Jangan Mengejarku, Cantik!

Jangan Mengejarku, Cantik!
S2-bagian 21


__ADS_3

Sepulang dari Mall, Raiza membersihkan dirinya sejenak mengingat kejadian tadi pagi dan di pusat perbelanjaan. Ia menarik sudut bibirnya entah kenapa dirinya bisa bertingkah konyol.


Raiza duduk di depan televisi menonton drama favoritnya biasanya ia akan menyaksikan bersama dengan Mama Raisa sambil mengunyah cemilan.


Andra datang dari dapur membawa buah potong yang dititipkan kepadanya oleh pelayan untuk diberikan pada Raiza.


Andra mendekati gadis itu yang tampak menangis, ia mulai khawatir. "Nona, apa yang terjadi?"


Raiza menggelengkan kepalanya. "Aku tidak apa-apa," ujarnya.


"Lalu, kenapa menangis?"


Raiza menunjuk ke arah televisi.


Andra menghela nafas lega, "Syukurlah!"


Raiza mengambil tisu dan menyeka air yang keluar dari hidungnya.


"Apa sebegitunya wanita kalau menonton drama sampai menangis?"


"Ini drama sangat sedih, kau lihat itu!" tunjuknya. "Kenapa harus pemeran utama prianya mati? Padahal tampan lagi," lanjutnya.


Andra tertawa geli melihat tingkah Raiza yang terlalu menghayati tontonannya.


"Coba ada Mama pasti kami bisa menangis bareng," ujarnya menyeka air matanya.


"Ya, Nona. Kalau begitu makan buahnya biar ada tenaganya buat menangis lagi!" Andra menyodorkan sepiring buah-buahan.


"Terima kasih," Raiza menusuk buah dengan garpu lalu memakannya.


Andra duduk di sebelah Raiza sambil memainkan ponselnya.


Gadis itu menyodorkan buah mangga yang tertancap di garpu ke mulut Andra. "Ayo makan!" titahnya.


Andra pun membuka mulutnya sembari melihat wajah Raiza yang tersenyum.


Raiza kembali memasukkan buah ke dalam mulutnya.


Selesai menonton drama, Raiza mengajak Andra untuk bermain game.


Keduanya saling tertawa ketika salah satu diantara mereka berdua kalah dan harus dicoret wajahnya dengan spidol.


Setelah itu mereka makan malam bersama dengan sesekali bercanda lalu lanjut belajar. Biasanya Raiza akan meminta bantuan kedua orang tuanya jika ada yang ingin ditanyakan namun kali ini Andra yang menemaninya.


Pria itu dengan sabar mengajari Raiza mengerjakan tugasnya.


"Kau lulusan terbaik, kenapa mau menjadi sopir dan pengawal?"


"Tuan Devan yang menyuruh saya dan tak bisa menolaknya, Tuan juga menawarkan saya di Belanda dengan jabatan tinggi namun saya menolaknya karena ingin dekat dengan Nona," jawabnya tanpa sadar.


"Dekat denganku?" Raiza mengerutkan keningnya.


"Maksudnya kalau dekat dengan Nona, saya tidak perlu khawatir dengan ibu saya. Tapi, kalau saya jauh mau tidak mau saya harus terpisah cukup lama dengannya."


"Oh, begitu."


"Ya, Nona."


"Kriteria calon istrimu seperti apa?"


"Bagi saya, dia harus setia dan sangat menyayangi suami dan anak-anaknya."


Raiza mengangguk paham. "Sepertinya kekasihmu itu sangat mencintaimu," ujar Raiza.


"Kalau memang mencintai saya, dia takkan selingkuh."


"Jadi, kau tidak ingin memberikan kesempatan untuknya?"


"Tidak, Nona. Dua kali dia melakukannya."


"Alasan dia selingkuh apa?"


"Saya tidak memiliki waktu untuknya karena kesibukan saya magang di Arta Fashion dan waktu itu saya tak memiliki kendaraan untuk menjemputnya kerja."


"Begitu, ya."


"Kalau Nona sendiri?"


"Aku sama sepertimu, tapi kisah cintaku sangat menyakitkan," jawabnya memaksa tersenyum.


"Nona hanya tak direstui saja, bukan mereka selingkuh," ujar Andra.


"Ya, begitulah. Sekarang aku malah dijodohkan," Raiza tersenyum tipis.


"Nona, tidak tidur?" Andra melihat jam dinding menunjukkan pukul 11 malam.


"Kau sudah mengantuk?" tanyanya.

__ADS_1


Andra mengangguk.


"Ya, sudah pergilah tidur. Besok pagi kita bersepeda," ajaknya.


"Siap, Nona. Kalau begitu saya ke kamar!" pamitnya.


"Ya, selamat malam," Raiza tersenyum hangat.


Andra pun membalasnya dengan senyum.


...----------------...


Keesokan paginya, Raiza dan Andra bersepeda mengelilingi lingkungan tempat tinggalnya. Mereka saling berkejaran dengan sepedanya dan tertawa riang.


"Aku menang!" teriak Raiza ketika sampai lebih awal di rumah.


Andra sengaja mengayuh sepedanya lebih lambat.


"Kau harus menerima hukuman dariku!" ujar Raiza.


"Hukuman? Apa kita membuat perjanjian sebelumnya, Nona?" tanya Andra.


"Tidak, tapi aku ingin memberikan kau hukuman," jawabnya dengan senyum.


"Apa hukuman buat saya?"


"Buat sarapan untukku."


"Baiklah, itu tidak masalah." Andra pun ke dapur.


Raiza menunggu sarapan buatan Andra di meja makan, tak lama kemudian pria itu muncul dengan membawa dua piring nasi goreng.


Raiza tak sabar, ia mencicipi nasi goreng buatan pengawalnya.


"Bagaimana rasanya, Nona?" Andra belum memakan nasi gorengnya.


"Sangat enak," Raiza mengacungkan dua jempol.


Andra tersenyum senang, ia pun menikmati masakannya.


"Kau sangat pintar, semua serba bisa," puji Raiza.


"Hanya satu yang tak bisa saya lakukan, Nona."


"Apa itu?"


"Menaklukkan hati seorang wanita yang saya sukai," jawabnya.


"Nona sangat mengenal orangnya," jawab Andra.


"Oh, ya. Jangan bilang kau menyukai salah satu dari sahabatku," ujar Raiza, meletakkan sendok dan garpunya.


"Bukan mereka, Nona."


"Lalu, siapa?"


"Lupakan saja, Nona."


"Kau ini buatku penasaran saja," protesnya.


"Tidak terlalu penting dengan perasaan saya, Nona."


"Ya, kau pasti belum kepikiran untuk menikah makanya berkata seperti itu," Raiza kembali melanjutkan makannya.


-


-


-


Sepulang dari sekolah, Andrean telah menunggu di rumah Raiza. Gadis itu terkejut ketika melihat sosok artis yang sempat menjalin hubungan dengannya ada di hadapannya.


"Hai!" sapanya.


"Hai, juga!" Raiza tersenyum tipis.


"Kontrakku di Arta Fashion telah berakhir dan aku siap meninggalkan dunia hiburan. Maukah kamu kalau kita menjalin hubungan serius?" pinta Andrean.


"Tidak bisa!" Eza tiba-tiba datang.


"Papa!" Raiza berlari mendekati pria paruh baya itu dan memeluknya.


Eza mencium kening putrinya lalu mendorong pelan tubuh gadis itu agar melepaskan pelukannya. Eza lalu berjalan mendekati Andrean.


"Paman, saya serius dengan Raiza," ujarnya.


"Sudah terlambat, Andrean. Raiza telah dijodohkan, bukankah kamu tahu itu?"

__ADS_1


"Ya, saya memang tahu. Tapi, Tuan Devan memberikan saya pilihan," jawab Andrean.


"Lebih baik lupakan saja, jauhi Raiza. Paman berharap kamu mendapatkan wanita yang mencintaimu dengan tulus," ujar Eza.


"Tapi, saya hanya mencintai Raiza, Paman." Andrean menyakinkan pria dihadapannya.


"Kami sudah mendapatkan calon suami buat Raiza, Paman mohon mengertilah!" pinta Eza.


Andrean dengan hati kecewa, ia harus gagal lagi menaklukkan hati Raiza. Ia berjalan mendekati gadis itu, "Aku ke sini berharap kita bisa kembali seperti kemarin, ternyata aku harus kecewa lagi. Selamat untukmu, semoga pilihan keluargamu adalah yang terbaik," dengan wajah sendu.


Raiza menatap Andrean dengan mata berkaca-kaca.


Pria itu pun bergegas pergi meninggalkan rumahnya.


Raiza menatap mobil Andrean dari kejauhan.


Raisa mendekati putrinya dan memeluknya. "Apa kamu masih mencintainya?" bisiknya.


Raiza berhadapan dengan mamanya, lalu menggelengkan kepalanya.


Raisa lantas memeluk putrinya, "Terima kasih!"


Raiza mengerutkan keningnya.


"Karena kamu tidak mencintainya lagi, itu artinya kami tak perlu menghadapi kemarahan Opa," ujar Raisa.


"Ya, ampun Mama," Raiza tersenyum lega.


"Bagaimana rasanya kami tinggal?" tanya Raisa.


"Sepi sekali, Ma."


"Benarkah? Bukankah ada Andra?"


"Karena ada dia, tidak terlalu sepi. Tapi, aku sangat merindukan kalian!" mengeratkan pelukannya.


"Mama juga," ujar Raisa.


"Andra, terima kasih sudah menemani putri kami yang banyak maunya. Semoga kamu tidak bosan jika kami minta tolong untuk menjaganya," ucap Eza.


"Sama-sama, Tuan. Dengan senang hati saya dapat membantu Tuan dan Nyonya," ujar Andra.


"Jangan panggil Nyonya dan Tuan," protes Raisa.


"Maaf, Paman, Bibi," ujar Andra.


"Nah, begitu," Raisa tersenyum senang.


"Kalau kami minta untuk menjaga putri kami seumur hidup, apa kamu mau?" tanya Eza.


Andra dan Raiza mengerutkan keningnya, menatap heran.


"Maksudnya bekerja seumur hidup di sini," sahut Raisa.


"Ya, maksud Paman begitu," ungkap Eza.


"Jika suami Nona Raiza mengizinkan tidak masalah," ujar Andra.


"Pasti dia akan mengizinkannya," ucap Raisa yakin.


"Mama sok tahu, sampai sekarang aku saja belum tahu siapa calon suamiku," Raiza berbicara pelan.


"Kami akan memberi tahu kamu saat berulang tahun, dua bulan lagi," janji Raisa.


"Kenapa tidak bilang sekarang saja, sih?" desaknya.


"Tidak akan menjadi kejutan, tunggu saja!" jawab Raisa.


"Karena Paman dan Bibi sudah kembali, saya izin pulang," Andra berpamitan.


"Ya, terima kasih!" ucap Eza.


"Sama-sama, Paman."


"Sampai jumpa besok, Andra!" Raiza melambaikan tangannya.


Pria itu hanya tersenyum lalu ia berjalan ke mobilnya dan pulang ke rumah ibunya.


"Sepertinya kamu senang berada di dekat Andra," goda Raisa.


"Mama, apaan sih'. Aku dan dia cuma teman," wajah Raiza tersipu malu.


"Kamu menyukainya, ya?" pancing Raisa.


"Mama, sudah deh. Jangan memancing Opa marah lagi," jawab Raiza.


"Oh, iya ya. Mama lupa," Raisa tersenyum.

__ADS_1


Sementara itu, Andra yang sedang menyetir memikirkan ucapan yang dilontarkan Raisa kalau mereka akan mengumumkan calon suami Raiza tepat 21 tahun usia gadis itu.


"Dua bulan lagi, aku harus menjaga jarak darimu, Nona!"


__ADS_2