
"Dan benar saja, Bu Sunarti langsung melihat ke arah lemari pakaian Anita.
Suara apa itu?" tanya dalam hati Bu Sunarti yang penasaran, kemudian dia segera menghampiri lemari itu dan berusaha untuk membukanya.
"Anita, apakah kau yang ada didalam?" tanya Bu Sunarti pada saat sudah berada didepan pintu lemari itu.
"Dugh...dugh...dugh...!"
Kembali Anita membuat suara, sebagai jawaban dari pertanyaan ibunya.
"Anita! jadi benar yang di dalam itu Anita!" seru dalam hati Bu Sunarti yang sudah yakin benar kalau yang ada didalam lemari itu putrinya yang seharusnya pagi ini menikah dan saat ini seharusnya berbahagia.
"Terkunci! dimana kuncinya ya?" gumam dalam bu Sunarti yang bergegas mencari kunci untuk membuka pintu lemari tersebut.
Kemudian tangan Bu Sunarti meraba-raba bagian atas lemari itu, dan ada sebuah kunci yang Bu Sunarti temukan.
"Oh ini dia kuncinya!" gumam dalam hati Bu Sunarti yang kemudian memasukkan kunci pada lubang kunci lalu membuka lemari pakaian Anita tersebut.
Betapa terkejutnya dia ketika melihat apa yang ada dihadapannya itu. Putrinya yang selama ini bersamanya terikat dan mulutnya diplester.
"Anita putriku!" seru Bu Sunarti yang langsung duduk berjongkok dan segera melepaskan ikatan yang mengikat tangan Anita ke belakang.
Selesai melepaskan ikatan ditangan anaknya Bu Sunarti lantas melepaskan ikatan di kaki putrinya, sementara Anita melepaskan plester yang menyimpan mulutnya.
"Siapa yang jahat pada kamu nak?" tanya Bu Sunarti pada putrinya dengan perasaan khawatir memeluk putrinya dan demikian pula dengan Anita yang menerima pelukan ibunya.
"Kak Anette Bu, tapi ibu jangan menyalahkan dia. Anita sudah ikhlas, mungkin mas Damar bukan jodoh Anita." ucap Anita dengan isak tangis yang mengiringi.
"Ibu sudah menduganya, sabar ya nak! yang terpenting kamu tak apa-apa." ucap Bu Sunarti yang kemudian melepaskan pelukannya dan kemudian mengajak Anita berdiri.
"Anita juga senang jika mas Damar akhirnya jadi kakak Ipar Anita." ucap Anita.
"Ibu berdoa agar kelak kamu mendapatkan jodoh yang lebih baik dari nak Damar." ucap doa Bu Sunarti.
"Aamiin ya Robbal alaamiin...!" ucap keduanya yang serempak.
__ADS_1
"Mungkin lebih baik Anita tetap berperan sebagai kak Anette dihadapan orang-orang. Agar tak menimbulkan masalah kedepannya, dan Anita akan ikut ayah ke kota Bu." ucap Anita yang memikirkan apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
"Benar juga, tapi ibu sedikit khawatir jika keluarga nak Damar nantinya akan tahu, jika menantunya bukan yang mereka harapkan." kata Bu Sunarti yang sedikit khawatir.
"Kita lihat saja nanti bu, Mungkin kebahagiaan kak Anette ada pada mas Damar." ucap Anita yang berusaha untuk lebih tegar.
"Lebih baik kamu jangan keluar, persiapkan baju-baju kamu. Besok ayah kamu mau balik ke Jakarta, jadi kamu nanti ikut ayah ke kota. Sedangkan disini ibu dan semuanya akan mengantarkan kakak kamu berkunjung ke rumah mertuanya." jelas Bu Sunarti yang menyarankan.
"Iya Bu, Anita juga ingin tahu seperti apa ibu tiri Anita. Tapi mungkin Anita akan sangat merindukan ibu kandung Anita!" ucap Anita yang mendapat Bu Sunarti dan berlinanglah kembali air matanya.
"Ini akan jadi awal masa depan kamu. Disana nanti kamu bisa melanjutkan kuliah, atau kalau kamu mau kerja juga bisa nanti disana." ucap Bu Sunarti yang mengusap kepala putrinya dengan lembut.
"Iya Bu " jawab Anita yang menyeka air matanya.
"Sekarang lekaslah berkemas-kemas, ibu mau ke depan dan membereskan kamar pengantin buat kakak kamu dan kakak ipar kamu!" ucap Bu Sunarti yang kemudian bangkit dari duduknya dan berusaha untuk tersenyum.
"Iya Bu." balas Anita seraya ikut bangkit dari duduknya dan mengantarkan ibunya sampai ke pintu kamarnya.
Setelah ibunya meninggalkannya, Anita bergegas menutup dan mengunci pintu kamarnya. Kemudian seperti yang diperintahkan oleh ibunya, Anita bergegas membereskan pakaian serta barang-barang yang akan dia bawa ke kota nantinya.
Ibu Sunarti mengganti sprei, karung bantal dan juga menyiapkan selimutnya juga. Tak lupa Bu Sunarti menyiapkan pakaian tidur dan juga memberikan wangi-wangian disekitar kamar tersebut.
Setelah selesai, bergegas Bu Sunarti menghampiri Anette dan juga suaminya yang masih berbincang-bincang dengan para tamu.
"Anita, sebaiknya kamu dan suami kamu segera beristirahat. Kalian pasti capek, ibu sudah persiapkan kamar untuk kalian berdua." bisik Bu Sunarti pada Anette dengan berpura-pura kalau Anette itu Anita.
"Oh, iya Bu. Aku memang sangat lelah sekali saat ini." jawab Anette yang kemudian menepuk paha suaminya dan suaminya pun menoleh padanya.
"Mas, kita istirahat yuk! aku ngantuk nih!" ajak Anette secara berbisik.
Dan suami Anette itu yang juga lelah itu, menyetujui ajakan istrinya.
Setelah berpamitan dengan pak Suroso dan ibu Sunarti, kedua pengantin itu melangkahkan kaki menuju ke kamar Anette. Sedangkan yang lainnya juga melangkahkan kaki menuju ke kamar masing-masing, dan semuanya mengistirahatkan badan dan pikiran setelah seharian banyak aktifitas yang mereka lakukan.
"Ah, akhirnya aku bisa bersama orang yang aku suka. Anita, maaf ya! aku jahat sama kamu. Tapi aku menyukai calon suami kamu!" gumam dalam hati Anette dengan mengulas senyum kemenangan disaat dirinya sedang ganti pakaian dan membersihkan dirinya di kamar mandi.
__ADS_1
"Anita, sudah belum?" tanya seorang laki-laki yang tak lain adalah suami Anette.
Anette mengulas senyumnya dan menganggukkan kepalanya secara pelan-pelan. Dan malam pertama mereka pun terjadi.
Perlu diketahui bahwa yang menikah dengan Anette ini, bukanlah Dokter Damar kekasih Anita melainkan Danar kakak Dokter Damar.
Sehari sebelum pernikahan, dokter Damar sedang disibukkan dengan melayani pasien door to door.
"Dokter, bukannya dokter besok akan menikah?" tanya salah satu pasien tetangga Bu Sunarti.
"Iya, tapi yang namanya tugas ya mau bagaimana lagi Bu." ucap dokter Damar seraya mengulas senyumnya dan memberikan resep obat pada pasiennya yang seorang ibu-ibu.
"Wah, dokter memang dokter teladan!" seru ibu pasien itu yang memberikan semangat pada dokter Damar.
"Terima kasih Bu. Saya permisi ya Bu, sudah sore, mau persiapan untuk nanti malam ke rumah calon istri." ucap dokter Damar seraya mengulas senyumnya.
"Iya dokter, selamat menempuh hidup baru ya dok!" ucap suami dari pasien dokter Damar.
"Aamiin...! Assalamu'alaikum!" ucap dokter Damar yang sudah berada di atas sepeda motornya dan sudah menyalakannya.
"Wa'alaikumsalam!" ucap ibu pasien dan juga suaminya.
Kemudian dokter Damar melajukan kendaraannya menuju ke rumahnya.
Tak berapa lama Dokter Damar sudah sampai di rumahnya dan disambut oleh ibu dan ayahnya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...