
"Nak Damar, sudah jam satu malam. Sebaiknya nak Damar tidur disini. Nak Damar pasti juga sudah lelah bukan?" ucap tuan Suroso yang menghampiri dokter Damar.
"Baiklah pa. Lagi pula aku masih mengkhawatirkan kondisi Anita." ucap Dokter Damar yang bangkit dari duduknya.
"Istirahatlah dikamar tamu." ucap tuan Suroso.
"Iya pa!" balas Dokter Damar yang kemudian dia melangkahkan kakinya menuju ke kamar tamu dimana tadi siang dia sempat mengganti pakaiannya di kamar itu.
Malam semakin larut, semua penghuni rumah besar itu terlelap dalam mimpi mereka masing-masing.
Beberapa jam kemudian, setelah sholat subuh aktifitas dirumah besar itu dimulai. Para pembantu sibuk di dapur dan membersihkan setiap sudut rumah besar itu.
Demikian pula dengan Tuan Suroso dan dokter Damar yang sudah bangun dan sholat subuh, mereka sibuk mencuci mobil. Hal itu dikarenakan mang Ujang yang ternyata belum balik dari kampungnya dan kini tuan Suroso dengan terpaksa mencuci mobilnya sendiri.
Kedua laki-laki itu sedang berbincang-bincang tentang otomotif sampai pekerjaan.
Sementara itu Anita yang juga selesai sholat Subuh, saat ini sibuk membereskan kamarnya. Gadis itu berusaha melupakan apa yang telah menimpanya.
Perlahan-lahan Anita membuka jendela kamarnya dan dia melakukan peregangan saat bangun tidur untuk membantu membangunkan otot-otot tubuh dan meningkatkan aliran darah ke otot.
Tidak hanya itu, melakukan peregangan di pagi hari dapat meningkatkan fleksibilitas otot sehingga pergerakan tubuh menjadi lebih baik. Dan Anita melakukannya seraya menghirup udara pagi yang sejuk diatas balkon depan jendela kamarnya.
"Huaaahh.....! segarnya!" seru Anita seraya menikmati sinar matahari dan udara pagi yang sangat sejuk.
Tanpa disadari Anita, dokter Damar yang sedang mencuci mobilnya itu melihat Anita tanpa berkedip walaupun sambil bekerja mencuci mobilnya.
"Anita, kamu cantik sekali!" seru dalam hati dokter Damar yang mengulas senyumnya saat melihat rona wajah gadis pujaan hatinya terpapar sinar matahari pagi yang cerah dan hangat.
Tuan Suroso yang melihat tingkah dokter Damar hanya bisa tersenyum seraya menggeleng-gelengkan kepalanya secara pelan.
"Cepat halalin!" goda Tian Suroso seraya melirik ke arah dokter Damar.
"Eh, I...iya pa!" jawab dokter Damar yang gugup saat tahu ternyata aksinya melihat Anita ketahuan oleh ayah Anita.
Beberapa menit kemudian mereka telah selesai mencuci mobil dan di lanjut mereka segera membersihkan diri mereka yang kotor karena debu, dan sabun.
Setelah selesai mandi dan berganti pakaian, dokter Damar, tuan Suroso, nyonya Cintya dan juga Anita melangkahkan kaki menuju ke ruang makan.
"Ayo makan nak Damar! anggap saja rumah sendiri!" seru nyonya Cintya seraya mengambilkan nasi ke atas piring tuan Suroso.
__ADS_1
"Iya Bu." jawab dokter Damar seraya menganggukkan kepalanya.
"Biar Anita yang ambilkan mas!" seru Anita yang sudah memegang centong(sendok untuk mengambil nasi).
Kemudian Anita mengambil nasi dan diletakkan ke atas piring dokter Damar.
Tuan Suroso melihat hal itu dan memberi kode pada istrinya untuk melihat apa yang dia lihat.
"Pa! mereka romantis seperti kita ya?" bisik nyonya Cintya sembari mengulas senyumnya.
"Iya, harus cepat dihalalin mereka! Biar Anita ada yang melindunginya?" seru tuan Suroso yang kemudian melanjutkan sarapannya.
"Harus itu pa!" sahut nyonya Cintya yang mengulas senyumnya.
Acara sarapan mereka berlangsung dengan diselingi cerita dan tawa renyah mereka.
Beberapa menit kemudian, mereka selesai sarapan dan masih tetap berada di ruang makan.
"Pa,ma! Saya dan Anita mempunyai niat untuk menghalalkan hubungan kita lebih lanjut. Semalam kami sudah membeli perhiasan dan barang-barang sebagai pengantar pengantin pria. Sekarang bagaimana kalau kita tetapkan tanggal pernikahan saya dan Anita?" tanya dokter Damar seraya menatap ke arah Tuan Suroso dan nyonya Cintya satu persatu.
"Bagaimana Anita? apakah mau setuju, kalau kita tetapkan tanggal pernikahan kami sekarang?" tanya tuan Suroso yang menatap ke arah Anita.
"Aamiin ya Robbal alaamiin." jawab doa dari semuanya
Kemudian mereka sibuk mengatur tanggal pernikahan mereka., dan tak berapa lama tanggal pernikahan mereka telah ditetapkan dan sudah mereka sepakati bersama.
"Jadi kita sepakat bulan depan pernikahan kalian, dan akan diadakan disini, karena Nak Damar tidak diperkenankan meninggalkan kota ini karena masa dalam tugasnya." jelas tuan Suroso seraya menatap satu persatu keluarganya.
"Iya, dan lagi pula Anita juga masih kuliah. Jadi kita tidak bisa cuti terlalu lama!" seru dokter Damar yang menatap Anita dan Anita menganggukkan kepalanya.
"Oiya, Anita! katanya kalian semalam membeli perhiasan. Apakah ada sepasang cincinnya?" tanya nyonya Cintya yang penasaran.
"Iya ada ma." jawab Anita.
"Lekas ambil!" perintah nyonya Cintya.
"Ba...baik ma!" ucap Anita yang bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju ke kamarnya.
"Nak, Damar! Ayo kita pindah ke ruang tamu!" ajak tuan Suroso yang bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Baik pa." balas dokter Damar dan diikuti dengan nyonya Cintya, mereka melangkahkan kaki menuju ke ruang tamu.
Sementara itu bibi Ti membersihkan meja ruang makan dari piring dan gelas bekas sarapan.
Tak berapa lama Anita sudah keluar dari kamarnya dan bergabung dengan yang lainnya di ruang tamu.
"Apakah sudah kamu bawa cincinnya Anita?" tanya nyonya Cintya pada saat Anita menghampirinya.
"Sudah ma." balas Anita seraya menunjukkan kotak perhiasan yang terdapat sepasang cincin yang semalam dia dan dokter Damar beli di supermarket.
"Nah sekarang kalian bisa saling memakaikan cincin itu, untuk pengikat hubungan kalian. Semoga tak ada gangguan yang mengganggu hubungan kalian berdua sampai di jenjang pernikahan." ucap dan harapan tuan Suroso.
"Aamiin ya Robbal alaamiin...!" ucap Anita, dokter Damar dan Nyonya Suroso bersamaan.
Nyonya Cintya membuka kotak cincin dan dokter Damar mengambil satu cincin yang pas ukurannya untuk Anita dan dipasangkannya pada Anita.
Setelah itu Anita yang ganti mengambil cinci yang lainnya untuk dipasangkan pada dokter Damar.
Momen itu tak lupa diabadikan oleh bibi Ti atas perintah nyonya Cintya.
"Nah, kini kalian berdua telah resmi bertunangan. Nak Damar, saya titip putriku ya! Jaga dan lindungi dia dengan cinta kasih-mu yang tulus pada putriku Anita!" pinta tuan Suroso pada dokter Damar.
"Dengan nama Allah saya meminang Anita bin Suroso. Saya berjanji akan menjaganya dengan segenap ketulusan cinta murni saya untuk Anita. Semoga kita bisa sampai ke pelaminan dan membina rumah tangga kecil yang bahagia." ucap dan doa dokter Damar seraya menatap ke arah gadis pujaannya yang saat ini menatapnya dan keduany saling balas senyuman.
"Aamiin ya Robbal alaamiin...!" ucap Anita, tuan Suroso, nyonya Cintya dan juga bibi Ti yang sedang mendokumentasikan peristiwa penting itu.
...~¥~...
...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....
...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....
...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....
...Terima kasih...
...Bersambung...
... ...
__ADS_1