
"Wah, ramai sekali! sedang bahas apa sih kalian?" tanya seorang laki-laki setengah baya yang baru saja masuk ke rumah diikuti oleh bibi Ti yang berjalan di belakang laki-laki itu seraya menundukkan kepalanya.
"Papa!" panggil Anita dan mama Cintya yang bersamaan dan mereka pun bangkit dari duduk mereka.Dan laki-laki itu adalah tuan Suroso, papa kandung Anita dan juga Anette.
"Tuan Suroso!" panggil dokter Damar yang juga bangkit dari duduknya, seraya mengulurkan tangannya pada ayah kandung Anita.
"Kau, bukannya kau nak Damar? suami putriku Anette?" tanya papanya Anita yang sangat terkejut pada saat melihat dokter Damar.
"Nah itu tadi yang ingin aku tanyakan pa! tadi katanya mereka hampir saja menikah, begitu bilangnya!" seru mama Cintya yang kembali mengingat pertanyaan yang mengganggu pikirannya tadi.
"Begini pa, kemarin kan Anita sudah bilang kalau yang menjadi pengantin wanita itu mbak Anette, dan ternyata dari pihak laki-laki juga terjadi penukaran pengantin." ucap Anita.
"Penukaran pengantin?" tanya pak Suroso yang penasaran.
"Iya Pak, ceritanya saya punya kakak kandung yang beda satu tahun, dan kakak saya tinggal di Bali bersama nenek dari kecil hingga besar dan sampai mempunyai usaha disana. Kami memberi kabar kalau aku akan menikah. Dan kakakku yang bernama Danar Sasmita itu pulang untuk menyaksikan pernikahan saya dan Anita. Tapi mendadak saya mendapat panggilan tugas ke rumah sakit umum di kota ini. Dan agar tak membuat malu keluarga Anita, kakak ku Danarlah yang menggantikan aku sebagai pengantin laki-lakinya." jelas dokter Damar dan yang lainnya menyimak.
"Ja...jadi yang menikah dengan Anette sekarang bukan kamu?" tanya pak Suroso yang memperjelas pendengarannya.
"Bukan pak."jawab dokter Damar dengan tegas.
"Berarti kalian ini masih berjodoh! tunggu apa lagi, sebaiknya kalian lekas menikah!" seru pak Suroso yang memberi lampu hijau untuk hubungan mereka.
'Bagaimana dengan kamu Anita?" tanya mama Cintya yang menatap Anita dengan penasaran.
‘Aku, Anita ya terus bersama mas Damar, inilah keinginan kami sejak dulu." jawab Anita.
"Permisi tuan dan nyonya, ono minumannya." ucap bibi Ti yang datang membawa nampan dengan dua gelas minuman dan satu teko yang diletakkan perlahan-,lahan diletakkan di atas meja dihadapan kedua majikannya.
Setelah itu bibi Ti melangkahkan kaki kembali ke dapur. Dan percakapan mereka kembali berlanjut.
"Anita, ma'af mama mau tanya pada kamu. Bagaimana perasaan kamu yang sebenarnya antara Damar dan juga Haikal?" bisik mama Cintya yang penasaran dengan isi hati Anita.
"Mama, papa dan mas Damar, sebenarnya Anita juga sempat dilema. Anita sebenarnya memang ada sedikit rasa pada Haikal sejak pertemuan pertama, itu karena anita sudah mengikhlaskan mas Damar menikah dengan kak Anette. Anita berusaha melupakan mas Damar dan mencoba mencari cinta lagi yang bisa menggantikan posisi mas Damar dihati Anita.Tapi kenyataannya Anita sangat mencintai mas Damar. Dan sejak tahu kalau mas Damar tidak menikah dengan kak Anette, Anita ingin membuka kembali pintu hati Anita yang sebelumnya mau Anita kunci rapat-rapat." jelas Anita seraya menatap dokter Damar.
"Terima kasih Anita, mas Damar semakin yakin dan mau segera menghalalkan cinta kita." ucap dokter Damar yang mengulas senyum, dan Anita membalasnya dengan menundukkan kepalanya.
__ADS_1
"Nah, sekarang tinggal kita tetapkan kapan kalian bisa menikah?" tanya pak Suroso dengan semangat.
"Mama juga ingin melihat kalian menikah. Pasti kalian pasangan pengantin yang tercantik dan tertampan yang pernah mama lihat dan hadiri!" seru mama Cintya seraya mengulas senyumnya.
"Mama...!" panggil lirih Anita yang tesipu malu.
"Karena saya tak ingin gagal untuk kedua kalinya, saya ingin secepatnya dan sebaiknya kita laksanakan ijab kobul terbih dahulu dengan dihadiri keluarga terdekat saja. Bagaimana pak eh tuan dan nyonya?" tanya dokter Damar seraya menatap kedua orang tua Anita.
"Kami sih setuju-setuju saja. Dan nanti kita laksanakan disini dan saya akan jemput ibu kandung Anita dan pamannya di kampung." ucap pak Suroso yang meyakinkan.
"Iya, pak saya juga akan menghubungi kedua orang tua saya dan juga keluarga yang lainnya." ucap dokter Damar dengan serius.
"Bagus, ayo diminum dan makan!" seru mama Cintya pada dokter Damar Anita dan suaminya.
Kemudian mereka menyantap hidangan yang ada, sambil saling bercerita tentang keseharian mereka.
"Tuan dan nyonya, saya mau minta ijin." ucap dokter Damar disaat mereka berhenti berbicara.
"Jangan panggil tuan dan nyonya, biasa saja! papa dan mama, kamu kan mau jadi menantu kami! iya kan pa?" ucap mama Cintya sembari mengulas senyumnya melirik pada suaminya.
"I..iya nyo..eh mama dan papa." ucap dokter Damar yang sedikit canggung.
"Saya mau mengajak Anita jalan-jalan sebentar pa." jawab dokter Damar dengan sopan.
"Oh, boleh saja. Tapi setelah sholat Maghrib dulu ya!" seru pak Suroso seraya bangkit dari duduknya.
"Oh, iya pa." Jawab dokter Damar yang ikut berdiri dan demikian pula dengan Anita dan mama Cintya.
"Anita, antarkan nak Damar ke kamar tamu. Mungkin mau membersihkan diri dan beristirahat sebentar." ucap mama Cintya pada Anita.
"Iya, ma." ucap Anita seraya menganggukkan kepalanya.
"Mari mas, Anita antarkan ke kamar tamu." ajak Anita.
"Mas Damar mau ambil pakaian ganti di bagasi mobil lebih dulu." ucap dokter Damar.
__ADS_1
"Iya Anita tunggu disini mas." ucap Anita.
"Mama dan papa juga mau ke kamar, nanti kita sholat jama'ah di mushola ya!" ajak pak Suroso.
"Iya Pa." jawab Anita dan dokter Damar yang bersamaan.
Papa dan mama Anita melangkahkan kaki meninggalkan Anita, demikian pula dengan dokter Damar yang melangkahkan kaki keluar dari rumah menuju ke mobilnya.
Sesampainya di belakang mobilnya, dokter Damar segera membuka bagasi dan mengambil tas yang berisi pakaiannya.
Tanpa di sadari dokter Damar, ada sepeda motor masuk dan berhenti di depan teras rumah keluarga pak Suroso.
Setelah berhenti, pengendara sepeda motor yang seorang laki-laki itu turun dan membuka helm-nya. Dan ternyata dia adalah Haikal yang hendak menemui Anita.
Haikal melangkahkan kaki dan sampai di depan pintu rumah besar itu. Kemudian dia mengetuk pintunya.
"Tokk.....tokk.....tokk......!''
"Assalamu'alaikum...!" ucap salam Haikal.
"Wa'alaikumsalam...!" jawab Anita yang masih berada di ruang tamu.
"Aneh, kenapa mas Damar pakai ketuk pintu dan salam segala? bukannya tinggal masuk saja!" gumam dalam hati Anita yang bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju ke pintu utama rumah itu.
"Eh, seperti bukan mas Damar?" gumam dalam hati Anita pada saat melihat sesosok laki-laki dari dalam rumah, karena pintu yang masih terbuka lebar.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...
... ...