
Pada saat di ruang tamu, nampak tuan Suroso dan nyonya Cintya sedang duduk berbincang-bincang dengan beberapa orang.
"Assalamu'alaikum...!" ucap salam dokter Damar pada saat menghampiri mereka.
"Wa'alaikumsalam...!" ucap salam tuan Suroso dengan yang lainnya.
"Nak Damar, Anita kenapa?" tanya nyonya Cintya pada saat melihat Anita yang dibopong oleh dokter Damar.
"Anita sedang tidur ma." jawab dokter Damar dan dia melihat orang-orang yang sedang berbincang-bincang dengan tuan Suroso dan juga nyonya Cintya.
"Kau...! berani kau tunjukin wajahmu disini!" seru dokter Damar dengan geram dan membuat Anita yang semula tidur itu terus bangun dan meminta dokter Damar menurunkannya.
"A..apa yang terjadi mas?" tanya Anita yang sangat terkejut.
"Haikal! kenapa dia ada disini!" gerutu dokter Damar yang menatap Haikal dengan sinar mata yang tajam.
"Ha ..Haikal?" tanya Anita yang kemudian mengikuti arah sinar mata dokter Damar dan betapa terkejutnya dia pada saat melihat siapa yang saat ini berada di ruang tamu bersama kedua orang tuanya.
"Kak Anita, saya mewakili mas Haikal meminta ma'af atas perlakuan mas Haikal pada kak Anita. Saya janji mas Haikal tidak akan seperti itu lagi. Jadi kak Anita mau kan mema'afkan Mas Haikal?" tanya Amanda yang tiba-tiba menghampiri Anita.
"Ma'af aku belum bisa mema'afkan kakakmu Amanda!" seru Anita yang menyembunyikan dirinya dibalik punggung dokter Damar.
"Saya maklum jika kamu belum dan mungkin tidak akan mema'afkan aku yang berlaku lancang padamu tadi. Itu semua karena aku khilaf. Percayalah, karena banyaknya beban dalam diriku. Setelah kecelakaan Amanda, Yuni yang telah tiada. Jadi maukah kamu mema'afkan aku Anita?" tanya Haikal dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.
"Tidak, pergi kau!" seru Anita yang berubah ketakutan, karena Haikal terus memohon.
"Haikal! kau dengar apa kata Anita! Pergi....!" bentak dokter Damar dengan kesal. Dia khawatir dengan kondisi psikologi kekasihnya.
"Anita ma'afkan aku!" seru Haikal yang tak menggubris bentakan dokter Damar.
"Setelah apa yang kamu lakukan pada Anita, dengan mudahnya kau meminta ma'af! Aku yang calon suaminya saja tak terima, apalagi Anita dan kedua orang tuanya!" seru Dokter Damar.
"Lekas pergi kalian, apapun maksud kalian kami belum menerima kalian! cepat pergi sebelum aku lapor polisi!" lanjut dokter Haikal yang membentak dengan geram.
"Anita...!" panggil Haikal.
"Kak Anita, Manda mohon kak! kakak mau mema'afkan mas Haikal!" seru Amanda yang tiba-tiba duduk berlutut dihadapan Anita.
Anita dan semuanya terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Amanda.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang terjadi nak Damar?" tanya tuan Suroso yang penasaran.
"Pa, dia tadi berusaha merudapaksa Anita. Untunglah saya belum terlambat menolong Anita, kalau saya terlambat saya tak tahu lagi dengan kondisi Anita saat ini." jelas dokter Damar yang memeluk Anita, karena Anita terus menyembunyikan diri wajahnya di dada dokter Damar.
"Benar begitu putriku?" tanya Tuan Suroso yang penasaran.
"Benar pa, dan hampir saja Anita tadi jatuh di mesin penghancur sampah!" jawab Anita yang dibarengi Isak tangisnya.
"Dasar kurang ajar!" bentak tuan Suroso dengan yang melangkahkan kaki menghampiri Haikal.
"Plakk....plakk....!"
Dua tamparan mendarat di kedua pipi pemuda itu.
"Argh...!"
Haikal mengerang kesakitan dan Amanda memeluk kakaknya!
"Dengar! aku tak akan mema'afkan kalian. Kau itu punya adik perempuan Haikal! seandainya kejadian ini menimpa adik kamu, kamu mau apa? pasti seperti kami! Aku tak akan lapor polisi karena mengingat adik kamu dan kamu yang baru saja kehilangan kekasih kamu, jadi sebaiknya pergi sekarang juga sebelum aku berubah pikiran!" seru tuan Suroso yang memperingatkan Haikal.
"Kalian dengar! lekas pergi!" seru dokter Damar dengan geram karena seolah-olah Haikal dan yang lainnya seperti tak punya telinga saja.
Mama tiri Anita itu berusaha memberikan perhatian lebih pada Anita, dan Anita pun beralih memeluk mama tirinya.
Dokter Damar mengotak-atik ponselnya, dan dia pura-pura menelepon kepolisian.
"Halo selamat malam pak!"
"Ma'af pak bisa datang kemari, ada beberapa orang yang mengganggu keluarga kami!"
"Penjelasan lebih lanjut setelah bapak dengan satuan bapak datang kemari! Karena disini ada enam orang pengganggu yang tak mau pergi.Tolong secepatnya ya pak Polisi!"
Mendengar dokter Damar menyebut polisi, Amanda dan yang lainnya gemetaran dan mereka kemudian berbaris mencium punggung tangan tuan Suroso, nyonya Cintya dan dokter Damar.
Sedangkan Anita masih tetap diposisinya.
Haikal dengan terpaksa pun ikut meninggalkan rumah keluarga tuan Suroso tanpa ikut mencium punggung tangan si tuan rumah.
Mereka melangkahkan kaki keluar dari ruang tamu, lanjut ke teras dan tempat dimana kendaraan mereka terparkir. Setelah masuk dan naik ke kendaraan masing-masing, perlahan-lahan mereka meninggalkan rumah tuan Suroso , menyusuri jalan raya yang menuju ke rumah masing-masing.
__ADS_1
Sementara itu diruang tamu, Anita dan Damar menceritakan kejadian pada saat mereka meninggalkan rumah sampai sampai lagi ke rumah.
Tuan Suroso dan Nyonya Cintya menyimak dan geram akan kelakuan Haikal.
"Anita, sebaiknya kamu pindah saja." saran mama Cintya.
"Ma, mama sudah terlanju membayar biaya kuliah Anita. Jadi sayang kalau harus pindah." ucap Anita yang sebenarnya khawatir juga, mengingat sifat Haikal yang akhir-akhir ini.
"Begini saja nanti kalau pas saya libur, saya akan temani Anita. Tapi kalau pas saya kerja biar mang Ujang temani Anita sampai kedalam kampus." saran dokter Damar seraya menatap Anita yang nampak pucat dan sendu.
"Sepertinya itu lebih baik, aku jga tak rela jika kejadian ini terulang kembali." ucap tuan Suroso yang menatap Anita.
"Pa, biar mama yang akan menemani Anita ke kampus. Mama masih khawatir jika mang Ujang saja yang menjaga Anita." ucap nyonya Cintya yang mengusap kepala Anita.
"Iya, kalau mama tak kecapekan nanti. Papa juga mengijinkan, karena papa lebih tenang kalau banyak yang jagain Anita. Karena papa tak mau nanti disalahkan ibunya Anita di kampung." ucap tuan Suroso.
"Anita! Sudah larut malam, sebaiknya kamu istirahat." ucap dokter Damar yang memperhatikan keadaan Anita.
"Iya mas, Anita sangat lelah sekali!" ucap Anita yang kemudian bangkit dari duduknya.
"Papa, mama! Anita mau istirahat." ucap Anita yang meminta ijin.
"Iya, mama antar ya!" seru nyonya Cintya yang ikut bangkit dan kemudian mengiringi Anita melangkahkan kaki ke kamar Anita bersama bibi Ti yang berjalan dibelakang mereka.
"Nak Damar, sudah jam satu malam. Sebaiknya nak Damar tidur disini. Nak Damar pasti juga sudah lelah bukan?" ucap tuan Suroso yang menghampiri dokter Damar.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
... ...
__ADS_1