Jangan Mengejarku, Cantik!

Jangan Mengejarku, Cantik!
Hari Bahagia Rayi


__ADS_3

Sella menatap mobil itu dengan kesal, ia kembali duduk sambil mengotak-atik ponselnya. Ia mencoba menghubungi seseorang namun kembali diurungkan.


Sebuah motor berhenti tepat di dekatnya, dua orang pria berpakaian montir menghampirinya. "Nona Sella Kartika?" salah satu dari keduanya bertanya.


"Ya."


"Kami ingin memperbaiki motor anda!" ucap salah satu pria.


Sella melihat kedua pria itu memang menggunakan pakaian montir dan tertera nama bengkel di bajunya.


"Tapi, saya tidak ada pesan," ujarnya.


"Tuan Varrel menyuruh kami ke sini."


"Dia siapa?" tanya Sella. Belum kedua montir menjawab sebuah notifikasi pesan masuk. Ia pun membacanya, 'Aku mengirimkan montir untuk membantumu, jangan pikirkan biayanya.'


"Nona!"


"Ya sudah, kerjakan sekarang!" perintah Sella.


Wanita itu kembali mengirimkan pesan kepada Varrel. 'Jika aku ada uang, ku akan menggantinya. Kau tidak perlu takut!'


Pesan balasan kembali masuk, 'Aku tak butuh uangmu!'


"Sombong sekali dia!" batinnya.


Beberapa puluh menit kemudian, motor selesai diperbaiki. Sella lantas mengucapkan terima kasih.


Setelah itu ia pergi ke rumah Rista.


-


-


Sore harinya, Rista berdiri di depan pintu masuk gedung.


"Di mana mobilmu?" tanya Darren mengejutkan Rista.


"Di rumah, Tuan."

__ADS_1


"Kenapa kau tidak membawanya kerja?"


"Saya belum berani, Tuan."


Sella mengendarai mobil Rista lalu turun menghampirinya, ia tersenyum menyapa Darren dan sekretarisnya. "Kau sangat tampan, Tuan!" tersenyum genit kepada Yuno.


"Kalau begitu saya pamit pulang, Tuan." Rista menarik tangan sahabatnya ke arah mobil.


"Hei, aku belum mengobrol dengan sekretaris Presdir!" ucap Sella.


"Jangan genit apalagi sok cantik!" Rista ngedumel.


"Aku ingin sekedar mengobrol padanya," Della membuka pintu pengemudi.


"Tidak ada waktu mengobrol, jangan Presdir tahu kalau mobil pemberiannya tergores," ungkap Sella di dalam kendaraannya.


"Ya, kau benar juga." Sella lalu mengendarai mobil meninggalkan gedung Arta Fashion.


"Kau kenal dengan temannya?" tanya Darren pada Yuno.


"Tidak, Tuan."


"Saya juga tidak tahu, Tuan."


...----------------...


Malam ini keluarga Rey berkunjung ke rumah Roland. Ia datang bersama istri dan kedua putranya.


"Selamat datang!" Roland memeluk Rey begitu juga dengan Tina dan Raya.


"Selamat malam, Paman, Bibi!" sapa Talitha.


Rey dan Raya tersenyum membalas sapaan putri dari Roland.


"Hai!" Rayi menyapa wanita itu setelah tinggal mereka berdua di teras rumah.


"Hai juga!" Talitha tersenyum sekedarnya.


"Kau sangat cantik hari ini," puji Rayi.

__ADS_1


"Sudah berapa kali kau mengatakan kalau aku ini cantik?"


"Aku tidak menghitungnya," jawabnya.


"Ayo masuk, mereka sudah menunggu kita." Talitha mengajaknya.


Mereka berkumpul di meja makan bersama. Rayi terus memandangi Talitha yang duduk di sebelah ibunya.


"Maksud kedatangan kami ke sini, ingin melamar Talitha untuk putra kami bernama Rayi!" Rey berkata setelah mereka selesai makan malam.


Talitha menatap Rayi dan Rey.


"Aku menyerahkan keputusan ini kepada putri kami," ujar Roland.


"Bagaimana, Nak? Apa kamu setuju dilamar Rayi?" tanya Tina.


Talitha tersenyum kaku, ia tak berpikir pertemuan dua keluarga malam ini membahas pernikahan.


"Mungkin Talitha masih butuh waktu berpikir," ujar Raya.


Rayi terus menatap wanita itu, ia tak sabar menunggu jawaban darinya.


"Litha, bagaimana jawabannya?" tanya Roland.


"Kenapa secara mendadak begini?" tanyanya pada semuanya.


"Karena Kak Rayi sudah tak sabar, Kak!" sahut Rayendra.


"Rendra!" Raya merapatkan giginya menegur putra bungsunya itu.


"Apa kamu perlu waktu berpikir?" tanya Rey.


Talitha menggelengkan kepalanya pelan.


"Jadi keputusannya?" tanya Roland.


"Talitha mau menerima Rayi, Pa." Jawabnya tersipu.


Semua yang mendengarnya tersenyum lega, tentunya Rayi yang paling bahagia.

__ADS_1


__ADS_2