Jangan Rampas Cinta-ku

Jangan Rampas Cinta-ku
Bab 31


__ADS_3

Anita sempat melihat hal itu, tapi kembali air matanya jatuh bercucuran. Gadis itu teringat akan dokter Dimas yang saat masih menjadi kekasihnya. Dimana Anita selalu diboncengkan oleh dokter Damar dengan sepeda motor kesayangan setiap berangkat maupun pulang dari bekerja.


"Anita ma'af jika kata-kata aku menyinggung kamu. " ucap Dilla yang tak enak hati.


"Tidak apa-apa kok Dil, aku hanya ingat masa lalu yang seharusnya aku pendam atau bahkan aku buang." ucap Anita yang menyeka air matanya dengan tisu yang Dilla berikan padanya.


"Kalau kenangan hari kemarin itu buruk, lebih baik buang saja dan marilah buat sesuatu hal yang baik dan indah agar kelak menjadi kenangan yang menyenangkan." ucap Dilla yang membuat Anita tersadar kalau dirinya tak harus selalu berduka, karena masih ada hari esok yang akan memberikan kebahagiaan.


"Terima kasih ya Dilla!" ucap Anita seraya memeluk Dilla disampingnya.


Tak berapa lama mereka telah sampai di rumah sakit, dan mang Ujang memarkirkan mobil mewah itu di tempat parkir untuk mobil.


Setelah mobil mewah itu terparkir, Anita dan Dilla keluar dari mobil tersebut.


"Mang Ujang tunggu sampai saya selesai menjenguk adiknya haikalbya!" seru Anita seraya menoleh ke arah bagian dalam jendela mobil, dan terlihat mang Ujang yang menganggukkan kepalanya seraya mengulas senyumnya.


"Ayo Dilla!" ajak Anita pada Dilla yang kemudian keduanya melangkahkan kaki menuju ke pintu masuk parkiran, dan mendapati Haikal sudah menunggu mereka.


"Haikal! sudah lam menunggunya?" tanya Anita pada saat menghampiri Haikal.


"Belum lima belas menit!' jawab Haikal seraya mengulas senyumnya.


"Hadeuh!" keluh Anita dan Dilla yang merespon jawaban Haikal.


"Oh, kita pisah sampai disini ya! saya harus ke ruangan ganti pakaian dulu, terus lanjut kerja!" seru Dilla yang pamit untuk kerja.


"Oh, iya Dilla. Semangat ya!" seru Anita yang menyemangati temannya yang akan berkerja.


"Iya, assalamu'alaikum...!" jawab sekaligus ucap salam pamit Dilla seraya melambaikan tangannya.


"Wa'alaikumsalam...!" balas Anita dan juga Haikal yang bersamaan.

__ADS_1


Setelah itu Dilla melangkahkan kaki meninggalkan Anita dan Haikal, yang kemudian Anita dan Haikal masuk ke rumah sakit bersamaan menuju ke ruangan dimana adik Haikal dirawat.


Sementara itu di ruangan ICU dimana sesosok tubuh gadis berusia kurang lebih empat belas tahun, yang tak lain adalah adik Haikal. Gadis yang beberapa hari terbaring lemah karena kecelakaan yang dialaminya.


Di samping gadis itu berdiri seorang dokter tampan yang baru saja pindahan dari desa, dia tak lain adalah dokter Damar, kekasih dan calon suami Anita yang meninggalkan pernikahannya demi tugas dan digantikan oleh kakaknya Danar yang menggantikannya sebagai pengantin laki-laki.


"Suster, ingat kontrol infus dan keadaan pasien satu jam sekali. Dan berikan laporannya pada saya." perintah dokter Damar pada suster yang bersamanya


"Baik dokter!" balas seorang wanita dengan seragam suster yang membawa laporan ditangan kirinya, menundukkan kepala sekali pada dokter Damar.


Setelah selesai, dokter Damar meninggalkan ruangan itu. Sementara suster masih berada di dalam untuk memeriksa ulang selang infus dan keadaan pasien.


Beberapa detik kemudian, ketika suster hendak keluar dari ruangan ICU, Anita dan Haikal telah sampai di depan ruangan ICU.


"Sus, saya mau menjenguk adik saya." ucap Haikal pada suster yang keluar dari ruangan ICU itu.


"Boleh, tapi mohon jangan bersamaan. Satu-satu ya, karena kondisi pasien yang masih kritis." ucap suster itu pada Haikal dan juga Anita.


"Kamu dulu yang jenguk dia. Oiya siapa nama adik kamu Haikal?" ucap sekaligus tanya Anita pada Haikal.


"Manda, Amanda nama adikku." jawab Haikal yang kemudian mencuci tangannya pakai hand sanitizer yang menempel di dinding samping pintu menuju ruangan ICU.


Kemudian Anita menunggu Haikal yang telah masuk ke ruangan ICU, dan dia melihat dari jendela kaca yang bisa melihat ke dalam ruangan ICU dimana Haikal telah berdiri disamping seorang gadis yang terbaring lemah tak berdaya dengan banyak selang di tubuh gadis itu.


Sementara itu Haikal yang berada disamping Amanda, dengan berusaha untuk tetap tegar di hadapan adiknya.


"Manda, apa kabar kamu hari ini? Oiya kakak bawa teman perempuan, dan akan kakak kenalkan kamu pada teman kakak yang akan menggantikan kamu dalam lomba nanti. Kamu jangan khawatir lagi tentang lomba, kakak yakin teman kakak ini akan membawa kemenangan pada tim kamu." ucap Haikal dan Manda tetap saja diam dengan kedua matanya yang terpejam.


"Nama teman kakak itu Anita, sama awalan huruf A- nya sama kamu. Semoga dia memberi keberuntungan bagi kita!" bisik Haikal.


"Kakak sebentar saja menemui kamu, karena nanti biar Anita dan kamu bisa saling mengenal, dia cantik seperti kamu Manda!" ucap Haikal sekali lagi yang masih dengan berbisik.

__ADS_1


"Sampai jumpa adikku sayang." ucap pamit Haikal seraya mengusap kepala Amanda adiknya, gadis yang terbaring di tempat tidur itu.


Haikal pun keluar dari ruang ICU itu, dan kemudian melangkahkan kaki menghampiri Anita.


"Anita, sekarang giliran kamu. Walaupun dia tidak bicara dan tidak bergerak, tapi saya yakin kalau dia itu mendengar setiap apa yang kita ucapkan padanya." ucap Haikal pada Anita.


"Oh, baiklah. Aku akan coba bicara padanya." ucap Anita yang kemudian melangkahkan kaki menuju ke tempat dimana hand sanitizer menempel.


Setelah memakai hand sanitizer, Anita bergegas melangkahkan kaki masuk dan kemudian menghampiri Amanda.


"Assalamu'alaikum cantik!" ucap salam Anita seraya menghampiri Adik Haikal di tempat tidurnya.


"Kenalkan nama kakak Anita, kakak teman kak Haikal kakak Amanda." lanjut ucap Anita yang memperkenalkan diri.


"Amanda, tadi pagi kak Haikal bilang pada kakak untuk meminta kakak menggantikan Amanda bermain basket. Kak Anita setuju saja, tapi sebelumnya kakak ingin kenalan sama kamu terlebih dulu. Kamu tak apa-apa kan kalau kak Anita menggantikan kamu dalam final bola basket besok?" tanya Anita, yang tentu saja tak mendapat respon dari Amanda, gadis itu tetap diam di posisinya.


"Doakan saja semoga tim kita menang, dan pulan bawa piala, piagam dan tentunya uang juga. Sebenarnya kakak tidak pandai main basket, hanya bisa bermain itu pun sama teman-teman kak Anita di kampung. Kami ikut lomba-lomba juga sih, kadang kalah tapi juga sering menangnya juga pas masih di kampung." ucap Anita.


"Eh, kak Anita jadi melantur ya ceritanya. He...he...! lekas sembuh ya anak cantik, nanti kita main basket sama-sama. Bisa juga sama kak Haikal nanti kalau kamu sudah sembuh. Jadi terus berjuang ya cantik, kakak yakin kamu akan sembuh dan kembali seperti sedia kala " lanjut ucap Anita.


"Assalamu'alaikum...!" ucap salam pamit Anita seraya mengusap punggung tangan Amanda yang tidak ada selang infusnya.


...~¥~...


...Mohon dukungannya dan terima kasih telah memberikan Like/komentar/rate 5/gift maupun votenya untuk novel Jangan Rampas Cinta-ku ini....


...Semoga sehat selalu dan dalam Lindungan Allah Subhana wa Ta'alla....


...Aamiin Ya Robbal Alaamiin....


...Terima kasih...

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2