
Mobil mewah yang mereka tumpangi dan dikemudikan oleh dokter Damar itu terus melaju dan menyusuri jalan raya.
Sementara itu Anita terbengong tak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Benarkah itu mas Damar? bukannya dia saat ini bulan madu dengan Anette? kenapa bisa ada disini?" gumam dalam hati Anita yang penuh tanda tanya dibenaknya.
"Kalau bukan mas Damar, kenapa wajahnya begitu mirip dan dia tadi memanggilku, dan aku sangat mengenal cara mas Damar memanggilku!" ucap dalam hati Anita yang tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Sedangkan Haikal juga tertegun dalam hatinya, pikirannya seakan runyam karena Yuni melihat dirinya memeluk Anita.
"Bagaimana caraku bisa balikan sama Yuni jika seperti ini!" gumam dalam hati Haikal yang mengusap wajahnya secara kasar.
"Ahh bodohnya aku! dasar ceroboh!" gerutu dalam hati Haikal yang seolah ingin menghentakkan kakinya berlari mengejar Yuni dan teriak sekencang-kencangnya dan bilang kalau dirinya masih mencintai gadis yang dipacarinya sejak Sekolah menengah pertama itu.
Keduanya masih berdiri ditempatnya tanpa bergerak sama sekali, hingga salah seorang pelayan Haikal dan Amanda kafe yang hendak pulang, menyadarkan mereka berdua.
"Tuan Haikal dan nona Anita! kalian belum pulang? sudah larut malam lho, kalian harus istirahat nantinya." ucap pelayan itu yang seketika Haikalbdan Anita tersadar dari lamunannya.
"Iya, kami juga akan pulang." ucap Haikal yang kemudian melangkahkan kaki ya menuju ke sepeda motornya dan kemudian memberikan helm satunya untuk Anita.
"Hati-hati ya tuan dan nona!" seru pelayan itu seraya melambaikan tangannya pada Haikal dan juga Anita.
"Baik, kamu juga hati-hati ya! Assalamu'alaikum!" balas Anita seraya naik ke sepeda motor Haikal setelah Haikal naik lebih dulu, sambil melambaikan tangan pada pelayan itu.
"Wa'alaikumsalam...!" balas pelayan itu seraya membalas lambaian tangan Anita.
Haikal yang telah menyalakan sepeda motornya itu, dengan segera melajukan kendaraannya menyusuri jalan raya dengan kecepatan sedang.
Selama dalam perjalanan, keduanya hanya diam karena sibuk dengan pikiran masing-masing.
Anita memikirkan dokter Dimas dan nasib pernikahan saudara kembarnya Anette, sedangkan Haikal memikirkan hubungannya dengan Yuni. Akankah tetap berlanjut atau mereka pisah selama-lamanya.
Tak berapa lama mereka telah sampai didepan rumah Anita.
"Anita, sudah malam. Aku langsung pulang ya!" ucap Haikal pada saat menghentikan sepeda motornya, dan Anita turun dari sepeda motor Haikal.
"Iya, dan besok pagi kamu jemput aku ya! kita berangkat sama-sama." pinta Anita seraya melepaskan helmnya dan memberikannya pada Haikal.
"Ehm...!" balas Haikal yang hanya menganggukkan kepala dan mengulas senyumnya.
__ADS_1
"Ok, daa Haikal!" seru Anita seraya melambaika tangannya.
"Kamu cepat masuk ya!" seru Haikal yang khawatir dengan ke adaan Anita.
"Iya, telah kamu pergi!" seru Anita yang mengulas senyumnya.
"Assalamu'alaikum...!" ucap salam pamit Haikal.
"Wa'alaikumsalam...!" balas Anita seraya melambaikan tangannya.
Haikal kembali menyalakan sepeda motornya dan menjalankannya keluar dari halaman rumah Anita, kemudian menyusuri jalan raya.
Setelah Haikal menghilang dari pandangan matanya, Anita bergegas masuk ke rumah dan ternyata dia disambut oleh bibi Ti yang terlihat lelah namun tetap berusaha menunggu kedatangan Anita.
"Bibi Ti, kenapa bibi tidak tidur saja?" tanya Anita yang berjalan beriringan dengan bibi Ti.
"Sudah menjadi tugas saya neng menunggu tuan rumah pulang dari aktifitasnya. Lagi pula neng Anita juga pulangnya tak terlalu malam, malah kadang nen Anette sampai dini hari neng!" jawab Bibi Ti yang tetap melangkahkan kakinya sejajar dengan Anita.
"Ya sudah, sekarang bibi Ti boleh istirahat dan Anita juga harus istirahat juga!" bisik Anita dan bibi Ti mengangguk lalu mengulas senyumnya.
"Iya neng.'' ucap bibi Ti yang kemudian melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya, demikian juga gadis yang bernama Anita itu melangkahkan kaki menuju ke kamarnya.
Anita membaringkan tubuhnya terlentang dan menatap langit-langit kamarnya. Gadis itu membngingat apa yang telah terjadi seharian ini, dan pelahan-lahan kedua matanya tertutup dan gadis itu menuju ke alam mimpinya.
Keesokan paginya, setelah sholat subuh mandi dan mengganti pakaiannya, Anita melangkahkan kaki menuju ke ruang makan.
Terlihatlah pembantu yang lainnya sedang menyapu dan bibi Ti yang sedang menyiapkan sarapan semua yang ada di rumah besar itu.
"Neng Anita, sarapan dulu. Ke kampusnya nanti jam berapa neng?" tany bibi Ti sembari mengelap beberapa piring.
"Jam delapa bi, tapi nanti jam tujuh katanya Haikal akan menjemput Anita bi!" jawab Anita seraya duduk di kursi meja makan itu seraya melihat aktifita bibi Ti.
Jika dia mau membantu, sudah pasti jika bibi Ti akan memarahinya, karena itulah Anita hanya diam seraya menikmati minuman yang telah dihidangkan oleh bibi Ti dan kemudian nasi beserta teman-temannya yang ikut dihidangkan oleh bibi Ti.
Anita sarapan dersama bibi Ti dan beberapa pembantu lainnya, sementara kedua satpam yang masih terjaga, sudah dikirim nasi dan sayurannya oleh pembantu lainnya.
Beberapa menit kemudian, Anita selesai makan dan kemudian dia kembali ke kamarnya untuk mengambil jaket dan tasnya untuk kepentingan kuliahnya.
Beberapa menit kemudian Anita melangkahkan kakinya menuju ke ruang tamu, dan membuka layar ponselnya untuk menghubungi Haikal.
__ADS_1
Dan ternyata Haikal sudah onthe way menuju ke rumahnya.
Benar saja, lima menit kemudian Haikal sudah datang dengan sepeda motornya.
Setelah pamitan dengan bibi Tibdan para pembantu lainnya, Anita melangkahkan kaki keluar dari rumah dan menjumpai Haikal yang masih duduk diatas sepedanya dengan tetap memakai helmnya.
"Baru saja mau aku chat, ternyata sudah dalam perjalanan!" seru Anita seraya menerima helm pada saat Haikal mengulurkan helm yang kemarin dipakai oleh Anita.
"Iya, kita harus lebih cepat karena hari ini nampaknya akan ada fenomenal warga yang turun ke jalanan, karena demontrasi para buruh dan para karyawan yang sedang berdemo menuntut hak-hak mereka." jelas Haikal dan Anita hanya bisa menganggukkan kepalanya.
Kemudian sepeda motor yang membawa mereka melaju menyusuri jalan raya yang menuju ke kampus mereka.
Tak berapa lama, mereka telah sampai di depan kampus, setelah menuju ke tempat parkir, keduanya turun dari sepeda motor itu dan kemudian mereka melangkahkan kaki menyusuri lorong kampus dan mereka berpisah di persimpangan lorong kampus itu.
Anita melanjutkan langkahnya dan pada akhirnya Anita telah sampai didepan fakultas kedokteran, dan Anita segera masuk ke fakultas itu.
Sesampainya ditempat duduknya, tiba-tiba Dilla menghampirinya.
"Anita!" panggil Dilla yang sedang mengatur napasnya.
"Ada apa Dil?" tanya Anita seraya meletakkan tas miliknya.
"Yuni dan Lisa and the geng tak masuk ke kampus hari ini!" bisik Dilla yang di telinga Anita.
"Eh, kenapa mereka tak masuk ke kampus?" tanya Anita yang penasaran.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
... ...
__ADS_1