Jangan Rampas Cinta-ku

Jangan Rampas Cinta-ku
Bab 40


__ADS_3

"Oh, Danar ya. Anita kira Damar, he...he....he...!" ucap Anita yang mengulas senyumnya dan rona wajahnya kemerahan karena sedang tersipu malu.


"Ah, kenapa sih aku terbayang terus sama mas Damar!" gerutu dalam hati Anita yang gelisah.


Tak berapa lama terdengar suara adzan yang menandakan waktunya untuk sholat ashar.


"Bi, Anita mau ke kamar ya. Sholat Ashar sekaligus istirahat. Nanti malam ada acara bareng sama teman." ucap pamit Anita.


"Iya non."'jawab Bibi Ti yang sedang mengiris sayuran.


"Anita segera menuju ke kamar nya dan kemudian dia mengambil air untuk wudlu dan kemudian dia menunaikan sholat Ashar.


Selesai sholat ashar, Anita sekali lagi melihat ke foto yang tadi dia rangkai dan dimana laki-laki yang ada dalam foto, wajahnya sangat familiar untuknya.


"Ah, apa mungkin laki-laki ini mas Damar, kalau bukan mas Damar apa mungkin ada hubungannya dengan mas Damar?" gumam dalam hati Anita yang perlahan-lahan kedua matanya terpejam karena kelelahan.


Beberapa jam kemudian, adzan Maghrib pun berkumandang. Anita bangun dari tidurnya dan merasakan badannya yang semula capek karena tadi pagi mengikuti lomba basket mendadak hilang. Tubuhnya kembali segar bugar,


Anita segera bangun dan melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk mandi dan kemudian berwudlu. Setelah itu Anita melaksanakan ibadah sholat Maghrib dan setelah itu dia mulai keluar dari kamarnya dan melangkahkan kaki menuju ke ruang makan. Sesampainya di ruang makan, Anita bergegas makan dan setelah selesai , Anita segera melangkahkan kaki menuju ke kamar ya kembali untuk mengganti pakaiannya.


Tak berapa lama ada yang mengetuk pintu kamar Anita.


"Tokk....tokk....tokk....!"


"iya sebentar!" jawab Anita ya g kemudian membukakan pintu dan terlihat mbok Ri yang mengulas senyumnya.


"Non ada yang mencari dibawah!" ucap bibi Ti dengan ramah.


"Siapa bi?" tanya Anita yang penasaran.


"Saya kurang tahu, tapi kata mang Ujang namanya Ha...Haikal!" jawab bibi Ti yang berusaha mengingat nama tamu yang datang itu.


"Haikal? Oh Iya bi, ini saya juga mau turun" ucap Anita sembari mengulas senyumnya,


Kemudian mereka berdua melangkahkan kaki keluar dari kamar dan menuju ke ruang tamu secara beriringan.


Sesampainya di ruang tamu, benar saja ada sesosok pemuda yang sangat dikenal oleh Anita sedang berbincang-bincang dengan mang Ujang.


"Assalamu'alaikum Anita!" ucap salam Haikal yang langsung berdiri ketika melihat Anita yang sedang memakai pakaian casual itu.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam...Haikal kenapa kemari?" tanya Anita yang kemudian mempersilahkan Haikal untuk duduk kembali. Dan gadis itu pun juga ikut duduk di depan pemuda itu.


"Aku mau menjemput kamu, apa kamu tak berkeberatan?" tanya Haikal dengan menatap Anita.


"Boleh saja, tapi saya bareng sama mang Ujang ya." balas Anita seraya menatap ke arah sopir keluarga itu.


"Ma'af neng, mang Ujang tidak bisa mengantarkan. Mang Ujang mau pulang kampung malam ini juga. Istri mang Ujang mau melahirkan. Karena itulah tadi mang Ujang menghubungi tuan Haikal untuk menjemput dan mengantar neng Anita kemana pun neng Anita akan pergi." jelas mang Ujang.


"Tapi mang, apa mang Ujang percaya begitu saja sama Haikal?" tanya Anita yang penasaran.


"Tadi sudah saya tanyakan pada tuan Sura, dan tuan Sura sudah mengijinkannya. Ternyata papanya tuan Haikal adalah salah satu manager di perusahaan tuan Sura." jelas mang Ujang.


"Oh, jadi begitu ya." ucap Anita yang menghela napasnya.


"Kita berangkat sekarang ya Anita, soalnya kalau dari rumah ini lokasi Haikal dan Amanda kafe agak jauh." ucap Haikal yang menatap Anita.


"Tapi aku ganti baju dulu ya!"'seru Anita yang kemudian bangkit dari duduknya.


"Tidak usah, begitu saja sudah cantik kok! hanya tinggal pakai jaket saja, karena perjalanan nanti jauh dan banyak angin malam tentunya!" ucap Haikal dengan mengulas senyumnya.


"Ya baiklah, Anita ambil jaket dan juga tas Anita sebentar ya!" seru Anita.


"Iya." jawab Haikal yang kemudian berdiri dan diikuti oleh mang Ujang dan juga bibi Ti, mereka perlahan-lahan melangkahkan kaki menuju ke teras sambil menunggu Anita yang sedang mengambil sweaternya dan juga tas kecil yang berisikan ponsel, kartu identitasnya dan juga beberapa lembar uang tunai.


"Wah, pantas saja Eka dan yang lainnya tak tahu kalau kamu itu sudah kuliah! pakai pakaian apa saja kamu tetap imut! he...he...!" puji Haikal dengan mengulas senyumnya.


"Bisa saja kamu ini Kal!" seru Anita yang membalas mengulas senyum juga.


"Mang Ujang dan Bibi Ti kami berangkat ya!" ucap pamit Haikal.


"Iya, kalian yang hati-hati ya!" ucap pesan bi Ti.


"Iya, Assalamu'alaikum...!" jawab sekaligus salam pamit Haikal dan Anita yang bersamaan.


"Wa'alaikumsalam...!" balas Mang Ujang dan bibi Ti yang juga bersamaan.


Haikal dan Anita melangkahkan kaki menuju ke sepeda motor Haikal yang tadi diparkir oleh Haikal.


Kemudian Haikal memberikan helm pada Anita.

__ADS_1


"Nanti jangan malam-malam ya!" pesan Anita saat menerima helm dari Haikal.


"Iya, Tuan putri!" jawab Haikal yang menggoda Anita sembari memasang helmnya.


"Apa sih tuan putri-tuan putri segala! aku nggak suka seperti itu ya, Haikal!" seru Anita yang kemudian naik dibelakang Haikal.


Sepeda motor itu kemudian melaju dengan kecepatan sedang menuju ke tujuan mereka.


"Haikal!'' panggil Anita saat dalam perjalanan itu.


"Iya ada apa Nit?" tanya Haikal yang masih tetap mengemudi.


"Kita kan mau ke Haikal dan Amanda kafe, apakah itu milik keluarga kamu?" tanya Anita yang penasaran.


"Iya, tepatnya usaha mama aku yang kini mau tak mau harus aku yang memegangnya. Karena mama sudah tiada." jawab Haikal.


"Oh, jadi begitu ya! terus menu favoritnya apa kalau boleh aku tahu?" tanya Anita sambil mendekat ke telinga Haikal, khawatir jika Haikal tak mendengar ucapannya.


"Yang pasti Steak dan Ginastel-nya yang paling laris, tapi mau menu apa aja yang pasti yang tertera dalam daftar menu." jawab Haikal.


Setelah melewati beberapa persimpangan, akhirnya mereka sampai juga di tempat yang mereka tuju.


"Kal, kita ke masjid dulu yuk!" ajak Anita pada saat melihat ada masjid disamping Haikal dan Amanda Kafe.


"Boleh juga, ayo!" ajak Haikal, dan kemudian mereka melangkahkan kaki menuju ke masjid itu setelah memarkirkan sepeda motor yang tadi mereka tumpangi.


Keduanya melangkahkan kaki secara beriringan menuju ke masjid yang sedang mengumandangkan adzan sholat Isya'.


Beberapa menit kemudian mereka telah selesai sholat dan melangkahkan kaki kembali menuju ke Haikal dan Amanda kafe.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


...           ...


__ADS_2