Jangan Mengejarku, Cantik!

Jangan Mengejarku, Cantik!
Bahagia


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian....


Hari pernikahan pun tiba, Darren berhadapan dengan seorang pria yang di tugaskan untuk menggantikan ayah Rista yang telah tiada.


Darren mengucapkan janji pernikahan dengan lantang.


Tampak Elisa dan Clarissa menangis haru menyaksikan putra-putri mereka mengakhiri masa lajang.


Rista yang melihat dari layar besar di ruang kamarnya. Turut merasakan tangisan haru, di hari spesial ini ayahnya tak bisa mendampinginya karena telah pergi untuk selamanya.


Sophia juga merasakan hal yang sama, cucu yang baru saja bertemu dengannya beberapa bulan kini telah menjadi istri dari seorang pria. Ia merasa bersalah telah menyia-nyiakan Rista dan ibunya, karena keegoisannya pula ia juga kehilangan putra sulungnya.


Selesai ikrar pernikahan, pintu masuk ke area acara terbuka tampak Rista berjalan dengan penuh anggun menggunakan gaun pilihan suaminya.


Seluruh mata memuji kecantikannya termasuk Darren yang tak henti menatap.


Jepretan kamera saling berebut mengambil wajah sang pengantin.


Darren berjalan ke arah istrinya dan meraih jemarinya, keduanya berjalan beriringan ke tempat dirinya mengucapkan janji.


Setelah menandatangani bukti-bukti pernikahan, keduanya tersenyum kepada seluruh tamu undangan. Mereka pun mendekati para orang tua masing-masing dan saling berpelukan.


"Selamat, Nak. Semoga kamu selalu bahagia!" ujar Elisa pada putrinya.


"Terima kasih, Bu." Rista mendekap tubuh wanita yang telah melahirkannya itu.


Rista tak lupa memeluk Oma Sophia, Tania, mertuanya dan juga kedua orang tua dari Clarissa.


Seluruh keluarga besar dan para tamu bergantian memberikan selamat kepada kedua mempelai pengantin.


Rey, istrinya beserta anak dan menantunya yang sedang hamil juga turut hadir.


Sahabat Clarissa juga datang memberikan ucapan selamat bahagia.


Mantan sekretaris Devan juga datang mengucapkan selamat kepada Darren dan Rista.


Sementara itu Raiza menangis melihat Darren tak mau menggendongnya.


Eza sampai kewalahan dengan putrinya yang memaksa ingin bersama pamannya.


Darren hanya melambaikan tangan kepada balita tersebut hal itu membuat keponakannya semakin menangis.


Eza yang sibuk mendiamkan putrinya, terkejut saat bocah laki-laki berusia 4 tahun menarik celananya. Eza pun menoleh dan bertanya dengan lembut. "Ada apa?" tanyanya.


"Dia kenapa, Paman?" balita tersebut menunjuk Raiza yang digendong.


"Dia mau bermain dengan pamannya yang di sana!" Eza menunjuk ke arah pelaminan.


"Ayo main denganku saja!" balita tersebut mengajak Raiza turun untuk bermain.


"Sayang, kamu mau 'kan bermain dengan dia," bujuk Eza pada putrinya kini berusia 16 bulan.


Raiza melihat balita tersebut lalu berhenti menangis dengan bahasa tubuhnya ia meminta turun pada papanya.


Eza pun menurunkan putrinya, bocah laki-laki itu memegang tangan Raiza dan mengajaknya bermain.


Eza memanggil pengasuh Raiza, "Tolong kamu awasi mereka bermain!"


"Baik, Tuan." wanita muda itu pun pergi menyusul langkah mungil Raiza.


Eza pun kembali berkumpul bersama keluarganya.


-

__ADS_1


-


Menjelang akhir sore acara selesai, Rista dan Darren menikmati makan malam bersama keluarga besarnya termasuk Oma Sophia tapi tidak dengan Lusi karena memilih pulang lebih awal ke kampungnya. Wanita lanjut usia itu malu jika harus bertemu dan mengobrol berlama-lama dengan keluarga baru cucunya.


"Setelah kalian menikah, Rista akan bekerja di mana?" tanya Devan.


"Tetap di Karisma Fashion," sahut Sophia.


Seluruh pasang mata saling pandang.


"Rista, sejak awal adalah desainer Arta Fashion. Jadi, saya harap bisa kembali lagi," ujar Devan.


"Dia cucuku penerus Karisma Fashion," ucapnya.


"Hmm, Papa, Oma, tidak akan bekerja lagi," tutur Darren.


"Kenapa?" tanya Oma Sophia.


"Dia hanya mengurus aku saja," jelas Darren.


"Iya, Oma. Aku hanya mengurus rumah tangga saja," Rista lanjut menjelaskan.


Oma Sophia tampak tidak senang dengan keputusan cucunya.


Devan terlihat santai, ia bisa menerima keputusan menantunya.


-


Menjelang malam hari, Rista menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. "Akhirnya selesai juga acaranya!"


"Siapa bilang selesai? Kau harus melayani aku," Darren menarik tangan istrinya.


Rista duduk diujung ranjang mendongakkan kepalanya melihat suaminya yang berdiri dihadapannya.


Rista pun menyusul suaminya ke kamar mandi dan keduanya membersihkan tubuh bersama.


Sejam kemudian Darren menggendong tubuh istrinya dan merebahkannya di ranjang, mereka melanjutkan lagi kegiatan di kamar mandi.


Rista kini berada di atas ranjang dengan tubuh polos, Darren berada di atasnya. Perlahan ia mengecup seluruh wajah istrinya hingga bagian sensitif.


Setelah mendengar suara kenikmatan yang keluar dari mulut istrinya, Darren menerobos bagian yang selama ini dijaga oleh istrinya.


Darren cukup kesulitan untuk menembus bagian tersebut akhirnya dengan kerja keras akhirnya berhasil juga (hehehe).


Pertempuran selama dua jam selesai dan keduanya tertidur dengan berpelukan.


...----------------...


Seminggu pasca sepupunya menikah, Varrel melamar Sella dikediaman orang tua kekasihnya.


Tampak pengantin baru begitu juga pasangan suami istri Yuno dan Natasha yang hadir.


Acara berlangsung hanya dua jam saja. Dengan wajah tersipu malu Sella menunjukkan kepada seluruh tamu undangan cincin yang disematkan di jemari manisnya.


Rista memeluk sahabatnya, "Aku tidak menyangka sebentar lagi kau akan menjadi iparku!"


"Ya, aku tak perlu repot lagi mencari teman untuk sekedar ngopi atau nonton drama," ujar Sella.


"Sepertinya jadwal kalian begitu akan berkurang," celetuk Varrel.


"Kenapa begitu?" tanya Rista.


"Aku tidak mau suamimu itu marah-marah padaku karena tak melarang calon istriku ini," jelas Varrel.

__ADS_1


"Kami hanya sekedar mengobrol saja," ujar Sella.


"Ya, benar," sahut Rista.


"Tapi, aku tidak mau disalahkan suamimu itu karena melupakan pekerjaan kalian sebagai seorang istri," tuturnya.


"Kami tidak mungkin melupakan kewajiban sebagai seorang istri. Jadi, kalian tenang saja," ujar Sella.


"Benarkah? Aku tidak sabar untuk menikahimu," ungkap Varrel mencubit pipi kekasihnya.


"Sudah, sudah, banyak anak kecil yang melihat kalian di sini. Aku mau ke sana!" Rista menunjuk suaminya yang sedang mengobrol dengan Natasha dan Yuno.


"Silahkan, Rista!" ucap Sella.


Rista pun menyusul dan bergabung pada suaminya.


Natasha melemparkan senyuman ketika Rista datang bergabung.


"Bagaimana kabarmu?" tanya Natasha.


"Baik, Nona."


"Jangan memanggilku Nona, suamimu bisa memarahi suamiku karena membiarkanmu memanggil sebutan itu," Natasha pelan.


"Jadi, aku harus memanggil apa?"


"Panggil saja Tasha atau adik, karena aku juga lebih muda darimu," jawab Natasha.


"Baiklah, Tasha."


"Begitu dong, Kak Rista." Natasha tersenyum.


-


-


Selesai acara Darren dan istrinya pergi ke hotel terdekat.


"Untuk apa kita ke sini?" tanya Rista tampak bingung.


"Aku ingin berduaan dengan kamu!"


"Memangnya kenapa di rumah?"


"Kak Raisa dan putrinya sedang di rumah, aku tak mau mereka mengganggu kemesraan kita," jawab Darren.


Rista hanya tertawa kecil.


"Ayo keluar!" perintahnya.


Rista pun keluar dari mobil.


Darren menggandeng tangan istrinya dan melangkah masuk. Beberapa pelayan sudah menyambutnya, sebelumnya ia sudah menelepon dan mempersiapkan semuanya sesuai keinginannya.


Darren membuka pintu kamar dan Rista lebih dahulu masuk.


Darren bergegas mengunci pintu. Ia mendekati istrinya memeluk wanita itu dari belakang, meletakkan kepalanya diceruk leher Rista. "Aku mencintaimu!" bisiknya.


Rista membalikkan badannya lalu mengalungkan tangannya di leher suaminya. "Aku juga mencintaimu!"


Darren membenamkan ciuman di bibir istrinya cukup lama dan akhirnya berlanjut ke ranjang.


Dan jangan tanyakan kapan mereka akan kembali ke rumah Papa Devan karena sepasang pengantin baru masih di mabuk asmara.

__ADS_1


(Selesai)


__ADS_2