Jangan Rampas Cinta-ku

Jangan Rampas Cinta-ku
Bab 12


__ADS_3

Dimana wanita itu juga yang telah membiayai pengobatan saudara kembarnya, sehingga sampai sekarang dia bisa melihat dan memeluk saudara kembarnya itu..


Semalam Ibu Sunarti memberitahukan kepada suaminya, perihal pertukaran pengantin perempuan itu. Dan mereka pun sepakat membiarkan pernikahan itu terjadi, Bu Sunarti meminta pada suaminya untuk menguliahkan Anita sesuai keinginan Anita.


Karena Ibu Sunarti sudah tak sanggup lagi untuk membiayai kuliah Anita. Pak Suroso pun berjanji pada istrinya, karena dirinya juga merasa bersalah selama ini padanya.


Pagi-pagi sekali Anita naik mobil mewah bersama ayahnya melaju dengan kecepatan sedang meninggalkan kota kelahiran dan menuju ke kota dimana ayah dan ibu tirinya tinggal.


"Anette!" panggil Suroso yang mengemudi dengan sesekali menengok ke arah putrinya Anita yang sedang asyik melihat pemandangan diluar jendela mobil.


"I..iya yah!" jawab Anita yang terkejut karena panggilan ayahnya itu.


"Yah? tumben kamu panggil papa Ayah? apa kau ikut-ikutan sama adik kamu ya?" celetuk Pak Suroso yang penasaran.


"Eh, iya pa! Anette jadi ikut-ikutan sama Anita." ucap Anita yang berusaha bersikap seperti Anette.


"Aku menjadi Kak Anette, jadi aku harus bersikap seperti kak Anette!" gumam dalam hati Anita yang sesekali melirik ke arah ayahnya.


"Anette, adik kamu sudah menikah! kapan kamu bisa menikah dengan Bahar?" tanya Ayah Anita yang mengingat tentang Bahar, kekasih Anette.


Sementara Anita yang menjadi Anette, tak tahu apa-apa tentang Bahar. Gadis itu sedikit kebingungan, dengan terpaksa dia berpura-pura pada ayahnya.


"Iya, kami sedang marahan kok pa. Lagi pula belum ada pikiran Anette ke sana." jawab Anette yang berusaha menjawab sekenanya.


"Oh, begitu ya." ucap Pak Suroso yang tetap mengemudi.


Perjalanan mereka selingi dengan canda tawa dan sesekali mendengarkan musik kesukaan mereka.


"Pom bensin mana ya?" tanya dalam hati pak Suroso seraya melihat ke tepi kanan kiri jalan, mencari tanda adanya SPBU.


"Pa, papa mau cari apa sih pa?" tanya Anita yang sebelumnya tak memperhatikan papanya, tiba-tiba melihat papanya yang seperti kebingungan.


"Ini papa mau cari SPBU, takut pas kehabisan saat tidak ada orang yang jual bensin." jawab Pak Suroso.


"Oh, Anette bantu ya pa!" ucap Anita seraya menebarkan pandangannya ke tepi jalan.

__ADS_1


Tak berapa lama Anita melihat adanya tanda SPBU, beberapa meter di depan mereka.


"Pa itu ada SPBU!" seru Anita seraya menunjuk ke arah yang dia maksud.


"Oiya!" balas Pak Suroso yang melihat SPBU yang ditunjukkan oleh Anita. Dan Pak Suroso segera mengarahkan mobilnya ke SPBU tersebut.


Tanpa Anita sadari, mobil dimana dokter Damar juga kebetulan mengisi bahan bakar di SPBU itu. Dan pada saat ini mereka tak saling memandang, yang akhirnya mereka kembali terpisah dan menyusuri jalan raya dengan mobil masing-masing.


Anita kembali menatap ke arah jendela dengan pandangan kosongnya.


"Mas Damar, semoga kamu bahagia bersama Anette. Akurindu saat-sat kita bersama mas." ucap dalam hati Anita yang tak terasa kedua matanya berkaca-kaca dan kemudian bulir-bulir air mata itu membasahi kedua pipinya yang halus itu seakan-akan berebutan untuk sampai ke bawah.


Di mobil yang lain, dokter Damar juga dalam keadaan sama memandang ke arah jendela dengan pikiran dan hati yang selalu memikirkan ke seorang perempuan yang sangat dicintainya.


"Anita, oh kamu sekarang sudah pasti berbahagia dengan mas Danar. Kenapa bayangan wajah kamu tak pernah hilang dari kedua mataku, Anita jangan membayangi aku terus kamu sudah bahagia di kampung sekarang." gumam dalam hati dokter Damar seraya menghela napasnya untuk menghilangkan kepenatan dalam dadanya.


Seandainya dia tak ingat jika sedang satu mobil dengan teman-temannya, dokter Damar ingin menangis sejadi-jadinya. Dan pada saat ini dia menahannya, yang akibatnya dadanya kini terasa sesak.


Anita dan dokter Damar, akhirnya memejamkan kedua mata mereka, dan keduanya masuk ke dalam mimpi masing-masing.


"Pa, kita ke Masjid Saj dulu, Sholat sekalian makan siang dan istirahat sebentar." ajak Anita seraya menatap pak Suroso.


"Tumben kamu punya pikiran untuk sholat? biasanya papa yang ajakin kamu duluan!" gumam pak Suroso seraya melirik ke arah putrinya.


"Eh, iya sekarangkan luar biasa pa! he...he...he..!" ucap Anita seraya mengulas senyumnya.


Kemudian mobil yang dikendarai pak Suroso dan Anita masuk ke area parkir masjid yang berada di tepi jalan.


Setelah mobil itu berhenti di tempat parkir, keduanya turun dari mobil dan melangkahkan kaki mereka menuju ke tempat berwudlu masing-masing untuk menunaikan sholat Dhuhur.


Sementara itu di mobil dimana dokter Damar di dalamnya itu menepi di sebuah warung yang berada di samping masjid, dimana Anita dan papanya sedang menjalankan sholat dhuhur.


"Kita makan dulu ya! habis itu kita sholat dan istirahat di masjid itu." usul salah satu teman dokter Damar yang menjadi ketua dalam rombongan yang terdapat tujuh orang dokter pilihan itu.


"Iya, boleh juga!" jawab dokter Damar dan diikuti anggukan kepala dari beberapa dokter lainnya.

__ADS_1


"Jam sudah menunjukkan makan siang, perutku sudah tak bisa diajak kompromi." ucap seorang dokter yang berada disamping dokter Damar.


Kemudian setelah mobil berhenti, mereka segera turun dan melangkahkan kaki masuk ke warung makan itu. Setelah memesan makanan dan mereka melanjutkan perbincangan-perbincangan ringan mereka.


Tak berapa lama makanan dan minuman persanan mereka telah dihidangkan oleh pelayan warung itu. Kemudian mereka dengan segera menyantap makanan dan minuman yang sesuai pesanan mereka masing-masing.


Tak berapa lama mereka telah selesai makan dan segera membayarnya. Setelah itu mereka masuk ke dalam mobil dan mobil itu melaju masuk ke halaman masjid dan parkir di tempat yang telah disediakan oleh masjid itu.


Setelah keluar dari mobil, mereka beramai-ramai melangkahkan kaki ke tempat wudlu laki-laki.


Sementara itu Anita keluar dari masjid dan menghampiri papanya yang sedang memakai alas kaki.


"Sudah selesai, ayo kita makan bekal kita di dalam mobil saja ya!" seru Pak Suroso seraya menoleh ke arah putrinya.


"Iya pa. Anette juga sudah lapar." balas Anita yang juga memakai alas kakinya.


Kemudian keduanya melangkahkan kaki menuju ke tempat parkir dan menghampiri mobil mewah mereka yang masih terparkir di tempat semula,


Setelah berada di dekat mobil, Pak Suroso segera mengambil bekal mereka yang berada di dalam bagasi dengan dibantu oleh Anita.


Mereka membawa bekal-bekal itu masuk ke dalam mobil dan segeralah mereka makan dengan lahapnya.


Tak butuh waktu lama mereka telah menyelesaikan makan siang di dalam mobil mereka, kemudian bergegas kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju ke kota


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...


...Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2