
Bibi Ti dan para pembantu yang lainnya juga ikut mengantarkan majikan mereka keluar rumah.
"Semuanya, saya titip Anita dan rumah ini ya. Tolong kalian jaga dan rawat seperti biasanya." ucap mama Cintya yang berpesan pada para pembantunya.
"Iya nyonya, nyonya jangan khawatirkan hal itu.'' ucap bibi Ti yang mewakili teman-temannya yang sesama pembantu.
"Terima kasih, selama kami tinggalkan nanti jangan khawatir saya janji kalau gaji kalian akan saya tambahkan dua kali lipat." ucap pak Suroso seraya menatap para pembantunya itu.
"Terima kasih tuan, terima kasih...!" ucap para pembantu-pembantu keluarga pak Suroso itu seraya mengulas senyum mereka.
"Apakah gaji saya juga ditambah tuan?" tanya mang Ujang yang tiba-tiba ikut nimbrung seraya mengulas senyumnya.
"Iya, mang Ujang juga akan saya tambahin nanti!" jawab pak Suroso seraya menepuk bahu mang Ujang beberapa kali.
Kemudian mereka segera masuk ke dalam mobil dan tak berapa lama mobil itu melaju keluar dari halaman rumah mewah itu, diiringi lambaian tangan para pembantu mereka.
Setelah mobil yang membawa majikan mereka menghilang dari pandangan mereka, para pembantu itu melangkahkan kaki masuk ke rumah dan kembali pada tugas masing-masing.
Sementara itu mobil sedan mewah itu meluncur melewati beberapa kali lampu lalu lintas dan akhir ya sampai di depan kampus favorit dimana Anita akan menimba ilmu.
Setelah mobil berhenti, Anita segera berpamitan dengan papa dan mamanya.
"Papa dan mama, Anita menimba ilmu dulu. Dan untuk kalian semoga sampai di tujuan dengan selamat. Aamiin ya Robbal alaamiin " ucap Anita.
"Aamiin ya Robbal alaamiin" balas papa dan mama tiri Anita secara bersamaan.
"Kamu juga ya hati-hati di rumah dan jaga diri baik-baik." ucap dan pesan pak Suroso dan mama Cintya ikut menganggukkan kepalanya tanda menyetujui pesan dari suaminya itu.
"Insyaa Allah mama dan papa, Anita akan selalu ingat akan hal itu." ucap Anita.
"Kami percaya kamu bisa jaga diri dengan baik. Papa dan mama pamit ya, Assalamu'alaikum...!" ucap pamit pak Suroso yang kemudian melambaikan tangan bersama mama Cintya ke arah Anita.
"Wa'alaikumsalam..!" balas Anita seraya ikut membalas lambaian tangan kedua orang tuanya itu.
"Neng Anita, mang Ujang antar tuan dan nyonya dulu. Jangan rindu sama mang Ujang, nanti mang Ujang balik kok! he...be...he...!" ucap canda mang Ujang seraya terkejeh-kekeh.
"Idih siapa yang kangen sama mang Ujang? he..he..!" balas Anita seraya mengulas senyumnya.
"Sudah mang Ujang jangan bercanda, lekas berangkat! keburu ditinggal sama pesawatnya nanti!" seru mama Cintya yang tertuju pada sopirnya.
"Iya mang, lekaslah berangkat! aku nggak mau menunggu pesawat berikutnya!" seru pak Suroso seraya menepuk bahu sopirnya itu
"I...iya tuan dan nyonya!" ucap mang Ujang seraya menyalakan mesin mobil tersebut.
__ADS_1
"Permisi Yan neng Anita!" ucap pamit mang Ujang seraya menganggukkan kepalanya ke arah Anita.
"Iya mang Ujang! hati-hati ya!" balas Anita seraya melambaikan tangannya.
"Iya neng!" balas mas Ujang seraya melambaikan tangannya, dan kemudian mobil yang dikemudikan mang Ujang itu melaju kembali menyusuri jalan raya menuju ke arah bandara.
Anita masih melambaikan tangannya sampai mobil itu menghilang dari pandangannya. Kemudian dia melangkahkan kaki masuk ke kampusnya.
Pada saat Anita masuk ke wilayah kampus, Anita merasakan suasana di kampus sedikit berbeda dari kemarin.
Banyak dari para mahasiswa dan mahasiswi yang bergerombol dan memandang Anita dengan rasa penasaran.
"Dia yang mengalahkan Yuni kemarin ya!"
"Masak sih?"
"Iya, bahkan Lala dan Rini juga bisa dikalahkan olehnya!"
"Wah, bakal ada perang dunia di kampus ini!"
"Eh, kenalan yuk sama dia!"
"Buat apa?"
"Wah, betul juga!"
"Eh, coba saja kenalan dan minta foto dulu! siapa tahu dia merespon!"
Bisik-bisik beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang kagum dan penasaran dengan Anita, yang nota bene anak baru yang dengan seorang diri mampu melawan Lisa and the geng.
"Anita!" panggil seseorang diantara para mahasiswa yang sedang bergerombol.
"Haikal!" balas panggil Anita yang melihat seorang laki-laki yang memanggilnya. Dia yang tak lain adalah kekasih Yuni, dimana kemarin ikut menyaksikan pertandingan basket saat Anita melawan Yuni kekasihnya yang juga anggota dari Lisa and the geng.
"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Haikal pada saat menghampiri Anita.
"Memangnya ada apa?" tanya Anita yang penasaran.
"Sebaiknya jangan disini!" seru Haikal yang menarik tangan kanan Anita.
"Iya boleh saja, tapi jangan tarik tanganku seperti ini! kenapa sih ngombrolnya nggak disini saja!" seru Anita yang berusaha melepaskan cengkraman tangan Haikal.
"Diam dan ikutlah! jangan cerewet!" seru Haikal yang terus menarik tangan Anita.
__ADS_1
"Dih, laki-laki kok galak sama seorang cewek! apa kamu juga galak sama kekasih kamu?" tanya Anita sambil menggerutu.
"Bisa diam tidak!" bentak Haikal yang terus melangkahkan kaki dengan menarik tangan Anita tanpa menghiraukan banyak pasang mata yang melihat apa yang dia lakukan pada Anita.
Sementara Anita menghela napasnya dan berusaha tak bertanya lagi, karena dia sibuk mengimbangi langkah Haikal yang terkesan menariknya dengan paksa.
"Haikal! itu kan Haikal?" seru Rini yang melihat Haikal menarik tangan Anita.
"Benar, Yuni kemari!" balas Lala sambil memanggil Yuni yang sedang berjalan bersama Lisa di lorong kampus.
"Ada apa?" tanya Yuni yang mempercepat langkahnya dan menghampiri Rini dan Lala.
"Lihatlah!" seru Rini seraya menunjuk ke arah Haikal yang sedang menarik Anita.
"Kurang ajar! jadi itu alasan dia kenapa semalam memutuskan aku!" seru Yuni yang menatap ke arah dimana ada mantan kekasihnya.
"Putus?" tanya Lisa, Rini dan Lala yang sermpak dan seolah tak percaya dengan apa yang dia dengar dari mulut Yuni sendiri.
"Iya, semalam kami bertengkar hebat. Haikal lah yang pada awalnya meminta putus! A...aku sampai memohon agar dia beri alasan kenapa memutuskan hubungan kita secara mendadak, tapi dia tak juga memberitahukan alasannya!" seru Yuni dengan tangannya yang sudah mengepal.
"Tunggu apa lagi, ayo kita labrak mereka sekarang juga!" seru Lisa yang mengompori Yuni.
Yuni pun terpengaruh dengan ucapan Lisa dan mereka berempat dengan langkah cepat mengejar Haikal dan juga Anita.
Sementara itu Haikal dan Anita sudah sampai di taman kampus yang berada di belakang fakultas kedokteran dimana Anita, dan Lisa and the geng.
"Lepaskan aku!" seru Anita yang kemudian menghempaskan tangan Haikal, dan dengan terpaksa melepaskan genggamannya pada Anita.
"Ma'af...ma'af kan aku! bukan maksud aku mau jahat sama kamu Anita!" balas seru Haikal yang merasa tak enak hati.
"Aneh, tadi galak. Sekarang kayak merasa bersalah begitu?" gumam dalam hati Anita yang penuh selidik dengan perubahan sikap Haikal.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
__ADS_1