Jangan Mengejarku, Cantik!

Jangan Mengejarku, Cantik!
S2-bagian 13


__ADS_3

Sejak pertemuan keduanya seminggu lalu, Raiza lebih banyak diam. Lagi-lagi ia harus patah lagi, seharusnya dirinya tak mencoba menjalin hubungan dengan seorang artis karena jelas-jelas dari awal Opa Devan menentang dan menolaknya keras.


Raiza berpikir jika hubungan mereka bisa diperjuangkan seperti kisah cinta kedua orang tuanya yang akhirnya mampu mendapatkan restu dari Opa Devan.


"Nona!" Andra mendekati Raiza yang sedang duduk sembari melamun di bangku taman sekolah.


Raiza tersentak kala namanya di panggil.


"Saya dari tadi menunggu, ternyata Nona di sini. Di mana Nona Niken dan Nona Tere?"


"Mereka sudah pulang," jawabnya pelan.


"Nona, akan di sini sampai malam?"


Raiza berdiri tanpa menjawab, ia berjalan ke parkiran.


"Nona, sepertinya kurang sehat?" bertanya dengan berjalan sejajar.


"Aku hanya lelah saja hari ini," jawabnya tersenyum tipis.


Andra bergegas membuka pintu mobil.


-


Di perjalanan, mata Raiza terus menatap jalanan hal itu tak luput dari perhatian Andrean.


Begitu sampai rumah, gadis itu keluar dari mobil tanpa berkata apa-apa. Sikapnya sangat dingin tak seceria seperti biasanya.


Andra kembali ke rumah setelah tugasnya hari ini selesai. Pria itu melamun di balkon rumah sembari menikmati secangkir teh. "Kenapa dengan dia?"


Lina yang melihat putranya sendirian melamun, datang menghampirinya. "Kenapa kamu akhir-akhir ini sering pulang awal?"


"Aku juga tidak tahu, Bu. Nona Raiza sekarang lebih banyak di rumah daripada di luar," jawabnya.


"Baguslah, kamu tidak terlalu capek harus mengantar Nona manja itu kemana-mana."


"Nona Raiza sebenarnya bisa melakukan hal itu tanpa aku, Bu. Jadi, dia bukan gadis manja seperti Ibu tuduhkan kepadanya tapi Tuan Besar yang selalu menganggap dia seperti gadis kecil yang butuh perhatian," ungkapnya menjelaskannya.


"Kamu mengatakan itu karena memiliki perasaan kepadanya, kan?"


"Bu, ini tak ada hubungannya dengan perasaan aku!"


"Lalu?"


Andra menghela nafasnya.


"Ibu dengar gadis itu memiliki hubungan dengan Andrean, apa itu benar?" Lina penasaran.


"Ya, tapi sekarang mereka sudah berakhir."


"Kenapa?"


"Karena Tuan Besar tidak merestui hubungan mereka."


"Alasannya apa? Bukankah Andrean brand ambassador Arta Fashion?"


"Karena Tuan Besar tidak mau cucu-cucunya memiliki hubungan asmara dengan seorang artis."


"Sungguh aneh, istri dan menantunya juga dari kalangan selebritis. Kenapa giliran cucunya ia tolak?"


"Aku juga tidak tahu, Bu. Tuan Besar hanya tidak ingin kehidupan pribadi keluarganya menjadi konsumsi publik."


"Pasti sangat sulit untuk bisa masuk ke keluarga besarnya," tebaknya.


"Ya, begitulah. Aku hampir saja dipecat dan dikirim Tuan Besar ke luar negeri karena membantu Nona Raiza menemui kekasihnya," ungkap Andra.


"Dipecat?"


"Tapi, Nona Raiza memohon kepada Tuan Besar membatalkan pemecatan aku dengan jaminan dirinya akan mengakhiri hubungannya dengan Andrean."


"Mungkin itu menjadi alasan dia menjadi malas untuk pergi ke mana-mana," tebaknya.


Andra menatap ibunya, apa mungkin dibalik sikap Raiza yang menjadi pendiam karena hal itu.

__ADS_1


...----------------...


Keesokan harinya sepulang sekolah, Andra mengajak Raiza untuk mengobrol dan gadis itu setuju.


Kini keduanya saling berhadapan dan hanya dipisahkan meja makan.


"Apa yang ingin kau bicarakan padaku?" Raiza menyesap jusnya.


"Saya minta maaf, Nona."


Raiza mengernyitkan dahinya.


"Karena tidak ingin saya ke luar negeri, Nona sampai mengorbankan perasaan," ujar Andra.


"Kau ke luar negeri bahkan Andrean di putuskan kontraknya tidak akan mengubah keputusan Opa," jelasnya.


"Apa Nona sangat mencintainya?" tanya Andra hati-hati.


Raiza menarik sudut bibirnya.


"Maaf, Nona."


"Cukup, jangan pernah membahas ini. Diamnya aku bukan karena itu, jadi jangan pernah berpikir kau bersalah atas semua ini," Raiza tersenyum.


Andra menampilkan senyum tipis.


"Bagaimana kalau kita pergi berlibur?" ajaknya.


"Berlibur? Kita berdua, Nona?"


"Tentunya tidak," jawab Raiza. "Aku akan mengajak Niken dan Tere," lanjutnya.


"Dengan senang hati, Nona." Andra tersenyum senang.


-


-


Di kafe yang sama hanya waktu yang berbeda, Raiza mengobrol dengan kedua temannya.


"Mau!" jawab keduanya serentak.


"Kita akan berangkat besok pagi, Andra juga ikut."


"Dia ikut? Wah, senangnya," Niken mengulum senyum.


"Aku tidak mau, kau menghabiskan waktu berdua dengannya," Raiza memberi peringatan.


"Siap, Nona Raiza!" Niken menunjukkan 2 jempol tangannya.


"Kita akan ke Danau Pelangi menggunakan kereta api, bagaimana?" tanya Raiza.


"Tidak masalah," jawab Tere santai.


"Aku juga, yang penting kita liburan bersama," Niken bersemangat.


...----------------...


Raiza, Andra dan kedua temannya pergi ke Kota D setelah mendapatkan izin dari kedua orang tua mereka.


Andra tetap ikut karena dia ditugaskan untuk menjaga Raiza.


Pukul 9 pagi, kereta api pun berangkat dari stasiun Kota A. Perjalanan menggunakan kendaraan umum seperti ini memerlukan waktu sekitar 2 jam untuk tiba di Kota D sedangkan kendaraan roda empat bisa memakan waktu 4 jam.


Raiza duduk bersebelahan dengan Andra. Ini merupakan pengalaman bagi mereka berdua pergi liburan bersama.


Andra menyodorkan air mineral yang telah di buka tutupnya kepada Raiza, "Minumlah, Nona!"


Raiza meraihnya, "Terima kasih!"


Andra tersenyum lalu bertanya, "Apa Nona sering ke Danau Pelangi?"


"Tidak sering, hanya beberapa kali saja. Kota D tempat kelahiran Oma Clarissa, kota itu juga memiliki sejarah bagi Oma dan Opa," jelasnya.

__ADS_1


"Aku dengar juga, kalau ayah Nyonya Besar dilahirkan ke sana dan kedua orang tua Tuan Besar juga pernah tinggal di sana," ujar Andra.


"Ya, kau benar. Sudah tiga tahun ini, aku tidak pernah ke sana. Semoga lebih menarik dan lebih bersih," harapnya.


"Semoga saja, Nona."


Butuh waktu 1 jam lagi untuk segera tiba di Kota D. Raiza menatap jendela melihat pemandangan di luar. Tanpa terasa matanya mulai mengantuk, ia pun memejamkan mata lalu tertidur.


Tanpa di sadari, Raiza menjatuhkan kepalanya di bahu Andra. Pria itu yang sedang memainkan ponselnya sedikit terkejut.


Andra memasukkan ponselnya ke dalam saku celana dan membiarkan Raiza tertidur di bahunya.


Raiza terbangun 15 menit kemudian, ia baru sadar telah tidur di bahu pengawalnya. "Maaf!"


Andra hanya tersenyum tipis.


Dengan menahan malu, Raiza memalingkan wajahnya menatap pemandangan luar dari jendela. ia merutuki dirinya karena tertidur di bahu pengawalnya.


Tepat pukul 11 pagi, kereta api tiba di Kota D. Seluruh penumpang turun, Andra membawakan barang-barang milik Raiza.


"Akhirnya kita sampai juga!" Niken tersenyum lega.


"Di mana mobil yang menjemput kita?" tanya Raiza pada Andra.


"Dia sudah menunggu di seberang sana, Nona," jawabnya.


Tanpa bertanya lagi, mereka pun menghampirinya.


Saat menyeberang, Andra mengenggam erat jemari tangan Raiza membuat gadis itu menatapnya dengan senyuman. Raiza tak memarahinya bahkan membiarkannya.


Sesampainya di seberang jalan, Andra melepaskan genggamannya. "Maaf, Nona!" sedikit menunduk kepalanya.


Raiza malah tersenyum, "Terima kasih!"


Andra malah mengernyitkan keningnya, ia berpikir Raiza akan marah karena berani menggenggam tangannya.


Sopir pun membantu memasuki barang-barang milik mereka ke dalam mobil.


Mereka menuju ke Hotel Langit dan menyewa dua kamar.


"Nona, jika butuh apa-apa segera hubungi saya!" ujar Andra.


Raiza tersenyum, "Aku akan meminta pelayan di hotel ini untuk melayaniku, kau sedang liburan jadi urusan menjagaku hanya di luar saja."


"Tuan Besar meminta saya untuk terus mengawasi Nona," jelasnya.


"Aku tidak akan ke mana-mana, jikapun pergi kau juga pasti ikut. Jadi, nikmati waktu santaimu. Kita bertemu setengah jam lagi di restoran," Raiza pun masuk ke kamarnya.


-


Setengah jam kemudian mereka berempat berada di meja yang sama dan memesankan makanan.


Niken, Tere dan Andra sudah menyebutkan pesanannya, kini giliran Raiza.


Pelayan restoran menyebutkan kembali hidangan yang mereka pesan.


Andra kembali berbicara, "Buat Nona ini," mengarahkan pandangannya kepada Raiza. "Jangan mencampurkan makanannya dengan bahan mengandung udang," pintanya.


"Baik, Tuan."


"Terima kasih," Andra tersenyum.


Pelayan wanita itu pun pergi.


"Dari mana kau tahu aku alergi udang?" tanya Raiza.


"Kita tiap hari bersama, makanan yang Nona pesan selalu tidak menggunakan udang dan Nyonya Raisa juga pernah mengatakan hal ini. Jadi, saya tahu semuanya," jelasnya.


"Kau memang pengawal hebat," Niken mengacungkan jempol.


"Itu memang tugas saya, Nona."


"Pasti wanita yang menjadi kekasihmu sangat bahagia memilikimu," celetuk Tere.

__ADS_1


"Ya, sampai dia menuduhku sebagai perebut kekasih orang lain," sindir Raiza.


Niken dan Tere hanya mengulum senyum.


__ADS_2