Jangan Rampas Cinta-ku

Jangan Rampas Cinta-ku
Bab 43


__ADS_3

"Eh, kenapa mereka tak masuk ke kampus?" tanya Anita yang penasaran.


"Ada yang bilang kalau Yuni semalam nekat terjun ke sungai!" jawab Dilla yang terlihat ikut cemas.


"Lho kok bisa?bukannya semalam dia naik mobil sama Lisa dan mas Dimas?" tanya Anita yang semakin penasaran.


"Katanya sih Yuni kalut dia keluar dari mobil, pada saat mobil berhenti pas lampu merah lalu lintas di persimpangan jalan raya. Dan tiba-tiba Yuni keluar dan berlari menuju ke jembatan, kemudian Yuni terjun begitu saja ke sungai!" jelas Dilla.


"Innalillahi wa Innalillahi roji'uun..! lantas bagaimana keadaan Yuni sekarang?" tanya Anita yang cemas dan penasaran.


"Masih dalam pencarian tim SAR!" jawab Dilla yang tiba-tiba kedua matanya berkaca-kaca.


Dilla, walaupun sering di-bully oleh Lisa and the geng, tapi hatinya yang lembut tak bisa menyembunyikan rasa sedihnya mendengar berita yang menimpa Yuni.


"Haikal sudah tahu belum ya!" seru Anita yang sangat cemas dengan situasi seperti itu.


"Anita!"


Baru saja selesai berseru, Haikal datang dengan wajah kusut menghampiri Anita.


"Ha..Haikal..!" panggil Anita dan Dilla yang bersamaan dan menoleh ke sumber suara.


"Apa kalian sudah mendengar apa yang terjadi dengan Yuni?" tanya Haikal dengan suara yang terengah-engah.


"Baru saja dengar dari Dilla, kamu juga mendengarnya?" jawab sekaligus tanya Anita yang masih dengan raut cemas menatap Haikal.


"Dari teman-teman, dan tadi aku sempat menghubungi Lisa. Yuni sudah diketemukan dan dibawa ke Rumah sakit Umum!" jelas Haikal.


"Ayo kita kesana Hai..! kita ijin sama rektor dan dosen terlebih dahulu!" ajak Anita yang juga memberikan sarannya.


"Iya, ayo ke ruang Rektor sekarang!" ajak Haikal.


"Dilla kamu disini ya!" seru Anita pada Dilla.


"Iya, semoga Yuni baik-baik saja!" seru Dilla.


"Aamiin ya robbal alaamiin." balas Anita yang kemudian melangkahkan kakinya meninggalkan Dilla yang menatap mereka dengan tatapan sendu.


Anita dan Haikal melangkahkan kaki menuju ke ruang Rektor, dan mereka meminta ijin untuk menjenguk Yuni di rumah sakit.


Setelah mendapatkan ijin, mereka melangkahkan kaki keluar dari ruangan rektor dan menyusuri lorong kampus. Terus melangkah menuju ke tempat dimana Haikal memarkirkan sepeda motornya.


"Haikal, kamu masih bisa kan mengendarai sepeda motor kamu?" tanya Anita yang sangat cemas.


"Aku masih sanggup Anita, kamu tenang saja." ucap Haikal yang mengulurkan helm pada Anita.

__ADS_1


"Ok, terima kasih!" ucap Anita seraya menerima helm dan kemudian memakainya.


Haikal yang telah menyalakan sepeda motornya itu, dengan segera melajukan kendaraannya menyusuri jalan raya dengan kecepatan sedang.


Selama dalam perjalanan, keduanya hanya diam karena sibuk dengan pikiran masing-masing.


Tak berapa lama mereka telah memasuki rumah sakit umum yang mereka tuju, dan masih melaju sampai di tempat parkir sepeda motor. Setelah berhenti, keduanya turun dan melepas helm masing-masing.


Setelah itu mereka melangkahkan kaki menuju ke ruang informasi. Haika menanyakan informasi tentang keberadaan Yuni dan akhirnya dia mendapatkan informasi itu.


Keduanya melangkahkan kaki menyusuri lorong demi lorong jalan menuju ke ruang UGD sesuai petunjuk petugas rumah sakit tadi.


Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di ruang tunggu dimana ada Lisa and the geng yang sedang duduk dengan wajah sendu mereka.


"Assalamu' alaikum...!" ucap salam Haikal dan Anita pada saat mengnhampiri Lisa.


"Wa'alaikumsalam...!" balas Lisa dan yang lainnya dengan pelan dan terkejut pada saat menoleh ke arah Anita.


"Kau..!" seru mereka bersamaan.


"Lisa bagaimana keadaan Yuni?" tanya Haikal yang penasaran.


"Hah! masih bisa kamu menanyakan keadaan Yuni!" seru Lisa yang seketika bangkit dari duduknya dan tiba-tiba menatap Anita dengan amarahnya.


"Dan kau dasar gadis pembangkang! kau pasti tersenyum melihat Yuni yang terkapar di ruang ICU! Hah, enyah kau!" seru Lisa yang seketika mendorong Anita sekuat tenaganya, hingga gadis itu jatuh terduduk diatas lantai.


"Auw....!" suara Anita yang mengerang kesakitan.


"Anita!" panggila haikalbyang kemudian membantu Anita untuk berdiri.


"Kalian ini apa-apaan! menuduh tanpa jelas!" seru Haikal yang menatap Lisa dengan geram.


"Menuduh tanpa jelas apa? kalian kemanapun selalu berdua, apalagi yang semalam! kau tahu, Yuni sangat terpukul sekali!" seru Lisa dengan ketusnya.


"Kalian salah paham!" seru Haikal yang membela diri dan Anita menganggukan kepalanya karena Haikal bicara apa adanya.


"Pembohong! kalian sama-sama pembohong!" seru Lisa dengan geramnya.


Tak berapa lama pintu ruang ICU terbuka dan nampaklah seorang dokter dan seorang perawat keluar dari ruangan itu.


"Hah, mas Dimas!" panggil Anita yang sangat terkejut saat melihat dokter yang bersama suster itu adalah dokter Dimas.


"Anita kamu mengenal dokter Dimas? dialah dokter yang menangani Amanda selama ini!" seru Haikal yang menjelaskan.


"Anita!" panggil lirih dokter Dimas yang sama terkejutnya dengan Anita.

__ADS_1


"Dokter, dokter bagaimanakah keadaan Yuni?" tanya Lisa yang melangkahkan kakinya diikuti anggota Lisa and the geng lainnya, menghampiri dokter Damar dan juga susternya itu.


"Sudah melewati masa kritisnya, hanya saja dalam keadaan bawah sadarnya, Yuni selalu memanggil nama Haikal. Apakah anda yang bernama Haikal?" tanya dokter Damar yang menatap ke arah Haikal.


"Iya dokter, saya yang bernama Haikal." jawab Haikal yang dengan tegas.


"Anda saya perbolehkan pertama kali masuk untuk menemui pasien yang bernama Yuni, tapi tetap dengan pengawasan suster." ucap dokter Damar yang tetap dengan ramah, walau hatinya saat ini sedang tak menentu.


"Baik dokter, terima kasih." ucap Haikal yang kemudian masuk ke ruangan ICU bersama perawat yang tadi bersama dokter Damar.


"Untuk yang lainnya juga harap patuhi aturan, satu persatu jika mau menjenguk pasien Yuni." pesan dokter Damar dengan suara khasnya yang tentu sangat dirindukan oleh Anita.


"Baik dokter, kami akan patuhi pesan dokter Damar!" seru Lisa yang mewakili teman-temannya dan dia mengulas senyumnya pada dokter muda itu.


"Dan untuk saudari Anita, ikut saya sebentar!" ajak dokter Damar yang menatap Anita.


"Degh...!"


Jantung Anita seakan berhenti, perasaannya yang sebelumnya dia kubur, seolah-olah mau bangkit kembali.


"Woi dasar pembangkang!" seru Lala yang dengan nada sewotnya.


"Ah, i...iya!" ucap Anita yang seketika itu tersadar dari lamunannya, dan melihat Dokter Damar sudah sudah melangkah agak jauh meninggalkan ruang tunggu itu.


Anita mempercepat langkahnya dengan setengah berlari, untuk mengejar seorang dokter yang telah membuat jantungnya berdebar-debar itu.


Lisa and the geng melihatnya dengan rasa kebencian yang tak terbendung.


Sementara Anita, gadis itu telah berhasil menyusul dokter Damar. Dan saat ini mereka berada di depan pintu ruang praktek dokter Damar.


Setelah dokter Damar membuka pintu, keduanya masuk dan dokter Damar menutup pintunya.


Dokter Damar mempersilahkan Anita untuk duduk di kursi yang biasa buat pasiennya, kemudian dokter Damar duduk di kursinya dan terus memandangi Anita yang duduk dan juga menatap dokter Damar dengan Benyak pertanyaan dibenaknya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


...           ...


__ADS_2