
"Aamiin ya Robbal alaamiin...!" ucap Anita, tuan Suroso, nyonya Cintya dan juga bibi Ti yang sedang mendokumentasikan peristiwa penting itu.
"Pa, saya sudah ijin dua hari. Rencananya saya mau pulang mengajak Anita serta, untuk mengabari kedua orang tua saya dan juga ibu Anita. Bagaimana pa, apa papa dan mama bisa mengijinkan kami pulang kampung?" tanya Dokter Damar yang memandang tuan Suroso dan nyonya Cintya secara bergantian.
Tuan Suroso menatap istri keduanya dan nyonya Cintya menganggukkan kepalanya sebagai balasannya seraya mengulas senyumnya.
"Iya kami mengijinkan kalian pergi, karena keluarga didesa juga harus tahu kabar bahagia ini. Dan nanti juga akan dirayakan didesa pula, iya begitu kan nak Damar?" tanya tuan Suroso yang menatap dokter Damar.
"Iya pa. Memang rencana kami dulu menikah di desa. Perkara setelah menikah di sini, yang penting kita kan sudah halal, iya kan dik Anita?" jawab sekaligus tanya dokter Damar pada Anita.
"Degh...!" jantung Anita seperti terhenti, dia sangat rindu sekali panggilan dokter Damar padanya, yaitu dik Anita. Seperti menggugah momen-momen saat pertama kali dokter Damar mendekatinya.
"I...iya mas!" balas Anita yang mengatur napasnya.
"Dik Anita? Hm...! Lucu sekali ya kalian!" seru nyonya Cintya yang mengulas senyumnya.
"Itu panggilan laki-laki pada gadis yang dicintainya saat di kampung. Dulu papa juga begitu kalau panggil ibunya Anita." jelas tuan Suroso.
"Oh begitu ya pa? coba sama mama juga begitu?" ucap nyonya Cintya yang merengek.
"Hei, kamu kan sudah ada panggilan khasnya. Mama Cintya karena kamu itu wanita dari kota. Kalau dik itu hanya untuk dik Sunarti yang sejak dulu memang gadis dari desa." balas tuan Suroso.
"Ah, papa!" seru nyonya Cintya uang mengulas senyumnya.
"Terus kalian mau berangkat kapan?" tanya tuan Suroso yang menatap pada dokter Damar.
"Saya terserah di Anita. Bagaimana dik Anita?" tanya dokter Damar yang menatap wajah Anita.
"Apa sekarang saja mas? bukankah mas Damar juga sudah ijin kerja?" ucap Anita yang balik bertanya. Dan dokter Damar menganggukkan kepalanya lalu mengulas senyumnya.
"Baiklah kalau begitu kita berangkat sekarang ya!" pinta dokter Damar.
"Kalau kalian mau berangkat, papa berdoa semoga kalian sampai ditujuan. Oiya, kalian mau pakai kendaraan apa?" tanya tuan Suroso.
"Kendaraan umum pa, karena mobil itu adalah mobil dinas. Jadi saya tak berani membawanya sampai keluar kota." ucap dokter Damar.
"Kalian pakai mobil mama saja!" seru nyonya Cintya yang memberikan usul.
"Apakah boleh ma?" tanya Anita yang tak enak hati.
"Ya boleh saja! kan demi kamu dan kalian. Asalkan kamu bahagia, mama ikut bahagia" balas nyonya Cintya.
"Oiya, masalah kampus kamu mama nanti akan hubungi dosen kamu yang masih sepupuan dengan mama." ucap nyonya Cintya yang menatap ke arah Anita.
"Baiklah ma, pa! kalau begitu Anita mau berkemas-kemas" ucap Anita yang bangkit dari duduknya dan
"Oiya nak Damar, ini kunci mobil beserta surat-suratnya." ucap nyonya Cintya yang memberikan kunci mobilnya.
"Iya, terima kasih ma." ucap dokter Damar.
"Kalian hati-hati ya dalam perjalanan nanti. Sampaikan salam kami pada keluarga kamu dirumah." ucap tuan Suroso pada dokter Damar.
"Iya pa!" balas Dokter Damar seraya mengulas senyumnya.
Tak berapa lama Anita sudah menghampiri mereka dengan tas ranselnya.
__ADS_1
"Anita sudah siap!" seru Anita seraya mengulas senyumnya.
"Hati-hati ya Anita, salam buat mbak Narti di kampung." kata nyonya Cintya.
"Iya ma, pasti Anita sampaikan." ucap Anita seraya mencium punggung tangan kanan papanya berikut nyonya Cintya.
Tak ketinggalan dokter Damar mengikutinya, dan kemudian mereka mengucapkan salam.
"Assalamu'alaikum..!"
"Wa'alaikumsalam...!" jawab tuan Suroso dan nyonya Cintya yang bersamaan.
Anita dan dokter Damar melangkahkan kaki menuju ke mobil nyonya Cintya, kemudian mereka masuk dan dokter Damar menyalakan mobil itu dengan perlahan-lahan meninggalkan kediaman tuan Suroso.
Setelah mobil yang dikendarai dokter Damar dan juga Anita hilang dari pandangan mata, tuan Suroso berpamitan dengan istri keduanya dan kemudian melangkahkan kaki menuju ke mobilnya dan perlahan-lahan meninggalkan rumahnya, hendak menyusuri jalan raya yang mengarah ke perusahaannya.
Sementara itu Anita dan dokter Damar terus melaju menyusuri jalan raya dan tanpa terasa meninggalkan kota tempat mereka tinggal beberapa waktu yang lalu.
"Dik Anita, semoga pernikahan kita lancar ya." ucap dokter Damar yang sesekali menoleh ke arah Anita yang saat ini rona wajahnya begitu cerah dan ceria.
"Aamiin ya Robbal alaamiin....!!" balas Anita sembari mengulas senyumnya.
Kemudian Anita memasang earphonenya dan mengotak-atik ponselnya.
"Kamu sedang apa?" tanya dokter Damar yang sesekali melihat ke arah Anita.
"Dengerin musik mas!" jawab Anita yang sudah menemukan judul lagu yang ingin dia dengarkan.
"Keraskan saja! mas kan juga ingin dengar!" seru dokter Damar seraya mengulas senyumnya.
"Oh, iya mas!" jawab Anita yang kemudian melepaskan earphonenya dan terdengarlah lagu yang dia nyalakan.
...By. Armada Band...
...Lihat ku disini...
...Kau buat ku menangis...
...Tak ingin menyerah...
...Tapi tak menyerah...
...Mencoba lupakan...
...Tapi ku bertahan...
...Reff:...
...Kau terindah kan selalu terindah...
...Aku bisa apa tuk memilikimu...
...Kau terindah kan selalu terindah...
...Harus bagaimana ku mengungkapkannya...
__ADS_1
...Kau pemilik hatiku...
...Mungkin lewat mimpi...
...Ku bisa tuk memberi...
...Ku ingin bahagia...
...Tapi tak bahagia...
...Ku ingin dicinta...
...Tapi tak dicinta...
...Back to Reff: 2x...
...Kau pemilik hatiku...
...Kau pemilik hatiku...
...Kau pemilik hatiku...
"Kau pemilik hatiku..." ucap dokter Damar yang melirik ke arah Anita, hal itu membuat wajah gadis itu memerah seperti udang rebus.
"Mas Damar ihh...!" ucap Anita yang mengulas senyum malunya.
"Gemes lho kalau lihat kamu seperti itu! ha...ha....!" seru dokter Damar yang tertawa renyah.
"Biasa deh! godain anak orang!" seru Anita yang sedikit cemberut.
"Ya nggak apa-apakan godain calon bini! ha...ha...ha...!" ucap dokter Damar yang semakin lebar tawanya.
Canda dan tawa selalu mengiringi perjalanan mereka, dan tak terasa matahari sudah berada diatas kepala.
Dokter Damar menghentikan laju mobil yang dikendarainya pada saat sudah sampai ditempat parkir sebuah restoran.
Keduanya makan siang di restoran itu dan kebetulan di restoran itu ada masjid-nya juga. Jadi mereka bisa sekalian sholat dhuhur dan istirahat sebentar di masjid tersebut.
Setelah kurang lebih satu setengah jam lamanya, keduanya melanjutkan perjalanan kembali menuju ke kampung halaman.
Tak terasa beberapa jam berlalu, mereka telah melewati gapura tanda masuk ke desa mereka.
Damar terus melajukan mobil itu menuju ke depan rumah Anita.
"Beberapa hari kita meninggalkan kampung halaman kita, seperti bertahun-tahun rasanya!" seru Anita yang terus menebarkan pandangannya ke luar mobil seraya mengulas senyumnya.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
__ADS_1
...Bersambung...
... ...