Jangan Mengejarku, Cantik!

Jangan Mengejarku, Cantik!
S2-bagian 19


__ADS_3

Foto-foto kedekatan Raiza dan Andra di kolam renang sampai jumpa juga pada ponsel Devan.


"Lihatlah cucumu itu persis sepertimu, sangat agresif," celetuknya pada Clarissa.


"Aku seperti itu juga agar bisa menaklukkan hatimu dan akhirnya luluh juga!"


"Apa mungkin cucu kita mulai menyukainya?"


"Entahlah, kita tunggu saja," jawab Clarissa. "Aku lihat dari tatapan Andra, sepertinya anak itu memang menyukai Raiza," tebaknya.


"Itu malah bagus," ujar Devan.


Sementara itu, Raisa dan Eza juga melihat foto yang dikirim pekerja rumahnya.


"Sayang, sepertinya Raiza mulai menyukai Andra," ujar Raisa.


"Ya, mereka makan mie saja sudah sepiring berdua dan satu sendok lagi. Putri kita mirip sekali denganmu tak ada malunya jika berhadapan dengan pria," celetuknya.


"Kau mau bilang kalau aku dahulu sangat genit dan suka menggoda?" Raisa menatap tajam suaminya.


"Bisa dikatakan begitu," jawabnya.


Raisa memukul lengan suaminya dengan kuat.


"Sayang, sakit!" Eza mengusap lengannya.


Raisa juga melihat foto selanjutnya, keduanya sedang berenang bersama di kolam rumah Devan Artama. Mata mendelik saat memandang foto Raisa mengalungkan tangan di leher Andra.


Eza juga tampak syok, "Astaga, kenapa mereka makin berani saja?"


"Apa kita nikahkan saja mereka?" usul Raisa.


"Jangan, kata Papa belum waktunya. Usia Raiza tahun depan baru 21 tahun," jawabnya. "Biarkan mereka terlebih dahulu saling jatuh cinta baru kita nikahkan," lanjutnya.


"Ya, terserah kalian saja," ucap Raisa pasrah.


Di lain tempat dan waktu yang sama, sore hari menjelang malam. Raiza mengajak Andra ke bioskop karena hanya pria itu yang bisa menemaninya. Tere dan Niken entah kenapa akhir-akhir ini sangat sulit sekali diajak untuk berpergian.


Andra berjalan sejajar dengan Raiza, setelah membeli tiket dan cemilan beserta minuman keduanya duduk sambil menunggu pintu bioskop terbuka.


"Ckk.... kenapa harus bertemu dengan mereka?" Raiza berdecak kesal.


Andra mengikuti arah pandangan Raiza.


Sintya yang melihat keberadaan Raiza mendekati gadis itu dan tersenyum bangga sembari menggandeng tangan Axel.


"Hai, apa kabar?" Sintya menyapa.


"Baik," jawab Raiza ketus.


"Ternyata tetap sama, apa kau belum bisa mendapatkan pengganti Axel?" tanya Sintya menyindir.


"Sintya, sudah cukup. Jangan memulai keributan!" Axel berbicara pelan mengingatkan kekasihnya itu.

__ADS_1


"Siapa bilang aku belum dapat penggantinya? Dia ini calon suamiku!" Raiza meraih jemari Andra dan menggenggamnya.


Tampak raut wajah Axel tak suka ketika Raiza mengenalkan pria itu.


Sintya tersenyum sinis, "Bukankah dia hanya sopir sekaligus pengawal pribadimu?"


"Ya, awalnya dia memang sopir dan pengawalku. Tapi, aku mencintainya dan keluargaku setuju. Apa ada yang salah?" Raiza melirik Axel sekaligus menyindirnya.


"Ya, tidak salah. Tapi, apa kau yakin sedang tidak berpura-pura agar Axel cemburu?" tanya Sintya lagi.


"Sintya, sudah cukup. Kita ke sini untuk menonton bukan berdebat," Axel melerai kedua gadis itu.


"Ayo sayang, kita masuk. Aku malas berlama-lama dengan mereka," Raiza menarik tangan Andra menuju ruang bioskop.


Raiza juga mengedarkan pandangannya untuk memastikan apa Axel dan Sintya memasuki ruangan sama dengannya atau tidak.


Setelah dilihatnya Axel dan kekasihnya di ruang berbeda, Raiza melepaskan genggamannya. "Terima kasih sudah membantuku!"


"Saya tidak melakukan apapun, Nona."


"Tapi, kau hanya diam dan membiarkan aku saja yang berbicara itu sudah membantuku," ujarnya.


Andra pun mengangguk paham.


-


Beberapa jam kemudian mereka tiba di kediaman Eza. Raiza tampak tertidur sangat pulas.


"Nona, kita sudah sampai!" Andra mencoba membangunkan Raiza dengan hati-hati.


"Nona, apa mau tidur di sini?" Andra mencoba membangunkannya sekali lagi.


Lagi-lagi gadis itu tak terbangun.


Akhirnya, Andra juga memilih tidur di kursi kemudi karena tak mungkin ia meninggalkan gadis itu sendirian di dalam mobil apalagi mengangkatnya ke kamar.


Raiza terbangun saat badannya terasa sakit karena tertidur di kursi mobil. Ia mengucek matanya dan di sebelahnya Andra juga tertidur lantas ia pun membangunkannya.


"Andra, ayo bangun!" Raiza menggoyangkan lengan tangan pria itu, ia merasa kalau tubuh Andra panas.


Raiza menyentuh kening, "Kau demam?"


Andra terbangun, ia lantas menghentakkan tangan Raiza dari keningnya.


Raiza sedikit terkejut dengan perlakuan pengawalnya itu.


"Maaf, Nona. Saya tidak tahu," Andra merasa bersalah.


"Tidak apa-apa, kau sedang sakit. Aku akan memberikanmu obat, besok pagi kita pergi ke dokter kalau panas badanmu belum juga turun," Raiza tampak khawatir.


"Nona, saya tidak apa-apa. Saya hanya butuh istirahat saja sebentar," ujar Andra.


"Aku tidak percaya!" Raiza membuka pintu lalu keluar begitu juga dengan Andra.

__ADS_1


Gadis itu pergi ke dapur mengambil air dan handuk kecil ia lalu pergi ke kamar tamu tak lupa mengetuk pintu.


Setelah Andra membukakan pintu, ia menerobos masuk.


"Nona, mau apa?"


"Aku ingin mengompres kepalamu agar demamnya turun," jawab Raiza.


"Nona, tidak perlu khawatir. Saya bisa melakukannya sendiri," ujarnya.


"Baiklah, kalau begitu. Aku sudah membawa obat penurun panas, semoga lekas sembuh."


"Terima kasih, Nona."


Raiza pun meninggalkan kamar Andra.


-


Jarum jam menunjukkan pukul 3 pagi, Raiza tak bisa tidur dengan nyenyak. Dirinya sangat begitu khawatir dengan kondisi Andra. Ia lantas keluar menuju kamar pria itu.


Raiza mengetuk pintu dengan pelan agar tak mengganggu penghuni rumah lainnya. Namun tak ada jawaban, ia lantas menghubungi nomor Andra lagi-lagi pria itu tak menjawabnya.


Raiza memegang kenop pintu perlahan membukanya, Andra berselimut sedang menggigil. Pemandangan itu membuatnya panik.


"Andra!" Raiza memegang keningnya, lalu melihat obat penurun panas juga tidak diminum.


Raiza membantu Andra duduk, ia meraih gelas di nakas dan mengarahkannya ke mulut pria itu.


"Terima kasih, Nona. Seharusnya bukan anda yang merawat saya," ujarnya pelan.


"Jangan banyak bicara, lebih baik makan obatnya," Raiza meraih tablet dan memasukkannya ke dalam mulut Andra lalu kemudian memberikannya air putih.


Andra kembali merebahkan tubuhnya.


Raiza dengan penuh perhatian memperbaiki selimutnya. Memeras handuk yang sudah direndam dengan air dingin lalu ia letakkan di kening pria itu. "Kau harus sehat, aku tidak punya teman selain dirimu saat ini. Tere dan Niken sangat sulit dihubungi, entah ke mana mereka!" ocehnya.


"Kalau dua teman Nona itu bisa dihubungi, apa Nona Raiza tetap ingin berteman dengan saya?"


"Ya iyalah, kau itu pengawalku pasti selalu berada di dekatku," jawabnya.


Andra tertawa pelan, "Iya juga."


"Sudah tidurlah, jangan keluar kamar kalau belum membaik," pinta Raiza.


"Kalau saya lapar, bagaimana?"


"Aku akan mengantarnya ke kamarmu dan kalau perlu menyuapkan ke mulutmu!"


Andra tersenyum.


"Kalau begitu, aku kembali ke kamarku. Sekali lagi, lekas sembuh. Jika butuh sesuatu, hubungi aku atau panggil pelayan di sini," ujarnya.


"Baik, Nona. Terima kasih sudah perhatian dengan saya."

__ADS_1


"Sama-sama, saat di bioskop kau juga sudah menolongku," Raiza melemparkan senyuman. Ia pun bergegas ke kamarnya.


Andra menatap pintu yang tertutup rapat, ia berharap selalu dekat sang nona. Namun, kenyataannya berbeda, gadis itu telah dijodohkan.


__ADS_2