Jangan Rampas Cinta-ku

Jangan Rampas Cinta-ku
Bab 16


__ADS_3

"I...iya ma!" jawab Anita dengan setengah berlari mengejar ibu Cintya dan berusaha berjalan beriringan dengan mama tirinya itu.


Keduanya melangkahkan kaki menuju ke pintu utama rumah mewah itu dan selanjutnya menuju ke sebuah mobil sedan warna merah yang terparkir di depan teras, siap mengantarkan pemiliknya bepergian.


Mang Ujang si sopir pribadi keluarga itu, membukakan pintu di kursi belakang.


"Anita, kamu masuklah lebih dulu, mama setelah kamu." ucap ibu Cintya dan Anita pun menurut begitu saja. Dia masuk lebih dulu dan menggeser tubuhnya masuk sampai di kursi bagian belakang kursi kemudi.


Dan setelah itu barulah ibu Cintya yang masuk dan mang Ujang menutup pintunya. Kemudian mang Ujang setengah berlari menuju ke kursi bagian kemudi.


"Ma, apakah Anita boleh tanya?" ucap Anita pada saat mobil melaju meninggalkan rumah mewah itu.


"Kamu mau tanya apa Anita, tanya saja?" ucap ibu Cintya dengan lemah lembut.


"Anita boleh tahu, kapan mama bertemu dengan papa. Dan apakah mama langsung jatuh cinta begitu sama papa?" tanya Anita yang dengan hati-hati walaupun dalam hati ya dia sangat penasaran sekali.


"Putriku Anita, mama minta ma'af jika mama..... jahat sama ibu kamu dan kamu juga. Bukan maksud mama merampas papa kamu dari kalian." ucap ibu Cintya yang mulai bercerita.


Sementara itu Anita mendengarkannya dengan seksama.


"Waktu papa kamu belum bekerja di rumah papanya mama yang sekarang menjadi rumah mama, mama mengalami depresi yang lumayan berat. Hal ini karena suami pertama mama yang bernama Irwan mengalami kecelakaan yang sangat dahsyat, mobil yang di kendarai mas Irwan jatuh ke jurang dengan terguling-guling dan akhirnya meledak. Waktu itu usia pernikahan kami belum genap tiga bulan, padahal kami berpacaran sudah lumayan lama yaitu sejak kami duduk di bangku sekolah menengah pertama" ucap mama tiri Anita yang kemudian menarik napasnya dalam-dalam dan mengeluarkannya dengan pelan-pelan.


Anita masih dengan seriusnya menyimak cerita dari Cintya, sementara mang Ujang masih serius mengemudi mobil mewah milik majikannya.


"Innalillahi wa Innalillahi roji'uun." ucap Anita.


"Karena itulah mama shock sangat berat, dan mama sampai tak mau makan berhari-hari dan mama sampai diinfus di rumah karenanya."


"Beberapa bulan kemudian papa kamu masuk kerja dan waktu itu ayah mama sangat membutuhkan seorang sopir pribadi karena kesibukannya. Saat pertama kali mama melihat papa kamu, mama sudah jatuh hati. Papa kamu yang tampan dan juga baik hati, waktu itu seperti angin segar saat dalam cuaca panas, Papa kamu hadir dalam kehidupan mama." ucap ibu Cintya seraya menarik napasnya panjang dan membuangnya pelan-pelan.

__ADS_1


"Mama yang jarang makan, menjadi mau makan dan sebelumnya mama selalu menangis, kadang juga mengamuk. Namun semenjak ada papa kamu, dimama setiap melihat papa kamu mama seakan lupa akan kesedihan mama." ucap ibu Cintya.


"Terus bagaimana kalian menikah? apakah mama tahu kalau papa sudah berkeluarga?" tanya Anita yang penasaran.


"Ma'afkan saya Anita, mama memang tahu kalau papa kamu memang sudah menikah. Awalnya mama kecewa, tapi rasa cinta mama sangatlah kuat, dan papa mama waktu itu sangat mendukung mama karena papa tak ingin mama tambah bersedih lagi."


"Pada awalnya papa kamu tak menyetujui, tapi karena diiming-imingi uang untuk pengobatan saudara kembar kamu waktu itu, akhirnya papa kamu menyetujuinya.Tapi dengan syarat jika ibu kamu merestui dan mama benar-benar mau menerima dan menganggap kamu dan saudara kembar kamu seperti anak sendiri, bagian dari hidup mama. Dan Mama setuju, karena mama tak mau papa kamu pergi dari sini mama."


"Apakah mama sudah pernah bertemu dengan ibu?" tanya Anita yang penasaran.


"Iya, sebelum mama dan papa menikah, papa mengajak ibu kamu kemari dan sekaligus menjenguk Anette yang waktu itu berada di rumah sakit. Mama saja tak tega melihat kondisi Anette pada waktu itu, tubuh kecil yang mungil dengan banyak selang di tubuhnya dan berada diruangan khusus di rumah sakit. Dengan biaya yang tiap harinya hampir satu juta, membuat papa dan ibu kamu putus harapan dan ibu kamu yang mama tahu dengan terpaksa mau menerima mama sebagai madunya." ucap ibu Cintya yang kembali menarik napasnya dalam-dalam dan kemudian mengeluarkannya pelan-pelan.


"Mama...!" panggil lirih Anita yang merasakan ketidak berdayaan mama tirinya itu.


"Anita, mama mohon ma'af sebesar-besarnya jika mama merampas kebahagiaan kalian. Tapi apakah mama tak boleh bahagia, selama hidup mama yang tenggelam dalam kesedihan mama waktu itu? setelah papa mama meninggal, saat ini hanya papa kamulah yang menjadi tumpuan mama. Tak ada lagi yang bisa melindungi mama." ucap Cintya dengan kedua matanya yang berkaca-kaca.


"Mama....!"


Anita kemudian memeluk ibu Cintya dan Cintya membalasnya dengan memeluk erat putri dari suaminya itu.


Tanpa diketahui oleh Anita, Cintya menyunggingkan senyum tipis saat mereka saling berpelukan.


Tiba-tiba mobil berhenti dan dan mang Ujang menoleh ke belakang.


"Nyonya Cintya dan neng Anita, kita sudah sampai!" seru sopir yang bersama-sama mereka.


"Oh, iya! ayo kita lekas turun!" ajak ibu Cintya yang kemudian melepaskan pelukannya.


Setelah itu mereka segera turun dan Anita menebarkan pandangannya ke sekitarnya, terlihatlah sebuah kampus yang megah dan memang pantas menjadi kampus yang paling favorit di kota itu.

__ADS_1


Selain gedung-gedung untuk fakultasnya yang mewah, halaman dan parkirannya yang luas, banyaknya pepohonan dan taman yang dihiasi macam ragam bunga.


Banyak mahasiswa yang berseliweran di halaman sampai di dalam kampus.


"Mang Ujang tunggu disini ya!" ucap Cintya pada sopirnya.


"Baik nyonya!" balas Mang Ujang dengan sikap hormatnya.


"Anita, ayo masuk!" ajak ibu Cintya.


"Iya ma!" jawab Anita yang kemudian mereka bersama menuju ke ruang Rektor dengan sesekali bertanya pada mahasiswa dan mahasiswi yang mereka temui.


"Kampus swasta ini dulu adalah tempat aku menimba ilmu, dan kampus atau universitas swasta seringkali dianggap berada pada prioritas kedua setelah universitas negeri. Padahal, untuk menjadi salah satu mahasiswanya saja, persyaratan masuk Perguruan Tinggi Swasta tergolong cukup detail dan mendalam." jelas ini Cintya saat dalam perjalanan mereka.


"Iya Bu," ucap Anita yang mendengarkan dengan seksama.


"Kita cari tahu, apakah rincian persyaratan universitas ini masih sama dengan waktu mama masih kuliah atau tidak, tidak ada salahnya untuk mengetahui persyaratan inti yang pasti akan diminta." jelas ibu Cintya.


Anita hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti apa yang disampaikan oleh mama tirinya itu.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2