
Darren masih berada di rumah sakit walau sudah beberapa hari di tempat itu. Ya, hari kelima ia dirawat karena kondisi tubuhnya belum berangsur pulih.
Rista menyempatkan waktunya berkunjung, wanita itu akan datang menjelang makan siang dan sepulang dari kantor.
Darren begitu senang mantan kekasihnya itu masih perhatian kepadanya.
"Apa Oma Sophia tidak marah jika kau selalu di sini daripada di kantor?" tanya Darren sambil mengunyah buah jeruk yang di kupas Rista.
"Tidak. Aku sudah meminta izin padanya," jawabnya.
"Maafkan aku!" baru hari ini Darren mulai berbicara lancar.
"Kita berdua sama-sama salah, kita egois padahal saling membutuhkan. Aku juga minta maaf," ujar Rista.
"Maukah kau berdamai denganku?" Darren menyodorkan jari kelingkingnya.
Rista tersenyum lalu menyatukan jari kelingkingnya dengan Darren. "Tapi tidak dengan perusahaan," jawabnya.
"Baiklah, itu tidak masalah asal hatimu tetap untukku," ujar Darren.
Rista tersenyum.
"Mari kita menikah, melanjutkan yang tertunda," ucapnya.
"Apa kau berani meminta izin kepada Oma Sophia?"
"Tentunya," jawab Darren semangat.
"Cepatlah sembuh, agar kita bisa mewujudkannya."
"Aku mencintaimu!" Darren menyentuh pipi Rista.
"Aku juga!" ia menyentuh tangan Darren di pipinya.
Suara deheman membuat Darren menarik tangannya. Tampak keduanya salah tingkah.
"Apa aku telah mengganggu kalian?" tanya Raisa.
"Ya," jawab Darren cepat.
"Ya ampun, adikku ini. Aku tahu kamu sudah lama sangat merindukan Rista, tapi bisa tidak jangan bermesraan di sini. Bagaimana kalau dilihat Dokter dan Perawat?"
"Biarin."
"Begini, nih. Kalau di nasehatin suka tidak terima, coba Rista beri tahu kekasihmu ini!" Raisa menatap Rista yang hanya tersenyum.
"Sudahlah, Kak. Kita jangan berdebat, di mana Raiza? Aku rindu dengannya," ujar Darren.
"Papa melarang dia ke sini," tuturnya.
"Ya, aku paham dengan kekhawatiran Papa," ujar Darren.
"Cepat sehat dan keluar dari sini, agar aku dan Mama tidak repot-repot bolak-balik ke sini," celetuknya.
"Iya, kalau Dokter sudah menyuruhku pulang. Aku juga akan meninggalkan tempat ini, Kakak pikir aku betah berlama-lama di sini," ketusnya.
"Mana tahu, kau ingin berlama-lama dengan wanita ini," Raisa menampilkan senyum menyindirnya.
"Kami juga akan segera menikah, Kak," ungkap Darren.
"Syukurlah, agar kau tidak selalu bersedih," Raisa kembali menyindir.
Darren mendengus kesal.
...----------------...
Seminggu kemudian....
Darren dan Rista datang mengunjungi Sophia di kediamannya. Wanita lanjut usia itu, menatap sinis pria yang ada di samping cucunya.
"Mau apa dia ke sini?" tanyanya ketus.
"Darren ke sini untuk meminta restu pada Oma," jawab Rista.
"Apa kamu sangat mencintai cucuku?" tanya Sophia menatap Darren.
"Ya, Oma."
"Perusahaan kita saling bermusuhan, bagaimana jika kalian menikah? Apa kalian bisa menjalankan?"
__ADS_1
"Oma, ada Varrel yang akan melanjutkan perusahaan," jawab Rista.
"Dia tidak mau, siapa yang akan meneruskannya?" tanya Oma Sophia.
"Bagaimana kalau kita bekerja sama dengan Arta Fashion?" usul Rista.
Sophia dan Darren menatapnya.
"Itu tidak mungkin," jawab Sophia.
"Biarkan tetap seperti awalnya, terpenting tidak mengganggu hubungan pribadi kita," ujar Darren.
"Oma setuju dengan usulan Darren," sahut Sophia.
Rista menarik sudut bibirnya dengan perasaan bahagia.
"Oma merestui hubungan kalian," ujar Sophia.
Rista lantas memeluk wanita itu dengan tersenyum. "Terima kasih, Oma."
"Kapan kalian akan melangsungkan pernikahan?" tanya Oma Sophia.
"Secepatnya, Oma." Jawab Darren cepat.
Oma mengangguk setuju.
-
Darren dan Rista meninggalkan kediaman Oma Sophia menuju rumah Elisa. Wanita paruh baya itu sudah menunggu sepasang kekasih yang kembali menjalin hubungan.
Penuh semangat ia berdiri dari kursi dan tersenyum melihat Rista dan Darren turun dari mobil.
"Ibu, kenapa di sini? Menunggu siapa?" tanya Rista.
"Ibu menunggu kamu, Nak. Bagaimana?" Elisa balik bertanya.
Rista tersenyum lalu menjawab, "Oma merestui kami!"
"Syukurlah!" Elisa merasa lega.
"Saya izin pamit, Bu!" ucap Darren.
Darren pun berpamitan pada Rista.
"Hati-hati, ya."
Darren menjawabnya dengan tersenyum lalu ia berjalan ke mobilnya dan berlalu.
...----------------...
Menjelang hari pernikahan, Darren dan Rista disibukkan dengan berbagai persiapan mulai pemilihan gaun, desain undangan, hingga dekorasi pelaminan. Urusan katering di serahkan kepada Mama Clarissa.
Pagi ini keduanya berada di butik gaun pengantin milik Arta Fashion sejak Clarissa menjadi istri Devan Artama perusahaan tersebut juga memproduksi gaun pengantin tentunya hanya terbatas.
Rista mulai mencoba contoh gaun yang akan dikenakannya nanti di pernikahan.
Darren duduk di sofa yang sebelumnya sudah disterilkan memainkan ponselnya.
Rista keluar menunjukkan gaun pengantin dengan belahan dada dan paha cukup panjang kepada Darren.
Pria itu mendelikkan matanya. "Kenapa gaunnya seperti kekurangan benang?"
"Hah!"
"Ganti, aku tak suka. Cari yang lebih sopan, besok aku akan menyuruh karyawan membuang gaun tersebut!" keluh Darren.
"Sayang, kau tidak kasihan dengan desainer yang sudah merancangnya," ujar Rista.
"Pakaian itu buat masuk angin saja," celetuknya.
Rista mengernyitkan keningnya.
"Aku akan menyuruhnya mendesain ulang," omelnya.
Rista kembali ke ruang ganti, ia mencoba gaun kedua dengan lengan pendek.
Darren yang melihatnya melambaikan tangannya seakan tak setuju.
"Kenapa?"
__ADS_1
"Warnanya aku tak suka," jawabnya.
"Kau saja yang memilihnya," ketus Rista.
"Baiklah," Darren berdiri dan berjalan ia berkeliling mencari contoh gaun buat kekasihnya.
"Ini saja!" tunjuknya pada gaun berwarna biru langit persis seperti putri di negeri dongeng.
"Baiklah, aku mau yang seperti ini sesuai keinginan Tuan Darren," ujar Rista kepada pelayan butik.
"Baik, Nona."
Sementara itu di tempat lain, Sella sedang menikmati kopi dengan Varrel.
"Akhirnya Rista dan Presdir akan segera menikah," ujar Sella.
"Ya, semoga tidak berpisah lagi. Karena setelah mereka, aku akan melamarmu!"
"Apa kau sudah meminta restu pada Oma?"
"Kita akan sama-sama pergi ke sana," jawab Varrel.
"Aku tidak mau, nanti dia mengusirku lagi," ujar Sella. Sebulan yang lalu keduanya pernah mengunjungi wanita tua itu karena sedang sakit, tapi apa yang didapatkannya ia malah diusir dengan alasan kalau dirinya adalah karyawan Arta Fashion.
"Mungkin kali inilah tidak, bosnya saja sudah diterima. Pasti bawahannya pasti diterima," tuturnya.
"Semoga saja, karena aku tidak bisa bayangkan jika dua kali harus diusir Oma," ujar Sella.
...----------------...
Sehari kemudian...
Varrel membawa kekasihnya mendatangi kediaman Oma Sophia.
Sella menggenggam erat tangan Varrel saat memasuki rumah mewah tersebut.
Oma Sophia sedang membaca buku di taman belakang rumahnya.
"Pagi, Oma!" sapa Varrel.
"Pagi juga, cucuku yang nakal!" Oma menatap sinis wanita yang ada di samping Varrel. "Ada apa kamu ke sini?" lanjutnya bertanya.
"Aku mau meminta restu pada Oma, karena akan segera melamar Sella," jawabnya.
Sophia tersenyum sinis. "Apa kamu membawanya ke sini karena atasannya dia sudah ku terima sebagai calon keluarga kita?"
"Ya, begitulah kira-kira," jawabnya.
"Hei, kamu!" Sophia mengarahkan pandangannya kepada Sella yang tampak ketakutan.
"Ya, Oma," Sella memberanikan menatap.
"Apa alasanmu menyukai cucuku?" tanya Oma Sophia.
"Hah!"
"Aku ingin tahu saja, apakah calon pasangan hidup cucu-cucuku pantas atau tidaknya," ujar Oma Sophia.
"Oma, aku mencintai Sella," sahut Varrel.
"Aku tidak bicara padamu!" ucap Sophia. "Aku bertanya padanya!" menunjuk calon cucu menantunya.
"Saya tidak bisa menjelaskan alasan mencintai Varrel, Oma. Karena memang sangat sulit mengungkapkan dan menggambarkan perasaan," jelas Sella.
"Dari mana dia belajar kata-kata itu," batin Varrel.
"Saya suka dengan penjelasan kamu," ucap Sophia.
"Terima kasih, Oma." Sella tersenyum senang.
"Cucuku ini sangat keras kepala tapi dia baik hati dan setia, semoga saja kamu betah bersamanya," ungkap Oma Sophia.
Sella tersenyum mendengarnya, ia menatap kekasihnya.
"Oma!" Varrel memeluk ibu kandung dari mamanya itu. "Terima kasih sudah merestui kami," ujarnya.
"Sama-sama, semoga kamu bahagia!" Sophia mengecup kening Varrel.
Sella tersenyum melihat kekasihnya berpelukan sembari bercanda. "Aku janji akan membuat cucumu bahagia, Oma!"
__ADS_1