan senang hati aku mau!"


"Kalau begitu sampai jumpa lagi!"


"Ya, sama-sama," Raiza keluar dari mobil Andrean dan sang artis pun berlalu.


Andra masih berdiri.


"Mau apa lagi di sini?" tanya Raiza ketus.


"Tidak ada, Nona. Saya izin pamit pulang," Andra menundukkan kepalanya.


"Ya, pulanglah!" Raiza pun memasuki rumahnya.


Andra mengendarai mobilnya menuju kediamannya.


Begitu sampai rumah, Bella dan Lina duduk di teras. Andra tak mau menegur gadis itu dan memilih masuk ke kamarnya.


"Sabar, jika kamu ingin merebut hatinya!" Lina mengingatkan gadis itu.

__ADS_1


"Ya, Bu," Bella memaksakan tersenyum walau dalam hatinya sangat kesal dengan sikap Andra padanya.


__ADS_2